pengelolaan air limbah

Sistem pengolahan air limbah untuk asrama,partemen,pesantren

Sistem pengolahan air limbah untuk asrama, rumah susun, apartemen dan Pondok Pesantren, air limbah merupakan salah satu hasil dari aktivitas hidup manusia yang membawa sampah dari rumah, tempat-tempat bisnis, dan industri yang merupakan campuran air dan padatan terlarut dan tersuspensi.
Di mana masyarakat bermukim, di sanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan begitu pula di lingkungan Asrama, Rumah Susun , Apartemen dan Pondok Pesantren.

Keberadaan air limbah sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat itu sendiri dan aktivitas manusia yang tinggal di dalamnya. Sumber air limbah dari aktivitas manusia berkaitan dengan penggunaan air seperti mandi, mencuci, WC, dan lain-lain. Kualitas air limbah yang dihasilkan tersebut sangat beragam, tergantung dari sumber limbah dan sistem pengolahan yang digunakan. Dengan demikian, kualitas air limbah akan semakin baik jika ditangani atau diolah dengan sistem pengolahan air limbah yang tepat. Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam air dan/atau berubahnya tatanan air oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam. Akibatnya kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan kegunaannya. Dengan demikian, akan mengakibatkan terbentuknya air limbah.Kualitas air limbah menunjukkan spesifikasi air limbah yang diukur dari kandungan pencemar dalam air limbah. Kandungan pencemar dalam air limbah tersebut terdiri dari beberapa parameter. Semakin sedikit parameter dan semakin kecil konsentrasi
yang ada, menunjukkan peluang pencemar terhadap lingkungan sekitarnya semakin kecil.
Kualitas air limbah dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu volume air limbah, kandungan bahan pencemar, dan frekuensi pembuangan air limbah. Penetapan standar kualitas limbah harus
dihubungkan dengan kualitas lingkungan di sekitarnya. Kualitas lingkungan dipengaruhi oleh berbagai komponen yang ada dalam lingkungan itu seperti kualitas air, kepadatan penduduk,
flora dan fauna, kesuburan tanah, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain di sekitar lingkungan tersebut.Apabila limbah masuk ke dalam lingkungan, ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, tidak mendapat pengaruh yang berarti. Dalam hal ini berarti pencemaran ringan. Kedua, ada pengaruh perubahan tetapi tidak menyebabkan pencemaran. Dalam hal ini dianggap sebagai pencemaran sedang. Ketiga, memberi perubahan dan menimbulkan pencemaran. Dalam hal ini dianggap sebagai pencemaran berat. Ada berbagai alasan untuk mengatakan demikian. Tidak memberi pengaruh terhadap lingkungan karena volume limbah
kecil dan parameter pencemar yang terdapat di dalamnya sedikit dengan konsentrasi kecil. Karena itu, andaikan limbah masuk ke dalam lingkungan pun ternyata lingkungan itu sendiri mampu untuk menetralisasinya. Kandungan bahan yang terdapat dalam limbah konsentrasinya mungkin saja dapat diabaikan karena jumlahnya yang sedikit. Ada berbagai parameter pencemar yang dapat menimbulkan perubahan kualitas lingkungan namun tidak menimbulkan pencemaran, artinya lingkungan itu memberikan toleransi terhadap perubahan serta tidak menimbulkan dampak negatif.Adanya perubahan konsentrasi limbah menyebabkan terjadinya perubahan keadaan penerima limbah. Semakin lama penerima dituangi air limbah, semakin tinggi pula konsentrasi bahan pencemar di dalamnya. Pada suatu saat penerima limbah
tidak mampu lagi memulihkan keadaannya. Zat-zat pencemar yang masuk sudah terlalu banyak dan mengakibatkan tidak ada lagi kemampuan untuk menetralisir keadaannya. Atas dasar ini
perlu ditetapkan batas konsentrasi air limbah yang masuk ke dalam lingkungan penerima.
Dengan demikian, walau dalam jangka waktu seberapa pun lingkungan tetap mampu mentolelirnya. Toleransi ini menunjukkan kemampuan lingkungan untuk menetralisir atau
