You are here: Filter Penjernih Air keluarga sehat»air tanah»Pengolah Air Gambut Terbesar

Pengolah Air Gambut Terbesar

Pengolah air gambut sangat dibutuhkan masyarakat karena air gambut berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi langsung tanpa adanya proses pengolahan terlebih dahulu. IPAG 60 atau Instalasi Pengolah Air Gambut 60 yang dipasang di Tanjungleban, Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau merupakan alat pengolahan air gambut terbesar di Indonesia.

Masyarakat di lahan gambut berisiko mengalami gangguan kesehatan karena mengonsumsi air bersifat asam yang bisa membuat gigi keropos. Selain itu, air gambut mengandung zat organik ataupun anorganik yang bisa mengganggu metabolisme tubuh.

Untuk mengatasi masalah itu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merancang instalasi pengolah air gambut menjadi air baku yang sehat untuk dikonsumsi. Saat ini, instalasi pengolah air gambut (IPAG) LIPI diproduksi dengan kapasitas 60 liter per menit. IPAG60 mampu mencukupi kebutuhan air bersih 100 rumah tangga.

Air gambut memiliki derajat keasaman (pH) 2,7- 4. Adapun pH netral adalah 7. Pengolahan air gambut melalui sejumlah tahapan, meliputi koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dekolorisasi, netralisasi, dan desinfektasi.

pengolah air gambut terbesarAir gambut yang berwarna hitam kecoklatan itu mengandung senyawa organik trihalometan yang bersifat karsinogenik (memicu kanker). Selain itu, air gambut mengandung logam besi dan mangan dengan kadar cukup tinggi. Konsumsi dalam jangka panjang bisa mengganggu kesehatan.

Air gambut diolah dengan cara koagulasi (diendapkan). Koagulan utama yang digunakan adalah alum sulfat. Koagulan ini digunakan dengan variasi konsentrasi hingga 50 bagian per sejuta (ppm), bergantung pada kepekatan air gambut.

Koagulasi menghasilkan endapan yang ditampung dalam bak sedimentasi. Selanjutnya, air dialirkan untuk disaring dengan pasir silika dan antrasit.

Unit filtrasi merupakan saringan pasir cepat. Diameter pasir silika dan antrasit adalah 0,6-2 milimeter.

Komposisi media penyaring disusun berdasarkan tingkat efisiensi proses koagulasi. Media filter memungkinkan terbentuknya biofilm mikroorganisme. Ini yang menguraikan polutan organik air gambut yang dialirkan.

Untuk menghilangkan bau, warna, dan rasa digunakan penyaring karbon aktif. Dengan ukuran partikel karbon aktif relatif kecil, warna air gambut yang pekat dan mengandung asam humat dapat diserap.

Konsentrasi karbon aktif bergantung pada intensitas warna yang akan direduksi. Kemudian dilanjutkan dengan proses netralisasi tingkat keasaman air menggunakan soda ash. Untuk membunuh bakteri patogen di dalam air digunakan kalsium hipoklorit.

Kerja sama untuk membuat pengolahan air gambut IPAG 60 merupakan komitmen kerja sama antara LIPI, MAB Unesco dan APP sebagai komite nasional dalam penyediaan air bersih di kawasan transisi Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu (GSK-BB).

Masyarakatnya sangat senang dengan adanya IPAG 60 di desa mereka. Masyarakat Tanjungleban memang kekurangan air bersih. Pasalnya daerah ini, sama seperti kawasan lain di Riau yang bergambut, air sungai ataupun sumurnya berasa asam dan mengandung banyak bahan organik. Selama ini mereka hanya mengandalkan air hujan dan sebagian terpaksa menggunakan air gambut yang berbahaya untuk dikonsumsi. Semenjak adanya IPAG 60 masyarakat menjadi tahu, kalau penggunaan air gambut itu berbahaya.

Pemenuhan kebutuhan air bersih di Indonesia memang masih sangat kurang. Hanya berkisar 30 persen. Bahkan di daerah pedesaan hanya 10 persen. Terutama di daerah marginal seperti daerah gambut yang banyak di Riau.

Sumber :
[http://goo.gl/TUsC5r]
[http http://goo.gl/qzmuhw]

Related posts

Leave your comment

Your Name: (required)

E-Mail: (required)

Website: (not required)

Message: (required)

Send comment