You are here: Filter Penjernih Air keluarga sehat»Pencemaran Air

Pencemaran Air

Harga Air Bersih Mahal,Menteri PU Menjawab

JakartaMenteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto memberikan penjelasan mengenai mahalnya harga air bersih per meter kubik. Menurut Djoko salah satu penyebab mahalnya harga air bersih saat ini karena banyak air sungai yang tercemar akibat sampah. Konsekuensi produksi air bersih menjadi mahal.

“Agar dikumpulkan sampah itu dan jangan dibuang dan kotori sungai. Kalau begitu costnya besar. Kalau normal airnya menjadi bersih antara Rp 2.000-3.000/meter kubik. Kalau sudah tercemar bisa 3 kali lipatnya apalagi sudah tercampur lumpur,” ujar Djoko saat ditemui usai Jambore Sanitasi di Hotel Mercure Ancol Jakarta, Senin (24/6/2013).

Djoko mewanti-wanti dan mengingatkan masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai. Pihak kementeriannya terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar pola pikir peduli kepada lingkungan.

“Kita juga mengajari masyarakat untuk sanitasi dan untuk pengelolaan sampah yang baik. Selain itu limbah rumah tangga kita buatkan pengeolaan yang baik dan limbah drainase persampahan di-manage dengan baik. Jadi limbah cari dan limbah padat seperti sampah juga air minum. Jangan cemari air, kalau sudah masuk di air itu susah. Jangan sampai sampah jangan dibuang ke sana,” jelasnya.

Selain memberikan sosialisasi, pihaknya juga akan mengalokasi anggaran internal kementeriannya lebih dari Rp 3 triliun. Dana itu nantinya digunakan untuk program perbaikan sanitasi masyarakat Indonesia.

“2013, Lebih dari Rp 3 triliun untuk perbaikan sanitasi di Indonesia dan itu akan berlanjut terus,” cetusnya.

(wij/dru)

Sumber [finance.detik.com]

Air Bersih dan Sanitasi

Sanitasi dan perilaku kebersihan yang buruk serta air minum yang tidak aman berkontribusi terhadap 88 persen kematian anak akibat diare di seluruh dunia. Bagi anak-anak yang bertahan hidup, seringnya menderita diare berkontribusi terhadap masalah gizi, sehingga menghalangi anak-anak untuk dapat mencapai potensi maksimal mereka. Kondisi ini selanjutnya menimbulkan implikasi serius terhadap kualitas sumber daya manusia dan kemampuan produktif suatu bangsa di masa yang akan datang.

Di Indonesia, diare masih merupakan penyebab utama kematian anak berusia di bawah lima tahun. Laporan Riskesdas 2007 menunjukkan diare sebagai penyebab 31 persen kematian anak usia antara 1 bulan hingga satu tahun, dan 25 persen kematian anak usia antara satu sampai empat tahun. Angka diare pada anak-anak dari rumah tangga yang menggunakan sumur terbuka untuk air minum tercatat  34 persen lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak dari rumah tangga yang menggunakan air ledeng, Selain itu, angka diare lebih tinggi sebesar 66 persen pada anak-anak dari keluarga yang melakukan buang air besar di sungai atau selokan dibandingkan mereka pada rumah tangga dengan fasilitas toilet pribadi dan septik tank.gambar air bersih dan sanitasi

Peran penting kebersihan sering diabaikan. Kematian dan penyakit yang disebabkan oleh diare pada umumnya dapat dicegah. Bahkan tanpa perbaikan pada sistem pengairandan sanitasi, mencuci tangan secara tepat dengan menggunakan sabun dapat mengurangi resiko penyakit diare sebesar 42 sampai 47 persen.

Situasi masyarakat miskin perkotaan perlu mendapatkan perhatian segera. Di daerah-daerah kumuh perkotaan, sanitasi yang tidak memadai, praktek kebersihan yang buruk, kepadatan penduduk yang berlebihan, serta air yang terkontaminasi secara sekaligus dapat  menciptakan kondisi yang tidak sehat. Penyakit-penyakit terkait dengan ini meliputi disentri, kolera dan penyakit diare lainnya, tipus, hepatitis, leptospirosis, malaria, demam berdarah, kudis, penyakit pernapasan kronis dan infeksi parasit usus. Selain itu, keluarga miskin yang kurang berpendidikan cenderung melakukan praktek-praktek kebersihan yang buruk, yang berkontribusi terhadap penyebaran penyakit dan peningkatan resiko kematian anak. Studi tentang “mega-kota” Jakarta (yang  disebut Jabotabek),i Bandung dan Surabaya pada tahun 2000 menunjukkan bahwa penduduk miskin yang tinggal di daerah pinggiran kota Jakarta kurang berpendidikan dibandingkan warga Jakarta sendiri, dan  memiliki tingkat tamat sekolah menengah hanya seperempat dari mereka yang tinggal di pusat kota. Studi yang sama menghitung angka kematian anak sampai lima kali lebih tinggi di kecamatan-kecamatan miskin di pinggiran kota Jabotabek daripada di pusat kota Jakarta.

