alat desalinasi air laut

Proses Desalinasi Reverse Osmosis

Proses desalinasi air laut dengan reverse osmosis atau osmosis terbalik memiliki keunggulan kecepatan proses pengolahan dalam memproduksi air bersih. Teknologi desalinasi air laut ini menggunakan tenaga pompa sehingga bisa memaksa produksi air keluar lebih banyak. Secara proses sistem desalinasi air laut reverse osmosis ini menggunakan membran sebagai pemisah air dengan pengotornya. Read more

Desalinasi teknologi pengolahan air laut

Desalinasi teknologi pengolahan air laut , Desalinasi air laut dapat menjadi solusi untuk mengurangi penurunan permukaan tanah Jakarta, penggunaan air bawah tanah harus dikurangi dan jika bisa dihentikan secara total. Desalinasi bisa menjadi salah satu alternatif solusi guna memenuhi kebutuhan akan air bersih bagi masyarakat terutama solusi krisis air di jakarta.

Sementara itu, perusahaan daerah air minum (PDAM) harus memenuhi kebutuhan industri dan sebagian masyarakat lainnya akan air bersih.

”Sekarang adalah saatnya untuk membuat kebijakan guna menghentikan eksploitasi air tanah dan beralih menggunakan teknologi desalinasi air laut,” kata Robert Delinom, peneliti utama hidrogeologi pada Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

desalinasi teknologi

Penghentian yang dimaksud adalah merupakan jalan terakhir setelah peraturan tentang pengambilan air bawah tanah sudah ada sejak dahulu. Namun, penegakan hukumnya tidak pernah dilakukan.

Penelitian Lambok M Hutasoit, ahli hidrogeologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung, di wilayah Kamal, Jakarta Utara, pada akhir 1990-an saja menunjukkan, hanya 5 persen sumur bor yang berizin. Namun, sanksi terhadap sumur bor ilegal hanya sebagian kecil saja.

”Penggunaan air bawah tanah harus dikurangi, jika bisa harus dihentikan secara total. Sebagai gantinya, kebutuhan air bersih bagi masyarakat dan industri harus dipenuhi oleh PDAM atau memanfaatkan sistem desalinasi air laut,” ujar Lambok.

Berdasarkan data terbaru hasil evaluasi dari sumur pantau di Jakarta, meliputi Kamal Muara, Sunter, Senayan, dan Jagakarsa, antara 2006 dan 2010 terjadi penurunan tanah dengan laju kecepatan 25 sampai 30 sentimeter per tahun.

Menurut Robert, jika tidak ada kebijakan untuk menghentikan eksploitasi air tanah, kondisi tersebut akan menjadi bom waktu yang suatu saat akan ”meledak” dan akan menjadi persoalan yang sulit diatasi.

Kota San Francisco telah membuat komitmen Deklarasi Kota Hijau pada 2005 yang menyebutkan akan menghentikan penyedotan air tanah pada 2012 dan sudah menggunakan sistem desalinasi air laut.

Tentang hal itu, Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup Masnellyarti Hilman menyatakan, sulit bagi DKI Jakarta melarang penyedotan air tanah pada 2012, sebagaimana komitmen San Francisco. Di DKI Jakarta ada keterbatasan jaringan pipa air minum. ”Sebanyak 50 persen penduduk DKI Jakarta menggantungkan pemenuhan kebutuhan air kepada penyedotan air tanah,” ujar Masnellyarti.

Persoalan terkait penyediaan air minum oleh PDAM juga terkendala oleh terbatasnya sumber air permukaan.

Lambok mengusulkan, ”Untuk PDAM, sebaiknya hanya fokus memanfaatkan air permukaan itu untuk masyarakat kelas menengah bawah. Sedangkan untuk kelompok menengah atas, industri, hotel, dan apartemen dapat menggunakan sumber air laut yang diolah menjadi air bersih melalui proses desalinasi air laut.”

”Jika PDAM mampu memenuhi kebutuhan industri, mereka tentu mau menggunakan air produksi PDAM karena mengebor air bawah tanah itu sulit,” katanya.

Biaya produksi air melalui desalinasi memang tidak murah. Namun, teknologinya sederhana. ”Jika penggunaan teknologi desalinasi dilakukan secara massal dan besar-besaran, harga air yang dihasilkannya tidak akan mahal lagi,” ujar Lambok.

Saat ini desalinasi air laut sudah menjadi pilihan Taman Impian Jaya Ancol. General Manager Taman Impian PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk YJ Harwanto menuturkan, ”Pengolahan air laut untuk air minum menjadi model solusi menghentikan pengambilan air tanah di Jakarta.”

”Jika seluruh kebutuhan air minum hanya boleh dicukupi dengan air permukaan, berarti kita akan mengandalkan air sungai. Sungai di Indonesia begitu tercemar, hanya memenuhi kriteria mutu air kelas III dan IV. Padahal, bahan baku air minum seharusnya air permukaan kelas I,” kata Masnellyart

Saat ini PT Pembangunan Jaya Ancol sedang mengembangkan teknologi desalinasi air laut untuk memproduksi air tawar sebanyak 5.000 meter kubik per hari. Investasi yang dibutuhkan mencapai Rp 53 miliar.

