pengolahan air minum

Pengolahan air minum

Air minum kebutuhan pokok, Tanpa air minum kita bisa mati kehausan. Kondisi perkotaan Indonesia di masa depan akan menghadapi tantangan sangat berat dalam penyediaan air minum, hal itu akibat pesatnya peningkatan pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan perubahan iklim. Untuk mengantisipasinya, diperlukan strategi penyediaan air minum yang berkelanjutan dengan melibatkan semua pihak.

air minum sehatDirektur Pengembangan Air Minum (PAM), Ditjen Cipta Karya, Kementerian PU, Ir. Danny Sutjiono.
Menurut Danny Sutjiono, dalam mengantispasi berbagai permasalahan dalam penyediaan air minum di masa datang, Kementerian PU telah menjalankan program pengamanan air minum yang dapat menjamin penyediaan air minum yang berkelanjutan.

“Konsep yang melibatkan sektor sanitasi dalam rangka perlindungan sumber air baku itu adalah Water Safety Plan atau Rencana Pengamanan Air Minum yang awalnya dikembangkan WHO dan telah banyak diadopsi banyak negara, termasuk Indonesia,” katanya.

Ia menjelaskan, konsep Water Safety Plan (WSP) atau Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) adalah pengendalian kualitas pelayanan air minum dari hulu hingga hilir dengan mempertimbangkan hasil dari proses manajemen resiko. Di Indonesia, RPAM dibagi dalam tiga kelompok, yaitu RPAM untuk adanya resiko pada sumber air, RPAM untuk penyelenggara SPAM, dan RPAM untuk konsumen.

“Prinsip RPAM di Indonesia adalah penyediaan air minum yang memenuhi syarat kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan keterjangkauan atau 4K. Pada pada tahun 2012, Ditjen Cipta Karya telah mengembangkan konsep RPAM untuk Penyelenggara SPAM yang telah diujicobakan di PDAM Bandarmasih, Kota Banjarmasin,” kata Direktur PAM.

Menurut Direktur PAM, RPAM menggambarkan secara detil bahaya dan besarnya resiko dalam setiap tahapan proses pengolahan air minum dan proses penyediaan air minum,  untuk selanjutnya menyusun rencana tindak pengendalian yang dilengkapi dengan rencana perbaikan, strategi komunikasi, penyusunan sistem operasional prosedur, instruksi kerja, pemantauan dan evaluasi. Pada tahun 2013 akhir , pelaksanaan RPAM dilakukan di tiga PDAM, yaitu PDAM Kota Malang, PDAM Kota Payakumbuh, dan PDAM Kota Salatiga.

Danny menyatakan bahwa konsep RPAM akan berhasil apabila ada komitmen bersama dari seluruh stakeholders terkait penjaminan 4K dalam penyediaan air minum. Salah satu langkah yang dilakukan Ditjen Cipta Karya untuk mendukung konsep itu adalah melakukan sinergi dengan banyak pihak melalui Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL).

Direktur PAM mengatakan bahwa pembangunan air minum dan sanitasi, yang merupakan pelayanan dasar bagi masyarakat sesungguhnya merupakan tanggung jawab pemerintah daerah sesuai PP No. 38 Tahun 2007 mengenai Pembagian Urusan antara Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kab/Kota. Sedangkan pemerintah pusat sebagai advisor, fasilitator, mediator dan pemberi stimulan.

“Namun yang perlu disadari seluruh pihak, pembangunan air minum dan sanitasi tidak akan berkelanjutan tanpa didahului oleh kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat,” kata Danny Sutjiono.

Oleh karena itu, kata Direktur PAM, diperlukan sinergi antara semua pihak dalam mewujudkan pembangunan air minum dan sanitasi, baik itu pemerintah kabupaten/kota, pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat, termasuk masyarakat dan pihak swasta.

Dalam pembangunan air minum dan sanitasi, pemerintah kabupaten/kota berperan sebagai perencana dan pelaksana pembangunan, sedangkan pemerintah provinsi membantu kabupaten/kota sesuai kebijakan di tingkat provinsi, dan pemerintah pusat memberikan dukungan melalui pengaturan, pembinaan dan dukungan dana stimulus.

