saringan air

Saringan air pasir

Saringan air pasir sangat sederhana, Saringan air pasir dapat digunakan dalam rangka meningkatkan kebutuhan dasar masyarakat khususnya mengenai kebutuhan akan air bersih di daerah pedesaan, maka perlu disesuaikan dengan sumber air baku serta teknologi yang sesuai dengan tingkat penguasaan teknologi dalam masyarakat itu sendiri. Salah satu alternatif yakni dengan menggunakan teknologi pengolahan air sederhana dengan saringan pasir.

Sistem saringan pasir adalah merupakan teknologi pengolahan air yang sangat sederhana dengan hasil air bersih dengan kualitas yang cukup baik. Sistem saringan pasir lambat ini mempunyai keunggulan antara lain tidak memerlukan bahan kimia (koagulan) yang mana bahan kimia ini merupakan kendala sering dialami pada proses pengolahan air di daerah pedesaan.

Dengan menggunakan teknologi saringan air pasir, dapat dihasilkan air olahan dengan kualitas yang cukup baik dengan biaya operasional sangat murah. Pengopersiannya sangat mudah dan sederhana. Air baku yang digunakan yakni air sungai atau air danau yang tingkat kekeruhannya tidak terlalu tinggi. Jika tingkat kekeruhan air bakunya cukup tinggi misalnya pada waktu musim hujan, maka agar supaya beban saringan pasir lambat tidak telalu besar, maka perlu dilengkapi dengan peralatan pengolahan pendahuluan misalnya bak pengendapan awal dengan atau tanpa koagulasi bahan dengan bahan kimia.

Umumnya disain konstruksi dirancang setelah didapat hasil dari survai lapangan baik mengenai kuantitas maupun kualitas. Dalam gambar desain telah ditetapkan proses pengolahan yang dibutuhkan serta tata letak tiap unit yang beroperasi. Kapasitas pengolahan dapat dirancang dengan berbagai macam ukuran sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

saringan air pasir

Di dalam sistem pengolahan ini proses pengolahan yang utama adalah penyaringan dengan media pasir dengan kecepatan penyaringan 5 – 10 m3/m2/hari. Air baku dialirkan ke tangki penerima, kemudian dialirkan ke bak pengendap tanpa memakai zat kimia untuk mengedapkan kotoran yang ada dalam air baku. selanjutnya di saring dengan saringan air pasir. Setelah disaring dilakukan proses khlorinasi dan selanjutnya ditampung di bak penampung air bersih, dan hasilnya air siap alirkan pada rumah anda.

Jika air baku baku dialirkan ke saringan pasir lambat, maka kotoran-kotoran yang ada di dalamnya akan tertahan pada media pasir. Oleh karena adanya akumulasi kotoran baik dari zat organik maupun zat anorganik pada media filternya akan terbentuk lapisan (film) biologis. Dengan terbentuknya lapisan ini maka di samping proses penyaringan secara fisika dapat juga menghilangkan kotoran (impuritis) secara bio-kimia. Biasanya ammonia dengan konsetrasi yang rendah, zat besi, mangan dan zat-zat yang menimbulkan bau dapat dihilangkan dengan cara ini. Hasil dengan cara pengolahan saringan pasir ini mempunyai kualitas yang cukup baik.

Cara ini sangat sesuai untuk pengolahan yang air bakunya mempunyai kekeruhan yang rendah dan relatif tetap. Biaya operasi rendah karena proses pengendapan biasanya tanpa bahan kimia. Tetapi jika kekeruhan air baku cukup tinggi, pengendapan dapat juga memakai baghan kimia (koagulan) agar beban filter tidak terlalu berat.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal pengoperasian saringan pasir lambat dengan arah aliran dari atas ke bawah antara lain yakni :

1. Kecepatan penyaringan harus diatur sesuai dengan kriteria perencanaan. Jika kekeruhan air baku cukup tinggi sebaiknya kecepatan diatur sesuai dengan kecepatan disain mimimum.

2. Pencucian media penyaring (pasir) pada saringan awal (pertama) sebaiknya dilakukan minimal setelah satu minggu operasi, sedangkan pencucian pasir pada saringan ke dua dilakukan minimal setelah tiga sampai – empat minggu operasi.