Pola dan kecenderungan

Pada dekade-dekade sebelumnya, Indonesia telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam meningkatkan akses terhadap persediaan air bersih dan pelayanan sanitasi. Air bersih dan sanitasi merupakan sasaran Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) yang ketujuh dan pada tahun 2015 diharapkan  sampai dengan setengah jumlah penduduk yang tanpa akses ke air bersih yang layak minum dan sanitasi dasar dapat berkurang. Bagi Indonesia, ini berarti Indonesia perlu mencapai angka peningkatan akses air bersih hingga 68,9 persen dan 62,4 persen, untuk sanitasi.

Saat ini, Indonesia tidak berada pada arah yang tepat untuk mencapai target MDG untuk masalah air bersih MDG pada tahun 2015. Perhitungan dengan menggunakan kriteria MDG nasional Indonesia untuk air bersih dan data dari sensus tahun 2010 menunjukkan bahwa Indonesia harus mencapai tambahan 56,8 juta orang dengan persediaan air bersih pada tahun 2015. Di sisi lain, jika kriteria Program Pemantauan Bersama WHO-UNICEF (JMP) untuk air bersihii akan digunakan, Indonesia harus mencapai tambahan 36,3 juta orang pada tahun 2015. Saat ini, bahkan di provinsi-provinsi yang berkinerja lebih baik (Jawa Tengah dan DI Yogyakarta), sekitar satu dari tiga rumah tangga tidak memiliki akses ke persediaan air bersih (Gambar 1).

Perbandingan dengan tahun 2007 menunjukkan akses air bersih pada tahun 2010 telah mengalami penurunan kira-kira sebesar tujuh persen. Kondisi terbalik ini pada umumnya disebabkan oleh penurunan di daerah perkotaan (sebesar 23 persen sejak tahun 2007, Gambar 2). Akses ke air bersih di Jakarta telah mengalami penurunan dari 63 persen pada 2010 menjadi 28 persen pada tahun 2007, menurut Riskesdas. Yang mengherankan, dua kelompok kuintil tertinggi juga mengalami penurunan aksesterhadap air bersih masing-masing sebesar 8 dan 32 persen dibandingkan dengan tahun 2007. Mereka yang berasal dari kelompok mampu membeli air minum kemasan atau botol: sepertiga rumah tangga perkotaan di Indonesia melakukannya pada tahun 2010.

Sejak tahun 1993, Indonesia telah menunjukkan peningkatan dua kali lipat prosentase rumah tangga dengan akses ke fasilitas sanitasi yang lebih baik, tetapi masih berada pada arah yang belum tepat untuk mencapai target sanitasi MDG 2015. Untuk mencapai target sanitasi nasional MDG, diperlukan pencapaian tambahan 26 juta orang dengan sanitasi yang lebih baik pada tahun 2015. Perencanaan pada jangka panjang memerlukan pencapaian angka-angka yang lebih besar: Data Riskesdas 2010 menunjukkan bahwa secara keseluruhan, kira-kira 116 juta orang masih kekurangan sanitasi yang memadai.

Buang air besar di tempat terbuka merupakan masalah kesehatan dan sosial yang perlu mendapatkan perhatian segera. Sekitar 17 persen rumah tangga pada tahun 2010 atau sekitar 41 juta orang masih buang air besar di tempat terbuka. Ini meliputi lebih dari sepertiga penduduk di Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Barat. Praktek tersebut bahkan ditemukan di provinsi-provinsi dengan cakupan sanitasi yang relatif tinggi, dan pada penduduk perkotaan dan di seluruh kuintil (Gambar 3 dan 4).

Cakupan sanitasi pada kelompok-kelompok yang berbeda menunjukkan perbedaan yang jauh lebih kuat daripada cakupan untuk air bersih (Gambar 4). Proporsi rumah tangga perkotaan dengan akses ke fasilitas sanitasi yang lebih baik hampir dua kali lipat dari proporsi rumah tangga perdesaan. Proporsi rumah tangga yang memiliki fasilitas sanitasi yang lebih baik pada kuintil tertinggi adalah 2,6 kali proporsi kuintil terendah. Perbedaan geografis juga terlihat jelas. Tingkat akses ke sanitasi yang lebih baik di provinsi yang berkinerja terbaik (69,8 persen, DKI Jakarta) adalah tiga kali lebih tinggi daripada tingkat akses di provinsi yang berkinerja terburuk (22,4 persen, Nusa Tenggara Timur).

