air laut

Pemasangan Sea Water Reverse Osmosis atasi kelangkaan air

Sea Water Reverse Osmosis teknik atasi krisis air, Pemasangan Sea Water Reverse Osmosis atasi kelangkaan air di pesisir pulau-pulau. Menteri Pekerjaan Umum, Joko Kirmanto, Telah meresmikan instalasi penyaringan air laut untuk air minum di Pulau Mandangin, Kabupaten Sampang. Program ini adalah sebagai upaya untuk mengatasi kelangkaan ketersediaan air minum di daerah terpencil.

Kasubdit Data dan Informasi Kementrian PU Dirjen Cipta Karya, Sri Mumi Edi, mengatakan, program yang lebih dikenal dengan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) ini sering disebut sebagai Program Pengolahan Air Laut menjadi Air Minum yang Sehat. Proyek pengolahan air laut menjadi air minum ini, diharapkan dapat mengatasi langkanya air bersih di seluruh Indonesia, yang sulit didapat di daerah terpencil dan kepulauan. “Dengan proyek Pemasangan Sea Water Reverse Osmosis, maka air baku air minum tidak lagi dari air sungai seperti yang diolah PDAM, tapi dari air laut pun, bisa dijadikan air minum,” ujarnya.

sea water reverse osmosis pulau mandailingAdanya teknologi Pemurnian atau penyulingan air laut menjadi air minum, masyarakat di pulau itu nantinya tidak akan lagi kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan air minum dan kebutuhan pokok lainnya. Bahkan dengan menggunakan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) yang diterapkan harga air minum bisa jauh lebih murah dibanding harga air minum yang selama ini berlaku di masyarakat, yakni hanya Rp 9.000 per kubik. Sebelumnya, masyarakat Pulau Kambing tersebut biaya mengkonsumsi air minum dengan harga Rp 75.000 per kubik.

Saat ini, instalasi pengolahan air dengan teknologi SWRO di Pulau Mandangin baru memproduksi air dengan kapasitas lima liter per detik dan bisa ditingkatkan menjadi 10 liter per detik, bergantung dari kebutuhan.

Teknologi penyulingan air laut menjadi air minum di pulau seluas 4 km2 ini baru bisa dilaksanakan, setelah PLN mengoperasikan aliran listrik selama 24 jam pada 29 Mei 2012 yang waktu itu diresmikan langsung oleh Bupati Sampang Noer Tjahja.

Selain di Pulau Mandangin, Sampang, Menteri PU juga akan meresmikan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Perumnas Kecamatan Driyorejo, Gresik, di hari yang sama. “Untuk peresmian SPAM, akan dilakukan untuk 11 SPAM yang ada di Jawa Timur, dan akan menggunakan air sungai, mata air, sumur dan air laut, untuk diolah menjadi air minum di daerah yang sulit mendapatkan air baku untuk air minum,” terangnya.

Air minum hasil olahan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO)  sudah terbukti mampu mengolah air laut menjadi air minum. Masyarakat di Pulau Mandangin tampak sangat antusias untuk segera menjadi pelanggan SWRO. Hal itu terbukti dari jumlah masyarakat Pulau Mandangin yang telah mendaftar untuk menjadi pelanggan sambungan rumah yang telah mencapai 300 KK. Realisasi penyambungan pipa air minum masih belum terlaksana karena SK Bupati Sampang tentang penetapan tarif khusus air minum itu belum terbit, dan kontrak operasional dengan pihak penyedia jasa juga sedang dalam tahap negosiasi.

Penetapan tarif sistem ini perlu didukung bupati dan DPRD setempat karena penerapan tarif air minum yang bersifat ‘khusus’ berbeda dengan tarif air minum PDAM Kabupaten Sampang di wilayah lainnya.

Program pemurnian atau penyulingan air laut menjadi air bersih layak minum tersebut akan berhasil dan menuai kesejahteraan bagi masyarakat setempat. Suksesnya proyek ini diharapkan memberikan kepuasan bagi masyarakat kepulauan yang selama ini memang mendambakan air bersih dan air minum yang sehat

Sumber [jatimprov.go.id]

Desalinasi teknologi pengolahan air laut

Desalinasi teknologi pengolahan air laut , Desalinasi air laut dapat menjadi solusi untuk mengurangi penurunan permukaan tanah Jakarta, penggunaan air bawah tanah harus dikurangi dan jika bisa dihentikan secara total. Desalinasi bisa menjadi salah satu alternatif solusi guna memenuhi kebutuhan akan air bersih bagi masyarakat terutama solusi krisis air di jakarta.

Sementara itu, perusahaan daerah air minum (PDAM) harus memenuhi kebutuhan industri dan sebagian masyarakat lainnya akan air bersih.

”Sekarang adalah saatnya untuk membuat kebijakan guna menghentikan eksploitasi air tanah dan beralih menggunakan teknologi desalinasi air laut,” kata Robert Delinom, peneliti utama hidrogeologi pada Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

desalinasi teknologi

Penghentian yang dimaksud adalah merupakan jalan terakhir setelah peraturan tentang pengambilan air bawah tanah sudah ada sejak dahulu. Namun, penegakan hukumnya tidak pernah dilakukan.

Penelitian Lambok M Hutasoit, ahli hidrogeologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung, di wilayah Kamal, Jakarta Utara, pada akhir 1990-an saja menunjukkan, hanya 5 persen sumur bor yang berizin. Namun, sanksi terhadap sumur bor ilegal hanya sebagian kecil saja.

”Penggunaan air bawah tanah harus dikurangi, jika bisa harus dihentikan secara total. Sebagai gantinya, kebutuhan air bersih bagi masyarakat dan industri harus dipenuhi oleh PDAM atau memanfaatkan sistem desalinasi air laut,” ujar Lambok.

Berdasarkan data terbaru hasil evaluasi dari sumur pantau di Jakarta, meliputi Kamal Muara, Sunter, Senayan, dan Jagakarsa, antara 2006 dan 2010 terjadi penurunan tanah dengan laju kecepatan 25 sampai 30 sentimeter per tahun.

Menurut Robert, jika tidak ada kebijakan untuk menghentikan eksploitasi air tanah, kondisi tersebut akan menjadi bom waktu yang suatu saat akan ”meledak” dan akan menjadi persoalan yang sulit diatasi.

Kota San Francisco telah membuat komitmen Deklarasi Kota Hijau pada 2005 yang menyebutkan akan menghentikan penyedotan air tanah pada 2012 dan sudah menggunakan sistem desalinasi air laut.

Tentang hal itu, Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup Masnellyarti Hilman menyatakan, sulit bagi DKI Jakarta melarang penyedotan air tanah pada 2012, sebagaimana komitmen San Francisco. Di DKI Jakarta ada keterbatasan jaringan pipa air minum. ”Sebanyak 50 persen penduduk DKI Jakarta menggantungkan pemenuhan kebutuhan air kepada penyedotan air tanah,” ujar Masnellyarti.

Persoalan terkait penyediaan air minum oleh PDAM juga terkendala oleh terbatasnya sumber air permukaan.

Lambok mengusulkan, ”Untuk PDAM, sebaiknya hanya fokus memanfaatkan air permukaan itu untuk masyarakat kelas menengah bawah. Sedangkan untuk kelompok menengah atas, industri, hotel, dan apartemen dapat menggunakan sumber air laut yang diolah menjadi air bersih melalui proses desalinasi air laut.”

”Jika PDAM mampu memenuhi kebutuhan industri, mereka tentu mau menggunakan air produksi PDAM karena mengebor air bawah tanah itu sulit,” katanya.

Biaya produksi air melalui desalinasi memang tidak murah. Namun, teknologinya sederhana. ”Jika penggunaan teknologi desalinasi dilakukan secara massal dan besar-besaran, harga air yang dihasilkannya tidak akan mahal lagi,” ujar Lambok.

Saat ini desalinasi air laut sudah menjadi pilihan Taman Impian Jaya Ancol. General Manager Taman Impian PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk YJ Harwanto menuturkan, ”Pengolahan air laut untuk air minum menjadi model solusi menghentikan pengambilan air tanah di Jakarta.”

”Jika seluruh kebutuhan air minum hanya boleh dicukupi dengan air permukaan, berarti kita akan mengandalkan air sungai. Sungai di Indonesia begitu tercemar, hanya memenuhi kriteria mutu air kelas III dan IV. Padahal, bahan baku air minum seharusnya air permukaan kelas I,” kata Masnellyart

Saat ini PT Pembangunan Jaya Ancol sedang mengembangkan teknologi desalinasi air laut untuk memproduksi air tawar sebanyak 5.000 meter kubik per hari. Investasi yang dibutuhkan mencapai Rp 53 miliar.

Nilai produksinya mencapai Rp 9.000 per meter kubik. Menurut Harwanto, ini lebih rendah jika dibandingkan harga air dari PDAM Jakarta saat ini.

Tarif air bersih dari PDAM untuk kelas komersial dan industri mencapai Rp 12.000 hingga Rp 15.000 per meter kubik. ”Itu pun masih belum bisa memenuhi kebutuhan Ancol yang mencapai 15.000 meter kubik per hari. Yang bisa dipenuhi saat ini hanya 9.000 meter kubik per hari,” kata Harwanto.

Apabila usulan desalinasi air laut dianggap tidak ekonomis, menurut Lambok, pemerintah dapat membangun waduk besar untuk menampung air hujan dari Bogor. Air dari curah hujan yang tinggi seharusnya bisa dimanfaatkan guna menambah cadangan air baku ataupun simpanan air bawah tanah.

