You are here: Filter Penjernih Air keluarga sehat»air,Air Bersih,Air Minum»Pendeteksi Kejernihan Air

Pendeteksi Kejernihan Air

Alat pendeteksi kejernihan air ini merupakan hasil karya seorang pelajar Indonesia. Pelajar ini bernama Dimas Arfiantino , siswa kelas XII jurusan Teknik Audio Video SMKN 2 Kudus. Dibawah bimbingan guru dan kepala sekolahnya, Dimas  berhasil menemukan sebuah alat pendeteksi kejernihan air bernama “Water Visibility Detector”. Alat ini terinspirasi dari kondisi Air di tempat tinggal dimas yang seringkali kualitas kejernihan air sumurnya tiba-tiba berubah secara ekstrim, setelah hujan menimbulkan banyak persoalan air bersih yang bercampur air kotor, sehingga air yang tadinya terlihat bersih dan layak dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena faktor alam berubah menjadi keruh dan tidak lagi layak di pergunakan untuk kepentingan rumah tangga.

Hampir semua sumur telah menggunakan pompa air untuk mengalirkan air yang ada di dalam sumur. Kebiasaan menimba yang dulu sering dilakukan sudah sangat jarang ditemui. Sumur yang ditutup biasanya sulit untuk kita melihat kejernihan air di dalam sumur tersebut. Setiap musim hujan, air sumur di rumah Dimas Arfiantino sering keruh. Dimas yang tinggal di wilayah pegunungan, Kudus utara, daerah Muria. Saat musim hujan kondisi air kadang berubah menjadi keruh dan kadang berubah menjadi jernih. Ketika disekolah dimas sedang mempelajari mikroprosesor, disaat itulah dimas termotivasi untuk berinovasi dan menerapkan pelajaran yang diajarkan disekolahnya agar bisa berguna di lingkungan tempat tinggalnya dan seluruh masyarakat Indonesia. Dengan ketekunan, akhirnya pada April 2015 dia berhasil menemukan alat bernama “Water Visibility Detektor”. Bahkan alat itu berhasil meraih juara kedua National Young Inventors Award (NYIA) ke-8 Tahun 2015 yang digelar oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

pendeteksi airAlat pendeteksi kejernihan air karya dimas terdiri dari sensor dan perangkat. Sensor diletakannya di dalam sumur, sementara perangkatnya bisa diletakan dimana saja. Cara kerjanya, sensor akan memberikan sinyal apakah air di dalam sumur itu dalam keadaan keruh atau jernih. Sinyal yang diberikan sensor akan diteruskan ke perangkat yang terhubungan dengan mesin pompa.

“Kalau airnya jernih sensor bekerja dan air bisa mengalir. Kalau airnya keruh sensor tidak bekerja dan mesin pompa otomatis akan mati,” ucapnya.

Dimas juga meletakkan lampu indikator di perangkat, jika lampu yang menyala berwarna hijau maka sensor bekerja, namun jika lampu yang menyala berwarna merah artinya sensor mati. “Di perangkat itu sudah ada indikator berupa lampu. Jadi bisa dimatiin bisa dinyalain,” ucap siswa yang bercita-cita ingin menjadi peneliti ini.

Alat ini, juga dilengkapi dengan tombol pengatur yang bisa menentukan tingkat kekeruhan air yang diharapkan. Penggunaan alat berguna untuk menghalangi tercampurnya air jernih yang ada di dalam bak penampungan ketika air di dalam sumur tiba-tiba keruh.

Temuan Dimas itu sudah diaplikasikan di rumahnya dan di sekolah. Dia juga sering mengikuti pameran, bahkan di pameran alat deteksi air ini banyak diminati pengunjung. Saat dipamerkan di ajang NYIA ke-8 beberapa waktu lalu. Banyak pengunjung dan panitia yang berminat membeli dan menanyakan harganya. Menurut Dimas pembuatan alat ini tidak membutuhkan biaya yang besar. Dia hanya menghabiskan biaya Rp 100-200 ribu.

Pasca kemenangannya pada kompetisi LIPI tersebut, ia tetap masih akan menyempurnakan alat ini sehingga bisa beroperasi dengan lebih baik.

Sumber: [Aneka Sumber]

Related posts

Leave your comment

Your Name: (required)

E-Mail: (required)

Website: (not required)

Message: (required)

Send comment