krisis air

Droppler Alat Memonitor Air

Droppler Alat Memonitor Air. Berbagai negara tengah menghadapi kekurangan air, hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Sebuah tim desain yang berasal dari daerah kekeringan yaitu California telah datang dengan konsep baru untuk membantu orang membatasi penggunaan air.  Read more

Krisis Air Kota Jakarta

Kriris Air Kota Jakarta, Krisis Air Bersih semakin parah dan menakutkan. Sebagai kota besar yang langganan banjir, apalagi di musim penghujan, Pemprov DKI Jakarta telah mempersiapkan diri, antara lain dengan menuntaskan pembangunan Kanal Banjir Timur (KBT). Program ini merupakan salah satu bentuk strategi jangka panjang untuk meminimalisasi dampak bencana banjir krisis airyang ditimbulkan.

Pertanyaannya adalah kenapa program-program penanggulangan banjir lebih menonjol dari pada penanganan krisis air dan sumber daya air? Padahal, ancaman bencana krisis air dan sumber daya air tidak kalah mengkhawatirkan bagi setiap masyarakat, khususnya yang tinggal di perkotaan. Eksploitasi besar-besaran air tanah misalnya, tidak hanya mengakibatkan terjadinya kelangkaan air, tetapi juga mengakibatkan penurunan permukaan tanah (land subsidence) terhadap permukaan air laut.

Jakarta dan Semarang, misalnya, merupakan contoh perkotaan yang posisinya semakin rendah daripada permukaan laut sehingga kota ini senantiasa dihadapkan pada ancaman bencana banjir dan krisis air. Hal ini diperparah dengan perubahan iklim.

Isu Krisis Air
Berbeda dengan Indonesia yang terkesan ‘memarginalkan’ isu krisis air karena lebih fokus pada penanganan banjir, masyarakat dunia senantiasa memperhatikan akan pentingnya isu krisis air. Ini disebabkan jumlah penduduk dunia terus meningkat sementara stok sumber daya air semakin berkurang. Dengan tidak bermaksud menyalahkan negara-negara berkembang, tekanan paling berat terhadap sumber daya air akan terjadi di kelompok negara ini karena masih tingginya laju kelahiran yang diperkirakan 2,1% per tahun. Lebih khusus lagi, tekanan masyarakat di perkotaannya tidak kalah mengkhawatirkan karena laju pertumbuhan penduduknya mencapai 3,5% (Middleton).

Berdasarkan hal tersebut, ketidakseimbangan jumlah penduduk dan ketersediaan air akan menjadi babak baru konflik global pada abad ini. Mengingat sumber daya air tidak ada substitusinya sebagaimana bahan bakar minyak. Selain itu, kekhawatiran global terhadap kelangkaan air juga karena adanya prediksi Gardner-Outlaw and Engelman (1997) yang disitir PBB (2003), bahwa pada tahun 2050 diprediksikan 1 dari 4 orang akan terkena dampak dari kekurangan air bersih.

Sementara itu, dalam konteks Indonesia, meskipun cadangan airnya mencapai 2.530 km3/tahun yang termasuk dalam salah satu negara yang memiliki cadangan air terkaya di dunia, isu krisis air harus menjadi perhatian, khususnya di wilayah perkotaan. Mengingat, pada musim kemarau terlihat sangat kontras bahwa krisis air menjadi isu krusial.

Jakarta merupakan salah satu contoh kawasan perkotaan yang dihadapkan pada isu kelangkaan air. Tingginya pertumbuhan penduduk, termasuk di dalamnya tingkat urbanisasi, menuntut besarnya penyediaan air bersih. Namun hingga saat ini, diperkirakan PDAM DKI Jakarta baru menyuplai 50% air bersih untuk warganya.

Ironisnya, di tengah ancaman krisis air tersebut, potensi air hujan di Jakarta yang mencapai 2.000 juta m3/tahun tidak teresap optimal karena hanya 26,6% yang teresap ke dalam tanah dan sisanya 73,4% terbuang sia-sia ke laut. Tentu saja, rendahnya resapan air di kawasan perkotaan pada umumnya dan di Jakarta khususnya, disebabkan pesatnya pembangunan yang tidak disertai dengan ketidakpatuhan berbagai pihak dalam menaati peraturan-peraturan yang ditetapkan.

Kebijakan Pemerintah

Sebelum membicarakan apa yang harus dilakukan pemerintah dalam mengatasi krisis air bersih di perkotaan, sebaiknya kita menyoroti dua hal yang sangat penting yang menyebabkan kelangkaan air tersebut. Pertama, eksploitasi besar-besaran air tanah yang dilakukan oleh gedung-gedung perkantoran, rumah sakit, pusat perbelanjaan, apartemen, pengusaha laundry, dan bangunan lainnya. Kedua, pembangunan gedung-gedung yang tidak mematuhi perbandingan lahan terpakai dan lahan terbuka, sehingga mengganggu proses penyerapan air hujan ke dalam tanah.