pun mengeliminasi bahan pencemaran sehingga perubahan kualitas negatif dapat dicegah. Dalam hal ini, diperlukan batasan-batasan konsentrasi yang disebut dengan standar kualitas limbah. Ciri-ciri air limbah antara lain, selain kotoran yang biasanya terkandung dalam persediaan air bersih, air limbah juga mengandung tambahan kotoran yang diakibatkan dari pemakaian untuk keperluan rumah tangga, komersial, dan industri. Beberapa analisis yang dipakai untuk penentuan ciri-ciri fisik, kimiawi, dan biologis dari kotoran yang terdapat dari air limbah.Ciri-ciri fisik utama air limbah adalah kandungan padat, warna, bau, dan suhunya. Bahan padat total terdiri dari bahan padat tak terlarut atau bahan padat yang terapung serta senyawa-senyawa yang larut dalam air. Kandungan bahan padat terlarut ditentukan dengan mengeringkan serta menimbang residu yang didapat dari pengeringan. Warna adalah ciri kualitatif yang dapat dipakai untuk mengkaji kondisi umum air limbah. Jika warnanya coklat muda, maka umur air limbah kurang dari 6 jam. Warna abu-abu muda sampai setengah tua merupakan tanda bahwa air limbah sedang mengalami pembusukan atau telah ada dalam sistem pengumpul untuk beberapa lama. Bila warnanya abu-abu tua atau hitam, air limbah sudah membusuk setelah mengalami pembusukan oleh bakteri dengan kondisi anaerobik.
Penentuan bau menjadi semakin penting bila masyarakat sangat mempunyai kepentingan langsung atas terjadinya operasi yang baik pada sarana pengolahan air limbah. Senyawa utama yang berbau adalah hidrogen sulfida,senyawa-senyawa lain seperti indol skatol, cadaverin,dan mercaptan yang terbentuk pada kondisi anaerobik dan menyebabkan bau yang sangat merangsang dibandingkan dengan bau hidrogen sulfida. Suhu air limbah pada umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan air bersih karena adanya tambahan air hangat dari pemakaian di permukiman. Suhu air limbah biasanya bervariasi dari musim ke musim, dan juga tergantung pada letak geografisnya.Secara kimia, ciri-ciri air limbah dapat dilihat dengan pengukuran BOD, COD, dan TOC dan juga pengujian kimia yang berhubungan dengan Amonia bebas, Nitrogen Organik, Nitrit, Nitrat, Fosfor Organik, dan Fosfor An-organik. Nitrogen dan Fosfor sangat penting karena kedua nutrien ini telah sangat umum diidentifikasikan sebagai bahan untuk kandungan padat, warna, bau, dan suhunya. Permukiman, Industri, dan kegiatan lainnya termasuk Asrama, Rumah Susun, Apartemen dan Pondok Pesantren yang mempunyai air buangan yang membentuk limbah cair dalam skala besar harus melakukan penanganan dengan melakukan pengolahan air limbah yang akan dibuang agar tidak berdampak pada lingkungan di sekitarnya. Apabila limbah cair tersebut tidak dilakukan pengolahan dan dibuang langsung ke lingkungan umum, sungai, danau, laut, dan badan air lainnya maka hal ini akan berdampak buruk pada lingkungan karena jumlah polutan di dalam air menjadi semakin tinggi.Bibit-bibit penyakit berbagai zat yang bersifat racun dan bahan radioaktif dapat merugikan manusia. Berbagai polutan memerlukan Oksigen untuk penguraiannya. Jika Oksigen kurang, penguraiannya tidak sempurna dan menyebabkan air berubah warnanya dan berbau busuk. Bahan atau logam yang berbahaya seperti arsenat, uradium, krom, timah, air raksa, benzon, tetraklorida, karbon, dan lain-lain dapat merusak organ tubuh manusia atau dapat menyebabkan kanker. Sejumlah besar limbah dari sungai akan masuk ke laut.Banyak akibat yang ditimbulkan oleh air limbah yang tercemar polusi, di antaranya terganggunya kehidupan organisme air karena berkurangnya kandungan oksigen, ledakan ganggang dan tumbuhan air, pendangkalan dasar perairan, tersumbatnya penyaring reservoir, dan menyebabkan perubahan ekologi. pencemaran air, dalam jangka panjang mengakibatkan kanker dan kelainan/cacat, kematian biota kuno, seperti plankton, ikan, bahkan burung, dan dapat mengakibatkan mutasi sel kanker dan leukimia. Air limbah yang tercemar dapat berdampak luas, misalnya dapat meracuni sumber air minum, meracuni makanan hewan, ketidakseimbangan ekosistem sungai dan danau, dan sebagainya. Banyaknya zat pencemaran pada air limbah akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen terlarut dalam air tersebut. Sehingga mengakibatkan kehidupan dalam air yang membutuhkan oksigen menjadi terganggu serta mengurangi perkembangannya. Akibat matinya bakteri-bakteri, maka proses penjernihan air secara alamiah yang seharusnya terjadi pada air limbah juga terhambat.