Nilai produksinya mencapai Rp 9.000 per meter kubik. Menurut Harwanto, ini lebih rendah jika dibandingkan harga air dari PDAM Jakarta saat ini.

Tarif air bersih dari PDAM untuk kelas komersial dan industri mencapai Rp 12.000 hingga Rp 15.000 per meter kubik. ”Itu pun masih belum bisa memenuhi kebutuhan Ancol yang mencapai 15.000 meter kubik per hari. Yang bisa dipenuhi saat ini hanya 9.000 meter kubik per hari,” kata Harwanto.

Apabila usulan desalinasi air laut dianggap tidak ekonomis, menurut Lambok, pemerintah dapat membangun waduk besar untuk menampung air hujan dari Bogor. Air dari curah hujan yang tinggi seharusnya bisa dimanfaatkan guna menambah cadangan air baku ataupun simpanan air bawah tanah.

Selain waduk , dapat pula dilakukan pembuatan reservoir atau penampungan air bawah tanah. Lambok mencontohkan Chicago di Amerika Serikat yang memiliki reservoir dalam tanah sepanjang lebih dari 300 kilometer dan lebar 3 meter yang meliuk-liuk di bawah kotanya. Penampungan itu menjadi sumber air baku bagi warganya.

Pada 2007 pernah ada rencana membangun reservoir semacam itu di Jakarta. Terowongan sepanjang 17 kilometer dari Manggarai ke Muara Angke itu mampu menampung air hingga 30 juta meter kubik—bisa menampung luapan air sungai dan menjadi sumber air baku PDAM. Namun, proyek senilai Rp 4,4 triliun itu tidak jelas perkembangannya.

Selain itu, masyarakat bisa membantu meresapkan air permukaan dengan membuat sumur resapan di samping rumah atau gedung bertingkat. Fungsi sumur resapan jauh lebih efektif dibandingkan biopori.

Sumber [sains.kompas.com]

Teknologi desalinasi air laut menggunakan energi matahari

Teknologi desalinasi air laut makin berkembang, salah satunya teknologi desalinasi air laut yang memanfaatkan energi matahari. Air memang merupakan kebutuhan paling penting bagi semua mahluk hidup di muka bumi ini, tak terkecuali manusia. Beberapa dekade terakhir, kebutuhan akan air bersih mulai meningkat. Bertambahnya populasi, hilangnya daerah resapan air akibat banyaknya bangunan yang menutup sebagian besar permukaan tanah di bawahnya dan deforestasi yang tidak terkendali serta diperparah dengan naiknya temperatur akibat pemanasan global yang mempercepat penguapan air tanah, semakin mengurangi air tanah dan mempersulit untuk mendapatkan air bersih.

teknologi desalinasi air laut

Untungnya laut masih tetap menjadi tempat penampungan terakhir air dari seluruh permukaan bumi. Hanya saja air laut mengandung banyak garam mineral yang harus dipisahkan agar bisa dikonsumsi sebagai air tawar salah satunya dengan menggunakan teknologi desalinasi air laut.

Desalinasi adalah proses yang digunakan untuk memisahkan garam dari air. Proses ini menggunakan teknologi yang jika dalam skala komersial, dan untuk mendapatkan air bersih dalam jumlah yang banyak, umumnya memerlukan teknologi yang kompleks dan berukuran besar serta membutuhkan daya listrik untuk beroperasi.

Sebuah terobosan dilakukan oleh dua mahasiswa di Massachusetts Institute of Technology (MIT) Amy Bilton dan Leah Kelley dipimpin oleh profesor Steven Dubowsky yang menbuat mesin desalinator dengan tenaga dari energi surya.

Hasilnya, prototype sistem desalinasi yang dibuat bisa menghasilkan 80 galon atau 302.4 liter air sehari dalam kondisi cuaca yang berubah-ubah. Dalam skala yang lebih besar, teknologi desalinasi air laut tersebut diperkirakan akan menghasilkan 1.000 galon (standar AS) atau 3780 liter air per hari dengan menggunakan metode filtrasi reverse osmosis ( sea water reverse osmosis) yang bekerja dengan memompakan air laut bertekanan tinggi melewati membran permeabel yang terbuat dari polimer.

Dibandingkan dengan sistem konvensional yang kinerjanya sepenuhnya menggantungkan pada panel surya-panel surya dan baterai, maka sistem yang dikembangkan oleh MIT lebih mengandalkan pada sistem kontrol untuk mengatur daya pompa dan katup-katup sistem agar tetap menghasilkan air yang optimal.

Yang pasti teknologi yang dikembangkan oleh MIT tersebut lebih sederhana dan fleksibel, terutama untuk area daerah bencana atau terpencil yang tidak mendapatkan pasokan listrik. Sehingga kebutuhan akan air minum atau air bersih setiap orang di daerah tersebut dapat terpernuhi. Selain itu teknologi desalinasi air laut adalah jalan keluar bagi krisis air di masa depan. Dengan adanya alat desalinasi air laut ini diharapkan agar seluruh masyarakat sadar akan pentingnya air dan dapat berfikir maju yaitu dengan mengurangi penggunaan air tanah dan mau berpindah dengan menggunakan teknologi desalinasi air laut yang bermacam model dan jenisnya.
Sumber [ristek.go.id]