Kedua hal tersebut jelas mengganggu kelestarian air tanah yang sangat rentan. sebagaimana yang tertuang pada Pasal 37 ayat (1) UU No 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yang menyebutkan bahwa air tanah merupakan salah satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya dapat mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit dilakukan.

Dengan demikian, penyedotan air tanah di satu sisi dan terganggunya proses peresapan air hujan di sisi lain merupakan masalah klasik yang senantiasa akan dihadapi pemerintah dalam memberikan pelayanan penyediaan air bersih. Hal ini diperparah dengan lemahnya PDAM dalam menyalurkan air bersih sehingga penyedotan air tanah pun tidak terelakkan dalam rangka memenuhi kebutuhan air tersebut.

Kompleksitas permasalahan krisis air harus menjadi perhatian serius pemerintah secara terintegrasi. Pengelolaan model lama yang dilakukan lembaga pemerintah secara parsial berdasarkan tugas pokok dan fungsi setiap lembaga terbukti tidak mampu mengatasi permasalahan ini. Ke depan, selain harus terintegrasi antarlembaga pemerintah, penanganan sumber daya air juga harus melibatkan seluruh stakeholder, khususnya mereka yang menggunakan air tanah.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan pemerintah dalam mengatasi penyebab krisis air di perkotaan, di antaranya :

1. Pengaturan pemanfaatan air tanah yang disertai dengan pengawasan yang ketat.
2. Pemberian surat IMB (izin mendirikan bangunan) harus disertai kewajiban penyediaan lahan terbuka.

3. Kewajiban memperbaiki kualitas dan mengembalikan tata guna air sesuai pemanfaatan sebagaimana yang telah dimanfaatkan oleh setiap pengguna air.

4. Setiap pengguna air harus diwajibkan membiayai pengadaan air bersih.

5. Setiap bangunan harus diwajibkan membuat sumur resapan sehingga dapat meningkatkan cadangan air tanah.

Tampaknya pembangunan sumur resapan merupakan kebutuhan mendesak bagi segenap warga perkotaan. Hal ini karena setiap satu sumur resapan akan mampu meneruskan air hujan ke dalam tanah sebanyak 40 drum/tahun atau 8 m3/tahun. Oleh karena itu, dalam konteks lokal Jakarta, optimalisasi penampungan air hujan di bawah tanah telah diatur Pemerintah DKI Jakarta melalui Perda No 68 Tahun 2003. Namun, potensi pemulihan air tanah secara buatan di Jakarta masih sangat rendah.

Terintegrasi

Ketersediaan air bersih dalam kelangkaan air merupakan kebutuhan mendesak bagi setiap individu manusia, terlebih yang tinggal di perkotaan yang dihadapkan pada ancaman krisis air akibat ketidakseimbangan pembangunan. Namun, untuk mewujudkan kelestarian sumber daya air, diperlukan kebijakan yang terintegrasi, baik dari aspek stakeholder maupun pendekatan pengelolaan. Hal ini karena pendayagunaan sumber daya air didasarkan pada keterkaitan air hujan, air permukaan, dan air tanah dengan pendayagunaan air permukaan sebagai langkah utama. Akankah ancaman bencana kelangkaan air menjadi perhatian serius pemerintah? Semoga saja.

Sumber:[MediaIndonesia.com

Grup Bank Dunia Alirkan Rp 841M untuk air bersih indonesia

Air bersih sama halnya dengan air minum kedua hal ini sangat penting, International Finance Centre (IFC), anggota kelompok Bank Dunia, mengucurkan bantuan senilai USD 85 juta (setara Rp 841 M) kepada PT Moya Indonesia dalam upaya meningkatkan akses air bersih dan air minum yang aman di Indonesia. Bantuan itu khususnya menyasar 1,8 juta orang yang tinggal di Tangerang, Banten.

IFC berinvestasi senilai USD 32 juta, di mana USD 23 juta akan diberikan dalam bentuk pinjaman, dan USD 8,7 juta diberikan dalam bentuk ekuitas.

