You are here: Filter Penjernih Air keluarga sehat»Pencemaran Air

Pencemaran Air

Dampak pencemaran air terhadap lingkungan

PENCEMARAN AIR DI LINGKUNGAN SEKITAR, Pencemaran air berdampak luas, misalnya dapat meracuni sumber air minum, meracuni makanan hewan, ketidak seimbangan ekosistem sungai dan danau, pengrusakan hutan akibat hujan asam, dan sebagainya. Pencemaran air di badan air, sungai dan danau, nitrogen dan fosfat (dari kegiatan pertanian) telah menyebabkan pertumbuhan tanaman air yang di luar kendali (eutrofikasi berlebihan). Ledakan pertumbuhan ini menyebabkan oksigen, yang seharusnya digunakan bersama oleh seluruh hewan/tumbuhan air, menjadi berkurang. Ketika tanaman air tersebut mati, dekomposisi mereka menyedot lebih banyak oksigen. Sebagai akibatnya, ikan akan mati, dan aktivitas bakteri menurun.pencemaran air

Dampak pencemaran air pada umumnya dibagi atas 4 kelompok, yaitu :

  1. Dampak pencemaran air terhadap kehidupan biota air
  2. Dampak pencemaran air terhadap kualitas air tanah
  3. Dampak pencemaran air terhadap kesehatan
  4. Dampak pencemaran air terhadap estetika lingkungan

1.Dampak pencemaran air terhadap kehidupan biota air
Banyaknya zat pada pencemaran air limbah akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen terlarut dalam air tersebut. Sehingga mengakibatkan kehidupan dalam air membutuhkan oksigen terganggu serta mengurangi perkembangannya.

Akibat matinya bakteri-bakteri, maka proses penjernihan air limbah secara alamiah yang seharusnya terjadi pada air limbah juga terhambat. Dengan air limbah yang sulit terurai. Panas dari industri juga akan membawa dampak bagi kematian organisme, apabila air limbah tidak didinginkan terlebih dahulu.

2. Dampak negatif pencemaran air terhadap kualitas air tanah
Pencemaran air tanah oleh tinja yang biasa diukur dengan faecal coliform telah terjadi dalam skala yang luas, hal ini dibuktikan oleh suatu survey sumur dangkal di Jakarta. Banyak penelitian yang mengindikasikan terjadinya pencemaran tersebut.

3. Efek pencemaran air terhadap kesehatan
Peran air sebagai pembawa penyakit menular bermacam-macam antara lain :

  • Air sebagai media untuk hidup mikroba pathogen,
  • Air sebagai sarang insekta penyebar penyakit,
  • Jumlah air yang tersedia tidak cukup, sehingga manusia bersangkutan tak dapat membersihkan diri,
  • Air sebaga media untuk hidup vector penyakit.

4. Akibat pencemaran air terhadap estetika lingkungan
Dengan semakin banyaknya zat organik yang dibuang ke lingkungan perairan, maka perairan tersebut akan semakin tercemar yang biasanya ditandai dengan bau yang menyengat disamping tumpukan yang dapat mengurangi estetika lingkungan. Masalah limbah minyak atau lemak juga dapat mengurangi estetika lingkungan.

Cara menanggulangi Pencemaran Air
Banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai cara penanggulangan pencemaran air antara lain:
1. Sadar akan kelangsungan ketersediaan air dengan tidak merusak atau mengeksploitasi sumber mata air agar tidak tercemar.
2. Tidak membuang sampah ke sungai.
3. Mengurangi intensitas limbah rumah tangga.
4. Melakukan penyaringan air limbah pabrik sehingga air limbah yang nantinya bersatu dengan air sungai bukanlah air limbah jahat perusak ekosistem.
5. Pembuatan sanitasi yang benar dan bersih agar sumber-sumber air bersih lainnya tidak tercemar sehingga tidak terjadi pencemaran air.

Cara penanggulangan pencemaran air lainnya adalah melakukan penanaman pohon. Pohon selain bisa mencegah longsor, diakui mampu menyerap air limbah dalam jumlah banyak. Itu sebabnya banyak bencana banjir akibat penebangan pohon secara massal. Padahal, pohon merupakan penyerap air paling efektif dan handal.

