air minum kemasan

Air Minum RO atau Air Mineral ?

Air minum adalah air yang digunakan untuk konsumsi manusia, Begitu pentingnya air minum, setiap hari wajib minum 2 liter air agar tubuh dapat tetap sehat. Tanpa air, tubuh tidak dapat melangsungkan metabolisme. Kekurangan air (dehidrasi) dapat berdampak buruk bagi kesehatan tubuh. Read more

Air Minum Kemasan Mahal Jelang Lebaran

Air minum kemasan sangat digemari. Harga air minum kemasan dikhawatirkan naik menjelang dan setelah Lebaran, karena mulai H-4 sampai H+1 Idul Fitri angkutan barang dilarang beroperasi di Lampung, Jawa, dan Bali.

Ketua Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) Hendro Baroeno, melalui keterangan pers, di Jakarta, Selasa mengatakan sampai saat ini Kementerian Perhungan belum memasukkan AMDK sebagai kebutuhan pokok.

Sesuai Peraturan Menteri Perhubungan, hanya angkutan keburuhan pokok dan kendaan bersumbu dua yang boleh beroperasi mulai H-4 hingga H+1 di Lampung, Jawa, dan Bali. “Padahal saat ini kebutuhan AMDK sudah sama dengan bahan makanan pokok lainnya, kata Hendro.

Apalagi, kata dia, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri telah mengeluarkan surat edaran bernomor 313/PDN/SD/7/2012 yang merekomendasikan agar transportasi AMDK disetarakan dengan transportasi kebutuhan bahan pokok yang wajib dijamin kelancaran distribusinya oleh aparat dan instansi terkait.

Hendro khawatir bila Kementerian Perhubungan tidak memberi dispensasi terhadap transportasi AMDK, maka kejadian kelangkaan air minum kemasan menjelang dan setelah beberapa hari Lebaran akan berulang.

“Pengalaman membuktikan, bahwa setiap selesai periode Hari Raya Idul Fitri selalu terjadi kelangkaan,” katanya. Selama beberapa tahun ini, lanjut dia, stok air minum kemasan, khususnya kemasan galon kurang pascalebaran, karena kebutuhan rumah tangga dan kantor meningkat .

“Ini yang berakibat pada kenaikan harga AMDK tidak terkendali di tingkat pengecer. Biasanya baru normal, dua bulan kemudian,” ujar Hendro.

Diakuinya, saat ini sebagian besar industri AMDK berada di Jawa Barat yang memasok sebagian besar atau sekitar 40 persen produk mereka ke Jabodetabek. Saat ini, kata dia, permintaan air minum kemasan mencapai sekitar 1,8 miliar liter/bulan atau sekitar 20 miliar liter/tahun.

“Kami menilai dispensasi perlu diberikan kepada angkutan AMDK. Setidaknya pengusaha masih bisa melakukan operasional pada H-3 dan H+1 agar stok air kemasan di Jadebotabek bisa tercukupi,” ujar Hendro.

Apalagi, jalur yang dilalui transportasi AMDK yaitu Bogor, Cianjur, Sukabumi menuju Jakarta serta Subang menuju Bandung, tidak mengganggu arus mudik Lebaran.

Namun disisi lain kita juga harus tetap mempertimbangkan dan jeli ktika hendak membeli air minum dalam kemasan karena air kemasan isi ulang tidak seluruhnya bebas bakteri. Berdasarkan pemeriksaan Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu pada akhir 2013, setidaknya masih ada air isi ulang dari puluhan depot air minum yang masih mengandung bakteri Escherichia Coli. Bakteri tersebut bisa menyebabkan diare bagi yang mengkonsumsinya.

Kepala Seksi Pembinaan dan Pengawasan Tempat Pengelolaan Makanan Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Wahyurini mengatakan, total depot air minum yang diperiksa mencapai 144 depot air minum. Dari jumlah itu, sebanyak 54 depot air minum terbukti mengandung bakteri E-Coli.

”Bakteri E-Coli bisa menyebabkan penyakit diare,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Dia menambahkan, pemeriksaan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan itu belum mencakup seluruh depot air minum yang terdapat di Kabupaten Indramayu. Menurut dia, jumlah total depot air minum di Indramayu bisa mencapai kisaran 800 unit.

air minum dalam kemasan

Wahyurini menyebutkan, depot air minum yang tercemar bakteri itu tersebar di 31 kecamatan di Kabupaten Indramayu, dan cenderung terletak jauh dari pusat perkotaan. Beberapa di antaranya termasuk di Kecamatan Losarang, Kandanghaur, Lelea, Cikedung, dan Gabus Wetan.

Dia menjelaskan, keberadaan bakteri dalam air minum galon isi ulang itu disebabkan tiga faktor, yaitu faktor air bakunya yang tercemar, alat pengolahan yang tidak sesuai standar, dan faktor manusia yang tidak paham tentang sanitasi.

Menurut dia, ada ditemui alat pengolahan yang seringkali dipakai dengan melebihi kapasitas. Dia mencontohkan, alat pengolahan air minum yang seharusnya berkapasitas 100 liter, namun ditampung air dengan bobot yang melebihi itu. Pada akhirnya, alat pengolahan yang seharusnya bisa membunuh bakteri, namun pada kenyataannya tidak.

“Jadi, tidak menjamin air galon isi ulang siap minum. Harusnya direbus dulu sebelum diminum,” ujarnya.

Wahyurini mengaku, pihaknya sudah mengundang para pemilik DAM yang tercemar bakteri untuk mengatasi persoalan tersebut. Dinas Kesehatan juga meminta agar mereka mereka menguji air galon produk mereka ke labkesda minimal tiga bulan sekali. “Kami pun bekerja sama dengan para camat untuk membantu melakukan pengawasan dan pembinaan,” ujarnya.

Namun demikian, masih ada sejumlah kendala yang membuat upaya itu terhambat. Dia mengatakan, pemilik depot air minum seringkali beralasan depotnya masih belum banyak pengunjung, sehingga pemilik tersebut tidak memeriksakan air isi ulangnya ke puskesmas terdekat.

Sementara itu, Dosen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Wiralodra Indramayu, Sudibyo menjelaskan, syarat air minum yang sehat harus tidak mengandung bakteri E-Coli satupun.

”Kalau ada E-Coli, berarti air minum galon isi ulang itu telah tercemar tinja,” tuturnya.

Sudibyo mengatakan, berdasarkan Permenkes, syarat air minum yang sehat harus dilihat dari empat hal, yakni fisik, bakteriologi, kimia dan radioaktif. Untuk syarat fisik, air tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa. Syarat bakteriologi, tidak mengandung bakteri E-Coli, syarat kimia tidak mengandung zat-zat berbahaya, dan syarat radioaktif tidak mengandung radiasi.

”Karenanya, depot air minum galon isi ulang harus sering diadakan pemeriksaan secara rutin,” ujarnya.

Sumber [antaranews]