gambar air bersih dan sanitasiKontaminasi feses terhadap tanah dan air merupakan hal yang umum di daerahh perkotaan, hal ini diakibatkan oleh kepadatan penduduk yang berlebihan, toilet yang kurang sehat dan pembuangan limbah mentah ke tempat terbuka tanpa diolah. Sebagian besar rumah tangga di perkotaan yang menggunakan pompa, sumur atau mata air untuk persediaan air bersih mereka memiliki sumber-sumber air ini dengan jarak 10 meter dari septik tank atau pembuangan toilet. Di Jakarta, Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta menunjukkan bahwa 41 persen sumur gali yang digunakan oleh rumah tangga berjarak kurang dari 10 meter dari septik tank. Septik tank jarang disedot dan kotoran merembes ke tanah dan air tanah sekitarnya. Laporan Bank Dunia tahun 2007 menyebutkan bahwa hanya 1,3 persen penduduk memiliki sistem pembuangan kotoran. Sistem pipa rentan terhadap kontaminasi akibat kebocoran dan tekanan negatif yang disebabkan oleh pasokan yang tidak teratur. Ini merupakan masalah khusus dimana konsumen enggunakan pompa hisap untuk mendapatkan air bersih dari sistem perariran kota.

Dibandingkan dengan kelompok kaya, kaum miskin perkotaan mengeluarkan biaya yang lebih besar dari pendapatan mereka untuk air yang berkualitas lebih buruk. Misalnya, sistem pipa kota Jakarta hanya mencakup sebagian kecil penduduk, karena perluasan pelayanan tidak dapat mengimbangi perkembangan penduduk di daerah perkotaan. Penduduk lainnya tergantung pada berbagai sumber lain, termasuk sumur dangkal, penjual air keliling dan jaringan privat yang terhubung dengan sumur yang dalam. Banyak dari sumber-sumber alternatif ini memerlukan biaya yang lebih besar per satuan volume daripada pasokan air ledeng dan sering digunakan oleh masyarakat miskin.

Air Bersih dan Perkembangannya

Air bersih adalah salah satu jenis sumberdaya berbasis air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari termasuk diantaranya adalah sanitasi

Untuk konsumsi air minum menurut departemen kesehatan, syarat-syarat air minum adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat. Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia, terdapat risiko bahwa air ini telah tercemar oleh bakteri (misalnya Escherichia coli)atau zat-zat berbahaya. Walaupun bakteri dapat dibunuh dengan memasak air hingga 100 °C, banyak zat berbahaya, terutama logam, tidak dapat dihilangkan dengan cara ini.

Sumber air bersih

Sungai

Rata-rata lebih dari 40.000 kilometer kubik air segar diperoleh dari sungai-sungai di dunia. Ketersediaan ini (sepadan dengan lebih dari 7.000 meter kubik untuk setiap orang) sepintas terlihat cukup untuk menjamin persediaan yang cukup bagi setiap penduduk, tetapi kenyataannya air tersebut seringkali tersedia di tempat-tempat yang tidak tepat. Sebagai contoh air bersih di lembah sungai Amazon walupun ketersediaannya cukup, lokasinya membuat sumber air ini tidak ekonomis untuk mengekspor air ke tempat-tempat yang memerlukan. Curah hujan Dalam pemanfaatan hujan sebagai sumber dari air bersih , individu perorangan/ berkelompok/ pemerintah biasanya membangun bendungan dan tandon air yang mahal untuk menyimpan air bersih di saat bulan-bulan musim kering dan untuk menekan kerusakan musibah banjir. Air permukaan dan air bawah tanah. Penyalah gunaan dan pencemaran air Sumber-sumber air bersih ini biasanya terganggu akibat penggunaan dan penyalahgunaan sumber air seperti:

Pertanian. Penghamburan air akibat ketiadaannya penyaluran air yang baik pada lahan yang diairi dengan irigasi (untuk penghematan dalam jangka pendek) dapat berakibat terjadinya kubangan dan penggaraman yang akhirnya dapat menyebabkan hilangnya produktivitas air dan tanah

Industri. Walaupun industri menggunakan air jauh lebih sedikit dibandingkan dengan irigasi pertanian, namun penggunaan air oleh bidang industri mungkin membawa dampaknya yang lebih parah dipandang dari dua segi. Pertama, penggunaan air bagi industri sering tidak diatur dalam kebijakan sumber daya air nasional, maka cenderung berlebihan. Kedua, pembuangan limbah industri yang tidak diolah dapat menyebabkan pencemaran bagi air permukaan atau air bawah tanah, seihingga menjadi terlalu berbahaya untuk dikonsumsi. Air buangan industri sering dibuang langsung ke sungai dan saluran-saluran, mencemarinya, dan pada akhirnya juga mencemari lingkungan laut, atau kadang-kadang buangan tersebut dibiarkan saja meresap ke dalam sumber air tanah tanpa melalui proses pengolahan apapun. Kerusakan yang diakibatkan oleh buangan ini sudah melewati proporsi volumenya. Banyak bahan kimia modern begitu kuat sehingga sedikit kontaminasi saja sudah cukup membuat air dalam volume yang sangat besar tidak dapat digunakan untuk minum tanpa proses pengolahan khusus.