Selain waduk , dapat pula dilakukan pembuatan reservoir atau penampungan air bawah tanah. Lambok mencontohkan Chicago di Amerika Serikat yang memiliki reservoir dalam tanah sepanjang lebih dari 300 kilometer dan lebar 3 meter yang meliuk-liuk di bawah kotanya. Penampungan itu menjadi sumber air baku bagi warganya.

Pada 2007 pernah ada rencana membangun reservoir semacam itu di Jakarta. Terowongan sepanjang 17 kilometer dari Manggarai ke Muara Angke itu mampu menampung air hingga 30 juta meter kubik—bisa menampung luapan air sungai dan menjadi sumber air baku PDAM. Namun, proyek senilai Rp 4,4 triliun itu tidak jelas perkembangannya.

Selain itu, masyarakat bisa membantu meresapkan air permukaan dengan membuat sumur resapan di samping rumah atau gedung bertingkat. Fungsi sumur resapan jauh lebih efektif dibandingkan biopori.

Sumber [sains.kompas.com]

pengolahan air laut terbesar di dunia

Pengolahan air laut terbesar di dunia, Perusahaan Pengolahan air laut ini dimulai sejak tahun enam puluhan, Komisi Energi Atom dan Energi Alternatif Perancis (CEA) tertarik pada proses desalinasi air laut, yang tujuan awalnya melaksanakan desalinasi dengan memanfaatkan energi nuklir atau energi surya. Baru-baru ini, Perusahaan-perusahaan pengolahan air dunia telah sukses mengembangkan sejumlah teknologi desalinasi air laut. Sekarang mereka mengekspor teknologi ciptaannya ke seluruh dunia.

Di penghujung tahun 2012 yang lalu, Perancis turut berkontribusi menciptakan rekor baru. Instalasi desalinasi air laut terbesar di dunia dibangun di negara bagian Victoria, Australia. Proyek tersebut menelan biaya 2,4 milyar euro dan merupakan sumber penyedia air minum berskala besar. Situs ini dapat memproduksi hingga 450 ribu meter kubik air minum per hari, setara dengan konsumsi air kota besar seperti kota Lyon. Selain pembangunan pabrik desalinasi tersebut, Salah Satu perusahaan pengolahan air Perancis juga bertanggung jawab atas pengoperasian dan pemeliharaannya, yang dilaksanakan oleh anak perusahaan pengolahan air tersebut. “Pabrik tersebut merupakan etalase untuk memperlihatkan keahlian kami, dan akan membantu kami memenangkan sejumlah proyek lainnya,” ujar seorang pejabat senior perusahaan tersebut dengan penuh semangat.

Australia sangat membutuhkan air minum yang dihasilkan itu, terutama akibat musim kemarau berkepanjangan selama sekitar 12 tahun. Grup perusahaan pengolahan air laut asal Perancis itu amat menyadari pentingnya pasar Australia, yang dalam beberapa tahun ini telah menjadi pasar ketiga terbesar (setelah Perancis dan Spanyol) bagi perusahaan raksasa Perancis di bidang air dan kebersihan ini. Pada tahun 2012, perusahaan tersebut meraih 7% dari total pendapatannya dari Australia.

Perusahaan Raksaspengolahan air lauta Desalinasi air laut
Perusahaan pengolahan air laut ini juga telah melebarkan sayapnya ke negara-negara lainnya. Di Arab Saudi, di antaranya, anak perusahaannya, memasok dan membangun unit-unit produksi air minum, dengan kontrak senilai 40 juta euro. Kini produksi sudah dimulai pada salah satu modulnya, yang memungkinkan pasokan air minum dialirkan ke 3000 rumah. Sebelumnya, distribusi air minum dilakukan dengan mengerahkan truk-truk tangki.

Desalinasi bahkan berkembang di Eropa, meskipun di sana belum dirasakan permasalahan signifikan terkait dengan penyediaan air minum. Perusahaan pengolahan air laut ini merupakan perusahaan pelopor desalinasi melalui metode osmosis terbalik (instalasi pertama dibangun di tahun 1969 di pulau Houat, Perancis). Sejak tahun 2009, perusahaan ini membangun pabrik desalinasi terbesar Eropa di wilayah Barcelona (Spanyol), dengan kapasitas produksi hingga 200 ribu meter kubik per hari. Jumlah total pabrik desalinasi yang berhasil dibangun perusahaan tersebut mencapai 255 di seluruh dunia.

Perusahaan pengolahan air laut ini menduduki posisi terdepan di pasar desalinasi air laut melalui proses desalinasi termis melalui penguapan. Anak perusahaan ini yang berinduk ke grup perusahaan pengolahan air laut Perancis itu , pada mulanya, dikenal berkat teknologi desalinasi termis, dan sekarang menggunakan pula metode osmosis terbalik (reverse osmosis ) dan solusi-solusi hibrid yang memadukan kedua teknik tersebut.

Untuk membangun pabrik Fujairah, di Uni Emirat Arab, anak perusahaan tersebut telah memilih untuk menerapkan teknologi osmosis terbalik / reverse osmosis, seperti di Campo de Dalías, di Spanyol bagian Selatan. Lain cerita di wilayah Ashkelon, di sebelah selatan Tel Aviv di Israel, di sana dibangun pabrik berteknologi hibrid terbesar di dunia.

Dewasa ini, Grup tersebut merupakan pemimpin dunia di empat bidang sektor pelayanan kolektif : sampah, energi, angkutan, serta air dan pengolahannya. Perusahaan tersebut mempekerjakan 313 ribu orang karyawan di lebih dari 74 negara di seluruh dunia.

Perusahaan Desalinasi Air Berskala Besar
Menurut Asosiasi Desalinasi Internasional, kini ada sekitar 17 ribu pabrik yang beroperasi di 120 negara. Negara-negara terbesar yang menggunakan proses ini untuk menghasilkan air minum adalah negara-negara yang berada di Semenanjung Arab (terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab), Spanyol, Amerika Serikat dan Cina. Pemerintah Cina telah mengumumkan, di awal tahun 2012 lalu, suatu rencana besar untuk meningkatkan kapasitas desalinasi hingga mencapai 2,5 juta meter kubik per hari, pada tahun 2015.

Kalangan industri pengolahan air laut Perancis juga memenuhi kebutuhan Aljazair akan teknologi desalinasi : Pihak berwenang Aljazair telah memutuskan untuk menambah instalasi pengolahan air laut dalam jumlah yang signifikan hingga tahun 2019. Banyaknya proyek baru mendorong perusahaan-perusahaan Perancis lain di sektor energi untuk turut berkecimpung di bidang ini, seperti halnya yang dialami oleh perusahaan besar lainnya, yang menjadi pemegang saham minoritas perusahaan NanoH2O asal Kalifornia, sejak tahun 2012. Pada skala global, omset pasar global desalinasi yang pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 7,8 milyar dolar AS, kemungkinan akan mencapai 18,3 milyar dolar AS pada tahun 2016.

Sumber [aneka sumber]

Teknologi desalinasi air laut menggunakan energi matahari

Teknologi desalinasi air laut makin berkembang, salah satunya teknologi desalinasi air laut yang memanfaatkan energi matahari. Air memang merupakan kebutuhan paling penting bagi semua mahluk hidup di muka bumi ini, tak terkecuali manusia. Beberapa dekade terakhir, kebutuhan akan air bersih mulai meningkat. Bertambahnya populasi, hilangnya daerah resapan air akibat banyaknya bangunan yang menutup sebagian besar permukaan tanah di bawahnya dan deforestasi yang tidak terkendali serta diperparah dengan naiknya temperatur akibat pemanasan global yang mempercepat penguapan air tanah, semakin mengurangi air tanah dan mempersulit untuk mendapatkan air bersih.

teknologi desalinasi air laut

Untungnya laut masih tetap menjadi tempat penampungan terakhir air dari seluruh permukaan bumi. Hanya saja air laut mengandung banyak garam mineral yang harus dipisahkan agar bisa dikonsumsi sebagai air tawar salah satunya dengan menggunakan teknologi desalinasi air laut.

Desalinasi adalah proses yang digunakan untuk memisahkan garam dari air. Proses ini menggunakan teknologi yang jika dalam skala komersial, dan untuk mendapatkan air bersih dalam jumlah yang banyak, umumnya memerlukan teknologi yang kompleks dan berukuran besar serta membutuhkan daya listrik untuk beroperasi.

Sebuah terobosan dilakukan oleh dua mahasiswa di Massachusetts Institute of Technology (MIT) Amy Bilton dan Leah Kelley dipimpin oleh profesor Steven Dubowsky yang menbuat mesin desalinator dengan tenaga dari energi surya.

Hasilnya, prototype sistem desalinasi yang dibuat bisa menghasilkan 80 galon atau 302.4 liter air sehari dalam kondisi cuaca yang berubah-ubah. Dalam skala yang lebih besar, teknologi desalinasi air laut tersebut diperkirakan akan menghasilkan 1.000 galon (standar AS) atau 3780 liter air per hari dengan menggunakan metode filtrasi reverse osmosis ( sea water reverse osmosis) yang bekerja dengan memompakan air laut bertekanan tinggi melewati membran permeabel yang terbuat dari polimer.

Dibandingkan dengan sistem konvensional yang kinerjanya sepenuhnya menggantungkan pada panel surya-panel surya dan baterai, maka sistem yang dikembangkan oleh MIT lebih mengandalkan pada sistem kontrol untuk mengatur daya pompa dan katup-katup sistem agar tetap menghasilkan air yang optimal.

