membran RO

Sistem Pemurnian Air RO

Pemurnian air skala rumah tangga, Sistem pemurnian air RO telah terbukti sangat efektif mengatasi permasalahan kualitas air dibandingkan metode pemurnian yang lain seperti karbon aktif, water softener, distilasi, UV, dan netralisasi. Sistem RO dapat memisahkan komponen-komponen yang tidak diinginkan seperti komponen organik, non organik, bakteri, virus, partikulat, serta ion atau garam terlarut. Sistem RO juga dikenal sebagai media filter yang memiliki pori paling kecil dibandingkan filter-filter yang lain yaitu 0.0001 mikron. Beberapa riset dan paten tentang keefektifan sistem RO dengan berbagai macam desain dan konfigurasi turut mendukung perkembangan sistem RO skala rumah tangga.

Membran Reverse osmosis
Membran semi permeabel pada aplikasi reverse osmosis terdiri dari lapisan tipis polimer pada penyangga berpori (fabric support). Membran untuk kebutuhan komersial harus memiliki sifat permeabilitas yang tinggi terhadap air. Selain itu, membran juga harus memiliki derajat semipermeabilitas yang tinggi dalam arti laju transportasi air melewati membran harus jauh lebih tinggi dibandingkan laju transportasi ion-ion yang terlarut dalam umpan.

Membran juga harus memiliki ketahanan (stabil) terhadap variasi pH dan suhu. Kestabilan dari sifat sifat tersebut dalam periode waktu dan kondisi tertentu dapat didefinisikan sebagai umur membran yang biasanya berkisar antara 3-5 tahun. Terdapat dua jenis polimer yang dapat digunakan sebagai membran reverse osmosis: selulosa asetat (CAB) dan komposit poliamida (CPA). Kedua jenis material membran ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan pada proses pembuatannya, kondisi operasi dan kinerjanya.

pemurnian air minum

Desain Sistem Reverse osmosis
Aplikasi sistem Reverse osmosis (RO) terdiri dari air umpan yang diberi tekanan, sistem RO, dan sistem pemipaan yang membawa air yang telah dimurnikan dari konsentratnya secara terpisah. Beberapa sistem RO juga dilengkapi oleh pre-filter, booster pump, post-filter, tangki bertekanan untuk menyimpan produk, dan kran dari bahan stainless steel atau plastik.

Pre-filter berfungsi untuk memisahkan padatan padatan yang terlarut dalam air umpan seperti partikulat, klorin dan komponen lain penyebab fouling. Sistem pre-filter biasanya berupa  sedimen filter, karbon aktif, penambahan antiscalant atau kombinasi dari ketiganya. Booster pump dipasang pada sistem RO biasanya berfungsi untuk meningkatkan tekanan. Dengan peningkatan tekanan, booster pump mampu untuk meningkatkan rejeksi dan laju alir produk. Membran RO merupakan inti dari sistem, sehingga pemilihan jenis, dan modul membran menjadi sangat penting dalam desain. Membran RO dibuat dari selulosa asetat, selulosa triasetat, atau resin poliamida. Ketiganya memiliki keunggulan dan kelemahan yang spesifik. Sedangkan untuk modul membran, pada sistem rumah tangga modul yang dipilih biasanya modul jenis spiral wound. Laju alir melewati membran yang dikontrol oleh ketebalan membran, ukuran pori, dan perbedaan tekanan. Batasan pada teknis pengoperasiannya juga sangat penting untuk diperhatikan. Laju alir akan meningkat seiring peningkatan tekanan, namun tekanan yang besar dapat merusak (merobek) membran sehingga komponen yang semula akan dipisahkan dari air akan terikut sebagai produk.