Eksploitasi sumber-sumber air secara masal oleh rumah tangga.

* Di negara berkembang: Di beberapa tempat di negara bagianTamil Nadu di India bagian selatan yang tidak memiliki hukum yang mengatur pemasangan penyedotan sumur pipa atau yang membatasi penyedotan air tanah, permukaan air tanah anjlok 24 hingga 30 meter selama tahun 1970-an sebagai akibat dari tak terkendalikannya pemompaan atau pengairan. Pada sebuah konferensi air di tahun 2006 wakil dari suatu negara yang kering melaporkan bahwa 240.000 sumur pribadi yang dibor tanpa mengindahkan kapasitas jaringan sumber air mengakibatkan kekeringan dan peningkatan kadar garam.

* Di negara maju seperti Amerika Serikat seperlima dari seluruh tanah irigasi di AS tergantung hanya pada jaringan sumber air (Aquifer) Agallala yang hampir tak pernah menerima pasok secara alami. Selama 4 dasawarsa terakhir terhitung dari tahun 2006, sistem jaringan yang tergantung pada sumber ini meluas dari 2 juta hektar menjadi 8 juta, dan kira-kira 500 kilometer kubik air telah tersedot. Jaringan sumber ini sekarang sudah setengah kering kerontang di bawah sejumlah negara bagian. Sumber-sumber air juga mengalami kemerosotan mutu, di samping pencemaran dari limbah industri dan limbah perkotaan yang tidak diolah, seperti pengotoran berat dari sisa-sisa dari lahan pertanian. Misalnya, di bagian barat AS, sungai Colorado bagian bawah sekarang ini demikian tinggi kadar garamnya sebagai akibat dari dampak arus balik irigasi sehingga di Meksiko sudah tidak bermanfaat lagi, dan sekarang AS terpaksa membangun suatu proyek besar untuk memurnikan air garam di Yuma, Arizona, guna meningkatkan mutu sungainya. Situasi di wilayah perkotaan jauh lebih jelek daripada di daerah sumber dimana rumah tangga yang terlayani terpaksa merawat WC dengan cara seadanya karena langkanya air, dan tanki septik membludak karena layanan pengurasan tidak dapat diandalkan, atau hanya dengan menggunakan cara-cara lain yang sama-sama tidak tuntas dan tidak sehat. Hal ini tidak saja mengakibatkan masalah bagi penggunanya sendiri, tetap juga sering berbahaya terhadap orang lain dan merupakan ancaman bagi lingkungan karena limbah mereka lepas tanpa proses pengolahan.

Akibat ketiadaan air bersih

Ketiadaan air bersih mengakibatkan:

Penyakit diare. Di Indonesia diare merupakan penyebab kematian kedua terbesar bagi anak-anak dibawah umur lima tahun. Sebanyak 13 juta anak-anak balita mengalami diare setiap tahun. Air yang terkontaminasi dan pengetahuan yang kurang tentang budaya hidup bersih ditenggarai menjadi akar permasalahan ini. Sementara itu 100 juta rakyat Indonesia tidak memiliki akses air bersih Penyakit cacingan. Pemiskinan. Rumah tangga yang membeli air dari para penjaja membayar dua kali hingga enam kali dari rata-rata yang dibayar bulanan oleh mereka yang mempunyai sambungan saluran pribadi untuk volume air yang hanya sepersepuluhnya

Kontroversi air bersih

Walaupun air meliputi 70% permukaan bumi dengan jumlah kira-kira 1,4 ribu juta kilometer kubik, namun hanya sebagian kecil saja dari jumlah ini yang dapat benar-benar dimanfaatkan, yaitu kira-kira hanya 0,003%. Sebagian besar air, kira-kira 97%, ada dalam samudera atau laut, dan kadar garamnya terlalu tinggi untuk kebanyakan keperluan. Dari 3% sisanya yang ada, hampir semuanya, kira-kira 87 persennya,tersimpan dalam lapisan kutub atau sangat dalam di bawah tanah.

Keributan masalah

air bersih

bisa terjadi dalam suatu negara, kawasan, ataupun berdampak ke benua luas karena penggunaan air secara bersama-sama. Di Afrika, misalnya, lebih dari 57 sungai besar atau lembah danau digunakan bersama oleh dua negara atau lebih; Sungai Nil oleh sembilan, dan Sungai Niger oleh 10 negara. Sedangkan di seluruh dunia, lebih dari 200 sungai, yang meliputi lebih dari separo permukaan bumi, digunakan bersama oleh dua negara atau lebih. Selain itu, banyak lapisan sumber air bawah tanah membentang melintasi batas-batas negara, dan penyedotan oleh suatu negara dapat menyebabkan ketegangan politik dengan negara tetangganya.