Yang pasti teknologi yang dikembangkan oleh MIT tersebut lebih sederhana dan fleksibel, terutama untuk area daerah bencana atau terpencil yang tidak mendapatkan pasokan listrik. Sehingga kebutuhan akan air minum atau air bersih setiap orang di daerah tersebut dapat terpernuhi. Selain itu teknologi desalinasi air laut adalah jalan keluar bagi krisis air di masa depan. Dengan adanya alat desalinasi air laut ini diharapkan agar seluruh masyarakat sadar akan pentingnya air dan dapat berfikir maju yaitu dengan mengurangi penggunaan air tanah dan mau berpindah dengan menggunakan teknologi desalinasi air laut yang bermacam model dan jenisnya.
Sumber [ristek.go.id]

Cara Kerja Sistem dan Spesifikasi Sea Water Reverse Osmosis

Sea Water Reverse Osmosis adalah alat pengolahan air laut. Sea Water Reverse Osomosis merupakan salah satu alat pengolahan air asin / air laut. Zaman modern dan canggih seperti sekarang  ada banyak  tipe dan model alat pengolahan air laut . Selama ini untuk mengolah air asin dikenal dengan cara destilasi, pertukaran ion, elektrodialisis, dan osmosa balik (reverse osmosis). Masing-masing teknologi mempunyai keunggulan dan kelemahan. Pemanfaatan teknologi pengolahan air asin harus disesuaikan dengan konsidi air baku, biaya yang tersedia, kapasitas dan kualitas yang diinginkan oleh pemakai air. Di antara berbagai macam teknologi tersebut yang banyak dipakai adalah teknologi destilasi dan osmosa balik (Sea Water Reverse Osmosis). Teknologi destilasi umumnya banyak dipakai ditempat yang mempunyai energi terbuang (pembakaran gas minyak pada kilang minyak), sehingga dapat menghemat biaya operasi dan skala produksinya besar (>500 m3/hari). Keunggulan teknologi membran reverse osmosis adalah kecepatannya dalam memproduksi air, karena menggunakan tenaga pompa.

Sea Water Reverse Osmosis

Berdasarkan analisa kualitas air baku, Seawater Reverse Osmosis maka unit-unit berikut ini yang dilengkapi dengan perangkat pendukungnya dapat menghasilkan air minum dengan kadar parameter-parameter yang memenuhi syarat standar kualitas air minum yang berlaku.

1. Pompa Air Baku
Pompa air baku adalah pompa sentrifugal biasa dengan kapasitas yang sesuai dengan kapasitas maksimum dari Unit Pengolah Awal (Pretreatment). Pompa air baku minimal mempunyai daya tarik minimal 9 meter dan daya dorong 40 meter. Pada kondisi daya hisap kurang, sebaiknya dilengkapi pula oleh pompa celup yang dipasang pada selang air baku. Unit-unit yang harus dilalui oleh air baku adalah tangki pencampur (reactor tank), saringan pasir cepat (rapid sand filter), saringan mangan-zeolit cepat dan saringan karbon aktif/resin. Sebagai contoh kasus dalam proses pengolahan awal (Kapasitas 10 m3/hari) kehilangan tekanan sekitar 2,5 bar. Sehingga minimal pompa air baku harus bertekanan 5 bar, sehingga pada saat memasuki unit osmosa balik tekanan masih tersisa sekitar 2 – 2,5 bar.

2. Tangki Pencampur
Tangki Pencampur adalah alat untuk mengakomodasikan terjadinya proses pencampuran antara air baku dan bahan-bahan kimia tertentu. Biasanya dipakai Kalium permanganat atau klorin yang berfungsi sebagai zat oksidator untuk menurunkan kandungan bahan organik dan soda ash yang digunakan untuk menaikkan pH kearah netral. Penggunaan Kalium permanganat atau klorin dimaksudkan untuk membunuh bakteri-bakteri pathogen, sehingga tidak menimbulkan masalah penyumbatan di sistem penyaringan berikutnya karena terjadinya proses biologi (terbentuknya jamur dll.). Tangki pencampur didisain khusus agar waktu kontak sesingkat mungkin dan pencampuran antara air baku dan bahan-bahan kimia tersebut dapat terjadi sebaik mungkin (homogen). Sistem pencampuran disini adalah sistem hidrolika (hydraulic mixing), sehingga dapat menghemat pemakaian energi listrik.

3. Penyaring Pasir Cepat
Air dari tangki pencampur masuk ke unit penyaringan pasir cepat dengan tekanan maksimum sekitar 4 Bar. Unit ini berfungsi menyaring partikel kasar yang berasal dari air baku dan hasil oksidasi kalium permanganat atau klorin, termasuk besi dan mangan. Unit filter berbentuk silinder dan terbuat dari bahan fiberglas. Unit ini dilengkapi dengan keran multi purpose (multiport), sehingga untuk proses pencucian balik dapat dilakukan dengan sangat sederhana, yaitu dengan hanya memutar keran tersebut sesuai dengan petunjuknya. Tinggi filter ini mencapai 120 cm dan berdiameter 30 cm. Media penyaring yang digunakan berupa pasir silika dan terdiri dari 4 ukuran, yaitu dari diameter terbesar 2 – 3 cm, kemudian 0,5 – 1 cm, 3 – 5 mm dan yang terkecil 1 – 2 mm. Unit filter ini juga didisain secara khusus, sehingga memudahkan dalam hal pengoperasiannya dan pemeliharaannya. Dengan dilengkapi oleh 2 (dua) buah water moore, maka penggantian media filter dapat dilakukan dengan mudah.

4. Penyaring Mangan Zeolit
Unit ini mempunyai bentuk dan dimensi yang sama dengan unit penyaring pasir cepat, namun mempunyai material media filter yang sangat berbeda. Media filter adalah mangan zeolit yang berdiameter sekitar 0,3 – 0,5 mm. Dengan menggunakan unit ini, maka kadar besi dan mangan, serta beberapa logam-logam lain yang masih terlarut dalam air dapat dikurangi sampai sesuai dengan kandungan yang diperbolehkan untuk air minum.

5. Penyaring Karbon Aktif atau Resin
Unit ini khusus digunakan untuk penghilang bau, warna, logam berat dan pengotor-pengotor organik lainnya. Ukuran dan bentuk unit ini sama dengan unit penyaring lainnya. Media penyaring yang digunakan adalah karbon aktif granular atau butiran dengan ukuran 1 – 2,5 mm atau resin sintetis, serta menggunakan juga media pendukung berupa pasir silika pada bagian dasar.

6. Filter Kartridge
Penyaring ini merupakan penyaring pelengkap untuk menjamin bahwa air yang akan masuk ke proses penyaringan Sea Water Reverse Osmosis benar-benar memenuhi syarat air baku bagi sistem osmosa balik. Alat ini mempunyai media penyaring dari bahan sintetis selulosa. Alat ini juga berbentuk silinder dengan tinggi sekitar 25 cm dan diameter sebesar 12 cm. Kemampuan filtrasi filter ada dua macam, yaitu 0,45 mm dan 0,1 mm. Unit ini dipasang sebelum pompa tekanan tinggi dan membran osmosa balik pada alat Sea Water Reverse Osmosis.

7. Pompa Tekanan Tinggi
Pompa Tekanan Tinggi digunakan untuk mengalirkan air dari sistem penyaringan konvensional ke sistem penyaringan skala molekuler (membrane polymer). Untuk menembus membran reverse osmosis membutuhkan tekanan besar. Jika air baku payau (TDS < 12.000 ppm) maka tekanan yang dibutuhkan berkisar 20 – 30 bar, sedangkan untuk air laut dibutuhkan tekanan antara 30 – 60 bar. Tegangan listrik yang dibutuhkan oleh pompa ini adalah 380 Volt (tiga phasa).
8. Pompa Dosing
Dalam sistem pengolahan air payau / air laut dengan sistem Sea Water Reverse Osmosis ini, dibutuhkan 3 (tiga) buah pompa dosing. Masing-masing untuk klorin atau kalium permanganat, zat pengatur pH (soda ash), anti pengerakkan dan anti penyumbatan. Pompa dosing memerlukan energi listrik yang rendah, yaitu maksimum sebesar 30 Watt. Kapasitas dapat divariasikan dari 0,39 sampai dengan 12,0 liter per jam dan jumlah stroke maksimum 100 untuk setiap menit. Berat pompa masing-masing sekitar 2,6 kg. Tekanan 5 – 7 Bar.

9. Unit Osmosa balik (Sea Water Reverse Osmosis)
Unit Osmosa balik merupakan jantung dari sistem pengolahan air secara keseluruhan. Unit ini terdiri dari selaput membran yang digulung secara spiral dengan pelindung kerangka luar (vessel) yang tahan terhadap tekanan tinggi. Kapasitas tiap unit bermacam-macam tergantung disain yang diinginkan. Daya tahan membran ini sangat tergantung pada proses pengolahan awal. Jika pengolahan awalnya baik, maka membran ini dapat tahan lama.

10. Panel Kontrol
Seluruh rangkaian listrik dalam sistem osmosa balik ini berada dan berpusat dalam satu unit yang disebut panel kontrol. Panel ini dilengkapi dengan indikator-indikator tekanan dan sistem otomatis. Apabila tekanan pada membrane telah mencapai nilai maksimum, maka dengan sendirinya switch aliran listrik menghentikan suplainya dan seluruh sistem juga berhenti. Dalam keadaan seperti ini kondisi membran harus diamati secara khusus dan apakah sudah saatnya harus diganti.