3. Pencucian media pasir dilakukan dengan cara membuka kran penguras pada tiap-tiap bak saringan air, kemudian lumpur yang ada pada dasar bak dapat dibersihkan dengan cara mengalirkan air baku sambil dibersihkan dengan sapu sehingga lumpur yang mengendap dapat dikelurakan. Jika lupur yang ada di dalam lapisan pasir belum bersih secara sempurna, maka pencucian dapat dilakukan dengan mengalirkan air baku ke bak saringan pasir tersebut dari bawah ke atas dengan kecepatan yang cukup besar sampai lapisan pasir terangkat (terfluidisasi), sehingga kotoran yang ada di dalam lapisan pasir terangkat ke atas. Selanjutnya air yang bercampur lumpur yang ada di atas lapisan pasir dipompa keluar sampai air yang keluar dari lapisan pasir cukup bersih.

Apabila konstruksi saringan dirancang sesuai dengan kriteria perencanaan, maka alat ini dapat menghasilkan hasil yang baik dan murah.

Menggunakan saringan air pasir adalah cara sederhana memperoleh air bersih. Tentunya syaratnya selama air sumber yang kita miliki belum tercemar oleh limbah kimia berbahaya. Air yang keruh, kotor ataupun berbau masih dapat diatasi. Jika memiliki cukup uang, Anda dapat mencoba menggunakan alat saringan bermerk yang sudah teruji dan bergaransi seperti Nano Smart Filter. Jika tidak, Anda cukup membuat saringan air sederhana yang dapat menjadi salah satu alternatif yang patut dipertimbangkan namun hasil nya tentu tidak semurni air hasil filtrasi alat modern.

Sumber [Aneka Sumber]

Alat penjernih air modern

Alat penjernih air & penyaring air berfungsi untuk menghilangkan rasa, bau, dan warna pada air sehingga kualitas air dapat meningkat. cara penyaringan air yang biasa digunakan adalah tawas, karbon aktif dan kaporit, Namun semakin berkembangnya dunia filter air maka munculah media filter terbaru yaitu pureTAG Super. Penggunaan media filter tersebut sebagai alat penjernih air / penyaring air kurang efisien, karena pemisahan endapan dan air cukup sulit.

Teknologi modern alat penjernih & penyaring air. Hadirnya teknologi alat penjernih air sangat efektif mengingat kebutuhan air bersih yang sangat tinggi dan kurangnya pasokan air yang berkualitas tinggi menyebabkan alat penyaring air berkualitas bagus mulai banyak dibutuhkan saat ini. karena kualitas air juga harus diperhatikan, bukan hanya dari segi kuantitas saja. Karena air yang tidak berkualitas dikhawatirkan mengandung senyawa yang dapat membahayakan tubuh.

alat penjernih air

Di daerah tertentu terkadang air bersih sangat sulit didapatkan. Bukan berarti air bersih tidak ada. tetapi di sebagian tempat untuk bisa dipakai minum air harus melewati proses penjernihan dahulu.

Pemanfaatan bahan-bahan tersebut memiliki fungsi masing-masing yaitu tawas untuk memisahkan dan mengendapkan kotoran, karbon aktif untuk menghilangkan bau dan rasa yang tidak enak dalam air. Namun penggunaan bahan tersebut sebagai cara penyaringan air, sekarang ini mulai kuran diminati. Hal ini disebabkan alat penjernih air sederhana seperti ini bisa kita buat sendiri. banyak sekali bahan-bahan yang bisa kita gunakan untuk menjernihkan air secara alami. Misalnya batu, pasir, kerikil, arang sekam padi, ijuk, kapur, tawas, biji kelor dan lain-lain. Kesemuanya itu sangat mudah kita temukan disekitar kita.

Teknologi penjernihan air modern. beberapa teknologi membran pada saringan air yang terkenal ada beberapa jenis:

1. Ultrafiltrasi (UF)
2. Reverse Osmosis (RO)
3. ElektroDialisis (ED)
4. Elektrodialisis Reversal (EDR)
5. Mikrofiltrasi (MF)
6. NanoFiltrasi (NF)

Semua jenis teknologi membrane filter air diatas mampu untuk mengembangkan ion kecuali ultrafiltrasi. karena ukuran pori-pori membran UF terlalu besar untuk menahan ion dan teknologi UF ini hanya dipakai untuk menghilangkan kontaminan (berukuran besat), seperti minyak dan lemak serta suspended solid.