sistem pengolahan air limbah nano smart filter
Akibatnya air limbah jadi sulit terurai.Air limbah yang tercemar pun dapat membawa bermacam-macam penyakit menular, yang dikarenakan air sebagai media untuk hidup mikroba patogen, sebagai sarang serangga penyebar penyakit, jika jumlah air yang tersedia tidak cukup, sehingga manusia yang bersangkutan tidak dapat membersihkan diri. Air juga sebagai media untuk hidup vektor penyakit.Untuk mencegah agar tidak terjadi pencemaran air, dalam aktivitas kita dalam memenuhi kebutuhan hidup hendaknya tidak menambah terjadinya bahan pencemar antara lain dengan tidak membuang sampah rumah tangga, sampah rumah sakit, sampah/limbah industri secara sembarangan, tidak membuang ke dalam air sungai, danau, ataupun ke dalam selokan. Pencemaran air yang telah terjadi secara alami misalnya adanya jumlah logam-logam berat yang masuk dan menumpuk dalam tubuh manusia, logam berat ini dapat meracuni organ tubuh melalui pencernaan karena tubuh memakan tumbuh-tumbuhan yang mengandung logam berat meskipun dalam jumlah yang cukup kecil. Penumpukan logam-logam berat ini terjadi dalam tumbuh-tumbuhan karena terkontaminasi oleh limbah. Untuk menanggulangi agar tidak terjadi penumpukan logam-logam berat, maka limbah hendaknya diolah sebelum dibuang ke lingkungan. Sistem pengelolaan air limbah yang diterapkan harus
memenuhi persyaratan seperti tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber-sumber air minum, tidak mengakibatkan pencemaran air permukaan, tidak menimbulkan pencemaran pada flora dan fauna yang hidup di air di dalam penggunaannya sehari-hari, tidak dihinggapi oleh vektor atau serangga yang menyebabkan penyakit, tidak terbuka dan harus tertutup, dan tidak menimbukan bau atau aroma tidak sedap. Secara umum penanganan air limbah dapat dikelompokkan menjadi:

Pengolahan air limbah awal/Pendahuluan
(Preliminary Treatment) Tujuan utama dari tahap ini adalah usaha untuk melindungi alat-alat yang ada pada instalasi pengolahan air limbah. Pada tahap ini dilakukan penyaringan, penghancuran, atau pemisahan air dari partikel-partikel yang dapat merusak alat-alat pengolahan air limbah. Partikel-partikel yang dimaksudkan seperti pasir, kayu, sampah, plastik, dan lain-lain.

Pengolahan air limbah Primer
(Primary Treatment) Tujuan pengolahan air limbah yang dilakukan pada tahap ini adalah untuk
menghilangkan partikel-partikel padat organik dan an-organik melalui proses fisika, yaitu proses sedimentasi dan proses flotasi. Sehingga partikel padat akan mengendap (disebut sludge), sedangkan partikel lemak dan minyak akan berada di atas/permukaan (disebut grease)

Pengolahan air limbah Sekunder
(Secondary Treatment) Pada tahap ini air limbah diberi mikroorganisme dengan tujuan untuk menghancurkan atau menghilangkan material organik yang masih ada pada air limbah. Tiga jenis pendekatan yang umum digunakan pada tahap ini adalah fixed film, suspended film,
dan lagoon system.

Pengolahan air limbah akhir
(Final Treatment) Fokus dari pengolahan air limbah akhir ini adalah untuk menghilangkan organisme penyebab penyakit yang ada pada air. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menambahkan khlorin (disinfektan) atau dengan menggunakan sinar ultraviolet.