Di seluruh dunia, kira-kira 20 negara, hampir semuanya di kawasan negara berkembang, memiliki sumber air yang dapat diperbarui hanya di bawah 1.000 meter kubik untuk setiap orang, suatu tingkat yang biasanya dianggap kendala yang sangat mengkhawatirkan bagi pembangunan, dan 18 negara lainnya memiliki di bawah 2.000 meter kubik untuk tiap orang.

Penduduk dunia yang pada 2006 berjumlah 5,3 miliar diperkirakan akan meningkat menjadi 8,5 miliar pada tahun 2025 akan didera oleh ketersediaan air bersih. Laju angka kelahiran yang tertinggi justru terjadi tepat di daerah yang sumber-sumber airnya mengalami tekanan paling berat, yaitu di negara-negara berkembang.

Sumber [id.wikipedia.org]

Air Baku Jakarta Parah

Ada berita menarik yang perlu disimak oleh warga Jakarta khususnya pengguna air bersih. Air Baku Jakarta Parah itu judul yang dilansir oleh situs berita online Neraca.co.id . Berikut berita lengkapnya kami tampilkan kembali untuk anda warga Jakarta yang belum membacanya :

Jakarta – Dari kuantitas maupun kualitas, kondisi air baku DKI Jakarta saat ini dinilai parah. Untuk itu segala macam cara harus kita lakukan bersama untuk mengatasi hal tersebut mengingat air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan kita. “Saya katakan parah pasalnya saat musim hujan banjirnya luar biasa dan saat musim kemarau air baku terutama alur sungai di DKI sangat kotor dan warnya hitam, kata Direktur Jenderal Sumber Daya Air Mohammad Hasan di Jakarta, Sabtu (1/6).

Upaya pembentukan  komunitas penyadaran masyarakat akan peduli air sangat penting, kata Hasan. Sedangkan soal kualitas air yakni soal polusi baik dari limbah rumah tangga seperti sampah maupun industri-industri yang langsung membuang ke sungai maupun yang berasal dari ternak-ternak. Hal akan mencemari kualitas air baku untuk air bersih DKI yang berasal dari Waduk Jatiluhur melalui sungai Tarum Barat ke pengolahan air PDAM Pejompongan.

Pengeboran air tanah dan instrusi air laut saat ini sudah menguatiran dan berdampak besar dalam mengurangi kualitas air bersih Jakarta. Untuk mengatasi krisis air bersih, upaya penyelamatan lingkungan dan sumber air harus dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai upaya.

Hasan menjelaskan, upaya untuk atas pesoalan tersebut antara lain menggalakkan gerakan menanam pohon, konservasi lahan, pelestarian hutan, dan Daerah Aliran Sungai (DAS), pembangunan tempat penampungan air hujan seperti situ, embung, dan waduk, sehingga airnya bisa dimanfaatkan saat musim kemarau, mencegah seminimal mungkin air hujan terbuang ke laut dengan membuat sumur resapan air atau lubang resapan biopori. Mengurangi pencemaran air dan melakukan penghematan penggunaan air dalam aktivitas keseharian juga bisa menjadi upaya untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Berdasarkan kondisi air, baik kualitas maupun ketersediaan, Indonesia memiliki  potensi besar sebagai negara yang kaya air. Namun fakta tersebut tidak lantas membuat Indonesia  terhindar dari krisis air bersih. Setiap  musim kemarau  banyak  daerah di Indonesia mengalami kekeringan, sementara  saat musim penghujan bahaya yang bersumber dari air, yaitu banjir juga mengintai.

Untuk  mengatasi ketidakseimbangan antara ketersediaan air yang cenderung menurun dan kebutuhan air yang semakin meningkat, sumber daya air wajib dikelola dengan memperhatikan fungsi sosial, lingkungan hidup dan ekonomi secara selaras. Melihat kondisi ini,  pengelolaan sumber daya air perlu diarahkan untuk mewujudkan sinergi dan keterpaduan yang harmonis antarwilayah, antarsektor, dan antargenerasi.

Sejalan dengan semangat demokratisasi, desentralisasi, dan keterbukaan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, masyarakat perlu diberi peran yang lebih besar dalam pengelolaan sumber daya air.

Fakta bahwa 70% permukaan bumi kita adalah air sudah banyak diketahui. Tetapi tidak banyak yang menyadari bahwa 97%  dari jumlah tersebut  adalah  air asin  dan  hanya 3%  saja  yang berupa air tawar, itu pun  terbagi  menjadi  air  es, air  tanah, air permukaan dan uap air.  Kenyataan bahwa  tidak semua air tawar yang  tersedia  layak untuk dikonsumsi, makin memperkecil jumlah ketersediaan air bersih yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan hidup kita.

