You are here: Filter Penjernih Air keluarga sehat»air laut,desalinasi»Proses Desalinasi Air Laut

Proses Desalinasi Air Laut

Desalinasi air laut adalah proses untuk menghilangkan kadar garam berlebih dalam air untuk mendapatkan air yang aman untuk dikonsumsi. Seringkali proses desalinasi air laut menghasilkan garam dapur sebagai hasil sampingan. Ada beberapa metode desalinasi air laut yang banyak digunakan saat ini antara lain dengan cara Distilasi, Evaporasi, Desalinasi dengan menggunakan membran yaitu reverse osmosis (RO), Distilasi membran dan Elektrodialisis (ED). Harga energi yang terus meningkat menyebabkan proses tersebut menjadi tidak kompetitif.

biaya desalinasi air lautSementara itu teknologi membran pada saat ini sedang berkembang dengan pesatnya, hal ini disebabkan karena kegunaannya yang strategis pada proses pemisahan. Dibandingkan teknologi pemisahan lainnya, teknologi membran menawarkan keunggulan seperti pemakaian energi yang rendah, sederhana dan ramah lingkungan. Pada gambar disamping dapat dilihat perbandingan biaya operasi desalinasi untuk menghasilkan air minum berdasarkan ukuran pabrik. Untuk umpan air laut, RO memberikan biaya terendah pada kapasitas di bawah 3 MGD (Million gal/day). Di atas 3 MGD teknologi lain seperti ME (Multiple effect evaporation) dan MSF (Multistage Flash) masih kompetitif. Sementara itu untuk pengolahan air payau, RO dan ED mempunyai biaya pengolahan cukup rendah. Perlu dicatat juga bahwa, saat ini ada kecenderungan menurunnya harga membran dari tahun ke tahun sehingga biaya desalinasi dengan membran menjadi ekonomis.

Kelemahan pada proses desalinasi air laut dengan menggunakan membran adalah pada penggunaan dan pemilihan membran yang tepat dan terjadinya fouling dan polarisasi konsentrasi serta umur membran. Fouling didefinisikan sebagai deposisi irreversibel dari partikel yang tertahan pada atau di dalam pori membran dan akan merusak daya hantar membran tersebut, sehingga dapat menyebabkan hambatan transport ion melewati permukaan membran. Terjadinya fouling disebabkan oleh adanya ion penyebab fouling (asam humat, koloid), ion tersebut bergerak ke membran, tinggal pada daerah elektropositipnya (membrane kation).

Polarisasi konsentrasi yaitu berkurangnya elektrolit pada permukaan membran, sehingga tahanan meningkat drastis terhadap rapat arus. Polarisasi konsentrasi menyebabkan efisiensi arus merosot, konsumsi energi meningkat, perpindahan ion yang dikehendaki menurun. Peneliti di Amerika Serikat dan Korea telah membuat sebuah membran yang dapat mengurangi biaya penyaringan garam dari air laut. Membran ini terbuat dari material baru berbasis-polisulfon yang tahan terhadap klorin. Dengan material ini beberapa tahapan desalinasi yang memakan banyak biaya tidak diperlukan lagi.

Proses desalinasi air laut yang paling umum adalah Reverse Osmosis atau umumnya disebut SWRO, yaitu dengan mendesak air laut melewati membran-membran semi-permeabel untuk menyaring kandungan garamnya. Meski banyak energi yang diperlukan untuk menjalankan pabrik-pabrik desalinasi yang berskala besar, namun tetap tidak dapat menaikkan jumlah persediaan air bersih, sementara di seluruh dunia, lebih dari 1 milyar orang tidak memiliki akses terhadap air yang aman dan bersih.

Salah satu kekurangan dari membran-membran desalinasi yang digunakan sekarang ini adalah penyumbatan membran dari waktu ke waktu yang disebabkan oleh pertumbuhan alga atau selaput-biologis bakteri. Penambahan klorin membunuh mikroorganisme dalam air tetapi juga merusak membran yang berbasis-poliamida. Jadi klorin biasanya dihilangkan dari air sebelum dilewatkan pada membran dan kemudian ditambahkan kembali ke dalam air setelah melewati membran.

membran polisulfonSebuah membran baru, yang berbasis polisulfon, menjanjikan untuk menjadikan proses yang rumit dan memakan biaya ini tidak diperlukan lagi. “Polisulfon memiliki ketahanan terhadap klorin yang lebih baik dibanding poliamida karena rantai utamanya terdiri dari cincin-cincin aromatik dan ikatan karbon, sulfur dan oksigen yang kuat,” (Ho Bum Park, pimpinan salah satu tim peneliti di Universitas Ulsan, Korea Selatan). Dengan demikian, polisulfon tidak mengandung ikatan-ikatan amida yang sensitif terhadap serangan klorin cair. Polisulfon sebelumnya telah digunakan untuk desalinasi, tetapi air tidak mengalir dengan baik melalui material ini. Ini diatasi dengan merubah cara pembuatan polimer ini, kata Benny Freeman, yang memimpin tim peneliti lain di Universitas Texas Austin. “Dulunya, gugus-gugus hidrofil ekstra ditambahkan ke polimer setelah polimerisasi sehingga menempatkan gugus-gugus ini pada posisi yang paling tidak stabil. Sebagai gantinya, kami memadukan gugus-gugus ini kedalam monomer, sehingga ketika polimerisasi terjadi gugus-gugus ini berpadu secara langsung dengan struktur polimer.”

Polimer yang baru ini telah dipatenkan oleh tim peneliti ini dan Freeman berharap material ini akan memiliki kegunaan dan dikomersialkan dalam jangka waktu tiga tahun ke depan. “Membran yang sangat tahan terhadap klorin ini dapat menghilangkan tahapantahapan proses yang memakan banyak biaya dan secara signifikan meningkatkan daya tahan membran yang digunakan dalam desalinasi.

Sumber:[ http://goo.gl/K5ZebI]

Related posts

Leave your comment

Your Name: (required)

E-Mail: (required)

Website: (not required)

Message: (required)

Send comment