Pengolahan air limbah Lanjutan
(Advanced Treatment) Pengolahan air limbah lanjutan diperlukan untuk membuat komposisi air limbah sesuai dengan yang diinginkan. Misalnya, untuk menghilangkan kandungan fosfor ataupun amonia dari air limbah. Yaitu dengan menambahkan pengental (Thickener), Sludge Digester,
Dan Drying Bed.Pada dasarnya ada dua alternatif dalam penanganan air limbah, yaitu membawa limbah cair ke pusat pengolahan limbah atau memiliki sendiri Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Air limbah sebelum dilepas ke pembuangan akhir harus menjalani pengolahan terlebih dahulu. Untuk dapat melaksanakan pengolahan air limbah yang efektif diperlukan rencana pengolahan yang baik.Adapun tujuan dari pengelolaan air limbah itu sendiri, di antaranya mencegah pencemaran pada sumber air rumah tangga, melindungi hewan dan tanaman yang hidup dalam air, menghindari pencemaran tanah permukaan, dan menghilangkan tempat berkembangbiaknya bibit dan faktor penyakit. Proses pencegahan terjadinya pencemaran lebih baik daripada proses penanggulangan terhadap pencemaran yang telah terjadi. Dalam mendalami ilmu agama, tidaklah harus selalu terkungkung dalam satu hal tersebut saja. Misalnya ada kalanya, peran penguhuni Asrama, Rumah Ssusn, Apartemen, Pesantren dan masyarakat sekitarnya untuk bisa saling bekerja sama dalam pelestarian lingkungan khususnya dalam pengelolaan air limbah salah satunya. Dengan demikian, akan tercipta lingkungan yang sehat dan terbebas dari penyakit. Semua pihak yang terlibat dalam Asrama, Rumah Susun, Apartemen dan Pondok Pesantren dapat hidup lebih sehat. Perbaikan sistem pengolahan air limbah di kompleks Asrama, Rumah Susun, Apartemen dan Pondok Pesantren, juga perlu dilakukan. Bahkan, perlu adanya System Pengolahan Air limbah di kompleks Asrama, Rumah Susun, Apartemen dan Pondok Pesantren sehingga untuk kelanjutannya pengolahan air limbah dapat ditata dengan baik. Selain itu, perlu ada kesadaran dari tiap individu terutama di Asrama, Rumah Susun, Apartemen dan Pondok Pesantren untuk tidak sembarangan membuang sampah ke dalam selokan. Juga membuat rambu-rambu larangan untuk membuang sampah ke dalam selokan, dan memberi himbauan untuk membuang sampah pada tempatnya, serta menyediakan tempat sampah di tempat-tempat strategis tetapi tidak terlalu jauh jarak antara tempat sampah yang satu dengan yang lainnya.

Sumber [ciptakarya.pu.go.id]

Pengolahan air limbah industri indonesia belum maksimal

Pengolahan air limbah wajib dilakukan agar tidak mencemari lingkungan sekitar. Potensi industri telah memberikan sumbangan bagi perekonomian Indonesia melalui  barang produk dan jasa yang dihasilkan, namun di sisi lain pertumbuhan industri telah menimbulkan masalah lingkungan yang cukup serius. Buangan air limbah industri tanpa melalui proses pengolahan air limbah mengakibatkan timbulnya pencemaran air sungai yang  dapat merugikan masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai, seperti berkurangnya hasil produksi pertanian, menurunnya hasil tambak, maupun berkurangnya pemanfaatan air sungai oleh penduduk. pengolahan air limbah

Seiring dengan makin tingginya kepedulian akan kelestarian sungai dan kepentingan menjaga keberlanjutan lingkungan dan dunia usaha maka muncul upaya industri untuk melakukan pengolahan air   limbah industrinya melalui perencanaan proses produksi yang effisien sehingga mampu meminimalkan air limbah buangan industri dan upaya pengendalian pencemaran air limbah industrinya melalui penerapan instalasi pengolahan air limbah. Bagi Industri yang  terbiasa dengan memaksimalkan profit dan mengabaikan usaha pengolahan air limbah agaknya bertentangan dengan akal sehat mereka, karena mereka beranggapan bahwa menerapkan instalasi pengolahan air limbah berarti harus mengeluarkan biaya pembangunan dan biaya operasional yang mahal. Di pihak lain timbul ketidakpercayaan masyarakat bahwa industri akan dan mampu melakukan pengolahan air  limbah dengan sukarela mengingat banyaknya perusahaan industri yang dibangun di sepanjang aliran sungai, dan membuang air limbahnya tanpa proses pengolahan air limbah terlebih dahulu . Sikap perusahaan yang hanya berorientasi “Profit motive” dan lemahnya penegakan peraturan terhadap pelanggaran pencemaran air ini berakibat timbulnya beberapa kasus pencemaran air oleh industry dan tuntutan-tuntutan masyarakat sekitar industry hingga perusahaan harus  mengganti kerugian  kepada masyarakat yang terkena dampak.