Untuk menanggulangi hal tersebut, diperlukan adanya kesadaran akan pentingnya air  bersih, serta perlu adanya usaha untuk mendorong dan memperkuat upaya-upaya penyadaran  masyarakat dunia terhadap pentingnya pengelolaan air bersih  secara  berkelanjutan. Beberapa kalangan yang sadar akan masalah tersebut mulai menggalang dukungan dan menggerakkan komunitas sekitarnya untuk  melakukan upaya-upaya  penyelamatan sumber-sumber air bersih, dari langkah terkecil sekali pun. [iqbal- Neraca.Co.id]

Air Bersih di Jakarta Sudah Sangat Menipis

Jakarta Kekurangan Air Bersih

CERITA mengenai Jakarta kekurangan air bersih mungkin tidak akan ada habisnya, sejak Jakarta menjadi kota sampai sekarang sudah berubah status menjadi provinsi. Dilihat dari kondisi topografisnya, Jakarta tidak mungkin kekurangan air. Ibu Kota negara ini dialiri 13 sungai, terletak di dataran rendah dan berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Bahkan, jika musim hujan tiba, Jakarta selalu kebanjiran.

DULU, Jakarta kekurangan air bersih karena belum tersedia fasilitas instalasi pengolahan air bersih. Masyarakat masih memanfaatkan air tanah dan sungai yang saat itu kondisinya masih jernih. Masalah juga tidak kompleks karena jumlah penduduknya belum mencapai jutaan jiwa. Sekarang, ketika penduduknya hampir mencapai 9 juta jiwa, isu kesulitan air bersih semakin memanas.

Neraca Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta tahun 2003 menunjukkan, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) diperkirakan baru mampu menyuplai sekitar 52,13 persen kebutuhan air bersih untuk warga Jakarta. Sisanya masih menggunakan air tanah dangkal dan dalam. Padahal, sampai tahun 2005 pemerintah daerah sudah membangun enam instalasi pengolah air minum di lima wilayah Jakarta. Namun, penduduk tetap saja mengeluh kekurangan air minum.

Memang pernyataan itu benar. Sampai sekarang total kapasitas produksi yang dihasilkan oleh enam instalasi pengolahan air (IPA) tersebut dalam satu hari adalah 1,3 juta meter kubik. Sampai tahun 2004 jumlah penduduk Jakarta sekitar 9 juta jiwa. Paling tidak, dengan tingkat konsumsi maksimal 175 liter per orang, dibutuhkan 1,5 juta meter kubik air dalam satu hari.

Tercatat dalam sejarah, sekitar tahun 1950 Sjamsuridjal, Wali Kota Jakarta, menyatakan bahwa air minum merupakan satu dari tiga masalah penting yang dihadapi Jakarta. Solusinya, pemerintah membangun instalasi penjernihan air di Karet untuk menambah kapasitas produksi air sebanyak 5.000 liter per detik dan meningkatkan debit air dari sumber air Ciomas, Bogor. Bagi penduduk yang belum terjangkau fasilitas air bersih disediakan 230 hidran umum.

Tujuh tahun kemudian, Sudiro, yang saat itu memimpin Jakarta, membangun instalasi pengolahan air di Pejompongan yang berkapasitas 2.000 liter per detik. Proyek tersebut merupakan instalasi penyedia air yang pertama di Jakarta. Akan tetapi, tetap saja kapasitas produksi yang dihasilkan kurang karena setidaknya harus melayani sekitar 2,5 juta jiwa penduduk.

Baru pada tahun 1970, ketika penduduk Jakarta mencapai 4,4 juta jiwa, IPA di Pejompongan diperluas dan kapasitasnya ditingkatkan. IPA Pejompongan II dibangun dengan kapasitas terpasang 3.600 liter per detik.

Namun, tetap saja hal itu tidak bisa memenuhi kebutuhan air minum warga Jakarta yang membutuhkan 776.000 meter kubik per hari.

Warga yang belum bisa menikmati fasilitas air bersih dari PAM harus mendapatkan dari air tanah, penampungan air hujan, dan membeli air dari penjual air keliling. Mereka yang bisa menikmati kejernihan air hanya masyarakat menengah ke atas karena harga air minum mahal.

Masalah tidak berhenti pada peningkatan produksi air minum saja. Jaringan pipa distribusi air minum sudah berumur 50 tahun perlu diganti. Banyak pipa yang bocor dan berkarat yang mengakibatkan tekanan air berkurang. Kemudian, pemerintah memperbaiki dan menambah pipa-pipa distribusi sepanjang 225 kilometer.

air bersih-3Dua IPA di Pejompongan ternyata belum juga bisa menjawab kekurangan air bersih di Jakarta karena baru 15 persen penduduk yang bisa mendapatkan air bersih. Untuk menjawab masalah tersebut, tujuh tahun kemudian Gubernur Ali Sadikin membangun IPA Cilandak di Jakarta Selatan. Instalasi pengolahan air minum yang dibangun itu untuk menyediakan air minum bagi penduduk Jakarta Selatan.

Namun, tetap saja tiga instalasi air tersebut tidak bisa memenuhi kebutuhan 5,5 juta jiwa penduduk. Kapasitas produksi air IPA Cilandak hanya 400 liter per detik dan hanya mampu menambah 34.000 meter kubik air per hari.