Post-filter merupakan penanganan setelah air melewati membran RO. Fungsinya adalah untuk menghilangkan bau, rasa yang tidak diinginkan. Post-filter biasanya berupa karbon aktif yang dengan mudah dapat mengadsorbsi komponen penyebab bau dan rasa yang tidak diinginkan. Tangki penampung digunakan untuk menampung produk setelah proses karena proses pemisahan membran merupakan proses yang lambat. Beberapa jenis tangki penampung seperti tangki penampung bertekanan dan yang tidak bertekanan digunakan sesuai dengan kebutuhan. Terdapat pula beberapa alat tambahan yang digunakan untuk mempertahankan kinerja membran RO yaitu unit autoflush yang berfungsi untuk meminimalisasi fenomena fouling dan scaling. Fouling merupakan perubahan morfologi membran secara irreversibel yang disebabkan oleh interaksi fisik dan atau kimia spesifik antara membran dengan berbagai komponen yang ada dalam cairan umpan, antara lain koloid, partikel halus, minyak, mikroorganisme, oksida logam, dan silika. Sedangkan scaling adalah presipitasi kristal garam di permukaan membran seperti CaCO 3 , CaSO 4 , BaSO 4 , SrSO 4 , CaF 2 , dan Mg(OH) 2. Pada instalasi RO skala besar, minimalisasi fouling dan scaling umumnya menggunakan senyawa penghambat kerak (sering disebut sebagai antiscalant atau scale intibitor), sedangkan pada RO skala rumah tangga umumnya menggunakan proses pre-treatment atau autoflush. Beberapa desain dan konfigurasi sistem RO dengan kelebihan masing-masing telah dipatenkan seperti, sistem RO reguler untuk instalasi rumah tangga, sistem RO instalasi rumah tangga yang dilengkapi dengan filter sedimen sebagai unit pre-filter ,sistem RO instalasi rumah tangga yang dilengkapi dengan filter sedimen sebagai unit pre-filter dan karbon aktif sebagai post-filter, sistem RO instalasi rumah tangga yang dapat menyediakan air bersih secara kontinyu tanpa menghasilkan limbah, sistem RO instalasi rumah tangga dengan desain dan konfigurasi yang lebih efisien dibandingkan dengan desain yang lain, sistem RO skala rumah tangga yang dilengkapi dengan sistem pembuangan drain secara langsung, sistem RO instalasi rumah tangga dilengkapi sistem backwashable.

Tipe Aplikasi
Aplikasi sistem RO skala rumah tangga dapat dibagi menjadi beberapa tipe sesuai dengan kapasitas dan penggunaannya, yaitu tipe undersink, whole house, multi family, dan farm and ranch .

Tipe Undersink merupakan sistem RO yang didesain untuk memenuhi kebutuhan air minum dalam rumah. Tipe ini biasanya dipasang dibawah wastafel yang terdapat didapur. Kapasitas produksi dari tipe undersink berkisar antara 95-378 kemasan galon/hari. Sistem yang digunakan pada tipe undersink terdiri dari 1-2 metode pre-filter yang berfungsi memisahkan padatan yang berukuran 1-20 mikron, RO yang akan memisahkan air dari ion, garam dan mineral yang terlarut, post-filter, serta tangki penampung.

Tipe Whole House didesain untuk memenuhi kebutuhan air didalam sebuah rumah tangga, seperti air minum, air untuk memasak, air untuk mandi, dsb. Tipe ini lebih besar dibandingkan tipe undersink. Sistem yang diterapkan pada tipe whole house meliputi pre-filter seperti karbon aktif, dan penambahan antiscalant, unit RO, tangki penampung serta repressurization system yang memudahkan proses pemurnian air.

Sistem yang digunakan pada tipe multi family dan Farm and Ranch sama dengan tipe whole house. Perbedaannya terletak pada kapasitas dan skala produksinya. Tipe multi family biasanya digunakan pada kompleks apartemen yang kecil (± 4 rumah) dantipe farm and ranch biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan air untuk banyak rumah atau kebutuhan air di peternakan dengan kapasitas 7-37 L/menit .

Kesimpulan dari artikel ini adalah Sistem RO skala rumah tangga dapat secara efektif dalam pemurnian air dan memisahkan berbagai macam komponen yang tidak diinginkan seperti komponen organik, non organik, bakteri, virus, ion terlarut dan partikulat. Dalam kasus-kasus umpan air yang memiliki beragam kontaminan, sistem RO secara ekonomis lebih unggul dibandingkan dengan metode pemurnian air yang lain.