“Sedangkan masyarakat dan pihak swasta memberikan dukungan di bidang penyediaan sarana dan prasarana sesuai komitmen mereka dengan pemerintah daerah, kemudian lembaga atau negara donor dapat berperan di bidang pembangunan infrastruktur maupun penyediaan perencanaan kabupaten/kota, sedangkan pihak akademisi dapat memberikan dukungan melalui riset atau pilot project,” kata Danny Sutjiono.

Sumber [www.ditpam-pu.org]

pentingnya air bersih dan sehat untuk keluarga

Air bersih merupakan zat yang memiliki peranan sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Manusia akan lebih cepat meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan makanan. Di dalam tubuh manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari air. Tubuh orang dewasa, sekitar 55-60 % berat badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65 % dan untuk bayi sekitar 80%. Air dibutuhkan oleh manusia untuk memenuhi berbagai kepentingan antara lain: diminum, masak, mandi, mencuci dan pertanian.

Menurut perhitungan WHO, di negara-negara maju tiap orang memerlukan air antara 60-120 liter per hari. Sedangkan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, tiap orang memerlukan air 30-60 liter per hari. Diantara kegunaan-kegunaan air tersebut yang sangat penting adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan minum air harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi manusia.

Air Bersih dan Sehat

Air minum harus steril (steril = tidak mengandung hama penyakit apapun). Sumber- sumber air minum pada umumnya dan di daerah pedesaan khususnya tidak terlindung sehingga air tersebut tidak atau kurang memenuhi persyaratan kesehatan. Untuk itu perlu pengolahan terlebih dahulu.

Pengolahan air untuk diminum dapat dikerjakan dengan 2 cara, berikut:

1. Menggodok atau mendidihkan air, sehingga semua kuman-kuman mati. Cara ini membutuhkan waktu yang lama dan tidak dapat dilakukan secara besar-besaran.

2. Dengan menggunakan zat-zat kimia seperti gas chloor, kaporit, dan lain-lain. Cara ini dapat dilakukan secara besar¬besaran, cepat dan murah.

Agar air minum tidak menyebabkan penyakit, maka air tersebut hendaknya diusahakan memenuhi persyaratan-persyaratan kesehatan, setidaknya diusahakan mendekati persyaratan tersebut. Air yang sehat harus mempunyai persyaratan sebagai berikut:

1. Syarat fisik
Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tak berwarna), tidak berasa, suhu dibawah suhu udara diluarnya sehingga dalam kehidupan sehari-hari. Cara mengenal air yang memenuhi persyaratan fisik ini tidak sukar.

2. Syarat bakteriologis
Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen. Cara untuk mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan memeriksa sampel (contoh) air tersebut. Dan bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 4 bakteri E. coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan.

3.  Syarat kimia
Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu didalam jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia didalam air akan menyebabkan gangguan fisiologis pada manusia. Sesuai dengan prinsip teknologi tepat guna di pedesaan maka air minum yang berasal dari mata air dan sumur dalam adalah dapat diterima sebagai air yang sehat dan memenuhi ketiga persyaratan tersebut diatas asalkan tidak tercemar oleh kotoran-kotoran terutama kotoran manusia dan binatang. Oleh karena itu mata air atau sumur yang ada di pedesaan harus mendapatkan pengawasan dan perlindungan agar tidak dicemari oleh penduduk yang menggunakan air tersebut.

Sumber-sumber Air Minum

Pada prinsipnya semua air dapat diproses menjadi air minum. Sumber-sumber air ini, sebagai berikut:

1. Air hujan
Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum, tetapi air hujan ini tidak mengandung kalsium. Oleh karena itu, agar dapat dijadikan air minum yang sehat perlu ditambahkan kalsium didalamnya.

2. Air sungai dan danau
Air sungai dan danau berdasarkan asalnya juga berasal dari air hujan yang mengalir melalui saluran-saluran ke dalam sungai atau danau. Kedua sumber air ini sering juga disebut air permukaan. Oleh karena air sungai dan danau ini sudah terkontaminasi atau tercemar oleh berbagai macam kotoran, maka bila akan dijadikan air minum harus diolah terlebih dahulu.

3. Mata air
Air yang keluar dari mata air ini berasal dari air tanah yang muncul secara alamiah. Oleh karena itu, air dari mata air ini bila belum tercemar oleh kotoran sudah dapat dijadikan air minum langsung. Tetapi karena kita belum yakin apakah betul belum tercemar maka alangkah baiknya air tersebut direbus dahulu sebelum diminum.