Bahkan, daerah resapan air pun dijadikan pemukiman dan pusat wisata. Pohon sesungguhnya bisa menjadi sumber air sebab dengan banyaknya pohon, semakin banyak pula sumber-sumber air potensial di bawahnya.
Dalam menyikapi permasalahan pencemaran air ini, Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi Jawa Barat, menetapkan beberapa cara penanggulangan pencemaran air yang bisa diterapkan oleh kita.
Beberapa cara penanggulangan pencemaran air tersebut di antaranya sebagai berikut.
1. Program Pengendalian Pencemaran air dan Pengrusakan Lingkungan
• Mengurangi beban pencemaran air oleh industri dan domestik.
• Mengurangi beban emisi dari kendaraan bermotor dan industri.
• Mengawasi pemanfaatan B3 dan pembuangan limbah B3.
• Mengembangkan produksi yang lebih bersih (cleaner production) dan EPCM (Environmental Pollution Control Manager).

Sumber [rahmankesling.blogspot.com]

Pengolahan air limbah industri indonesia belum maksimal

Pengolahan air limbah wajib dilakukan agar tidak mencemari lingkungan sekitar. Potensi industri telah memberikan sumbangan bagi perekonomian Indonesia melalui  barang produk dan jasa yang dihasilkan, namun di sisi lain pertumbuhan industri telah menimbulkan masalah lingkungan yang cukup serius. Buangan air limbah industri tanpa melalui proses pengolahan air limbah mengakibatkan timbulnya pencemaran air sungai yang  dapat merugikan masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai, seperti berkurangnya hasil produksi pertanian, menurunnya hasil tambak, maupun berkurangnya pemanfaatan air sungai oleh penduduk. pengolahan air limbah

Seiring dengan makin tingginya kepedulian akan kelestarian sungai dan kepentingan menjaga keberlanjutan lingkungan dan dunia usaha maka muncul upaya industri untuk melakukan pengolahan air   limbah industrinya melalui perencanaan proses produksi yang effisien sehingga mampu meminimalkan air limbah buangan industri dan upaya pengendalian pencemaran air limbah industrinya melalui penerapan instalasi pengolahan air limbah. Bagi Industri yang  terbiasa dengan memaksimalkan profit dan mengabaikan usaha pengolahan air limbah agaknya bertentangan dengan akal sehat mereka, karena mereka beranggapan bahwa menerapkan instalasi pengolahan air limbah berarti harus mengeluarkan biaya pembangunan dan biaya operasional yang mahal. Di pihak lain timbul ketidakpercayaan masyarakat bahwa industri akan dan mampu melakukan pengolahan air  limbah dengan sukarela mengingat banyaknya perusahaan industri yang dibangun di sepanjang aliran sungai, dan membuang air limbahnya tanpa proses pengolahan air limbah terlebih dahulu . Sikap perusahaan yang hanya berorientasi “Profit motive” dan lemahnya penegakan peraturan terhadap pelanggaran pencemaran air ini berakibat timbulnya beberapa kasus pencemaran air oleh industry dan tuntutan-tuntutan masyarakat sekitar industry hingga perusahaan harus  mengganti kerugian  kepada masyarakat yang terkena dampak.

Latar belakang yang menyebabkan terjadinya permasalahan pencemaran air tersebut dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

(1) Upaya  pengelolaan lingkungan yang ditujukan untuk mencegah dan atau memperkecil dampak negatif yang dapat timbul dari kegiatan produksi dan jasa di berbagai sektor industri belum berjalan secara terencana.

(2) Biaya pengolahan air limbah dan pembuangan limbah semakin mahal  dan  dana pembangunan, pemeliharaan fasilitas bangunan pengolahan air limbah yang terbatas, menyebabkan perusahaan enggan menginvestasikan dananya untuk pencegahan kerusakan lingkungan, dan anggapan bahwa biaya untuk  membuat unit IPAL ( Instalasi Pengolahan Air Limbah )merupakan beban biaya yang besar yang dapat mengurangi keuntungan perusahaan.

(3) Tingkat pencemaran baik kualitas maupun kuantitas semakin meningkat, akibat perkembangan penduduk dan ekonomi, termasuk industri di sepanjang sungai yang tidak melakukan pengolahan air limbah industrinya secara optimal.