11. Ultra Violet Sterilizer
Proses sterilisasi dalam sistem pengolahan air ini menggunakan lampu Ultra Violet. Lampu ini dapat membunuh semua bakteri dalam air minum. Ukuran dan dimensi alat ini sama dengan Filter Kartridge. Energi yang dibutuhkan maksimum sebesar 30 Watt. Lampu ini dipasang sebagai tambahan, terutama jika unit dipergunakan untuk air tawar dan tidak melalui membran reverse osmosis.

12. Tangki Penampung Air Olahan
Air hasil pengolahan sistem Sea Water Reverse Osmosis ini ditampung pada tangki penampung air olahan. Jumlah tangki penampung disesuaikan dengan kebutuhan. Setiap tangki penampung ini bervolume 1000 liter. Tangki ini terbuat dari bahan fiberglas. Tangki penampung ini diletakkan ditempat yang agak tinggi (1 m atau lebih) agar supaya air hasil olahan tersebut dapat dialirkan secara gravitasi.

13. Tangki Bahan-Bahan Kimia
Tangki bahan kimia terdiri dari lima buah tangki fiberglas dengan volume masing-masing 30 liter. Bahan-bahan kimia utama adalah klorin, kalium permanganat, soda ash, anti penyumbatan dan anti pengerakkan. Sebuah tangki lagi dipersiapkan dan digunakan sebagai cadangan.

14. Sistem Jaringan Perpipaan
Sistem jaringan pada pengolahan air laut menggunakan teknologi Sea Water Reverse Osmosis perpipaan terdiri dari empat bagian, yaitu jaringan inlet (air masuk), jaringan outlet (air hasil olahan), jaringan bahan kimia dari pompa dosing dan jaringan pipa pembuangan air pencucian. Sistem jaringan ini dilengkapi dengan keran-keran sesuai dengan ukuran perpipaan. Diameter yang dipakai sebagian besar adalah 3/4 “, sebagian lagi 1” dan 1/2”. Bahan pipa PVC tahan tekan, seperti rucika. Sedangkan keran yang dipakai adalah keran tahan karat terbuat dari plastik

Sumber [aneka sumber]

Destilasi air laut proses mengubah air asin menjadi tawar

Destilasi merupakan proses pemisahan berdasarkan perbedaan titik didih dari komponen yang akan dipisahkan. Destilasi sering digunakan dalam proses isolasi komponen, pemekatan larutan, dan juga pemurnian komponen cair. Proses distilasi didahului dengan penguapan senyawa cair dengan pemanasan, dilanjutkan dengan pengembunan uap yang terbentuk dan ditampung dalam wadah yang terpisah untuk mendapatkan distilat. Dasar proses destilasi adalah kesetimbangan senyawa volatil antara fasa cair dan fasa uap.
Dalam proses destilasi air laut ini digunakan memisahkan senyawa tertentu seperti NaCl dari larutan dengan memanfaatkan panas yang bersumber dari cahaya matahari, dan dengan adanya energi matahari yang telah diubah menjadi energi panas maka dua komponen yang berbeda titik didih dan massa jenisnya tadi dapat terpisah.

destilasi air laut

Destilasi menggunakan tiga teknik ,yaitu : destilasi dengan air, destilasi dengan air dan uap, terakhir teknik destilasi dengan uap bahan. Destilasi dengan uap air tidak dapat diterapkan pada semua bahan, karena dengan cara pengolahan ini hasil mudah di dapatkan. Suatu cairan dapat diuapkan dengan berbagai cara. Metode penyulingan dengan uap air memiliki kelebihan tersendiri. Dalam destilasi sederhana, uap air laut diambil dan dikondensasi, tetesan rendaman merupakan komposisi yang lebih banyak mengandung komponen yang lebih banyak dari pada cairan semula. Siklus pendidihan dan kondensasi dapat diulang secara berurutan. Jadi semakin banyak bahan baku yang diolah, maka semakin banyak pula yang dihasilkan.

Jenis-jenis destilasi dan prosesnya adalah :

Distilasi Sederhana, prinsipnya memisahkan dua atau lebih komponen cairan

Distilasi Fraksionasi (Bertingkat), sama prinsipnya dengan destilasi sederhana, hanya destilasi bertingkat ini memiliki rangkaian alat kondensor yang lebih baik, sehingga mampu memisahkan dua komponen yang memiliki  titik didih yang berdekatan.

Distilasi Azeotrop, memisahkan campuran azeotrop (campuran dua atau lebih komponen yang sulit di pisahkan), biasanya dalam prosesnya digunakan senyawa lain yang dapat memecah ikatan azeotrop tsb, atau  dengan menggunakan tekanan tinggi.

Distilasi Kering : memanaskan material padat untuk mendapatkan fasa uap dan cairnya. Biasanya digunakan untuk mengambil cairan bahan bakar dari kayu atau batu bata.

Distilasi vakum: memisahkan dua kompenen yang titik didihnya sangat tinggi, motede yang digunakan adalah dengan menurunkan tekanan permukaan lebih rendah dari 1 atm, shg titik didihnya juga menjadi rendah, dalam prosesnya suhu yang digunakan untuk mendistilasinya tidak perlu terlalu tinggi.

Destilasi air laut  berfungsi dengan sistem RO, menyediakan air bebas mineral untuk digunakan di laboratorium sains atau keperluan percetakan. Destilasi membuang logam berat seperti timbal, arsenic, dan merkuri. Meskipun destilasi dapat membuang mineral dan bakteri, tapi tetap tidak bias menghilangkan klorin, atau VOC (volatile organic chemicals) yang mempunyai titik didih lebih rendah dari air. Destilasi, seperti halnya R.O., memberikan air bebas mineral yang bisa berbahaya lagi tubuh karena keasamannya. Air bersifat asam dapat merampas kandungan mineral dari tulang dan gigi.
Penguapan yang berlangsung juga tidak dapat dipisahkan oleh Air, jika material air tidak dimasukkan kedalam ketel maka suatu kesalahan besar jika menganggap proses hidrodestilasi dapat berlangsung karena air jika dimasukkan kedalam tabung yang dipanaskan pada temperature tinggi akan menghasilkan  Uap panas, dan jika air tersebut dicampur dengan senyawa hidro lainnya maka 80% kemungkinan uap yang ada akan menimbulkan bau dari senyawa hidro tersebut.

Saat ini tersedia beberapa macam teknologi yang mampu memisahkan air tawar yang terkandung di dalam air laut, salah satunya adalah dengan perubahan fasa air (destilasi). Pada proses destilasi air laut, Air laut dipanaskan agar air tawar yang terkandung dalam air laut menguap, selanjutnya uap tersebut diembunkan untuk mendapatkan air tawar. Kelemahan utama metode uap air adalah kecepatan penyulingan yang paling rendah.

Secara umum dapat diterangkan beberapa tahap dari proses Desalinasi dengan teknik destilasi air laut, yaitu :

Vaccum up adalah proses penarikan udara keluar dari suatu ruangan ( chamber ), dalam proses desalinasi atau desalt plant, keadaan vaccum merupakan hal penting yang pertama dilakukan, dimana bagian yang mengalami proses vaccum up adalah : evaporator chamber dan brine heater chamber Adapun maksud di lakukan vaccum up adalah untuk mempercepat proses terbentuknya uap atau vapour, karena titik didih pada tekanan rendah ( vaccum ) adalah lebih rendah daripada titik didih pada ruang bertekanan. Misal :

Saturation Temp (°C)
Saturation Press ( MPa )
90
0.070182
95
0.084608
100
0.10142

Pada tekanan udara 1 atm atau 0.1 MPa titik didih air adalah 100 °C, sedang pada tekanan yang lebih rendah ( vaccum ) titik didih air adalah < 100 °C.

Evaporasi
Evaporasi adalah proses penguapan dalam hal ini adalah air laut. Sedangkan air laut adalah suatu campuran NaCl + H2O + mineral lain. Pada proses ini dilakukan pemanasan dengan suatu heater pada titik didih H2O. Beberapa komponen penyusun air laut diantaranya NaCl memiliki titik didih lebih tinggi dari H20, sehingga pada tahapan evaporasi ( penguapan ) yang terjadi hanyalah H2O.

Destilasi
Destilasi adalah proses pengembunan, dimana pada H2O yang telah berubah bentuk menjadi uap ( evaporasi ) akan dilakukan proses pengembunan melalui suatu system cooler. Hasil dari proses destilasi adalah distillate, yaitu H2O ( fresh water ). Dengan daya hantar ( conductivitiy ) kurang dari 25 uS/cm, serta kandungan Cl ( Chlor ) kurang dari 1000 ppb.

Drainasi
Yaitu proses pembuangan komponen air laut yang tidak terevaporasi ke system pembuangan ( Brine blow down ).

Desalinasi dengan flash evaporator
Flash evaporator adalah suatu alat yang digunakan untuk menguapkan suatu fluida cair dalam hal ini air laut, dengan tekanan rendah, sehingga pada tekanan rendah tersebut diharapkan terjadi penguapan lebih cepat.

Multi stage flash evaporator
Pada flash evaporator, jika terlalu banyak komponen yang tidak menguap atau yang akan dibuang ( drain ) akan menyebabkan kerugian panas yang ikut terbuang. Untuk mengurangi kerugian panas ini, maka diterapkan system multi stage flash evaporator, yaitu system aliran seri bertingkat. System ini dimaksudkan agar panas yang diserap oleh air laut ( brine ) dari heater bisa effisien ( temperature ± 100°c ),dengan cara pertukaran panas, yaitu evaporator melepas panas untuk proses destilasi dan inlet air laut  menyerap panas.