Selain dari investasi tersebut, IFC juga menggerakkan dana senilai USD 28 juta dari PT Indonesia Infrastructure Finance dan USD 25 juta dari PT Sarana Multi Infrastruktur, sebuah lembaga keuangan milik pemerintah di bawah Kementerian Keuangan, yang mendukung pendanaan proyek-proyek infrastruktur di Indonesia. IFC telah bekerjasama dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) dalam menyediakan pendanaan dan investasi ekuitas pada beberapa perusahaan Indonesia.air bersih

“Tangerang memiliki 1,8 juta orang dengan sekitar 400 industri, tetapi hanya 30.000 rumah tangga yang dapat menikmati air bersih. Investasi ini akan membantu kami meningkatkan akses ke air bersih dan mengatasi krisis air di kota ini,” ujar chief executive office Moya Asia Limited Simon A. Melhem dalam keterangan tertulis yang diterima merdeka.com, Selasa (25/6).

PT Moya Indonesia, anak perusahaan dari Moya Asia Limited, yang terdaftar pada Catalist, dewan kedua pada Singapore Exchange, telah menandatangani perjanjian 25 tahun dengan perusahaan air Indonesia, Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Benteng Kota Tangerang, untuk membangun, mengoperasikan dan akhirnya mentransfer sebuah sarana pengolahan air kepada pemerintah daerah setempat.

Country Manager IFC di Indonesia Sarvesh Suri menambahkan, dukungan IFC akan memungkinkan PT Moya Indonesia untuk meningkatkan lebih dari empat kali lipat kapasitas sarana pengolahan air bersih menjadi 168,480 cubic meter per hari dari 38,880 cubic meter per hari.

Investasi ini pun akan membantu perusahaan membangun jaringan distribusi yang akan menghubungkan sekitar 150.000 rumah tangga baru dan pelanggan dari kalangan industri untuk menjawab meningkatnya permintaan terhadap air bersih di Tangerang dan memungkinkan kota ini untuk mencapai millenium development goal dalam memperbaiki akses pada air bersih.

“Akses ke air bersih merupakan kebutuhan paling mendasar dan bagian kunci dari pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Ini merupakan proyek air pertama IFC di Indonesia, dan mempromosikan pembangunan perkotaan adalah salah satu tujuan strategis kami di Indonesia,” ujar Sarvesh.

IFC berinvestasi pada perusahaan perusahaan Indonesia untuk mendukung partisipasi mereka dalam pembangunan infrastruktur air bersih Indonesia dan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan.

Sumber [merdeka.com]

 

