You are here: Filter Penjernih Air keluarga sehat»air laut,Air Minum,air tanah,reverse osmosis,Reverses Osmosis RO»Sistem Penyaringan Reverse Osmosis Atasi Krisis Air

Sistem Penyaringan Reverse Osmosis Atasi Krisis Air

Reverse Osmosis biasa disebut RO, Reverse Osmosis sistem penyaringan air modern yang aman. Akhir-akhir ini kita sering mendengar sistem penyulingan /penyaringan air yang dikenal dengan teknologi RO atau Osmosis Balik. Meskipun bukan termasuk teknologi baru (penggunannya sudah dimulai pada tahun 1970-an untuk memurnikan air laut hingga layak dikonsumsi sebagaimana halnya air tawar) tapi mungkin masih belum banyak orang yang mengenal tekonologi ini. Padahal teknologi pengolahan air Reverse Osmosis ini sudah di kenal luas dan digunakan  oleh negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Jepang dan Singapura.

reverse osmosis sistem

Air adalah merupakan unsur utama kehidupan yang harus dimanfaatkan secara bijak. Kenyataannya air selalu dihamburkan, dicemari, dan disia-siakan. Kecenderungan yang terjadi adalah berkurangnya ketersediaan air bersih itu dari hari ke hari maka dari itu teknologi penyaringan RO ini sangat penting. Semakin meningkatnya populasi manusia, semakin besar pula kebutuhan akan air minum. Sehingga secara relatif, ketersediaan air bersih tersebut berkurang. Bahkan menurut pendapat beberapa ahli, pada suatu saat nanti, akan terjadi ‘pertarungan’ untuk memperebutkan air bersih ini terlebih lagi kondisi ini diperparah dengan pengambilan air bawah tanah yang saat ini juga sudah dalam tahap mengkhawatirkan. Diperkirakan, 10 tahun mendatang, warga akan kesulitan mendapatkan air bersih karena tidak ketatnya pengawasan pengambilan air tanah.

Samsuhadi (Dosen Luar Biasa Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Trisakti) pada 2005 pernah meneliti, jika pada 2025 penduduk Jakarta diperkirakan mencapai 27 juta dan setiap orang membutuhkan air bersih 200 liter per hari (termasuk kebutuhan untuk industri), maka kebutuhan air bersih akan mencapai 2.000 juta meter kubik. Sementara pasokan PDAM diperkirakan hanya 645 juta meter kubik, sehingga kebutuhan air tanah akan mencapai 1,355 juta meter kubik.

Badan Regulator Pelayanan Air Minum DKI Jakarta juga menyatakan, tingginya kebutuhan air di Jakarta yang tidak diimbangi dengan penambahan jaringan dan pasokan ditengarai bakal memicu defisit air dari tahun ke tahun kita harus menggunakan Sistem RO untuk menaggulanginya. Saat ini saja, total kebutuhan air baku di DKI Jakarta mencapai 17.700 liter per detik. Dari analisis kebutuhan air di DKI, defisit air baku akan terjadi sepanjang tahun. Tahun 2010 saja, defisit air mencapai 6.857 liter per detik. Lalu pada tahun 2015 diperkirakan akan terjadi defisit sekitar 13.045 liter per detik. Kemudian pada 2020, defisit akan mencapai 28.370 liter per detik.

Angka kebutuhan air yang akan terus meningkat ini, jika tidak dilakukan upaya pelestarian lingkungan di sekitar wilayah Jakarta serta upaya alternatif penyediaan air baku, diperkirakan pada 2025 warga Jakarta akan benar-benar kesulitan mendapatkan air bersih. Saat ini, operator penyedia air minum PDAM maupun operator swasta lainnya masih mengandalkan cara-cara konvensional berupa pasokan air dari sumber air permukaan seperti sungai dan waduk dan masih sedikit yang beralih ke Sistem Penyaringan Air Reverse Osmosis. Dengan makin berkurangnya sumber air tersebut  baik krisis jumlah pasokan hingga penurunan kualitas, krisis air yang sudah menjadi langganan setiap tahun masih akan terus terjadi sepanjang masa. Sebab, diakui atau tidak, selain minimnya pasokan, masalah kualitas air juga menjadi persoalan serius. Air yang mengalir melewati saluran terbuka sangat berpotensi tercemar limbah yang membahayakan. Bahkan, hal itu juga rentan terhadap penyakit, bayak penyakit berbahaya yang berasal dari air yang tidak bersih dan sehat. Hal ini diperparah dengan kondisi pipa-pipa distribusi air bersih yang sudah berumur puluhan tahun, sehingga ketika air bersih tiba di pelanggan sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi air bersih pada saat baru diolah. Air bisa keruh, berwarna coklat, hitam atau berbau. Penyaringan air laut / Penyulingan air laut dengan teknologi Reverse Osmosis merupakan salah satu alternatif solusi keterbatasan pasokan air dalam jangka panjang sebagai langkah antisipasi krisis air yang selama ini terjadi.

reverse osmosis penyaringan air

Osmosis merupakan perpindahan cairan dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah melalui membran semipermeabel. Sedangkan sistem penyaringan air RO adalah kebalikan dari osmosis, yaitu perpindahan zat (larutan) dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi melalui sebuah membran. Teknologi ini digunakan untuk pemurnian air dengan mengubah air laut menjadi air tawar hingga siap diminum.

Cara kerjanya RO adalah dengan mendesakkan air laut melewati membran-membran semipermeable untuk menyaring kandungan garamnya. Kandungan garam yang tersaring disisihkan. Sebagian air laut digunakan untuk melarutkannya. Tekanan yang amat kuat dikenakan di sebelah sumber air agar molekul-molekul air dapat menembus membran RO di sebelahnya. Sebelum didorong ke membran, air melalui beberapa tahap filtrasi (penyaringan) antara lain cartridge (sedimen), karbon blok, dan karbon granular. Kemudian, air didorong dengan tekanan tinggi untuk melewati membran RO dan menghasilkan air yang murni. Membran Reverse Osmosis berteknologi tinggi ini mempunyai pori-pori yang sangat kecil yaitu hanya 0.0001 mikron (500,000 kali lebih kecil dibandingkan diameter sehelai rambut manusia). Membrane ini memungkinkan penyaringan berbagai bahan mikro organisme, logam berat, bakteri, virus, bahan anorganik dan bahan berbahaya lainnya yang terlarut dalam air. Dengan demikian hanya molekul air saja yang dapat menembus membran tersebut sehingga dapat menghasilkan air minum yang mencapai kemurnian 99,99 %.
Sumber [anekasumber]

Related posts

Leave your comment

Your Name: (required)

E-Mail: (required)

Website: (not required)

Message: (required)

Send comment