Dari 4 macam teknologi diatas, teknologi reverse osmosis (RO) menggunakan membran RO yang sangat terkenal akan kualitas dari hasil filtrasi nya.

Reverse osmosis RO (Osmosis terbalik) adalah suatu metode penyaringan yang dapat menyaring berbagai molekul besar dan ion-ion dari suatu larutan dengan cara memberi tekanan pada larutan ketika larutan itu berada di salah satu sisi membran seleksi(lapisan penyaring). Proses tersebut menjadikan zat terlarut terendap di lapisan yang dialiri tekanan sehingga zat pelarut murni bisa mengalir ke lapisan berikutnya. Membran seleksi itu harus bersifat selektif atau bisa memilah yang artinya bisa dilewati zat pelarutnya (atau bagian lebih kecil dari larutan) tapi tidak bisa dilewati zat terlarut seperti molekul berukuran besar dan ion-ion. Dalam istilah lebih mudah, reverse osmosis adalah mendorong sebuah solusi melalui filter yang menangkap “solute” dari satu sisi dan membiarkan pendapatan “solvent” murni dari sisi satunya. Proses ini telah digunakan untuk mengolah air laut untuk mendapatkan air tawar, sejak awal 1970-an. Membran yang digunakan untuk reverse osmosis memiliki lapisan padat dalam matriks polimer baik kulit membran asimetris atau lapisan interfasial dipolimerisasi dalam membran tipis film komposit dimana pemisahan terjadi. Dalam kebanyakan kasus, membran ini dirancang untuk memungkinkan air hanya untuk melewati melalui lapisan padat, sementara mencegah bagian dari zat terlarut (seperti ion garam). Proses ini mensyaratkan bahwa tekanan tinggi akan diberikan pada sisi konsentrasi tinggi membrane.

Begitu banyak depot air minum isi ulang memakai teknologi ini dengan tambahan alat pretreatment dan post treatment UV.

Sumber [Aneka Sumber]

Air bersih masih menjadi PR Pemerintah Indonesia

Air bersih masih menjadi PR Pemerintah Indonesia, sanitasi dan air bersih merupakan dua hal yang saling berkaitan, jika penyediaan sanitasi dan air bersih sudah baik maka kesejahteraan rakyat Indonesia juga akan semakin meningkat.

Maka dari itu, pemerintah berkomitmen akan terus memperbaiki kualitas sanitasi dan air bersih sampai 2019 dengan total anggaran yang diperkirakan mencapai Rp 660 triliun.air bersih

Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) Dedy Priatna menjelaskan hingga saat ini kondisi sanitasi dan air bersih di Indonesia masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Vietnam dan Myanmar.

Menurut dia dalam program Millenium Development Goals (MDG) 2015, target yang harus dicapai pemerintah untuk sanitasi dan air bersih yang layak adalah sebesar 62,41 persen, dari fakta yang ada baru 57,35 persen penduduk yang mendapatkan akses terhadap sanitasi dan air bersih yang layak.

Dia mengatakan kondisi air bersih dan sanitasi yang buruk secara tidak langsung merugikan negara sebesar Rp 56 triliun atau setara dengan 2,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dedy mengatakan pemerintah bertekad akan meningkatkan anggaran untuk sanitasi dan air bersih ataupun air minum setiap tahunnya, anggaran ini akan digunakan untuk berbagai macam program yang telah dirancang seperti Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP), Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM).

“ Tantangan ke depannya adalah bagaimana anggaran untuk sanitasi dan air bersih ini juga lebih diprioritaskan di samping anggaran untuk pendidikan dan infrastruktur, jika anggaran untuk sanitasi dan air bersih naik maka insyallah target MDGs bisa dicapai,” ujar beliau ketika ditemui dalam acara “ Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (29/10).

Dedy mengatakan komitmen pemerintah yang akan mengalokasikan dana sebesar Rp 660 triliun untuk sanitasi dan air bersih sampai 2019 cukup banyak mendapatkan dukungan terutama dari pemerintah daerah dan pihak swasta. Menurut dia sumber pendanaan untuk sanitasi dan air bersih berasal dari anggaran pemerintah pusat dan daerah sebesar 20 persen, sisanya dukungan dari pihak swasta berupa Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan dan BUMN.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan kualitas sanitasi dan air bersih sangat erat kaitannya dengan kesejahteraan rakyat. Dia menjelaskan jika sanitasi dan air minum ataupun air bersih sudah terpenuhi maka kualitas SDM dan angka harapan hidup di Indonesia juga tumbuh positif tapi sebaliknya jika sanitasi dan air bersih buruk maka akan membuat angka kemiskinan dan kesejahteraan hidup semakin terpuruk.