Effisiensi
Seperti kita ketahui tolok ukur unjuk kerja suatu mesin, apakah itu elektrik ataupun mekanis adalah seberapa besar perbandingan out put atau produk yang dihasilkan, terhadap input energy yang digunakan

η(%)  =   Out x 100

              In

 Dalam hal ini desalinasi ( desalt plant ) memiliki tolok ukur atau parameter : distillate sebagai produk ( out put ) dan condensate sebagai energi ( input ), atau dalam proses desalinasi ini dikenal dengan rasio distillate/condensate

 Ratio =           Distillate

                      Condensate

Berikut ini ditampilkan table kapasitas suatu mesin desalinasi pada suatu power plant.

Load (%)
Sea water ( T/h)
Temp (°C )
Dist( T/h )
Cond ( T/h )
100
358
113
41
6.8
90
334
109
37
6.2
80
310
106
33
5
70
285
102
29
4.5
60
260
98
25
3.5
50
235
94
20
3

Dari table di atas bisa dilihat bahwa mesin desalinasi ini didisain dengan ratio ± 7, artinya kondisi ideal atau mesin bekerja optimal jika ratio tidak lebih dari 7. Jika terjadi penyimpangan atau ratio lebih dari 7 bearti produk condensate terlalu besar, ini bisa disebabkan oleh beberapa factor, diantaranya :
• Nilai enthalpy dari steam heater rendah, sehingga diperlukan flow steam heater besar dan produk condensate juga besar. Biasanya diikuti nilai vaccum yang rendah juga.
• Proses heat transfer tidak optimal. Rendahnya heat transfer ini bisa disebabkan oleh scale ( kerak ) pada sisi dalam tube. Ini disebabkan proses injeksi anti scale tidak berjalan dengan baik, juga proses tube ball cleaning yang tidak dilaksanakan.

Permasalahan yang sering terjadi dalam Alat Destilasi Air Laut
Selain unjuk kerja atau effisiensi, pada mesin desalinasi perlu mendapatkan perhatian untuk mencermati gangguan serta penyebab agar dapat dilaksanakan tindakan yang tepat sehingga proses produksi fresh water ( distillate ) berjalan optimal. Berikut ini adalah gangguan yang sering muncul pada desalinasi dengan metode multi stage flash evaporator.

GAGGUAN
PENYEBAB
Conductivity high tapi tidak range over Kandungan Amonia (NH3) dalam air laut tinggi, biasanya terjadi saat air laut surut.
Conductivity range over (>100us/cm) Terjadi carry over air laut ( brine ) , foaming air laut yang memasuki distillate chamber, kebocoran tube.
Kandungan Cl ( Chlor ) tinggi (>1000ppb) Retakan ( kebocoran kecil ) tube, kerak (garam) yang menempel di dinding flash evaporator.

Sumber [AnekaSumber]

Pengolahan air laut untuk air kolam renang

Pengolahan air laut atau Pemanfaatan air laut menjadi air tawar atau air jernih yang layak minum bukan impian lagi. Pengolahan air laut ini telah dilakukan oleh PT Pembangunan Jaya Ancol bukan cuma mengolah air laut menjadi air tawar, melainkan juga mengolahnya menjadi kolam apung berkadar garam tinggi.

Inovasi pengolahan air laut yang dilakukan, antara lain, 7.000 meter kubik air laut diubah menjadi 5.000 meter kubik air tawar per hari. Sisanya, sekitar 2.000 meter kubik, menjadi air berkadar garam tinggi yang digunakan untuk kolam apung, salah satu wahana wisata di Ancol Taman Impian.pengolahan air laut untuk kolam renang

Seawater Reverse Osmosis (SWRO) yang berada di Ancol berada bersebelahan dengan wahana Atlantis Water Adventure. Ukuran bangunan tersebut 30 x 20 meter yang di dalamnya dipasangi ratusan pipa untuk memurnikan air yang dialirkan ke seluruh kawasan Ancol dan perumahan yang berada di kawasan tersebut.

“Jumlah pasokan air pada hari normal berkisar antara 5.000-6.000 meter kubik. Namun, jika pada hari libur lebaran , pasokan air bisa mencapai 10.000 meter kubik,” kata Humas Taman Impian Jaya Ancol, Arif Rahman, saat ditemui di kantornya,

Di dalam bangunan tersebut ada pula tangki air berkapasitas 5.000 liter dan 3 buah bak penampung air berukuran 5 x 4 meter. Air yang digunakan berasal dari air laut yang ditampung di sebuah danau tepat di depan bangunan yang mulai beroperasi sejak Juni 2011 ini.

Untuk menyedot air laut tersebut, pipa dengan panjang 50 meter itu dihubungkan ke danau. Setelah itu, air ditampung di dalam sebuah bak besar yang berada di bawah tanah bangunan tersebut untuk kemudian dilakukan desalinasi air laut.

Selain itu, ada pula ruang kontrol yang berisi 3 buah komputer untuk memantau pengopreasian dari masing-masing pipa dan tangki penampung air. Ruang kontrol ini dioperasikan oleh 9 orang yang terbagi ke dalam 3 shif “Sehingga jika ada kerusakan bisa langsung terdeteksi dan diperbaiki,” terangnya.

Pengolahan air laut dengan ”Teknologi desalinasi air laut ini menjadi inovasi untuk tidak semata-mata meraih hasil air minum dari sumber air laut tak terbatas,” kata Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya.

Kolam apung merupakan manfaat wisata edukatif lain, di samping perolehan air tawar dari proyek Ancol Newater-Sea Water Desalination Plant.

Desain rancang bangunnya bisa untuk memproduksi sampai kapasitas 15.000 meter kubik per hari ”Desainnya sudah selesai dirancang dan konstruksinya sekarang masih dikerjakan. Akhir tahun ini bisa selesai,” kata Bambang.

Proses pengolahan air laut menjadi air tawar tersebut membutuhkan beberapa cara pengolahan. pengolahan tersebut antara lain :

Osmosis terbalik

Reverse osmosis atau osmosis terbalik merupakan proses yang ditempuh secara umum untuk mengubah air laut menjadi air tawar. Caranya dengan mendesakkan air laut melewati membran-membran semipermeable untuk menyaring kandungan garamnya. Kandungan garam yang tersaring disisihkan. Sebagian air laut digunakan untuk melarutkannya.

Larutan itulah yang kemudian menjadi bagian dari 2.000 meter kubik per hari yang kemudian disalurkan ke Kolam Apung Wahana Atlantis Ancol.

Dalam kandungan garam tinggi, air kolam itu mampu mengapungkan manusia. Namun, untuk menikmati kolam apung ini, ada beberapa ketentuan yang diberlakukan untuk menunjang keselamatan dan kesehatan.

Reverse osmosis atau RO ini ditempuh setelah ada berbagai perlakuan terhadap sumber air bakunya,” kata Bambang.

Menurut Bambang, air baku itu diambil dari Danau Ancol. Danau Ancol dirancang untuk menampung pula air hujan ataupun limbah pemanfaatan air bersih yang digunakan berbagai fasilitas publik di kawasan wisata tersebut.

Pemasukan air hujan ataupun limbah pemanfaatan air bersih merupakan upaya untuk menurunkan kadar garam danau payau tersebut. Dengan demikian, diharapkan proses osmosis terbalik menjadi lebih ringan dengan air baku yang rendah kadar garamnya. ”Ini ada kaitannya dengan usia produktif dari teknologi desalinasi ini,” ujarnya.

Untuk menghasilkan air bersih dari air laut ini dibutuhkan energi listrik sebesar 4,72 kilowatt jam per meter kubik. ”Sekarang ini rata-rata listrik per kilowatt jam mencapai harga Rp 1.000,” ujar Bambang.

General Manager Perencanaan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk Sandy Rudiana mengatakan, perusahaannya memiliki kebutuhan air tawar sebanyak 15.000 meter kubik per hari. Saat ini belum bisa terpenuhi seluruh kebutuhannya.

”Dari perusahaan air minum daerah hanya diperoleh 9.000 meter kubik per hari sehingga masih kekurangan 6.000 meter kubik per hari,” kata Sandy.

Selain faktor kekurangan suplai air bersih, menurut Sandy, juga ditemui kendala harga yang terlampau tinggi. Produksi air bersih dari proses desalinasi air laut bisa bersaing dengan tarif air bersih kelas komersial yang mencapai Rp 12.500 per meter kubik. Bahkan, tarif air bersih industri mencapai Rp 15.000 per meter kubik.

Nilai produksi air bersih dengan teknologi desalinasi air laut yang dikembangkan sekarang mampu menekan harga hingga Rp 9.000 per meter kubik.

Pengembangan model Pengolahan air laut

YJ Harwanto, selaku General Manager Ancol Taman Impian PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, mengatakan, proyek pengolahan air laut tau desalinasi ini sebagai pengembangan model tatkala ada tuntutan penghentian pengambilan air tanah di Jakarta, terutama di kawasan pesisir Jakarta Utara.

”Model seperti ini harus dikembangkan oleh pihak-pihak lainnya,” kata Harwanto.

Dia mengatakan, perusahaannya tidak pernah mengambil air tanah untuk mencukupi kebutuhan. Namun, mereka menerima imbas paling parah berupa penurunan tanah paling cepat di Jakarta. Saat ini diperkirakan kawasan Ancol mengalami penurunan tanah 26 sentimeter per tahun.