Penjernihan air menjernihkan kehidupan

Penjernihan air menjernihkan kehidupan, World Water Forum II di Den Haag pada Maret 2000, penjernihan air Indonesia diperkirakan menjadi salah satu negara yang mengalami krisis air bersih parah pada tahun 2025 hal ini bisa dihindari dengan penjernihan air. Prediksi yang sulit dipercaya karena saat ini kita termasuk negara paling kaya air bersih di dunia, yakni di peringkat kelima setelah Brasil, Rusia, Cina dan Kanada. Meski demikian, kita tak bisa mengelak dan menutup mata dan harus memulai memiliki alat penjernihan air. Karena faktanya, indikasi bahwa krisis air bersih akan menjadi masalah serius bagi Indonesia, kian hari semakin nyata. Air bersih yang semula mudah didapat, kini acapkali menjadi barang langka.penjernihan air Ancaman krisis air bersih yang begitu hebat itu tentu tidak terjadi begitu saja jika memiliki sistem penjernihan air mengingat ketersediaan air di Indonesia mencapai 6 persen dari total sumber daya air di dunia. Pasti ada faktor penyebab yang sangat luar biasa sehingga kandungan air bersih di negara kita merosot sedemikian drastisnya. Salah satunya adalah karena pertambahan jumlah penduduk yang sangat besar dalam beberapa waktu terakhir. Pertambahan penduduk berarti konsumsi air semakin bertambah dan hal tersebut tidak diimbangi dengan proses penjernihan air. Faktor lain yang juga berkontribusi signifikan memicu krisis air adalah kerusakan alam yang berlangsung terus menerus tanpa diimbangi dengan upaya penghijauan yang memadai dan proses penjernihan air bersih.  Eksploitasi sumber mata air secara besar-besaran untuk kepentingan komersil juga turut memicu krisis air bersih. Keadaan semakin diperparah oleh tingkat pencemaran lingkungan yang diperkirakan sebesar 15–35 persen per kapita per tahun sehingga kualitas dan kuantitas ketersediaan air bersih semakin kritis. Banyak masyarakat terpaksa mengonsumsi air yang tidak layak minum. Sebagaimana diungkap oleh hasil penelitian United States Agency for International Development (USAID) di berbagai kota di Indonesia pada tahun 2007 lalu, hampir 100 persen sumber air minum kita tercemar oleh bakteri  E.Coli dan Coliform sehingga dibutuhkan alat penjernihan air. Selain karena sejumlah pemicu di atas, krisis air di Indonesia juga terjadi karena ketidakmerataan sumber daya air dan kurangnya penjernihan air .Sejumlah daerah yang memang memiliki sumber daya air sedikit dan teknologi penjernihan air masih jarang seperti Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, telah mengalami krisis air sejak lama. Terhitung sejak tahun 1995, ketiga pulau ini telah mengalami defisit air selama 7 bulan pada musim kemarau. Dengan berbagai persoalan yang kompleks ini, potensi air di Indonesia yang layak dikelola pada tahun 2020 nanti diperkirakan hanya sekitar 35 persen atau sekitar 400 meter kubik per kapita per tahun. Jauh di bawah standar minimal dunia yakni 1.100 meter kubik per kapita per tahun. Untuk mengatasi krisis air baik karena perubahan iklim, cuaca ekstrim, maupun karena musim kemarau, pemerintah mengupayakan sejumlah langkah dengan alokasi dana yang sangat besar dan pemesanan alat penjernihan air, yakni sekitar 3 triliun rupiah setiap tahunnya. Sebagian besar dari anggaran ini dipergunakan untuk pembelian alat penjernihan air pengeboran sumur atau sumber air yang kering, pembuatan hujan buatan dan berupaya menemukan sumber air baru lalu mendistribusikannya ke wilayah-wilayah yang mengalami krisis air parah. Cara penjernihan air ini mungkin cukup efektif untuk mengatasi krisis air dengan cepat. Namun dalam jangka panjang, kita tak akan terhindar dari krisis air yang sesungguhnya jika tidak mungkin lagi menemukan sumber air baru atau memaksimalkan sumber air yang ada. Karena itu, proses penjernihan air selagi masih ada waktu, kita harus mengupayakan cara dan upaya yang tidak hanya berorientasi pada solusi sesaat namun juga berorientasi pada kelestarian air di masa mendatang.Penjernihan air atau  Daur Ulang Air sebagai cara mengatasi Krisis Air bersih  Prediksi mengenai krisis air yang akan mengancam kehidupan umat manusia tidak hanya dialami Indonesia. Diperkirakan, dua pertiga penduduk dunia akan kekurangan air pada tahun 2050 nanti. Sejumlah indikasi bahkan mulai terasa sejak lama. Diperkirakan 1 dari 4 orang di dunia kekurangan air minum, sementara 1 dari 3 orang tidak mendapatkan sanitasi yang layak. Untuk mengantisipasi potensi dan dampak krisis air yang semakin parah, sejumlah negara berupaya mencari solusi alternatif dengan menggunakan penjernihan air selain solusi-solusi jangka pendek seperti mencari sumber air baru. Salah satu cara yang cukup populer dan kian menjadi tren terutama di negara-negara maju dan negara yang mengalami krisis air parah, adalah penjernihan air atau  daur ulang air. Daur ulang atau recycle penjernihan air  telah lama dikenal di seluruh penjuru dunia sebagai bagian dari upaya melestarikan sumber daya alam yang terbatas ataupun benda-benda yang berpotensi merusak alam jika dibiarkan begitu saja. Selain recycle dan penjernihan air , dikenal pula istilah lain yang bertujuan sama yakni reduce (mengurangi) dan re-use (menggunakan kembali). Ketiga istilah ini sering disebut dengan 3R. Mulanya, 3R ini populer digunakan untuk barang-barang, benda-benda atau sumber daya alam yang sifatnya tidak bisa diperbarui, atau jumlahnya sangat terbatas, atau jika dibiarkan begitu saja akan menambah kerusakan lingkungan, seperti sampah plastik dan elektronik. Namun dalam perkembangannya, 3R juga berlaku bagi air karena semakin kritisnya ketersediaan air bersih di muka bumi terutama terkait sistem penjerihan air. Meski konsep penjernihan air