4. Air sumur

  • Air sumur dangkal adalah air yang keluar dari dalam tanah, sehingga disebut sebagai air tanah. Air berasal dari lapisan air di dalam tanah yang dangkal. Dalamnya lapisan air ini dari permukaan tanah dari tempat yang satu ke yang lain berbeda-beda. Biasanya berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter dari permukaan tanah. Air sumur pompa dangkal ini belum begitu sehat karena kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih ada. Oleh karena itu perlu direbus dahulu sebelum diminum.
  • Air sumur dalam yaitu air yang berasal dari lapisan air kedua di dalam tanah. Dalamnya dari permukaan tanah biasanya lebih dari 15 meter. Oleh karena itu, sebagaian besar air sumur dalam ini sudah cukup sehat untuk dijadikan air minum yang langsung (tanpa melalui proses pengolahan).

Pengolahan air minum

Ada beberapa cara pengolahan air minum antara lain sebagai berikut:

1. Pengolahan Secara Alamiah
Pengolahan ini dilakukan dalam bentuk penyimpanan dari air yang diperoleh dari berbagai macam sumber, seperti air danau, air sungai, air sumur dan sebagainya. Di dalam penyimpanan ini air dibiarkan untuk beberapa jam di  tempatnya. Kemudian akan terjadi koagulasi dari zat-zat yang terdapat didalam air dan akhirnya terbentuk endapan. Air akan menjadi jernih karena partikel-partikel yang ada dalam air akan ikut mengendap.

2. Pengolahan Air dengan Menyaring
Penyaringan air secara sederhana dapat dilakukan dengan kerikil, ijuk dan pasir. Penyaringan pasir dengan teknologi tinggi dilakukan oleh PAM (Perusahaan Air Minum) yang hasilnya dapat dikonsumsi umum.pengolahan air bersih

3. Pengolahan Air dengan Menambahkan Zat Kimia
Zat kimia yang digunakan dapat berupa 2 macam yakni zat kimia yang berfungsi untuk koagulasi dan akhirnya mempercepat pengendapan (misalnya tawas). Zat kimia yang kedua adalah berfungsi untuk menyucihamakan (membunuh bibit penyakit yang ada didalam air, misalnya klor (Cl).

4. Pengolahan Air dengan Mengalirkan Udara
Tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, menghilangkan gas-gas yang tak diperlukan, misalnya CO2 dan juga menaikkan derajat keasaman air.

5. Pengolahan Air dengan Memanaskan Sampai Mendidih
Tujuannya untuk membunuh kuman-kuman yang terdapat pada air. Pengolahan semacam ini lebih tepat hanya untuk konsumsi kecil misalnya untuk kebutuhan rumah tangga. Dilihat dari konsumennya, pengolahan air pada prinsipnya dapat digolongkan menjadi 2 yakni:

  • Pengolahan Air Minum untuk Umum
  • Penampungan Air Hujan. Air hujan dapat ditampung didalam suatu dam (danau buatan) yang dibangun berdasarkan partisipasi masyarakat setempat. Semua air hujan dialirkan ke danau tersebut melalui alur-alur air. Kemudian disekitar danau tersebut dibuat sumur pompa atau sumur gali untuk umum. Air hujan juga dapat ditampung dengan bak-bak ferosemen dan disekitarnya dibangun atap-atap untuk mengumpulkan air hujan. Di sekitar bak tersebut dibuat saluran-saluran keluar untuk pengambilan air untuk umum. Air hujan baik yang berasal dari sumur (danau) dan bak penampungan tersebut secara bakteriologik belum terjamin untuk itu maka kewajiban keluarga-keluarga untuk memasaknya sendiri misalnya dengan merebus air tersebut.

6. Pengolahan Air Sungai
Air sungai dialirkan ke dalam suatu bak penampung I melalui saringan kasar yang dapat memisahkan benda-benda padat dalam partikel besar. Bak penampung I tadi diberi saringan yang terdiri dari ijuk, pasir, kerikil dan sebagainya. Kemudian air dialirkan ke bak penampung II. Disini dibubuhkan tawas dan chlor. Dari sini baru dialirkan ke penduduk atau diambil penduduk sendiri langsung ke tempat itu. Agar bebas dari bakteri bila air akan diminum masih memerlukan direbus terlebih dahulu.