Agung mengatakan sanitasi dan air berish juga merupakan kebutuhan dasar manusia sehingga pemerintah terus berkomitmen meningkatkan kualitas sanitasi dan air bersih di seluruh wilayah Indonesia. Menurut dia anggaran yang paling ideal untuk sanitasi dan air bersih adalah Rp 10 triliun setiap tahunnya, jika pemerintah sudah bisa mengalokasikan dana Rp 10 triliun dalam APBN maka dalam kurun waktu 3-4 tahun mendatang kualitas sanitasi dan air bersih di Indonesia sudah sempurna.

“ Sanitasi dan air bersih akan menjadi prioritas pemerintah selain pendidikan, infrastruktur, kesehatan dan kemiskinan, anggaran untuk sanitasi dan kemiskinan juga akan ditingkatkan,” ujarnya.

Demi memastikan tersedianya akses air bersih dan sanitasi layak bagi seluruh lapisan masyarakat, pemerintah terus melakukan advokasi untuk percepatan. Pemerintah pun telah menjalankan berbagai program yang setiap tahunnya diklaim menunjukkan perkembangan mengembirakan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) 2012, sampai dengan akhir tahun lalu, sebanyak 58,05% masyarakat telah mendapatkan akses air bersih layak. Pada tahun 2012, data juga menunjukkan bahwa sebanyak 57,35% rumah tangga sudah memiliki akses sanitasi layak.

Setiap tahunnya, capaian akses air bersih dan sanitasi layak di Indonesia juga disebut telah mengalami perkembangan positif, dengan kenaikan rata-rata sebesar 2% per tahun, baik pada akses air bersih maupun sanitasi layak. Hal ini sengaja digarisbawahi, karena peningkatan cakupan terhadap akses sanitasi dan air minum layak, secara langsung maupun tidak langsung membantu memperbaiki derajat kesehatan masyarakat serta kualitas lingkungan.

“Meskipun telah mengalami kenaikan, kami sadar bahwa akses terhadap air berish dan sanitasi layak di negeri ini harus terus lebih ditingkatkan. Bila merujuk pada target MDGs 2015, kami harus memastikan bahwa 68,87% penduduk harus sudah mendapatkan akses air bersih layak dan sebesar 62,21% harus memiliki akses sanitasi layak,” kata Dedy Supriadi Priatna, Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dalam jumpa pers, di Jakarta, Jumat (18/10), terkait Konferensi Air bersih dan Sanitasi Nasional (KSAN) 2013 yang akan digelar pada 29-31 Oktober di Balai Kartini, Jakarta.

Sebagai upaya untuk mensosialisasikan pentingnya sektor air minum dan sanitasi layak bagi masyarakat, serta untuk menginformasikan upaya yang telah dan sedang dilakukan, Kelompok Kerja Air bersih dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) Nasional memang kembali mengadakan KSAN tahun ini. Salah satu tujuan KSAN adalah meningkatkan perhatian khalayak ramai terhadap pentingnya sanitasi dan air bersih. Acara ini dimaksudkan untuk mendorong peran serta aktif seluruh pelaku, dalam menjadikan pembangunan air bersih dan sanitasi sebagai prioritas.

Dedy menambahkan, masih ada selisih yang harus dipenuhi agar mencapai target, yaitu sebesar 10,82% untuk air bersih dan 5,06% untuk sanitasi. Artinya, diperlukan usaha minimal tiga kali lipat dibandingkan yang telah dilakukan saat ini.

Diketahui, air bersih dan sanitasi sendiri erat kaitannya dengan penyebaran bencana penyakit karena air, seperti diare dan cacingan. Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar 2007, diare merupakan penyebab kematian terbesar pada bayi usia 29 hari sampai 11 bulan, serta balita usia 12-59 bulan di Indonesia. Diperkirakan, sebanyak 31,4% bayi dan 25,2% balita harus meninggal setiap tahunnya akibat diare.