Latar belakang yang menyebabkan terjadinya permasalahan pencemaran air tersebut dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

(1) Upaya  pengelolaan lingkungan yang ditujukan untuk mencegah dan atau memperkecil dampak negatif yang dapat timbul dari kegiatan produksi dan jasa di berbagai sektor industri belum berjalan secara terencana.

(2) Biaya pengolahan air limbah dan pembuangan limbah semakin mahal  dan  dana pembangunan, pemeliharaan fasilitas bangunan pengolahan air limbah yang terbatas, menyebabkan perusahaan enggan menginvestasikan dananya untuk pencegahan kerusakan lingkungan, dan anggapan bahwa biaya untuk  membuat unit IPAL ( Instalasi Pengolahan Air Limbah )merupakan beban biaya yang besar yang dapat mengurangi keuntungan perusahaan.

(3) Tingkat pencemaran baik kualitas maupun kuantitas semakin meningkat, akibat perkembangan penduduk dan ekonomi, termasuk industri di sepanjang sungai yang tidak melakukan pengolahan air limbah industrinya secara optimal.

(4) Perilaku sosial masyarakat dalam hubungan dengan industri memandang bahwa sumber pencemaran di sungai adalah berasal dari buangan industri, akibatnya isu lingkungan sering dijadikan  sumber konflik untuk melakukan tuntutan kepada industri berupa perbaikan lingkungan, pengendalian pencemaran, pengadaan sarana dan prasarana yang rusak akibat kegiatan industri.

(5) Adanya Peraturan Pemerintah tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian  pencemaran air nomor: 82 Tahun 2001, meliputi standar lingkungan, ambang batas pencemaran air yang diperbolehkan, izin pembuangan limbah cair, penetapan sanksi administrasi maupun pidana belum dapat menggugah industri untuk melakukan pengolahan air limbah.

Permasalahan di atas dapat disimpulkan bahwa ” Penerapan Pengolahan air  Limbah  pada industri kurang optimal” dan jawaban terhadap berbagai pertanyaan di atas pada umumnya menyangkut:

(1) Apakah industri telah melakukan upaya minimisasi  limbah  untuk mencegah/memperkecil dampak negatif yang timbul dari kegiatan produksi?

(2) Faktor-faktor apa yang menyebabkan penerapan  pengolahan air limbah kurang optimal?

(3) Apakah penerapan  pengolahan air limbah secara bersama-sama dipengaruhi oleh biaya, beban buangan air limbah, teknologi ipal, perilaku sosial masyarakat, dan peraturan pemerintah?

Pertanyaan ini tentunya  dimaksudkan untuk para pelaku usaha agar dalam  usaha industrinya dapat melakukan minimisasi air limbahnya pada proses produksi, faktor-faktor yang menyebabkan pengelolaan limbah cair pada industri tidak dilakukan dengan optimal, pengaruh dari investasi terhadap pencemaran lingkungan, tingkat buangan limbah, teknologi Ipal, perilaku sosial masyarakat dan peraturan pemerintah  terhadap  penerapan pengelolaan air limbah  industry termasuk menghitung biaya manfaat penerapan Ipal industri. Berdasarkan dugaan yang terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia bahwa Penerapan Installasi Pengolahan air limbah industri  dipengaruhi oleh  biaya investasi, beban buangan limbah, teknologi proses ipal, sosial masyarakat dan peraturan pemerintah tentang pengelolaan lingkungan, serta menyangkut  manfaat penerapan instalasi pengolahan air limbah lebih besar daripada biaya investasi alat pengolahan air limbah.

Dari 350  industri terdapat kelompok jenis industri pengolahan makanan dengan 110 perusahaan, industri kimia/farmasi 70 perusahaan, permesinan 60 perusahaan, tekstil 40 perusahaan, furniture 30 perusahaan dan kelompok jenis industri kemasan dan lain-lain masing-masing 20 perusahaan, yang umumnya telah mengupayakan minimalisasi air limbah pada proses produksinya melalui  optimalisasi proses (reduce 74,29%), pemakaian kembali sisa  air proses (reuse 8,57%), pemanfaatan kembali air limbah (recycle 8,57%), melakukan pengambilan kembali air limbah (recovery 5,71%), sedangkan industri yang melakukan penerapan pengolahan air limbah ( 42,85%) atau sebanyak 150 industri.

