Pengolahan air limbah industri tekstil

Pengolahan air limbah industri tekstil, pengolahan air limbah suatu kewajiban untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Limbah tekstil merupakan limbah yang dihasilkan dalam proses pengkanjian, proses penghilangan kanji, penggelantangan, pemasakan, merserisasi, pewarnaan, pencetakan dan proses penyempurnaan sebuah bahan tekstil. Proses penyempurnaan tekstil kapas menghasilkan limbah yang lebih banyak dan lebih kuat dari pada limbah dari proses penyempurnaan bahan sistesis.

“Gabungan air limbah pabrik tekstil di Indonesia rata-rata mengandung 750 mg/l padatan tersuspensi dan 500 mg/l BOD. Perbandingan Chemical Oxygen Demand (COD)  dengan Biological Oxygen Demand (BOD) adalah dalam kisaran 1,5 : 1 sampai 3 : 1. Pabrik serat alam menghasilkan beban yang lebih besar. Beban tiap ton produk lebih besar untuk operasi kecil dibandingkan dengan operasi modern yang besar, berkisar dari 25 kg BOD/ton produk sampai 100 kg BOD/ton. Informasi tentang banyaknya limbah produksi kecil batik tradisional belum ditemukan.”

Limbah dan emisi merupakan non product output dari kegiatan industri tekstil. Khusus industri tekstil yang di dalam proses produksinya mempunyai unit Finishing- Pewarnaan (dyeing) mempunyai potensi sebagai penyebab pencemaran air dengan kandungan amoniak yang tinggi. Pihak industri pada umumnya masih melakukan upaya pengelolaan lingkungan dengan melakukan pengolahan limbah (treatment). Dengan membangun instalasi pengolah limbah memerlukan biaya yang tidak sedikit dan selanjutnya pihak industri juga harus mengeluarkan biaya operasional agar buangan dapat memenuhi baku mutu. Untuk saat ini pengolahan limbah pada beberapa industri tekstil belum menyelesaikan penanganan limbah industri.

Limbah tekstil yang dihasilkan industri pencelupan sangat berpotensi mencemari lingkungan. Hal ini disebabkan karena air limbah tekstil tersebutmengandung bahan – bahan pencemar yang sangat kompleks dan intensitas warnanyatinggi. Nilai biological oxygen demand (BOD) dan chemical oxygen demand(COD) untuk limbah tekstil berkisar antara 80-6.000 mg/L dan 150-12.000 mg/L. Nilai tersebut melebihi ambang batas baku mutu limbah cair industri tekstil jika ditinjau dari KepMen LH No.51/MENLH/10/1995. Keberadaan limbah tekstil dalam perairan dapat mengganggu penetrasi sinar matahari, akibatnya kehidupan organisme dalam perairan akan terganggu dan sekaligus dapat mengancam kelastarian ekosistem akuatik.

Teknologi pengolahan limbah tekstil biasanya dilakukan secara kimia dan fisika. Pengolahan limbah tekstil secara kimia dan fisika cukup efektif untuk menghilangkan warna, akan tetapi memerlukan biaya lebih karena terkadang pemakaian bahan kimia yang tidak sedikit.

pengolahan air limbah industri tekstil

Metode Pengolahan Limbah Industri Tekstil

Dalam mengolah air limbah tekstil, dilakukan 3 proses, yaitu:
Proses Pre-Treatment : Proses ini bertujuan mengkondisikan karakteristik air limbah yang akan diolah, mulai dari : penyaringan partikel kasar, penghilangan warna (decolouring), equalisasi (penyeimbangan debit), penyaringan halus, dan penyesuaian suhu.

Proses Primer : Dalam proses ini dilakukan main treatment (pengolahan utama), bisa secara biologis dan diikuti proses pengendapan (sedimentasi).

Proses Sekunder : Proses ini merupakan tahap lanjutan proses biologi dan sedimentasi dalam rangka mempersiapkan air limbah olahan memasuki badan air penerima, sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan.