Sumber [ejournal.undip.ac.id]

Sistem Penyaringan Reverse Osmosis Atasi Krisis Air

Reverse Osmosis biasa disebut RO, Reverse Osmosis sistem penyaringan air modern yang aman. Akhir-akhir ini kita sering mendengar sistem penyulingan /penyaringan air yang dikenal dengan teknologi RO atau Osmosis Balik. Meskipun bukan termasuk teknologi baru (penggunannya sudah dimulai pada tahun 1970-an untuk memurnikan air laut hingga layak dikonsumsi sebagaimana halnya air tawar) tapi mungkin masih belum banyak orang yang mengenal tekonologi ini. Padahal teknologi pengolahan air Reverse Osmosis ini sudah di kenal luas dan digunakan  oleh negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Jepang dan Singapura.

reverse osmosis sistem

Air adalah merupakan unsur utama kehidupan yang harus dimanfaatkan secara bijak. Kenyataannya air selalu dihamburkan, dicemari, dan disia-siakan. Kecenderungan yang terjadi adalah berkurangnya ketersediaan air bersih itu dari hari ke hari maka dari itu teknologi penyaringan RO ini sangat penting. Semakin meningkatnya populasi manusia, semakin besar pula kebutuhan akan air minum. Sehingga secara relatif, ketersediaan air bersih tersebut berkurang. Bahkan menurut pendapat beberapa ahli, pada suatu saat nanti, akan terjadi ‘pertarungan’ untuk memperebutkan air bersih ini terlebih lagi kondisi ini diperparah dengan pengambilan air bawah tanah yang saat ini juga sudah dalam tahap mengkhawatirkan. Diperkirakan, 10 tahun mendatang, warga akan kesulitan mendapatkan air bersih karena tidak ketatnya pengawasan pengambilan air tanah.

Samsuhadi (Dosen Luar Biasa Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Trisakti) pada 2005 pernah meneliti, jika pada 2025 penduduk Jakarta diperkirakan mencapai 27 juta dan setiap orang membutuhkan air bersih 200 liter per hari (termasuk kebutuhan untuk industri), maka kebutuhan air bersih akan mencapai 2.000 juta meter kubik. Sementara pasokan PDAM diperkirakan hanya 645 juta meter kubik, sehingga kebutuhan air tanah akan mencapai 1,355 juta meter kubik.

Badan Regulator Pelayanan Air Minum DKI Jakarta juga menyatakan, tingginya kebutuhan air di Jakarta yang tidak diimbangi dengan penambahan jaringan dan pasokan ditengarai bakal memicu defisit air dari tahun ke tahun kita harus menggunakan Sistem RO untuk menaggulanginya. Saat ini saja, total kebutuhan air baku di DKI Jakarta mencapai 17.700 liter per detik. Dari analisis kebutuhan air di DKI, defisit air baku akan terjadi sepanjang tahun. Tahun 2010 saja, defisit air mencapai 6.857 liter per detik. Lalu pada tahun 2015 diperkirakan akan terjadi defisit sekitar 13.045 liter per detik. Kemudian pada 2020, defisit akan mencapai 28.370 liter per detik.

Angka kebutuhan air yang akan terus meningkat ini, jika tidak dilakukan upaya pelestarian lingkungan di sekitar wilayah Jakarta serta upaya alternatif penyediaan air baku, diperkirakan pada 2025 warga Jakarta akan benar-benar kesulitan mendapatkan air bersih. Saat ini, operator penyedia air minum PDAM maupun operator swasta lainnya masih mengandalkan cara-cara konvensional berupa pasokan air dari sumber air permukaan seperti sungai dan waduk dan masih sedikit yang beralih ke Sistem Penyaringan Air Reverse Osmosis. Dengan makin berkurangnya sumber air tersebut  baik krisis jumlah pasokan hingga penurunan kualitas, krisis air yang sudah menjadi langganan setiap tahun masih akan terus terjadi sepanjang masa. Sebab, diakui atau tidak, selain minimnya pasokan, masalah kualitas air juga menjadi persoalan serius. Air yang mengalir melewati saluran terbuka sangat berpotensi tercemar limbah yang membahayakan. Bahkan, hal itu juga rentan terhadap penyakit, bayak penyakit berbahaya yang berasal dari air yang tidak bersih dan sehat. Hal ini diperparah dengan kondisi pipa-pipa distribusi air bersih yang sudah berumur puluhan tahun, sehingga ketika air bersih tiba di pelanggan sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi air bersih pada saat baru diolah. Air bisa keruh, berwarna coklat, hitam atau berbau. Penyaringan air laut / Penyulingan air laut dengan teknologi Reverse Osmosis merupakan salah satu alternatif solusi keterbatasan pasokan air dalam jangka panjang sebagai langkah antisipasi krisis air yang selama ini terjadi.

reverse osmosis penyaringan air

Osmosis merupakan perpindahan cairan dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah melalui membran semipermeabel. Sedangkan sistem penyaringan air RO adalah kebalikan dari osmosis, yaitu perpindahan zat (larutan) dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi melalui sebuah membran. Teknologi ini digunakan untuk pemurnian air dengan mengubah air laut menjadi air tawar hingga siap diminum.