Hubungan fungsional antara variabel Y dan X didapat model persamaan regresi  berganda   Y= 9,132+ 0,935 X1+ 0,694 X2 + 0.081X3+ 0.161X4 – 0,234 X5,  diartikan bahwa fungsi penerapan pengolahan air limbah dipengaruhi secara positif oleh biaya investasi, beban buangan air limbah, teknologi proses, sosial masyarakat dan peraturan pemerintah.  Tanda koefisien negatif  menunjukkan adanya hubungan negatif antara penerapan ipal dengan peraturan pemerintah: semakin tinggi industri menerapkan Ipal maka semakin rendah control pemerintah terhadap industri yang menerapkan pengolahan air limbah.

Perhitungan biaya manfaat  diambil dengan asumsi discount faktor 15 % dan umur ekonomis ipal 10 tahun, didapatkan  biaya pembuatan alat pengolahan air limbah per m3 air  limbah, yaitu Rp 975 – Rp 1836  untuk kelompok jenis industri makanan, Rp 1450 – Rp 2027,- untuk industri tekstil, Rp 1301,-  – Rp 1613,- untuk Industri Farmasi dan Rp 2339 – Rp 2961,- untuk kelompok jenis industri permesinan. Perhitungan nilai manfaat dilihat dari kemampuan alat pengolahan air limbah menurunkan kadar BOD, COD dan Suspended solid  per m3  air limbah yaitu Rp 1499 – Rp 2764 untuk kelompok industri pengolahan makanan , Rp 2269 – Rp 6217,- untuk industri tekstil, Rp 1613 – Rp 2359,- untuk industri farmasi, dan Rp3427 – Rp 6026,-  untuk industri permesinan. Perhitungan rasio manfaat biaya juga menghasilkan nilai perbandingan biaya manfaat           ( BCR) penerapan Ipal yaitu 1,01 – 1,57  untuk kelompok industri pengolahan makanan, 1,11 – 4,28 untuk  industri tekstil, 1,24 – 1,46  untuk industri farmasi, dan  1,15 – 2,57 untuk  industri permesinan.

Kesimpulan dari Penelitian ini adalah :

1. Terdapat 74,29 % industri dari 350 perusahaan yang terbanyak memilih melakukan upaya minimisasi air limbah industrinya melalui optimalisasi pada proses produksi (reduce).

2. Faktor-faktor yang mendorong industri menerapkan instalasi pengolahan air limbah antara lain adalah biaya investasi, beban buangan air limbah, teknologi proses, sosial masyarakat industri, peraturan pemerintah di bidang pengelolaan lingkungan.  Hal ini dijelaskan oleh hasil uji F hitung sebesar 788,857 > dari F tabel 2,54 pada taraf signifikansi 5 % yang menunjukkan semua faktor tersebut secara bersama-sama dan signifikan mempengaruhi penerapan Ipal.

3. Manfaat penerapan instalasi pengolahan air limbah lebih besar dari biaya instalasi, baik dari nilai bersih sekarang ( Net Present Value), maupun dari rasio manfaat biayanya. Oleh karena itu secara ekonomi dan ekologis ipal layak diterapkan sebagai salah satu upaya mengurangi pencemaran air limbah industri.

Saran yang diberikan berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan adalah:

1. Sebaiknya industri dapat melakukan program minimisasi ke arah cleaner production yang terpadu dijalankan oleh semua bagian terkait baik itu produksi, enginering, maintenance, lingkungan, keuangan dan lainnya.
2. Bagi industri yang limbahnya belum memenuhi baku mutu meskipun telah menerapkan minimisasi limbah perlu menerapkan pengolahan air limbah mengingat pengolahan air limbah merupakan aset perusahaan yang bermanfaat untuk mengurangi beban pencemaran dan untuk kelangsungan industri di masa depan.
3. Bagi industri yang menerapkan pengolahan air limbah dan memenuhi bakumutu buangan air limbah perlu diberikan penghargaan oleh Pemerintah. Keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan industri dalam mengusahakan  daerah aliran sungai  sekitar industri ditata secara berkelanjutan melalui system pengolahan air limbah bersama.

Sumber [kabarindonesia.com]