Seperti lokasi kuburan yang dipelihara Pemerintah Belanda di dalam kawasan wisata Ancol, sejak belasan tahun yang lalu masih 1 meter sampai 2 meter di atas permukaan laut. Namun, sekarang sudah berada di bawah permukaan air laut sehingga diperlukan pemompaan air ketika tergenang air laut.

Pengurukan, menurut Harwanto, dilakukan setiap tahun. Lokasi-lokasi yang tidak diuruk pada akhirnya mudah tergenang air hujan atau luapan air laut pasang.

sumber [anekasumber]

Sea Water Reverse Osmosis teknologi pengolahan air laut

Sea water reverse osmosis solusi daerah krisis air  Sea Water Reverse Osmosis adalah Teknologi pengolahan air asin/payau menggunakan teknologi filtrasi membran semipermeabel modern. Teknologi pengolahan air asin/payau ini lebih dikenal dengan sistem osmosa balik (Reverse Osmosis disingkat RO)

Sebelum menggunakan alat Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) ada beberapa hal yang harus diketahui, Proses pengembangan dan rekayasa komponen utama unit SWRO. Adapun macam-macam komponen yang masih dapat dikembangkan di Indonesia adalah:

  • Membran semipermeable yang mengarah pada produksi lokal. Jantung filter dari sistem SWRO adalah terletak pada teknologi membran. Saat ini teknologi membran belum dapat diproduksi di Indonesia, hal ini disebabkan karena kita belum menguasai teknologi tersebut terutama untuk skala produksi. Untuk itu perlu segera dilakukan transfer teknologi pembuatan membran semipermeabel dari negara lain.
  • Pabrikasi pre treatmen dan filter. Pretreatment atau pengolahan air laut awal mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengolahan air laut ini. Air laut / air asin sebelum masuk pada unit RO harus diolah terlebih dahulu. Syarat air baku proses Sea Water Reverse Osmosis sebelum masuk ke unit utama harus tidak boleh keruh, tidak boleh berwarna, tidak berbau, kandungan zat besi/mangan kurang dari 0.01 ppm. Berdasarkan kriteria tersebut maka pengolahan tingkat awal menjadi hal yang begitu penting, sehingga peranan fabrikasi oleh perusahaan lokal akan menunjang penerapan teknologi seawater reverse osmosis ini. Untuk fabrikasi pembuatan pretreatmen dan filter dapat dibuat dengan bahan dari “stainless stell”, paralon maupun “fiber glass”.
  • Fabrikasi media. Media filter sangat diperlukan sebagai media filter. Media filter biasanya terdiri dari pasir silika, mangan aktif dan karbon aktif. Teknologi untuk mengolah media tersebut sudah dikuasai oleh bangsa Indonesia. Sumber bahan yang dapat diolah menjadi media filter juga banyak terdapat di Indonesia.
  • Industri perakitan Sea Water Reverse Osmosis. Untuk menghasilkan 1 unit SWRO maka diperlukan beberapa komponen dasar yang terdiri dari : 1. Casis., 2. Pompa Tekanan tinggi., 3. Modul Membran Tabung., 4. Pipa fleksibel., 5. Panel Listrik., 6. Flow Meter., 7. Valve., 8. Komponen pendukung lain., dirakit dalam suatu industri perakitan. Pada industri semacam itu paling tidak diperlukan beberapa orang ahli yang mengetahui dasar teknik, mesin dan listrik.

Cara Kerja alat Sea Water Reverse Osmosis (SWRO)
Jika air murni dan larutan garam dipisahkan oleh selaput semipermeabel maka akan terjadi aliran yang mengalir dari zat cair dengan konsentrasi rendah menuju ke air garam (larutan air yang mengandung kadar garam tinggi) yang mempunyai konsentrasi tinggi. Aliran air melalui selaput semipermeabel tersebut dapat berlangsung karena adanya tekanan osmosis. Jika tekanan dilakukan sebaliknya yaitu air garam diberikan suatu tekanan buatan yang besarnya sama dengan tekanan osmosis, maka yang terjadi adalah tidak ada aliran dari air ke air garam atau sebaliknya. Sea Water Reverse Osmosis

Faktor yang mempengaruhi besar kecilnya tekanan osmosis adalah konsentrasi garam dan suhu air. Air laut umumnya mengandung TDS minimal sebesar 30.000 ppm. Sebagai contoh, untuk air laut dengan TDS 35.000 ppm pada suhu air 25o C, mempunyai tekanan osmose 26,7 kg/cm2, sedangkan yang mengandung 42.000 ppm TDS pada suhu 30o C mempunyai tekanan osmosis 32,7 kg/cm2.

Jika tekanan pada sisi air laut/air garam (air asin) diberikan tekanan sehingga melampaui tekanan osmosisnya, maka yang terjadi adalah air dipaksa keluar dari larutan garam melalui selaput semipermeabel. Proses memberikan tekanan balik tersebut disebut dengan osmosis balik. Prinsip osmosis balik tersebut diterapkan untuk pengolahan air payau atau air laut menjadi air tawar. Sistem tersebut disebut Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau Desalinasi air laut.

Untuk mendapatkan air dengan kadar garam yang kecil maka diterapkan sistem Sea Water Reverse Osmosis dengan dua sampai tiga saluran. Jika ingin membuat air minum yang mengandung kira-kira 300 sampai 600 ppm TDS cukup menggunakan saluran tunggal.

Jika air olahan Sea Water Reverse Osmosis yang dihasilkan menjadi semakin banyak maka jumlah air baku akan menjadi lebih besar dan sebagai akibatnya tekanan yang dibutuhkan akan menjadi semakin besar. Tekanan buatan (tekanan kerja) tersebut harus lebih besar dari tekanan osmosis pada air baku. Tekanan kerja yang dibutuhkan jika memakai air laut adalah antara 55 sampai 70 kg/cm2.

SWRO mempunyai ciri-ciri yang sangat khusus sebagai model pengolah air asin yaitu:

  • Energi Yang Relatif Hemat yaitu dalam hal pemakaian energinya. Konsumsi energi alat ini relatif rendah untuk instalasi kemasan kecil adalah antara 8-9 kWh/T (TDS 35.000) dan 9-11 kWh untuk TDS 42.000.
  • Hemat Ruangan. Untuk memasang alat SWRO dibutuhkan ruangan yang cukup hemat.
  • Mudah dalam pengoperasian karena dikendalikan dengan sistem panel dan instrumen dalam sistem pengontrol dan dapat dioperasikan pada suhu kamar.
  • Kemudahan dalam menambah kapasitas.

Meskipun alat pengolah air laut sistem RO atau Sea Water Reverse Osmosis tersebut mempunyai banyak keuntungan akan tetapi dalam pengoperasiannya harus memperhatikan petunjuk operasi. Hal ini dimaksudkan agar alat tersebut dapat digunakan secara baik dan awet. Untuk menunjang operasional sistem RO diperlukan biaya perawatan. Biaya tersebut diperlukan antara lain untuk bahan kimia, bahan bakar, penggantian media penyaring / membran, servis dan biaya operator.

Sistem pengolahan air sangat bergantung pada kualitas air baku yang akan diolah. Kualitas air baku yang buruk akan membutuhkan sistem pengolahan yang lebih rumit. Apabila kualitas air baku mempunyai kandungan parameter fisik yang buruk (seperti warna dan kekeruhan), maka yang membutuhkan pengolahan secara lebih khusus adalah penghilangan warna, sedangkan proses untuk kekeruhan cukup dengan penjernihan melalui pengendapan dan penyaringan biasa. Tetapi apabila kualitas air baku mempunyai kandungan parameter kimia yang buruk, maka pengolahan yang dibutuhkan akan lebih kompleks lagi.

Untuk daerah pesisir pantai dan kepulauan kecil, air baku utama yang digunakan pada umumnya adalah air tanah (dangkal atau dalam). Kualitas air tanah ini sangat bergantung dari curah hujan. Jadi bila pada musim kemarau panjang, air tawar yang berasal dari air hujan sudah tidak tersedia lagi, sehingga air tanah tersebut dengan mudah akan terkontaminasi oleh air laut. Ciri adanya intrusi air laut adalah air yang terasa payau atau mengandung kadar garam khlorida dan TDS yang tinggi.

Air baku yang buruk, seperti adanya kandungan khlorida dan TDS yang tinggi, membutuhkan pengolahan dengan sistem Reverse Osmosis (RO). Sistem RO menggunakan penyaringan skala mikro (molekul), yaitu yang dilakukan melalui suatu elemen yang disebut membrane. Dengan sistem RO ini, khlorida dan TDS yang tinggi dapat diturunkan atau dihilangkan sama sekali. Syarat penting yang harus diperhatikan adalah kualitas air yang masuk ke dalam elemen membrane harus bebas dari besi, manganese dan zat organik (warna organik). Dengan demikian sistem RO pada umumnya selalu dilengkapi dengan pretreatment yang memadai untuk menghilangkan unsur-unsur pengotor, seperti besi, manganese dan zat warna organik.

Sistem pretreatment yang mendukung sistem Sea Water Reverse Osmosis umumnya terdiri dari tangki pencampur (mixing tank), saringan pasir cepat (rapid sand filter), saringan untuk besi dan mangan (Iron & manganese filter) dan yang terakhir adalah sistem penghilang warna (colour removal).

Dengan adanya sistem pengolahan air laut menggunakan Alat penyaringan air laut Sea Water Reverse Osmosis atau biasa disebut teknik desalinasi air laut, maka warga pesisir pantai akan sangat mudah untuk mendapatkan air bersih dan air minum yang sehat serta aman bagi tubuh.