7. Pengolahan Mata Air
Mata air yang secara alamiah timbul di desa-desa perlu dikelola dengan melindungi sumber mata air tersebut agar tidak tercemar oleh kotoran. Dari sini air tersebut dapat dialirkan ke rumah-rumah penduduk melalui pipa-pipa bambu atau penduduk dapat langsung mengambilnya sendiri ke sumber yang sudah terlindungi tersebut.

8. Pengolahan Air Untuk Rumah Tangga
Air sumur pompa terutama air sumur pompa dalam sudah cukup memenuhi persyaratan kesehatan. Tetapi sumur pompa ini di daerah pedesaan masih mahal, disamping itu teknologi masih dianggap tinggi untuk masyarakat pedesaan. Yang lebih umum di daerah pedesaan adalah sumur gali.

Agar air sumur pompa gali ini tidak tercemar oleh kotoran di sekitarnya, perlu adanya syarat-syarat sebagai berikut:

  • Harus ada bibir sumur agar bila musim huujan tiba, air tanah tidak akan masuk ke dalamnya.
  • Pada bagian atas kurang lebih 3 m dari ppermukaan tanah harus ditembok, agar air dari atas tidak dapat mengotori air sumur.
  • Perlu diberi lapisan kerikil di bagian bbawah sumur tersebut untuk mengurangi kekeruhan.
  • Sebagai pengganti kerikil, ke dalam sumur ini dapat dimasukkan suatu zat yang dapat membentuk endapan, misalnya aluminium sulfat (tawas).
  • Membersihkan air sumur yang keruh ini dapat dilakukan dengan menyaringnya dengan saringan yang dapat dibuat sendiri dari kaleng bekas.

9. Air Hujan

Kebutuhan rumah tangga akan air dapat pula dilakukan melalui penampungan air hujan. Tiap-tiap keluarga dapat melakukan penampungan air hujan dari atapnya masing¬masing melalui aliran talang. Pada musim hujan hal ini tidak menjadi masalah tetapi pada musim kemarau mungkin menjadi masalah. Untuk mengatasi keluarga memerlukan tempat penampungan air hujan yang lebih besar agar mempunyai tandon untuk musim kemarau.

Sumber [smallcrab.com]

Penyediaan Air Bersih oleh Komunitas

Air bersih merupakan salah satu kebutuhan manusia untuk memenuhi standar kehidupan manusia secara sehat. Ketersediaan air yang terjangkau dan berkelanjutan menjadi bagian terpenting bagi setiap individu baik yang tinggal di perkotaan maupun di perdesaan.

Oleh karena itu, ketersediaan air dapat menurunkan water borne disease sekaligus dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Namun sampai dengan tahun 2000, berdasarkan data Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, baru sekitar 19% penduduk Indonesia di mana 39% nya adalah penduduk perkotaan yang dapat menikmati air bersih dengan sistem perpipaan. Sedangkan di daerah perdesaan, berdasarkan data yang sama, hanya sekitar 5% penduduk desa yang menggunakan sistem perpipaan, 48% menggunakan sistem non-perpipaan, dan sisanya sebesar 47% penduduk desa menggunakan air yang bersumber dari sumur gali dan sumber air yang tidak terlindungi.

Di dalam memenuhi kebutuhan air bersih bagi keluarganya, penduduk tidak jarang harus membeli air dari para penjual air dengan harga yang relatif tinggi atau mengambil air langsung ke sumber air yang umumnya cukup jauh dari tempat tinggal si penduduk. Ketika beberapa sumur dan sumber air mengering akibat musim kemarau, menyebabkan semakin sulit bagi masyarakat untuk mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan akan air bagi keluarganya.

Kemudian,hal penyediaan air bersih dianggap perlu dikembangkan pola kemitraan dengan pihak swasta, meskipun disadari hasilnya tidak dapat terjangkau oleh masyarakat, karena tarif air yang relatif tinggi.