Sumber [beritasatu.com]

 

Aneka teknik penjernihan air dan pemurnian air sederhana

Penjernihan air diperlukan karena air bersih merupakan sumber bagi kehidupan. Sering kita mendengar penjernihan air di bumi disebut sebagai planet biru, karena air menutupi 3/4 permukaan bumi. Tetapi tidak jarang pula kita mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau disaat air sumur mulai berubah warna atau berbau. Ironis memang, tapi itulah kenyataannya. Yang pasti kita harus selalu optimis. Sekalipun air sumur atau sumber air lainnya yang kita miliki mulai menjadi keruh, kotor ataupun berbau, selama kuantitasnya masih banyak kita masih dapat mengolah dengan penjernihan air berupaya merubah/pemurnian air keruh/kotor tersebut menjadi air bersih yang layak pakai dengan teknik penjernihan air. penjernihan air

Ada berbagai macam cara sederhana yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan air bersih, dan cara yang paling mudah dan paling umum digunakan adalah dengan membuat saringan air, dan bagi kita mungkin yang paling tepat adalah membuat penjernih air atau saringan air sederhana. Perlu diperhatikan, bahwa air bersih yang dihasilkan dari proses penyaringan air / penjernihan air secara sederhana tersebut tidak dapat menghilangkan sepenuhnya garam yang terlarut di dalam air. Gunakan destilasi sederhana untuk menghasilkan air yang tidak mengandung garam. Berikut beberapa alternatif cara sederhana untuk mendapatkan air bersih dengan cara penyaringan air / penjernihan air :

1. Saringan Kain Katun
Pembuatan saringan air / penjernihan air dengan menggunakan kain katun merupakan teknik penyaringan yang paling sederhana / mudah. Air keruh disaring dengan menggunakan kain katun yang bersih. Saringan ini dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Air hasil saringan tergantung pada ketebalan dan kerapatan kain yang digunakan.

2. Saringan Kapas
Teknik saringan air ini dapat memberikan hasil yang lebih baik dari teknik sebelumnya. Seperti halnya penyaringan air dengan kain katun, penyaringan dengan kapas juga dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Hasil saringan juga tergantung pada ketebalan dan kerapatan kapas yang digunakan.

3. Aerasi
Aerasi merupakan proses penjernihan air dengan cara mengisikan oksigen ke dalam air. Dengan diisikannya oksigen ke dalam air maka zat-zat seperti karbon dioksida serta hidrogen sulfida dan metana yang mempengaruhi rasa dan bau dari air dapat dikurangi atau dihilangkan. Selain itu partikel mineral yang terlarut dalam air seperti besi dan mangan akan teroksidasi dan secara cepat akan membentuk lapisan endapan yang nantinya dapat dihilangkan melalui proses sedimentasi atau filtrasi.

4. Saringan Pasir Lambat (SPL)
Penjernihan air dengan saringan pasir lambat merupakan saringan air yang dibuat dengan menggunakan lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan pasir terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan kerikil.

5. Saringan Pasir Cepat (SPC)
Penjernihan air dengan saringan pasir cepat seperti halnya saringan pasir lambat, terdiri atas lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Tetapi arah penyaringan air terbalik bila dibandingkan dengan Saringan Pasir Lambat, yakni dari bawah ke atas (up flow). Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan kerikil terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan pasir.

6. Gravity-Fed Filtering System
Penjernihan air dengan teknik Gravity-Fed Filtering System merupakan gabungan dari Saringan Pasir Cepat(SPC) dan Saringan Pasir Lambat(SPL). Air bersih dihasilkan melalui dua tahap. Pertama-tama air disaring menggunakan Saringan Pasir Cepat(SPC). Air hasil penyaringan tersebut dan kemudian hasilnya disaring kembali menggunakan Saringan Pasir Lambat. Dengan dua kali penyaringan tersebut diharapkan kualitas air bersih yang dihasilkan tersebut dapat lebih baik. Untuk mengantisipasi debit air hasil penyaringan yang keluar dari Saringan Pasir Cepat, dapat digunakan beberapa / multi Saringan Pasir Lambat.

7. Saringan Arang
Penjernihan air menggunakan saringan arang dapat dikatakan sebagai saringan pasir arang dengan tambahan satu buah lapisan arang. Lapisan arang ini sangat efektif dalam menghilangkan bau dan rasa yang ada pada air baku. Arang yang digunakan dapat berupa arang kayu atau arang batok kelapa. Untuk hasil yang lebih baik dapat digunakan arang aktif.

