air bersih untuk membersihkan monas

20 ribu liter air bersih per hari membersihkan monas

Air bersih sangat penting, Air bersih merupakan komponen utama dalam pembersihan monumen bersejarah, yaitu monas. Memandikan Monas Butuh 20 Ribu Liter Air/Hari dengan Suhu 100 Derajat Celcius.

Untuk memandikan Monas dibutuhkan sejumlah hal khusus. Antara lain puluhan ribu liter air perhari dengan suhu di kisaran 100 derajat Celcius. Jelaga hitam di tubuh Monas mesti dibersihkan dengan treatment khusus.

“Kita bersihkan Monas ini tidak menggunakan cairan kimia sama sekali, hanya menggunkan air bersih. kita kerjasama dengan PAM Jaya dan Palyja. Mereka yang supply air bersih tiap hari. Kita butuhkan kurang lebih 20 ribu liter per hari,” kata Senior Manager Marketing & Business Development Kaercher Indonesia, Fransisca Natalia W, saat ditemui di kawasan Monas, Jakarta Pusat. Untuk bagian cawan ini dibutuhkan 560 liter per jam. Kalau yang di atas bisa sampai 900 liter per jam.

“Suhu air 100 derajat Celcius. Karena memang untuk bisa membersihkan polusi dan lemak-lemak gitu, harus pakai air yang panas,” tambah dia.

Yang harus dibersihkan lebih dahulu yakni bagian cawan Monas. Pengerjaan dilakukan tim dari Jerman mulai Kamis 8 mei 2014. “Nanti dari atas ke bawah. Dari anjungan paling atas, mereka buka teralisnya, kemudian turun pakai tali,” terang Fransisca.

air bersih monas

Menurut Fransisca, dalam membersihkan titik-titik hitam yang disebabkan karat dibutuhkan perawatan dan pembersihan khusus. Namun, PT Kaercher tidak akan melakukannya.

“Dibutuhkan treatment khusus. Hal tersebut tidak kami berikan ke Monas. Sebaiknya memang besi-besi itu diganti dengan besi yang antikarat.

Saat ini pihak Kercher masih melakukan persiapan dengan memasang alat instalasi, alat pompa, dan untuk aliran air. Kemudian menyiapkan mesin dan mulai dengan dengan pembersihan, sebelum memandikan Monas.

kegiatan bersih-bersih Monas ini dilakukan oleh perusahaan peralatan teknologi pembersih asal Jerman, Kaercher Indonesia, lewat program Corporate Social Responsibility (CSR). Kaercher merupakan perusahaan yang memang rutin dan terbiasa untuk membersihkan patung atau tugu-tugu yang menjadi ikon negara di berbagai belahan dunia. Sehingga, niatan Kaercher untuk membersihkan Monas melalui program CSR-nya disambut baik oleh Pemprov DKI.

“Kaercher itu perusahaan yang CSR-nya fokus pada pembersihan menara-menara terkemuka kelas dunia, seperty patung Liberty dan lainnnya. Semua menara-menara utama di dunia. Dan yang menarik yaitu tingkat kesulitan masing-masing menara yang berbeda-beda. Di sinilah mereka sangat porofesional dan mereka juga betul-betul memperhatikan safety dari pembersihan itu. Dan yang paling utama adalah keselamatan atau keamanan tugunya

“Untuk yang pembersihan ini kita bagi menjadi dua tim, tim Kaercher Indonesia membersihkan bagian cawan, kemudian lantai ke tangga, sampai nanti ke pelataran, ground floor. Masing-masing punya alat tersendiri yang khusus. Untuk dinding kita pakai high pressure water (hot), kemudian untuk lantai kita pakai scrubber dryer, tangga yang high pressure water, kemudian di pelataran pakai scrubber. Sedangkan bagian tugu nanti dikerjakan oleh tim kita dari Jerman yang dipimpin oleh Mr. Thorsten Mouwes, dia membawa dua orang jadi total 3 orang,” urainya.

Untuk membersihkan dinding marmer tugu tersebut, Moewes mengungkapkan pihaknya akan menggunakan teknologi alat pembersih produk Kaercher yaitu alat high pressure washer HDS 12/18-4 S.

“Alat pembersih ini menghasilkan air panas bertekanan tinggi. Air keluar dari mesin melalui pipa semprot yang diaplikasikan dalam tekanan rendah di bagian marmer Tugu Monas. Sehingga melindungi lapisan terluar Monas,” kata Moewes.

Selanjutnya tim pembersih akan mengeringkan sisa-sisa air yang kotor dengan mesin sikat pengering BD 530 Ep. “Nanti dua yang akan bergantung dengan roof acces, pakai tali dan safety equipment, mereka akan bersihkan pakai high pressure water,” Ditargetkan pada 16-18 Mei 2014 mendatang menjadi finalisasi pembersihan serta pembongkaran instalasi pembersihan.

Sumber [Aneka Sumber]