Cara kerjanya RO adalah dengan mendesakkan air laut melewati membran-membran semipermeable untuk menyaring kandungan garamnya. Kandungan garam yang tersaring disisihkan. Sebagian air laut digunakan untuk melarutkannya. Tekanan yang amat kuat dikenakan di sebelah sumber air agar molekul-molekul air dapat menembus membran RO di sebelahnya. Sebelum didorong ke membran, air melalui beberapa tahap filtrasi (penyaringan) antara lain cartridge (sedimen), karbon blok, dan karbon granular. Kemudian, air didorong dengan tekanan tinggi untuk melewati membran RO dan menghasilkan air yang murni. Membran Reverse Osmosis berteknologi tinggi ini mempunyai pori-pori yang sangat kecil yaitu hanya 0.0001 mikron (500,000 kali lebih kecil dibandingkan diameter sehelai rambut manusia). Membrane ini memungkinkan penyaringan berbagai bahan mikro organisme, logam berat, bakteri, virus, bahan anorganik dan bahan berbahaya lainnya yang terlarut dalam air. Dengan demikian hanya molekul air saja yang dapat menembus membran tersebut sehingga dapat menghasilkan air minum yang mencapai kemurnian 99,99 %.
Sumber [anekasumber]

Desalinasi air laut dengan Sea Water Reverse Osmosis

Desalinasi air laut dengan Sea Water Reverse Osmosis, Desalinasi air laut adalah proses pemisahan yang digunakan untuk mengurangi kandungan garam terlarut dari air garam hingga level tertentu sehingga air laut dapat digunakan. Proses desalinasi air laut melibatkan tiga aliran cairan, yaitu umpan berupa air garam (misalnya air laut), produk bersalinitas rendah, dan konsentrat bersalinitas tinggi. Produk proses desalinasi air laut umumnya merupakan air laut dengan kandungan garam terlarut kurang dari 500 mg/l, yang dapat digunakan untuk keperluan domestik, industri, dan pertanian. Hasil sampingan dari proses desalinasi air laut adalah brine. Brine adalah larutan garam berkonsentrasi tinggi (lebih dari 35000 mg/l garam terlarut).

Destilasi air laut merupakan metode desalinasi air laut yang paling lama dan paling umum digunakan. Destilasi air laut adalah metode pemisahan dengan cara memanaskan air laut untuk menghasilkan uap air, yang selanjutnya dikondensasi untuk menghasilkan air bersih. Berbagai macam proses distilasi air laut yang umum digunakan, seperti multistage flash, multiple effect distillation, dan vapor compression umumnya menggunakan prinsip mengurangi tekanan uap dari air agar pendidihan dapat terjadi pada temperatur yang lebih rendah, tanpa menggunakan panas tambahan.

Metode lain desalinasi air laut adalah dengan menggunakan membran. Terdapat dua tipe membran yang dapat digunakan untuk proses desalinasi, yaitu reverse osmosis (RO) danelectrodialysis (ED). Pada proses desalinasi air laut menggunakan membran RO, air laut pada larutan garam dipisahkan dari garam terlarutnya dengan mengalirkannya melalui membran water-permeable. Permeate dapat mengalir melalui membran akibat adanya perbedaan tekanan yang diciptakan antara umpan bertekanan dan produk, yang memiliki tekanan dekat dengan tekanan atmosfer. Sisa umpan selanjutnya akan terus mengalir melalui sisi reaktor bertekanan sebagai brine. Proses ini tidak melalui tahap pemanasan ataupun perubahan fasa. Kebutuhan energi utama adalah untuk memberi tekanan pada air umpan. Desalinasi air payau membutuhkan tekanan operasi berkisar antara 250 hingga 400 psi, sedangkan desalinasi air laut memiliki kisaran tekanan operasi antara 800 hingga 1000 psi.desalinasi air laut