Proses Pre-Treatment
a) Penyaringan partikel kasar
Tujuan dari tahap penyaringan partikel kasae ini adalah menahan sisa benang dan kain yang memungkinkan ada dalam aliran air limbah.  Saringan kasar ini berdiameter 50-20 mm.   Air limbah yang tidak berwarna bias lanjut ke tanki berikutnya, sementara air limbah yang berwarna spesifik harus melalui proses decolouring terlebih dahulu

b) Penghilangan warna (decolouring)
Air limbah yang berwarna akan mengalami koagulasi dengan koagulan khusus (biasanya FeSO4 – Ferro sulphate, konsentrasi = 600-700 ppm) untuk mengikat warna,  lalu air limbah mengalami penyesuaian pH dengan penambahan kapur (lime, konsentrasi = 150-300 ppm) akibat pencampuran koagulan Ferro Sulphate sebelumnya. Dan kemudian air limbah masuk ke tangki flokulasi dengan penambahan polymer (konsentrasi = 0,5-0,2 ppm) sehingga terbentuk flok-flok yang dapat mengendap dalam tangki sedimentasi.

c) Penyesuaian suhu
Penyesuaian suhu air limbah dari pencelupan/pencapan mutlak dilakukan dalam Cooling Tower.  Karakteristik limbah produksi tekstil umumnya bersuhu 350-400oC, sehingga Cooling Tower dibutuhkan untuk menurunkan suhu agar kerja bakteri (proses biologis) dapat optimal.

Proses Primer
a) Proses Biologis
Apabila digunakan proses biologis sebagai proses primer pengolahannya, beberapa proses yang terbukti efektif antara lain : lumpur aktif, laguna aerob, dan parit oksidasi.  Hal ini disebabkan karena sistem dalam bak aerasi ini berjalan dengan laju aliran rendah dan penggunaan energi rendah sehingga biaya operasi dan pemeliharaanpun rendah.  Untuk memperoleh BOD, COD, DO, Jumlah Padatan Tersuspensi, Warna dan beberapa parameter lain dengan kadar yang sangat rendah, telah digunakan pengolahan yang lebih unggul yaitu dengan menggunakan Karbon Aktif, Saringan Pasir, Penukar Ion dan Penjernihan Kimia. Parameter-parameter tersebut dijaga kestabilannya sehingga penguraian polutan dalam limbah oleh bakteri dapat maksimal.  Adapun DO, MLSS dan Suhu yang dibutuhkan bakteri pengurai adalah 0,5-2,5 ppm, 4000-6000, dan 290-300oC.

b) Proses Sedimentasi,
Bak sedimentasi didisain sedemikian rupa untuk memudahkan proses pengendapan partikel dalam air. Biasanya mempunyai bentuk bundar di bagian atas dan konis/kerucut di bagian bawah.  Desain ini untuk mempermudah pengeluaran endapan lumpur di dasar bak.  Sistem return sludge cukup optimal dilakukan pada pengolahan limbah, sehingga sebagian besar sludge akan dikembalikan ke bak aerasi.  Pemantauan ketinggian endapan lumpur dari permukaan air dan MLSS selalu dilakukan.

Proses Sekunder
Proses ini merupakan tahap lanjutan proses biologi dan sedimentasi dalam rangka mempersiapkan air limbah olahan memasuki badan air penerima, sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan.  Beberapa parameter yang dicek pada outlet bak sedimentasi menjadi tolak ukur boleh tidaknya air limbah olahan ini dibuang ke badan air penerima.  Beberapa kasus memerlukan penambahan Aluminium sulphate Al2(SO4)3 konsentrasi 150-33 ppm, Polymer konsentrasi 0,5-2,0 ppm dan Antifoam (silicon base) untuk mengurangi padatan tersuspensi yang masih terdapat dalam air.

Cara diatas dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengolah air limbah industri tekstil, sehingga air limbah tekstil yang dibuang dapat digunakan kembali dan tidak mencemari lingkungan sekitar 🙂

Sumber [Aneka Sumber]

Related posts

Leave your comment

Your Name: (required)

E-Mail: (required)

Website: (not required)

Message: (required)

Send comment