Jumlah penduduk Jakarta terus bertambah. Pada sekitar tahun 1980 jumlahnya menjadi 6,4 juta jiwa, meningkat dua juta jiwa dari 10 tahun sebelumnya. Total kapasitas produksi yang dihasilkan 6.000 liter per detik atau 1,3 juta meter kubik per hari. Sedangkan kebutuhan domestik warga Jakarta adalah 1,1 juta meter kubik per hari.

Di atas kertas, empat instalasi air yang dibangun sudah bisa memenuhi kebutuhan air warga Jakarta. Sayang, keempat IPA tersebut baru bisa mencukupi kebutuhan penduduk Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Jakarta Selatan. Penduduk di Jakarta Timur belum bisa menikmati air bersih dari IPA yang dikelola PAM Jaya. Sekitar tahun 1982 IPA Pulo Gadung selesai dibangun. IPA yang berkapasitas 4.000 liter per detik tersebut untuk melayani penduduk Jakarta Timur dan sebagian Jakarta Barat.

Pada tahun yang sama, Gubernur R Soeprapto membangun IPA Taman Kota di Jakarta Barat. IPA yang berlokasi di Cengkareng tersebut berkapasitas 200 liter per detik. Air bersih yang dihasilkan diolah dari Kali Pesanggrahan dan didistribusikan untuk penduduk Jakarta Barat. Selain itu, dibangun pula IPA Buaran di Kali Malang, Jakarta Timur. Instalasi air bersih tersebut berkapasitas 5.000 liter per detik dan digunakan untuk melayani kebutuhan sebagian warga Jakarta Timur dan Jakarta Selatan.

Setelah tahun 1982 pemerintah tidak membangun lagi sarana pengolahan air. Padahal, jumlah penduduk cenderung meningkat dari tahun ke tahun dan kapasitas produksi air PAM dari IPA tidak pernah bertambah. Selain itu, air tidak hanya dibutuhkan untuk kepentingan rumah tangga. Fasilitas umum seperti sekolah, rumah sakit, perkantoran, pertokoan, dan industri juga membutuhkan air bersih. Dari sumber mana lagi air bersih didapatkan?

Air Tanah Yang Tercemar

Selain dari IPA yang dikelola PAM, pilihan penduduk adalah menggunakan air tanah yang bisa didapat dengan membuat sumur artesis. Celakanya, menurut penelitian Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Jakarta, 94 persen air tanah telah tercemar bakteri e-coli, logam besi dan mangan.

Pemompaan air tanah secara besar-besaran dan tidak terkendali juga mengakibatkan tanah ambles sekitar dua sampai tiga sentimeter per tahun. Jakarta Utara dan Barat merupakan wilayah yang rawan pencemaran dan mengalami penurunan tanah. Tidak hanya itu, intrusi air laut diperkirakan sudah sampai di Monas. Atau setidaknya sudah mencapai sepertiga wilayah Jakarta.

Sebenarnya pemerintah sudah berusaha mengatasi masalah ini dengan memperbaiki dan menambah jaringan air bersih. Tahun 2003 PT. Thames Jaya, pengelola air bersih di sebelah timur Sungai Ciliwung, mengembangkan pipa saluran air bersih sepanjang 9,1 kilometer di Marunda. Setahun berikutnya, PT. Palyja, pengelola air bersih di sebelah barat Sungai Ciliwung, memperluas jaringan sepanjang 829 kilometer dan merehabilitasi jaringan sepanjang 690 kilometer.

Sayang, usaha tersebut tidak efektif. Buktinya sampai sekarang masyarakat masih mengeluh kekurangan air bersih. Pencurian air juga banyak terjadi.

Masa depan air bersih di Jakarta akan semakin suram jika tidak dibangun instalasi pengolahan air minum lagi. Sepuluh tahun mendatang ketika jumlah penduduk diprediksikan menjadi 12 juta jiwa, dibutuhkan air bersih 2,1 meter kubik per hari.

Sampai saat ini PAM masih terseok-seok memenuhi kebutuhan air warga Jakarta. Air tanah sebagai alternatif kondisinya cukup buruk.

Sumber : www2.kompas.com

Ciri-Ciri Air Tanah Yang Tercemar

Bila kita cermati lebih dalam, pada umumnya air di kota-kota besar sudah banyak yang tercemar. Air yang sudah tercemar biasanya akan berubah dan mempunyai beberapa ciri tertentu yang membedakannya dengan air bersih. Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan disuatu tempat penampungan air akibat aktivitas manusia. Sumber pencemaran air terdiri dari polutan alami yang berasal dari mineral serta mikroorganisme dan polutan buatan manusia biasanya berasal dari sisa bahan kimia yang lebih berbahaya daripada polutan alami.

air_tanah1Untuk mendapatkan air tanah dengan kualitas baik, sumur harus dibuat dengan kedalaman tertentu. Jika sumur dibuat terlalu dangkal, maka air yang dihasilkan akan lebih mudah terkontaminasi oleh cemaran atau polutan. Apabila hal itu terjadi, biasanya dapat digunakan tambahan berupa alat penyaring air agar air yang telah terkontaminasi dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sudah banyak masyarakat di kota-kota besar yang menggunakan alat penyaring air sebagai solusi utama untuk mendapatkan air bersih dengan kualitas baik.