Dalam praktik desalinasi air laut, umpan dipompa ke dalam container tertutup, pada membran, untuk meningkatkan tekanan. Saat produk berupa air bersih dapat mengalir melalui membran, sisa umpan dan larutan brine menjadi semakin terkonsentrasi. Untuk mengurangi konsentrasi garam terlarut pada larutan sisa, sebagian larutan terkonsentrasi ini diambil dari container untuk mencegah konsentrasi garam terus meningkat.

Sea Water Reverse Osmosis (Osmosis terbalik) adalah sebuah istilah teknologi yang berasal dari osmosis. Osmosis adalah sebuah fenomena alam dalam sel hidup di mana molekul “solvent” (biasanya air) akan mengalir dari daerah berkonsentrasi rendah ke daerah Berkonsentrasi tinggi melalui sebuah membran semipermeabel. Membran semipermeabel ini menunjuk ke membran sel atau membran apa pun yang memiliki struktur yang mirip atau bagian dari membran sel. Gerakan dari “solvent” berlanjut sampai sebuah konsentrasi yang seimbang tercapai di kedua sisi membran.

Sea Water Reverse osmosis adalah sebuah proses pemaksaan sebuah solvent dari sebuah daerah konsentrasi “solute” tinggi melalui sebuah membran ke sebuah daerah “solute” rendah dengan menggunakan sebuah tekanan melebihi tekanan osmotik. Dalam istilah lebih mudah, Sea Water reverse osmosis adalah mendorong sebuah solusi melalui filter yang menangkap “solute” dari satu sisi dan membiarkan pendapatan “solvent” murni dari sisi satunya.

Sea Water Reverse Osmosis merupakan suatu metode pembersihan air laut melalui membran semi permeable. Pada proses membran, pemisahan air laut dari pengotornya didasarkan pada proses penyaringan dengan skala molekul, dimana suatu tekanan tinggi diberikan melampaui tarikan osmosis sehingga akan memaksa air laut melalui proses osmosis terbalik dari bagian yang memiliki kepekatan tinggi ke bagian yang mempunyai kepekatan rendah. Selama proses tersebut terjadi, kotoran dan bahan yang berbahaya akan dibuang sebagai air tercemar (limbah). Molekul air laut dan bahan mikro yang berukuran lebih kecil dari Reverse Osmosis akan tersaring melalui membran. Di dalam membran Sea Water Reverse Osmosis tersebut terjadi proses penyaringan / desalinasi air laut dengan ukuran molekul, yakni partikel yang molekulnya lebih besar daripada molekul air laut misalnya molekul garam, besi dan lainnya, akan terpisah dan dalam membran osmosis balik harus mempunyai persyaratan tertentu, misalnya kekeruhan harus nol, kadar besi harus <0,1>.

Instalasi desalinasi air laut dengan metode Sea Water Reverse Osmosis, Sistem SWRO terdiri dari 4 (empat) proses utama, yaitu pretreatment,  pressurization, membrane separation, post teatment stabilization:

Desalinasi air laut dengan SWRO

1. Pretreatment: Air umpan pada tahap pretreatment disesuaikan dengan membran dengan cara memisahkan padatan tersuspensi, menyesuaikan pH, dan menambahkan inhibitoruntuk mengontrol scaling yang dapat disebabkan oleh senyawa tetentu, seperti kalsium sulfat.

2. Pressurization: Pompa akan meningkatkan tekanan dari umpan yang sudah melalui prosespretreatment hingga tekanan operasi yang sesuai dengan membran dan salinitas air umpan.

3. Separation: Membran permeable akan menghalangi aliran garam terlarut, sementara membran akan memperbolehkan air produk terdesalinasi melewatinya. Efek permeabilitas membran ini akan menyebabkan terdapatnya dua aliran, yaitu aliran produk air bersih, dan aliran brine terkonsentrasi. Karena tidak ada membran yang sempurna pada proses pemisahan ini, sedikit garam dapat mengalir melewati membran dan tersisa pada air produk. Membran RO memiliki berbagai jenis konfigurasi, antara lain spiral wound danhollow fine fiber membranes.