terbilang sederhana, yakni mengolah dan menggunakan air yang telah dipakai, daur ulang air diyakini sebagai salah satu solusi alternatif paling baik di tengah kondisi semakin berkurangnya ketersediaan air bersih saat ini. Dengan alat penjernihan air mendaur ulang air, kita tidak hanya berhemat namun juga sekaligus mengoptimalkan penggunaan air sampai pada batas maksimal. Air limbah hasil daur ulang dan olahan penjernihan air dapat dimanfaatkan kembali untuk sejumlah aktivitas yang tidak begitu memerlukan air berkualitas tinggi sehingga kualitas dan ketersediaan air bersih untuk kebutuhan yang lebih pokok seperti minum, menjadi lebih terjamin. Semakin lama, semakin banyak negara menjadikan cara ini sebagai gerakan nasional yang melibatkan seluruh stakeholder, mulai pemerintah, pihak swasta dan seluruh masyarakat, untuk bersama-sama mengatasi krisis air di negaranya. Singapura misalnya, limbah air daur ulang di negara tersebut digunakan untuk keperluan industri. Sementara Israel memanfaatkan limbah air daur ulang untuk sektor pertanian. Adapun Amerika Serikat yang telah memiliki fasilitas reklamasi limbah air di mana pengolahan limbah air di sana telah menggunakan teknik yang sangat lanjut sehingga hasilnya bisa dialirkan ke kolam air tanah yang kemudian diekstraksi dan dikembalikan ke persediaan air keran. Dengan begitu pemanfaatan limbah air daur ulang menjadi lebih optimal. Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Optimalisasi penggunaan air melalui sistem daur ulang sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Riset mengenai pemanfaatan air daur ulang telah dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2003 lalu melalui Unit Riset Lembaga Pemberdayaan Umat (Salman Institute for Community Development) dengan dukungan Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia melalui sebuah program yang diberi nama SIPTekMan (Sistem Insentif Teknologi dan Manajemen). SIPTekMan melakukan serangkaian riset untuk mendapatkan teknologi alternatif yang murah untuk mendaur ulang air bekas wudu sehingga layak untuk digunakan kembali (Kementerian PU, 2012). Sejumlah instansi pemerintah juga turut mengembangkan dan memraktikkan cara ini. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi Jawa Barat misalnya, yang menetapkan tiga kantor dinas pemerintahan yaitu Dinas Tata Ruang dan Permukiman, Dinas Pendidikan, dan Dinas Pendapatan Daerah untuk menjadi proyek percontohan daur ulang limbah air domestik pada tahun 2008 lalu. Ketiga instansi ini dipilih karena memiliki tingkat konsumsi air paling tinggi dibanding instansi lainnya. Program yang menargetkan memanfaatkan sekitar 60 persen dari 80 persen limbah air bekas pakai ini diharapkan bisa menjadi proyek percontohan sehingga program daur ulang air bisa menjadi gerakan yang lebih masif di tanah air. Inisiasi memanfaatkan daur ulang air juga dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang sejak awal telah mendesain bangunannya untuk menggunakan air daur ulang. Air daur ulang digunakan untuk sejumlah keperluan seperti penyiraman taman, make up water cooling tower dan flushing yang didukung dengan instalasi pengolahan limbah cair berkapasitas sebesar 150 m3/hari. Digabungkan dengan penggunaan alat keluaran yang hemat air, gedung Kementerian PU ini mampu mengurangi penggunaan airnya dari standar pemakaian air untuk kantor 50 Liter/orang/hari menjadi 9 Liter/orang/hari. Sementara itu Pemerintah DKI Jakarta sebagai salah satu pemerintah daerah yang mengalami krisis air bersih paling parah, membentuk Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang menggunakan berbagai macam sistem pengolahan (unit proses dan unit operasi) baik pengolahan secara fisik maupun pengolahan secara biologis. Selain lembaga pendidikan dan instansi pemerintah, gerakan daur ulang air di Indonesia juga telah dipraktikkan oleh sektor swasta. Gedung perkantoran Sampoerna Strategic Square misalnya, menggunakan air daur ulang yang bersumber dari air pembuangan kantor dan komersil seperti janitor, wastafel, urinal, wudhu yang kemudian diolah dan dimanfaatkan kembali. Cara ini mampu menutupi sekitar 20 persen dari total kebutuhan air bersih gedung yang mencapai 20.818 m3. Air daur ulang di antaranya digunakan untuk penyiraman taman dan make up water cooling tower. Penggunaan air daur ulang juga semakin banyak digunakan dalam skala yang lebih kecil seperti rumah tangga. Krisis air yang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir memaksa masyarakat bersikap lebih bijak dan cerdas dalam memanfaatkan air, salah satunya melalui pemanfaatan air daur ulang. Sayangnya, meski daur ulang air semakin memasyarakat di Indonesia, namun dalam praktiknya bisa dibilang masih bersifat sporadis dan dianggap belum mendesak sehingga praktik daur ulang air di Indonesia jauh tertinggal dari banyak negara lain yang sudah mengembangkan teknologi sangat maju untuk mendaur ulang air mereka. Daur Ulang Air sebagai  Investasi Masa Depan Daur ulang air memiliki banyak manfaat. Tak hanya sekedar menghemat sehingga mengurangi konsumsi air dalam jumlah yang signifikan demi tersedianya air bersih bagi kehidupan manusia di masa sekarang, mendaur ulang air juga berarti berbagi sumber daya air untuk masa depan umat manusia. Karena jika semua dihabiskan sekarang, apalagi yang nanti tersisa untuk anak cucu kita. Tanpa air, kehidupan manusia di muka bumi akan berakhir. Sayangnya, meski metode ini sangat mendesak untuk segera direalisasikan dan telah menjadi tren di banyak negara, daur ulang air di Indonesia belum menjadi gerakan yang masif. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut : Pertama, dari sisi budaya, sebagian besar masyarakat Indonesia sangat dimanjakan oleh alam dalam hal ketersediaan sumber daya air. Hanya dengan menggali tanah menjadi sumur, maka alam akan segera mengucurkan air segarnya dalam jumlah yang melimpah. Pun ketika masyarakat harus membayar baik kepada pemerintah maupun pihak swasta yang mengelola pendistribusian air untuk masyarakat, biayanya terbilang murah. Kemudahan-kemudahan ini membuat mentalitas masyarakat Indonesia cenderung boros pada air dan tidak terlalu memikirkan bahwa dalam jangka panjang sumber air akan habis dan kualitasnya akan terus menurun jika terus dieksploitasi. Banyak masyarakat di kota-kota besar yang mulai merasakan hal ini. Kedua, dari sisi ekonomi, mendaur ulang air dianggap lebih high cost dibandingkan tarif air yang sangat murah. Ini terjadi salah satunya karena dukungan ilmu pengetahuan penjernihan air dan teknologi penjernihan air yang belum optimal sehingga praktik penjernihan air atua daur ulang air memerlukan sarana dan prasarana yang cukup mahal harganya. Sehingga, hanya beberapa pihak saja yang melakukan cara penjernihan air sebagai bentuk investasi masa depan. Ketiga, dari segi hukum, belum ada aturan tegas dari pemerintah yang mengharuskan pihak-pihak terkait terutama sektor yang boros dan memerlukan banyak air dalam kegiatan operasionalnya untuk melakukan penjernihan air atau mendaur ulang air mereka. Pemerintah juga tidak memberi insentif seperti pengurangan pajak bagi pihak-pihak yang berinisiatif melakukan penjernihan air di lingkungan domestiknya. Tanpa reward dan punishment, berbagai pihak terutama dari kalangan swasta tentu akan lebih memilih pilihan yang lebih murah dan mudah dibandingkan harus bersusah payah dan mengeluarkan biaya yang banyak untuk mengolah penjernihan air. Langkah-langkah Akselerasi Menjadikan penjernihan air dan daur ulang air sebagai gerakan nasional kini menjadi kebutuhan yang sangat mendesak mengingat krisis air di Indonesia tak lagi bisa dianggap remeh. Kian hari, ketersediaan air bersih semakin kritis. Kondisi ini tidak hanya merugikan secara ekonomi. Jika dibiarkan terus berlanjut, krisis air juga akan berdampak luas pada aspek lain, seperti kesehatan masyarakat, kualitas hidup masyarakat, dan pada akhirnya juga akan berpengaruh pada daya saing masyarakat dan bangsa di kancah global. Karena pemenuhan kebutuhan air, sanitasi dan energi kini menjadi indikator utama pengukuran kesejahteraan suatu bangsa. Sebelum krisis benar-benar terjadi, kita harus mengantisipasinya melalui sejumlah langkah konkrit dengan menggunakan alat penjernihan air. Terdapat sejumlah langkah akselerasi yang dapat dilakukan. Pertama, sudah saatnya pemerintah mengeluarkan kebijakan dan aturan yang tegas mengenai larangan eksploitasi alam yang bisa merusak kelestarian alam khususnya air, seperti menertibkan usaha pertambangan dan perusahaan di sektor lain yang beroperasi di wilayah yang menjadi daerah resapan air. Sudah saatnya pula bagi pemerintah untuk memasukkan kewajiban mendaur ulang air di lingkungan kerja menggunakan alat penjernihan air sebagai syarat mendirikan usaha bagi sektor swasta. Berbagai aturan ini perlu disempurnakan dengan insentif pajak agar semua pihak semakin termotivasi dan terkurangi bebannya untuk memraktikkan daur ulang air di lingkungan kerja. Kedua, untuk membangun budaya hemat dan mau mendaur ulang air dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda yang nantinya akan menghadapi ancaman krisis air lebih besar, nilai-nilai ini perlu diinternalisasi sejak dini melalui lembaga pendidikan, bahan bacaan, tontonan maupun iklan masyarakat yang mudah diakses oleh masyarakat. Kesadaran dan pengetahuan tentang penjernihan air / mendaur ulang air seharusnya menjadi salah satu warisan penting kita bagi generasi mendatang agar mereka lebih siap dan bisa survive menghadapi krisis air yang lebih kompleks di masanya nanti. Agar proses internalisasi ini lebih optimal, pemerintah harus menjadikan jajarannya di berbagai sektor dan level sebagai role model atau panutan bagi masyarakat luas. Dan agar masyarakat semakin termotivasi, insentif pajak seharusnya juga bisa diberikan bagi masyarakat atau komunitas yang mengembangkan konsep penjernihan air dan daur ulang air maupun metode lain yang efektif dan menginspirasi masyarakat luas untuk lebih hemat, bijak dan cerdas dalam memanfaatkan air. Ketiga, mendorong terciptanya ilmu pengetahuan dan teknologi yang murah dan mudah diaplikasi masyarakat untuk penjernihan air dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana diketahui, salah satu penghambat utama belum masifnya gerakan penjernihan air / mendaur ulang air di Indonesia karena masih mahalnya perangkat yang dibutuhkan. Jika perangkat, sarana dan prasarana penjernihan air atau daur ulang air bisa didapat dengan murah dan mudah, tentu perubahan mentalitas masyarakat dan dunia usaha akan lebih cepat. Agar kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi semakin optimal, kita harus membuka diri untuk menerima penemuan-penemuan baru tidak hanya dari dunia pendidikan, namun juga dari kalangan masyarakat maupun kebudayaan-kebudayaan lokal di Indonesia yang beberapa di antaranya terbukti sangat ramah terhadap alam termasuk air. Menggabungkan kemajuan ilmu pengetahuan dan kearifan lokal bisa mengakselerasi terciptanya teknologi yang murah dan mudah diaplikasi oleh masyarakat. Jika semua pihak bersinergi, semua potensi dioptimalkan, daur ulang air sebagai gerakan nasional tentu akan lebih cepat terwujud. Manfaatnya akan kita rasakan tidak hanya sekarang, namun juga di masa anak cucu kita kelak. Dengan mendaur ulang air, kita telah mendaur ulang kehidupan. Sumber [ririnhandayani.blogspot.com]