Sumber [kelair.bppt.go.id]

Desalinasi air laut dengan Sea Water Reverse Osmosis

Desalinasi air laut dengan Sea Water Reverse Osmosis, Desalinasi air laut adalah proses pemisahan yang digunakan untuk mengurangi kandungan garam terlarut dari air garam hingga level tertentu sehingga air laut dapat digunakan. Proses desalinasi air laut melibatkan tiga aliran cairan, yaitu umpan berupa air garam (misalnya air laut), produk bersalinitas rendah, dan konsentrat bersalinitas tinggi. Produk proses desalinasi air laut umumnya merupakan air laut dengan kandungan garam terlarut kurang dari 500 mg/l, yang dapat digunakan untuk keperluan domestik, industri, dan pertanian. Hasil sampingan dari proses desalinasi air laut adalah brine. Brine adalah larutan garam berkonsentrasi tinggi (lebih dari 35000 mg/l garam terlarut).

Destilasi air laut merupakan metode desalinasi air laut yang paling lama dan paling umum digunakan. Destilasi air laut adalah metode pemisahan dengan cara memanaskan air laut untuk menghasilkan uap air, yang selanjutnya dikondensasi untuk menghasilkan air bersih. Berbagai macam proses distilasi air laut yang umum digunakan, seperti multistage flash, multiple effect distillation, dan vapor compression umumnya menggunakan prinsip mengurangi tekanan uap dari air agar pendidihan dapat terjadi pada temperatur yang lebih rendah, tanpa menggunakan panas tambahan.

Metode lain desalinasi air laut adalah dengan menggunakan membran. Terdapat dua tipe membran yang dapat digunakan untuk proses desalinasi, yaitu reverse osmosis (RO) danelectrodialysis (ED). Pada proses desalinasi air laut menggunakan membran RO, air laut pada larutan garam dipisahkan dari garam terlarutnya dengan mengalirkannya melalui membran water-permeable. Permeate dapat mengalir melalui membran akibat adanya perbedaan tekanan yang diciptakan antara umpan bertekanan dan produk, yang memiliki tekanan dekat dengan tekanan atmosfer. Sisa umpan selanjutnya akan terus mengalir melalui sisi reaktor bertekanan sebagai brine. Proses ini tidak melalui tahap pemanasan ataupun perubahan fasa. Kebutuhan energi utama adalah untuk memberi tekanan pada air umpan. Desalinasi air payau membutuhkan tekanan operasi berkisar antara 250 hingga 400 psi, sedangkan desalinasi air laut memiliki kisaran tekanan operasi antara 800 hingga 1000 psi.desalinasi air laut

Dalam praktik desalinasi air laut, umpan dipompa ke dalam container tertutup, pada membran, untuk meningkatkan tekanan. Saat produk berupa air bersih dapat mengalir melalui membran, sisa umpan dan larutan brine menjadi semakin terkonsentrasi. Untuk mengurangi konsentrasi garam terlarut pada larutan sisa, sebagian larutan terkonsentrasi ini diambil dari container untuk mencegah konsentrasi garam terus meningkat.

Sea Water Reverse Osmosis (Osmosis terbalik) adalah sebuah istilah teknologi yang berasal dari osmosis. Osmosis adalah sebuah fenomena alam dalam sel hidup di mana molekul “solvent” (biasanya air) akan mengalir dari daerah berkonsentrasi rendah ke daerah Berkonsentrasi tinggi melalui sebuah membran semipermeabel. Membran semipermeabel ini menunjuk ke membran sel atau membran apa pun yang memiliki struktur yang mirip atau bagian dari membran sel. Gerakan dari “solvent” berlanjut sampai sebuah konsentrasi yang seimbang tercapai di kedua sisi membran.

Sea Water Reverse osmosis adalah sebuah proses pemaksaan sebuah solvent dari sebuah daerah konsentrasi “solute” tinggi melalui sebuah membran ke sebuah daerah “solute” rendah dengan menggunakan sebuah tekanan melebihi tekanan osmotik. Dalam istilah lebih mudah, Sea Water reverse osmosis adalah mendorong sebuah solusi melalui filter yang menangkap “solute” dari satu sisi dan membiarkan pendapatan “solvent” murni dari sisi satunya.

Sea Water Reverse Osmosis merupakan suatu metode pembersihan air laut melalui membran semi permeable. Pada proses membran, pemisahan air laut dari pengotornya didasarkan pada proses penyaringan dengan skala molekul, dimana suatu tekanan tinggi diberikan melampaui tarikan osmosis sehingga akan memaksa air laut melalui proses osmosis terbalik dari bagian yang memiliki kepekatan tinggi ke bagian yang mempunyai kepekatan rendah. Selama proses tersebut terjadi, kotoran dan bahan yang berbahaya akan dibuang sebagai air tercemar (limbah). Molekul air laut dan bahan mikro yang berukuran lebih kecil dari Reverse Osmosis akan tersaring melalui membran. Di dalam membran Sea Water Reverse Osmosis tersebut terjadi proses penyaringan / desalinasi air laut dengan ukuran molekul, yakni partikel yang molekulnya lebih besar daripada molekul air laut misalnya molekul garam, besi dan lainnya, akan terpisah dan dalam membran osmosis balik harus mempunyai persyaratan tertentu, misalnya kekeruhan harus nol, kadar besi harus <0,1>.

Instalasi desalinasi air laut dengan metode Sea Water Reverse Osmosis, Sistem SWRO terdiri dari 4 (empat) proses utama, yaitu pretreatment,  pressurization, membrane separation, post teatment stabilization:

Desalinasi air laut dengan SWRO

1. Pretreatment: Air umpan pada tahap pretreatment disesuaikan dengan membran dengan cara memisahkan padatan tersuspensi, menyesuaikan pH, dan menambahkan inhibitoruntuk mengontrol scaling yang dapat disebabkan oleh senyawa tetentu, seperti kalsium sulfat.

2. Pressurization: Pompa akan meningkatkan tekanan dari umpan yang sudah melalui prosespretreatment hingga tekanan operasi yang sesuai dengan membran dan salinitas air umpan.

3. Separation: Membran permeable akan menghalangi aliran garam terlarut, sementara membran akan memperbolehkan air produk terdesalinasi melewatinya. Efek permeabilitas membran ini akan menyebabkan terdapatnya dua aliran, yaitu aliran produk air bersih, dan aliran brine terkonsentrasi. Karena tidak ada membran yang sempurna pada proses pemisahan ini, sedikit garam dapat mengalir melewati membran dan tersisa pada air produk. Membran RO memiliki berbagai jenis konfigurasi, antara lain spiral wound danhollow fine fiber membranes.

4. Post Teatment Stabilization: Air produk hasil pemisahan dengan membran biasanya membutuhkan penyesuaian pH sebelum dialirkan ke sistem distribusi untuk dapat digunakan sebagai air minum. Produk mengalir melalui kolom aerasi dimana pH akan ditingkatkan dari sekitar 5 hingga mendekati 7.

Sistem pretreatment yang mendukung sistem desalinasi air laut dengan SWRO umumnya terdiri dari tangki pencampur (mixing tank), saringan pasir cepat (rapid sand filter), saringan untuk besi dan mangan (Iron & manganese filter) dan yang terakhir adalah sistem penghilang warna (colour removal).

Keunggulan teknologi Seawater reverse osmosis merupakan kecepatan proses pengolahan dalam memproduksi air bersih. Teknologi ini menggunakan tenaga pompa sehingga bisa memaksa produksi air keluar lebih banyak. Secara proses, sistem pengolahan osmosis ini menggunakan membran sebagai pemisah air dengan pengotornya. Pada proses dengan membran, pemisahan air dari pengotornya didasarkan pada proses penyaringan dengan skala molekul. Hal ini dilakukan karena di dalam proses desalinasi air laut dengan sistem osmosis balik, tidak memungkinkan untuk memisahkan seluruh garam dari air laut nya. Karena akan membutuhkan tekanan yang sangat tinggi sekali.

Sistem desalinasi air laut untuk menghasilkan air tawar, air asin atau air laut dipompa dengan tekanan tinggi ke dalam suatu modul membran reverse osmosis yang mempunyai dua buah pipa keluaran, yakni pipa keluaran untuk air tawar yang dihasilkan dan pipa keluaran untuk air garam yang telah dipekatkan. Kemudian di dalam membran osmosis balik tersebut terjadi proses penyaringan dengan ukuran molekul. Yaitu pemisahan partikel yang molekulnya lebih besar dari pada molekul air, misalnya molekul garam dan lainnya, ke dalam air buangan. Karena itu air yang akan masuk ke dalam membran osmosa balik harus mempunyai persyaratan tertentu, misalnya kekeruhan harus nol, kadar besi harus kurang dari 0,1 mili gram, densitas ph juga harus dikontrol agar tidak terjadi pengerakan kalsium karbonat dan lainnya.

Inilah yang menjadi kelemahan dari teknologi ini. Yaitu penyumbatan pada selaput membran reverse osmosis oleh bakteri dan kerak kapur atau fosfat. Yang umum terdapat dalam air asin atau laut. Untuk mengatasi kelemahannya, pada unit pengolah air osmosis balik selalu dilengkapi dengan unit anti pengerakkan dan anti penyumbatan oleh bakteri.