Mengenali Ciri-Ciri Air Tanah Yang Sudah Tercemar

Selain dengan cara melakukan tes di laboratorium, terdapat beberapa cara pengamatan fisik yang dapat dilakukan untuk mengenali ciri-ciri air tanah yang sudah tercemar, seperti dikutip dari indiastudychannel adalah:

  1. Warna kekuningan akan muncul jika air tercemar chromium dan materi organik. Jika air berwarna merah kekuningan, itu menandakan adanya cemaran besi. Sementara pengotor berupa lumpur akan memberi warna merah kecoklatan.
  2. Kekeruhan juga merupakan tanda bahwa air tanah telah tercemar oleh koloid (bio zat yang lekat seperti getah atau lem). Lumpur, tanah liat dan berbagai mikroorganisme seperti plankton maupun partikel lainnya bisa menyebabkan air berubah menjadi keruh.
  3. Polutan berupa mineral akan membuat air tanah memiliki rasa tertentu. Jika pahit, pemicunya bisa berupa besi, aluminium, mangaan, sulfat maupun kapur dalam jumlah besar.
  4. Air tanah yang rasanya seperti air sabun menunjukkan adanya cemaran alkali. Sumbernya bisa berupa natrium bikarbonat, maupun bahan pencuci yang lain misalnya detergent.
  5. Sedangkan rasa payau menunjukkan kandungan garam yang tinggi, sering terjadi didaerah sekitar muara sungai.
  6. Bau yang tercium dalam air tanah juga menunjukkan adanya pencemaran. Apapun baunya, itu sudah menunjukkan bahwa air tanah tidak layak untuk konsumsi.

Beberapa literatur juga menuliskan ciri air tanah tercemar ini, diantaranya (Djajadiningrat, 1992), menyatakan bahwa badan air yang tercemar ditandai dengan warna gelap, berbau, menimbulkan gas, mengandung bahan organik tinggi, kadar oksigen terlarut rendah, matinya kehidupan di dalam air umumnya ikan dan air tidak lagi dapat dipergunakan sebagai bahan baku air minum.

Sedangkan menurut Wardana (1999), indikator atau tanda air telah tercemar adanya perubahan atau tanda yang dapat diamati melalui :

1- Perubahan Warna, Bau dan Rasa Air

Bahan buangan dan air limbah dari kegiatan industri yang berupa bahan anorganik dan bahan organik seringkali dapat larut di dalam air. Apabila bahan buangan dari air limbah dapat larut dan terdegradasi maka bahan buangan dalam air limbah dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna air. Bau timbul akibat aktifitas mikroba dalam air merombak bahan buangan organik terutama gugus protein, secara biodegradasi menjadi bahan mudah menguap dan berbau.

2-Perubahan Suhu Air

Air Sungai suhunya naik mengganggu kehidupan hewan air dan organisme lainnya karena kadar oksigen yang terlarut dalam air akan turun bersamaan dengan kenaikan suhu. Padahal setiap kehidupan memerlukan oksigen untuk bernafas, oksigen yang terlarut dalam air berasal dari udara yang secara lambat terdifusi ke dalam air, semakin tinggi kenaikan suhu air makin sedikit oksigen yang terlarut di dalamnya.

3-Timbulnya Endapan, Koloidal dan bahan terlarut

Bahan buangan industri yang berbentuk padat kalau tidak dapat larut sempurna akan mengendap didasar sungai dan dapat larut sebagian menjadi koloidal, endapan dan koloidal yang melayang di dalam air akan menghalangi masuknya sinar matahari sedangkan sinar matahari sangat diperlukan oleh mikroorganisme untuk melakukan proses fotosintesis.

4-Mikroorganisme

Bahan buangan industri yang dibuang ke lingkungan perairan akan di degradasi oleh mikroorganisme, berarti mikroorganisme akan berkembang biak tidak menutup kemungkinan mikroorganisme pathogen juga ikut berkembang biak. Mikroorganisme pathogen adalah penyebab timbulnya berbagai macam penyakit.

Oleh karena itu, diperlukan kesadaran masyarakat yang tinggi agar tetap menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan juga membuang limbah pabrik yang dapat mencemari ekosistem air sehingga air bersih sulit diperoleh kecuali melalui pengolahan air bersih .  Sehingga ekosistem air bersih tetap terjaga.

Editor : Deni Setiawan  ;  Sumber : Dari berbagai sumber

Pages:« Prev123456