Di lain pihak, penyediaan air bersih yang dilakukan oleh pihak swasta pada umumnya bersifat tertutup sehingga masyarakat cenderung tidak memiliki peluang untuk dapat turut aktif di dalam setiap tahap pembangunan bidang air bersih. Dengan adanya pergeseran kebijakan pembangunan pada upaya peningkatan Sumber Daya Manusia, di mana pola pendekatan pembangunan menitikberatkan pada masyarakat sebagai pelaku utama di dalam setiap pembangunan, yang semestinya juga dapat diterapkan dalam pola pembangunan di bidang air bersih. Termasuk dalam hal Pembangunan Prasarana dan Sarana Air Bersih dan Penyehatan Lingkungan Berbasis Pengelolaan Masyarakat yang diharapkan menjadi acuan dasar di dalam setiap pembangunan air bersih oleh instansi-instansi terkait, telah membuka peluang kepada masyarakat pengguna untuk dapat terlibat di dalam setiap pembangunan di bidang air bersih, terutama di kawasan perkotaan yang memiliki karakteristik perdesaan seperti wilayah pinggiran kota ataupun di kantong permukiman di pusat kota serta di kawasan yang benar-benar perdesaan, di mana cenderung tidak terlayani oleh sistem perkotaan dan dianggap tidak potensial untuk dikelola oleh lembaga formal yang hanya ada di perkotaan.

Selain sebagai pengguna, masyarakat juga dapat diaktifkan dan difungsikan sebagai pengelola prasarana dan sarana air bersih, dengan membentuk kelompok swadaya masyarakat di bidang air bersih, sehingga sangat memungkinkan untuk mengelola prasarana dan sarana air bersih dengan wilayah pelayanan terbatas atau di lingkungan sekitarnya. Penyediaan air bersih yang dilakukan oleh komunitas ini diharapkan dapat menjamin keberlanjutan penyediaan air bersih di lingkungannya baik dari aspek teknis maupun non teknis.

Bertitik tolak dari hal tersebut di atas, tulisan ini dibuat sebagai bahan masukan di dalam merumuskan konsep penyediaan air bersih oleh komunitas/masyarakat, khususnya dalam rangka merumuskan Bentuk Swadaya Air yang dapat dilakukan oleh masyarakat.

Bentuk Swadaya Air

Pola Pendekatan Penyediaan air bersih yang dilakukan oleh masyarakat ini dilakukan dengan pola pendekatan TRIBINA di mana di dalam pola

1. Bina Manusia

Unsur ini merupakan upaya yang dilakukan untuk menyiapkan masyarakat setempat, dengan metode yang digunakan adalah :
a. Informasi, yaitu upaya penyampaian informasi kepada masyarakat di lokasi setempat mengenai aspek teknis dan non teknis yang berkaitan dengan pembangunan dan pengelolaan prasarana dan sarana air bersih;
b. Komunikasi, yaitu upaya untuk menciptakan dialog di kalangan masyarakat setempat yang bersifat dua arah sehingga masyarakat mau dan mampu mengenali kebutuhan serta menangani permasalahan yang dihadapi sehubungan dengan upaya masyarakat di dalam memenuhi kebutuhan air bersih bagi diri sendiri maupun bagi keluarganya dan lingkungannya;
c. Edukasi, merupakan upaya yang dilakukan agar masyarakat mampu untuk mengelola prasarana dan sarana air bersih di lingkungannya baik secara teknis maupun non teknis sehingga terjadi keberlanjutan penyediaan air bersih di lingkungannya.

2. Bina Lingkungan

Unsur ini merupakan upaya bagi masyarakat untuk menemukenali kebutuhan dan permasalahan yang dihadapinya sebagai individu, kepala keluarga, dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air bersih.

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah melakukan Survei Kampung Sendiri (SKS) atau Mawas Diri yang antara lain mencakup aspek :
a) sosial budaya;
b) ekonomi;
c) teknis;
d) lingkungan;
e) hukum;
f) kelembagaan;
g) dan aspek lain yang terkait.

3. Bina Usaha

Unsur ini merupakan upaya bagi masyarakat untuk belajar membentuk kelompok swadaya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat setempat. Selain itu, kegiatan ini dimaksudkan pula agar masyarakat mampu mengelola organisasi/lembaga yang dibentuk baik secara manajemen, keuangan, hukum, maupun aspek lain yang diperlukan bagi suatu lembaga yang mengelola prasarana dan sarana air bersih di lingkungannya.

Penyediaan air bersih oleh komunitas ini menggunakan konsep Advocacy dan Communications. Konsep yang dikembangkan oleh McKee (1992) tersebut merupakan pendekatan yang didasarkan pada people-based dan people driven. Konsep advokasi sendiri merupakan upaya penyampaian pesan untuk memperoleh kesepakatan dari unsur-unsur masyarakat sekaligus menyiapkan masyarakat (society) untuk masalah tertentu melalui penyampaian.
Sumber :Disarikan dari laman DPU Jateng