Untuk menghasilkan air bersih dari air laut ini dibutuhkan energi listrik sebesar 4,72 kilowatt jam per meter kubik. Sekarang ini rata-rata listrik per kilowatt jam mencapai harga Rp 1.000. Produksi air bersih dari proses desalinasi air laut bisa bersaing dengan tarif air bersih kelas komersial yang mencapai Rp 12.500 per meter kubik. Bahkan, tarif air bersih industri mencapai Rp 15.000 per meter kubik. Nilai produksi air bersih dengan teknologi desalinasi air laut yang dikembangkan sekarang mampu menekan harga hingga Rp 9.000 per meter kubik.

Dengan memanfaatkan air laut dan mengolahnya sebagai air minum berarti juga mengurangi pemakaian air bawah tanah yang diyakini sebagai penyebab utama penurunan tanah di berbagai tempat terutama di Jakarta. Bahkan, tingkat penurunan tanah akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan di Jakarta, membuat kita was-was akan bahaya tenggelamnya ibu kota negara kita dalam beberapa puluh tahun kedepan.

Melalui proses desalinasi air laut , air laut atau air payau yang diproses dengan Sea Water reverse osmosis diubah menjadi air bersih sehingga dapat menjawab masalah krisis ketersediaan air bersih bagi masyarakat pesisir. Dengan memanfaatkan air laut sebagai air bersih dapat mencegah terjadinya penurunan tanah yang sewaktu – waktu dapat terjadi jika kita terus – menerus menggunakan air tanah.

Sumber [green.kompasiana.com]

Pengolahan air laut dengan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO)

Pengolahan air laut dengan alat Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) . Alat pengolahan air laut penting karena air merupakan sumber daya alam yang sangat vital bagi kehidupan di bumi. Sumber air dapat diperoleh dari air laut, air tanah, mata air, air sungai, dan air danau.

Air laut merupakan air yang di dalamnya terlarut berbagai zat padat dan gas, contoh : dalam 1000 gram air laut akan terdapat 35 gram senyawa terlarut yang secara kolektif disebut garam, atau di dalam air laut 96,5 persen berupa air dan 3,5 persen berupa zat-zat terlarut.

Manusia sering dihadapkan pada situasi yang sulit dimana sumber air tawar / air bersih sangat terbatas dan di lain pihak terjadi peningkatan kebutuhan air minum serta minimnya pengetahuan pengolahan air laut. Bagi masyarakat yang tinggal di daerah pantai, pulau kecil seperti kepulauan seribu jakarta air tawar merupakan sumber air yang sangat penting. Sering terdengar ketika musim kemarau mulai datang maka masyarakat yang tinggal di daerah pantai atau pulau kecil-kecil mulai kekurangan air. Air hujan yang merupakan sumber air tawar yang telah disiapkan di bak penampung air hujan namun tidak dapat mencukupi kebutuhan pada musim kemarau. Bahkan yang lebih parahnya lagi bagi masyarakat yang tinggal di Timur Tengah yang merupakan daerah gurun pasir yang susah  sekali untuk mendapatkan sumber air, apa lagi air bersih.

Padahal kita mengetahui bahwa sebenarnya sumber air laut itu begitu melimpah, kenyataan menunjukkan bahwa ada banyak daerah pemukiman yang justru berkembang pada daerah pantai. Melihat kenyataan semacam itu manusia telah berupaya untuk pengolahan air laut / air payau menjadi air tawar mulai dari yang menggunakan teknologi pengolahan air laut seperti desalinasi air laut ( menyuling air laut ), filtrasi dan ionisasi (pertukaran ion). Sumber air asin/payau yang sifatnya sangat melimpah telah membuat manusia berfikir untuk mengolahnya / mengubah air laut menjadi air tawar. Sehingga dengan adanya pengolahan air laut menjadi air bersih akan mudah untuk mendapatkan air minum meskipun tidak seperti air minum yang telah ada di daratan.

Untuk memenuhi kebutuhan akan air tawar para ahli telah mengembangkan sistem pengolahan air laut/payau dengan teknologi membran semipermeabel. Membran (selaput) semipermeabel adalah suatu selaput penyaring air skala molekul yang dapat ditembus oleh molekul air dengan mudah, akan tetapi tidak dapat atau sulit sekali dilalui oleh molekul lain yang lebih besar dari molekul air.

TEKNIK PENGOLAHAN AIR LAUT MENJADI AIR BERSIH / AIR MINUM

Proses pengolahan air laut / air payau menjadi air bersih atau sering dikenal dengan istilah desalinasi air laut dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) macam yaitu:

1. Pengolahan air laut Proses destilasi air laut (penyulingan)

Proses destilisasi air laut memanfaatkan energi panas untuk menguapkan air asin. Uap air tersebut selanjutnya didinginkan menjadi titik-titik air dan hasil ditampung sebagai air bersih yang tawar.

2. Pengolahan air laut Proses penukar ion

Pada tahun 1852, Way menemukan bahwa menghilangkan ammonia dalam larutan air yang meresap melalui tanah sesungguhnya berupa pertukaran ion dengan kalsium yang terkandung di dalam sejenis silica tertentu dalam tanah. Dewasa ini penukapengolahan air lautran ion pada air sudah menjadi proses konversi kimia yang sangat bermanfaat. Proses ini digunakan secara luas dan skala besar di industry

Teknik penukar ion memanfaatkan proses kimiawi untuk memisahkan garam dalam air laut. Pada proses ini ion garam (Na Cl) ditukar dengan ion seperti Ca+2 dan SO4-2. Materi penukar ion berasal dari bahan alam atau sintetis. Materi penukar ion alam misalnya zeolit sedangkan yang sintetis resin (resin kation dan resin anion).

Proses pertukaran ion merupakan reaksi kimia yang ionnya terhidrata dan bersifat mobil bergerak di dalam zat padat, dipertukarkan atas dasar ekuivalen dengan ion yang bermuatan sama yang terdapat di dalam larutan air. Zat padat mempunyai struktur seperti jala terbuka dan ion yang bergerak itu menetralisir muatan, atau muatan potensial, gugus yang terpasang di dalam matriks zat padat itu disebut penukar ion.

a)      Pertukaran kation

Pertukaran kation berlangsung bila kation yang bergerak dan bermuatan posirif terikat pada gugus yang bermuatan negative di dalamnya penukar ion saling bertukar dengan kation lain terdapat di dalam larutan air laut.

b)      Pertukaran anion

Proses pertukaran ion berlangsung bila anion bergerak, bermuatan negatif yang melekat pada gugus bermuatan positif di dalam resin, penukar kalor saling bertukar dengan anion di dalam larutan.

3. Pengolahan air laut Proses filtrasi (filter air laut)

Proses ketiga ini lebih dikenal dengan Sea Water Reverse Osmosis sistem osmosis balik (Reverse Osmosis). Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) adalah salah satu teknologi pengolahan air laut menjadi air tawar yang paling sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum. Keistimewaan dari proses pengolahan air laut ini adalah mampu menyaring molekul yang lebih besar dari molekul air.

Pengolahan air laut dengan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO)

Teknologi pengolahan air laut / Sea Water Reverse Osmosis menggunakan proses membrane.  Pemisahan air dari kandungan mineral dan mikro organisme yang tidak dikehendaki didasarkan pada proses penyaringan dengan skala molekul. Untuk menghasilkan air tawar(air murni), pemompaan dilakukan dengan tekanan tinggi ke modul membrane yang mempunyai dua outlet yaitu outlet yang menhasilkan air tawar (air bersih) dan outlet yang menghasilkan air garam/mineral yang telah dipekatkan.

Dalam proses membrane, terjadi proses penyaringan air laut berdasarkan ukuran molekul, yaitu partikel yang molekulnya lebih besar dari molekul air, seperti ;

1. Larutan garam/mineral

2. Zat organik tertentu

3. Bakteri, virus, yrogen, dll

Aplikasi  utama pengolahan air laut dengan Sea Water Reverse Osmosis adalah menghilangkan larutan garam/desalinasi dengan efek tambahan untuk menghilangkan zat-zat serta organisme lainnya. Biasanya filter air Reverse Osmosis terdiri dari 3 sistem, yaitu :

1. Pengolahan air tawar ( tap water Osmosis)

2. Pengolahan air payau ( brackish water treatment)

3. Pengolahan air laut ( sea water treatment)

Dalam proses filtrasi atau teknologi membran dikenal elektrodialisis dan reverse osmosis. Dari dua teknologi membran tersebut reverse osmosis yang paling sering dipakai saat ini sebagai teknologi sea water reverse osmosis (SWRO)

Pada tahun 1748, Ilmuwan Perancis  Abbe Nollett, menemukan peristiwa reverse osmosis yang alami. Proses pengolahan air laut ini terjadi ketika aliran air melalui suatu membran semi permeable ke larutan konsentrat yang kemudian airnya menjadi tawar. Lebih dari 200 tahun kemudian, peristiwa ini telah dikenali sebagai cara untuk mengolah / pengolahan air laut, air asin, air payau, atau air yang berwarna.

Cara Kerja Reverse Osmosis : Daya penggerak di belakang reverse osmosis memberikan tekanan hidrostatik yang berbeda. Tanpa adanya pengaruh dari tekanan luar, air asin seperti yang terlihat pada gambar akan menerobos membran untuk menetralkan/menawarkan / pemurnian air laut yang mengandung  garam melalui  proses osmosis. Perbedaan pada permukaan air dalam kaitan dengan perpindahan ini disebut dengan osmotic pressure head, dan tekanan hidrostatik yang menyebabkan kenaikan pada permukaan air adalah osmotic pressure. Dalam beberapa kasus air laut yang  mempunyai kandungan garam tinggi, tekanan osmotis dapat menjadi sebesar  1000 psi.

Sumber [aneka sumber]

Pages:« Prev1234Next »