4. Post Teatment Stabilization: Air produk hasil pemisahan dengan membran biasanya membutuhkan penyesuaian pH sebelum dialirkan ke sistem distribusi untuk dapat digunakan sebagai air minum. Produk mengalir melalui kolom aerasi dimana pH akan ditingkatkan dari sekitar 5 hingga mendekati 7.

Sistem pretreatment yang mendukung sistem desalinasi air laut dengan SWRO umumnya terdiri dari tangki pencampur (mixing tank), saringan pasir cepat (rapid sand filter), saringan untuk besi dan mangan (Iron & manganese filter) dan yang terakhir adalah sistem penghilang warna (colour removal).

Keunggulan teknologi Seawater reverse osmosis merupakan kecepatan proses pengolahan dalam memproduksi air bersih. Teknologi ini menggunakan tenaga pompa sehingga bisa memaksa produksi air keluar lebih banyak. Secara proses, sistem pengolahan osmosis ini menggunakan membran sebagai pemisah air dengan pengotornya. Pada proses dengan membran, pemisahan air dari pengotornya didasarkan pada proses penyaringan dengan skala molekul. Hal ini dilakukan karena di dalam proses desalinasi air laut dengan sistem osmosis balik, tidak memungkinkan untuk memisahkan seluruh garam dari air laut nya. Karena akan membutuhkan tekanan yang sangat tinggi sekali.

Sistem desalinasi air laut untuk menghasilkan air tawar, air asin atau air laut dipompa dengan tekanan tinggi ke dalam suatu modul membran reverse osmosis yang mempunyai dua buah pipa keluaran, yakni pipa keluaran untuk air tawar yang dihasilkan dan pipa keluaran untuk air garam yang telah dipekatkan. Kemudian di dalam membran osmosis balik tersebut terjadi proses penyaringan dengan ukuran molekul. Yaitu pemisahan partikel yang molekulnya lebih besar dari pada molekul air, misalnya molekul garam dan lainnya, ke dalam air buangan. Karena itu air yang akan masuk ke dalam membran osmosa balik harus mempunyai persyaratan tertentu, misalnya kekeruhan harus nol, kadar besi harus kurang dari 0,1 mili gram, densitas ph juga harus dikontrol agar tidak terjadi pengerakan kalsium karbonat dan lainnya.

Inilah yang menjadi kelemahan dari teknologi ini. Yaitu penyumbatan pada selaput membran reverse osmosis oleh bakteri dan kerak kapur atau fosfat. Yang umum terdapat dalam air asin atau laut. Untuk mengatasi kelemahannya, pada unit pengolah air osmosis balik selalu dilengkapi dengan unit anti pengerakkan dan anti penyumbatan oleh bakteri.

Untuk menghasilkan air bersih dari air laut ini dibutuhkan energi listrik sebesar 4,72 kilowatt jam per meter kubik. Sekarang ini rata-rata listrik per kilowatt jam mencapai harga Rp 1.000. Produksi air bersih dari proses desalinasi air laut bisa bersaing dengan tarif air bersih kelas komersial yang mencapai Rp 12.500 per meter kubik. Bahkan, tarif air bersih industri mencapai Rp 15.000 per meter kubik. Nilai produksi air bersih dengan teknologi desalinasi air laut yang dikembangkan sekarang mampu menekan harga hingga Rp 9.000 per meter kubik.

Dengan memanfaatkan air laut dan mengolahnya sebagai air minum berarti juga mengurangi pemakaian air bawah tanah yang diyakini sebagai penyebab utama penurunan tanah di berbagai tempat terutama di Jakarta. Bahkan, tingkat penurunan tanah akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan di Jakarta, membuat kita was-was akan bahaya tenggelamnya ibu kota negara kita dalam beberapa puluh tahun kedepan.

Melalui proses desalinasi air laut , air laut atau air payau yang diproses dengan Sea Water reverse osmosis diubah menjadi air bersih sehingga dapat menjawab masalah krisis ketersediaan air bersih bagi masyarakat pesisir. Dengan memanfaatkan air laut sebagai air bersih dapat mencegah terjadinya penurunan tanah yang sewaktu – waktu dapat terjadi jika kita terus – menerus menggunakan air tanah.

Sumber [green.kompasiana.com]