8. Saringan air sederhana / tradisional
Penjernihan air sederhana/tradisional merupakan modifikasi dari saringan pasir arang dan saringan pasir lambat. Pada saringan tradisional ini selain menggunakan pasir, kerikil, batu dan arang juga ditambah satu buah lapisan injuk / ijuk yang berasal dari sabut kelapa. Untuk bahasan lebih jauh dapat dilihat pada artikelsaringan air sederhana.

9. Saringan Keramik
Penjernihan air menggunakan saringan keramik dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama sehingga dapat dipersiapkan dan digunakan untuk keadaan darurat. Air bersih didapatkan dengan jalan penyaringan air melalui elemen filter keramik. Beberapa filter kramik menggunakan campuran perak yang berfungsi sebagai disinfektan dan membunuh bakteri. Ketika proses penyaringan, kotoran yang ada dalam air baku akan tertahan dan lama kelamaan akan menumpuk dan menyumbat permukaan filter. Sehingga untuk mencegah penyumbatan yang terlalu sering maka air baku yang dimasukkan jangan terlalu keruh atau kotor. Untuk perawatan saringan keramik ini dapat dilakukan dengan cara menyikat filter keramik tersebut pada air yang mengalir.

10. Saringan Cadas / Jempeng / Lumpang Batu
Penjernihan air denganaalt saringan cadas atau jempeng ini mirip dengan saringan keramik. Air disaring dengan menggunakan pori-pori dari batu cadas. Saringan ini umum digunakan oleh masyarakat desa Kerobokan, Bali. Saringan tersebut digunakan untuk menyaring air yang berasal dari sumur gali ataupun dari saluran irigasi sawah.
Seperti halnya saringan keramik, kecepatan air hasil saringan dari jempeng relatif rendah bila dibandingkan dengan SPL terlebih lagi SPC.

11. Saringan Tanah Liat
Kendi atau belanga dari tanah liat yang dibakar terlebih dahulu dibentuk khusus menyerupai alat penjernihan air pada bagian bawahnya agar air bersih dapat keluar dari pori-pori pada bagian dasarnya.

12.Saringan Pasir Lambat (SPL)
Penjernihan air menggunakan saringan Pasir Lambat (SPL) alias Slow Sand Filter (SSF) sudah lama dikenal di Eropa sejak awal tahun 1800an. Untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih, Saringan Pasir Lambat dapat digunakan untuk menyaring air keruh ataupun air kotor. Saringan Pasir Lambat sangat cocok untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih pada komunitas skala kecil atau skala rumah tangga. Hal ini tidak lain karena debit air bersih yang dihasilkan oleh SPL relatif kecil.

Proses penjernihan air pada Saringan Pasir Lambat dilakukan secara fisika dan biologi. Secara Fisika, partikel-partikel yang ada dalam sumber air yang keruh atau kotor akan tertahan oleh lapisan pasir yang ada pada saringan. Secara biologi, pada saringan akan terbentuk sebuah lapisan bakteri. Bakteri-bakteri dari genus Pseudomonas dan Trichoderma akan tumbuh dan berkembang biak membentuk sebuah lapisan khusus. Pada saat proses filtrasi dengan debit air lambat (100-200 liter/jam/m2 luas permukaan saringan), patogen yang tertahan oleh saringan akan dimusnahkan oleh bakteri-bakteri tersebut.
Untuk perawatan saringan pasir lambat, secara berkala pasir dan kerikil harus selalu dibersihkan. Hal ini untuk menjaga agar kuantitas dan kualitas air bersih yang dihasilkan selalu terjaga dan yang terpenting adalah tidak terjadi penumpukan patogen / kuman pada saringan. Untuk mendapatkan hasil air bersih yang lebih maksimal baik kualitas maupun kuantitasnya, anda dapat menggabungkan atau mengkombinasikan saringan pasir lambat ini dengan berbagai jenis metode penyaringan air sederhana lainnya.

Adapun untuk disinfeksi / penghilangan kuman yang terkandung dalam air dapat menggunakan menggunakan berbagai cara seperti chlorinasi, brominasi, ozonisasi, penyinaran ultraviolet ataupun menggunakan aktif karbon. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya air hasil penyaringan dimasak terlebih dahulu hingga mendidih sebelum dikonsumsi atau anda mungkin dapat menggunakan cara disinfeksi / menghilangkan kuman pada air secara sederhana lainnya.