Penyakit akibat terjadi krisis air bersih

Jangan pernah memandang remeh air. Kelebihan membuat banjir, kekurangan pun bikin sengsara. Jebolnya tanggul air di Buaran, Jakarta Timur, membuat beberapa tempat di Jakarta kekurangan air bersih. Di Petamburan, Jakarta Pusat, warga bersitegang satu sama lain karena berebut air bersih yang dipasok pemerintah daerah.

Selain air, tentu masyarakat perlu mewaspadai beberapa penyakit yang timbul karena kekurangan air bersih. Tanpa akses air minum yang bersih, menurut organisasi pangan dan pertanian dunia (FAO), 3.800 anak meninggal tiap hari oleh penyakit. Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan 2 miliar manusia per hari terkena dampak kekurangan air di 40 negara, dan 1,1 miliar tak mendapat air yang memadai.

Di Indonesia, 119 juta rakyat belum memiliki akses terhadap air bersih. Baru 20 persen, itu pun kebanyakan di daerah perkotaan, sedangkan 82 persen rakyat Indonesia mengkonsumsi air yang tak layak untuk kesehatan. Menurut badan dunia yang mengatur soal air, World Water Assessment Programme, krisis air memberi dampak yang mengenaskan: membangkitkan epidemi penyakit.
Enam puluh persen sungai di Indonesia tercemar, mulai bahan organik sampai bakteri coliform dan Fecal coli penyebab diare. Menurut data Kementerian kesehatan, dari 5.798 kasus diare, 94 orang meninggal. Jakarta dialiri 13 sungai, sayangnya menurut badan pengendalian lingkungan hidup DKI Jakarta 13 sungai di Jakarta itu sudah tercemar bakteri Escherichia coli, bakteri dari sampah organik dan tinja manusia.

Sungai Ciliwung termasuk yang paling besar tercemar bakteri E. coli, kadar pencemaran mencapai 1,6-3 juta individu per 100 cc, padahal standar baku mutunya 2.000 individu per 100 cc. Dari situ ada 20-30 jenis penyakit yang bisa timbul akibat mikroorganisme di dalam air yang tidak bersih. Bakteri yang sama juga mencemari 70 persen tanah di Ibu Kota yang juga berpotensi mencemari sumber air tanah.
Padahal kebutuhan air bersih orang di Jakarta setiap hari diperkirakan 175 liter air per orang. Dan untuk 9 juta penduduk, diperlukan 1,5 juta meter kubik per hari. Perusahaan air minum baru bisa memenuhi kebutuhan 52 persen lebih, itu pun kalau tidak ada masalah.
Menurut penelitian WHO, penyakit yang timbul akibat krisis air antara lain kolera, hepatitis, polymearitis, typoid, disentrin trachoma, scabies, malaria, yellow fever, dan penyakit cacingan.