Cara Sederhana Menghilangkan Kuman dari Air Minum

Air bersih yang kita dapat dari PAM/PDAM/ledeng, sumur ataupun saringan air yang kita miliki mungkin akan terlihat bening, tidak berasa dan tidak berbau, tetapi hal itu tidak menandakan bahwa air tersebut bersih dari kuman penyakit. Sebelum dikonsumsi, sebaiknya kita harus memastikan bahwa air yang akan kita konsumsi terbebas dari kuman penyakit. Disinfeksi atau menghilangkan kuman dari air minum sangat penting dilakukan agar kuman tersebut tidak masuk ke dalam tubuh kita.

Ada berbagai cara untuk melakukan disinfeksi atau menghilangkan kuman penyakit dari air yang akan kita konsumsi. Selengkapnya sebagai berikut :

1. Memanaskan atau memasak air
Pasteurisasi atau pemanasan untuk air yang akan dikonsumsi pada suhu / temperatur 55ºC – 60ºC selama sepuluh menit akan mematikan sebagian besar patogen atau kuman penyakit yang ada/terkandung di dalam air. Cara yang lebih efektif adalah memasak atau merebus air yang akan kita konsumsi hingga mendidih. Cara ini sangat efektif untuk mematikan semua patogen yang ada dalam air seperti virus, bakteri, spora, fungi dan protozoa. Lama waktu air mendidih yang dibutuhkan adalah berkisar 5 menit, namun lebih lama lagi waktunya akan lebih baik, direkomendasikan selama 20 menit.
Walaupun mudah dan sering kita gunakan, kendala utama dalam memasak air hingga mendidih ini adalah bahan bakar, baik itu kayu bakar, briket batubara, minyak tanah, gas elpiji ataupun bahan bakar lainnya.

2. Radiasi dan Pemanasan Dengan Menggunakan Sinar Matahari
Proses radiasi ultra violet dan pemanasan air dengan menggunakan sinar matahari ini dapat dilakukan dengan bantuan wadah logam ataupun botol transparan. Botol transparan yang digunakan umumnya adalah botol plastik. Botol kaca dapat digunakan tetapi memiliki kelemahan mudah pecah, lebih berat dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pemanasan. Oleh karena itu gunakanllah botol kaca yang dapat ditembus oleh sinar ultra violet.
Untuk mengantisipasi bahaya dari pemakaian plastik, sebaiknya gunakan botol plastik dengan nomor logo daur ulang 1 atau PETE/PET (polyethylene terephthalate), atau lebih baik lagi bila anda memiliki botol bernomor 5 atau PP (polypropylene). Keterangan lebih lanjut mengenai jenis plastik tersebut dapat anda lihat padanomor jenis plastik daur ulang.

Untuk mempercepat proses radiasi dan pemanasan botol transparan tersebut dicat hitam pada salah satu sisinya (50% dari permukaan botol) atau diletakkan pada permukaan media yang berwarna gelap yang dapat mengumpulkan dan menimbulkan radiasi panas. Pada kondisi demikian, setelah diletakkan selama beberapa jam (5-6 jam untuk keadaan cerah) air di dalam botol tersebut akan dapat mencapai 55ºC (mencapai suhu pasteurisasi) sehingga patogen yang ada dalam air dapat dieliminir.
Untuk hasil yang lebih baik lagi, sebelum dijemur lakukan proses aerasi dengan mengocok botol terlebih dahulu setelah itu botol diletakkan pada permukaan metal seperti atap seng.

3. Air Perasan Jeruk Nipis
Cara ini efektif untuk mengatasi virus kolera. Dengan menambahkan air jeruk nipis hingga mencapai 1-5% dari air yang hendak dikonsumsi dapat menurunkan pH air di bawah 4,5. Pada tahap ini virus kolera dapat dikurangi hingga hampir 100%. Selain itu dari hasil penelitian, pertumbuhan virus kolera pada nasi dapat ditahan dengan menggunakan air jeruk nipis pada saat dimasak.
Kelemahan dari cara ini adalah bila campuran air perasan jeruk nipis terlalu banyak akan dapat merubah rasa air.

Sumber [aimyaya.com]