Di Indonesia, 423 per 1.000 penduduk semua usia kena diare, dan setahun dua kali diare menyerang anak di bawah 5 tahun. Diare yang disertai muntah sering disebut muntah-berak (muntaber), gejalanya biasanya buang air terus-menerus, muntah, dan kejang perut. Jika tak bisa diatasi dengan gaya hidup sehat dan lingkungan yang bersih, bisa lebih jauh terkena tifus dan kanker usus, yang tak jarang menyebabkan kematian.

Menurut dokter ahli penyakit lambung (gastroenterolog) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Ari Fahrial Syam, terbatasnya air bersih akan berdampak pada masalah kesehatan masyarakat. Sebab, masyarakat membutuhkan air bersih untuk mandi, mencuci, dan buang air. “Keterbatasan air bisa membuat masyarakat mengabaikan masalah kesehatan,” ujarnya.

sakit perutTerbatasnya air bersih juga akan mengganggu kebersihan lingkungan. Sebagian masyarakat menunda mandi atau mandi sekadarnya, serta keadaan sekitar relatif lebih kotor dan menimbulkan banyak lalat.
Maka makanan dan minuman akan mudah dihinggapi lalat. Karena itu, menurut dokter Ari, masyarakat dan pemerintah harus mengantisipasi penyakit yang muncul. “Penyakit kulit dan diare sangat potensial meningkat karena keterbatasan air bersih,” kata dia.

Dokter Ari menyebutkan, hasil berbagai penelitian menunjukkan terbatasnya air bersih merupakan salah satu faktor utama penyebab meningkatnya kejadian diare. Karena itu, kasus diare ini harus diantisipasi oleh pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di lokasi yang mengalami krisis air bersih.
Ari menyarankan, jika masyarakat mengalami diare, hendaknya mengkonsumsi lebih banyak cairan dan elektrolit. Gunanya untuk mencegah kondisi kekurangan cairan dan elektrolit yang lebih parah serta berujung pada komplikasi lanjut. “Seperti gangguan fungsi ginjal yang menyebabkan kematian,” ucapnya.
Selain diare, penyakit kulit karena jamur berpotensi muncul. Di negara tropis seperti Indonesia, menurut dokter, infeksi jamur cukup tinggi. Apalagi dalam kondisi air bersih terbatas. Kulit mudah berkeringat, lembap, terutama di daerah lipatan kulit. Untuk menghindari infeksi jamur, Ari menyarankan tetap mandi dan membersihkan daerah lipatan kulit dan menggunakan pakaian yang bersih.

Sumber [tempo.co]

Air akan menjadi masalah politik 50 tahun lagi

Kepala Pusat Peneliti Biologi LIPI, Dr rer nat Bambang Sunarko mengatakan, keberadaan air di masa yang akan datang akan sangat dibutuhkan, bahkan keberadaannya akan menjadi masalah “politik” yang akan diperebutkan.

“Kedepan nanti air ini akan menjadi masalah besar yang akan diperebutkan seperti saat ini yang terjadi pada pangan dan energi,” kata Bambang di sela seminar sehari “Menyambut Hari Keanekaragaman Hayati” dengan tema “Air dan Keanekaragaman Hayati” bertempat di Gedung Kusnoto-LIPI, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu.

Menurut Bambang, kondisi tersebut diperkirakan akan terjadi 50 tahun yang akan datang dimana air akan menjadi barang mahal seperti layaknya pangan dan energi.

Hal ini ia sampaikan berkaca dari pengalaman yang telah ada, yakni persoalan pangan yang selama 20 tahun terakhir terus diperbincangan.

“Contohnya pangan, Indonesia ini negara kaya dengan keanekaragaman hayati dan sumber daya alamnya tapi justru persoalan pangan apa-apa kita impor. Jangan sampai kita impor air juga,” katanya.

Di hari Keanekaragaman Hayati ini, lanjut Bambang, LIPI mengajak menginformasikan kepada masyarakat tentang peran penting air untuk kelangsungan hidup manusia.

Dijelaskannya, berbicara mengenai air, berkaitan dengan kuantitas kualitas dan berkelanjutan.

“Sudah saatnya, kita mulai menjaga alam dan lingkungan kita agar ketersediaan air jangan sampai berkurang,” katanya.

Bambang mengatakan, pembicaraan mengenai air sudah banyak dilakukan, tapi upaya perlindungan berkaitan dengan ketersediaan air belum maksimal.

Sebagai contoh banyaknya sumber-sumber air yang rusak seperti sungai, danau bahkan laut. Kerusakan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, selain karena dampak pembangunan, pembuangan limbah juga karena ulah manusia yang tidak bersahabat dengan air.

Salah satu contoh, kondisi Sungai Ciliwung dan Cisadane yang saat ini tingkat pencemarannya tinggi.

Sumber [antaranews.com]