(4) Perilaku sosial masyarakat dalam hubungan dengan industri memandang bahwa sumber pencemaran di sungai adalah berasal dari buangan industri, akibatnya isu lingkungan sering dijadikan  sumber konflik untuk melakukan tuntutan kepada industri berupa perbaikan lingkungan, pengendalian pencemaran, pengadaan sarana dan prasarana yang rusak akibat kegiatan industri.

(5) Adanya Peraturan Pemerintah tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian  pencemaran air nomor: 82 Tahun 2001, meliputi standar lingkungan, ambang batas pencemaran air yang diperbolehkan, izin pembuangan limbah cair, penetapan sanksi administrasi maupun pidana belum dapat menggugah industri untuk melakukan pengolahan air limbah.

Permasalahan di atas dapat disimpulkan bahwa ” Penerapan Pengolahan air  Limbah  pada industri kurang optimal” dan jawaban terhadap berbagai pertanyaan di atas pada umumnya menyangkut:

(1) Apakah industri telah melakukan upaya minimisasi  limbah  untuk mencegah/memperkecil dampak negatif yang timbul dari kegiatan produksi?

(2) Faktor-faktor apa yang menyebabkan penerapan  pengolahan air limbah kurang optimal?

(3) Apakah penerapan  pengolahan air limbah secara bersama-sama dipengaruhi oleh biaya, beban buangan air limbah, teknologi ipal, perilaku sosial masyarakat, dan peraturan pemerintah?

Pertanyaan ini tentunya  dimaksudkan untuk para pelaku usaha agar dalam  usaha industrinya dapat melakukan minimisasi air limbahnya pada proses produksi, faktor-faktor yang menyebabkan pengelolaan limbah cair pada industri tidak dilakukan dengan optimal, pengaruh dari investasi terhadap pencemaran lingkungan, tingkat buangan limbah, teknologi Ipal, perilaku sosial masyarakat dan peraturan pemerintah  terhadap  penerapan pengelolaan air limbah  industry termasuk menghitung biaya manfaat penerapan Ipal industri. Berdasarkan dugaan yang terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia bahwa Penerapan Installasi Pengolahan air limbah industri  dipengaruhi oleh  biaya investasi, beban buangan limbah, teknologi proses ipal, sosial masyarakat dan peraturan pemerintah tentang pengelolaan lingkungan, serta menyangkut  manfaat penerapan instalasi pengolahan air limbah lebih besar daripada biaya investasi alat pengolahan air limbah.

Dari 350  industri terdapat kelompok jenis industri pengolahan makanan dengan 110 perusahaan, industri kimia/farmasi 70 perusahaan, permesinan 60 perusahaan, tekstil 40 perusahaan, furniture 30 perusahaan dan kelompok jenis industri kemasan dan lain-lain masing-masing 20 perusahaan, yang umumnya telah mengupayakan minimalisasi air limbah pada proses produksinya melalui  optimalisasi proses (reduce 74,29%), pemakaian kembali sisa  air proses (reuse 8,57%), pemanfaatan kembali air limbah (recycle 8,57%), melakukan pengambilan kembali air limbah (recovery 5,71%), sedangkan industri yang melakukan penerapan pengolahan air limbah ( 42,85%) atau sebanyak 150 industri.

Hubungan fungsional antara variabel Y dan X didapat model persamaan regresi  berganda   Y= 9,132+ 0,935 X1+ 0,694 X2 + 0.081X3+ 0.161X4 – 0,234 X5,  diartikan bahwa fungsi penerapan pengolahan air limbah dipengaruhi secara positif oleh biaya investasi, beban buangan air limbah, teknologi proses, sosial masyarakat dan peraturan pemerintah.  Tanda koefisien negatif  menunjukkan adanya hubungan negatif antara penerapan ipal dengan peraturan pemerintah: semakin tinggi industri menerapkan Ipal maka semakin rendah control pemerintah terhadap industri yang menerapkan pengolahan air limbah.

Perhitungan biaya manfaat  diambil dengan asumsi discount faktor 15 % dan umur ekonomis ipal 10 tahun, didapatkan  biaya pembuatan alat pengolahan air limbah per m3 air  limbah, yaitu Rp 975 – Rp 1836  untuk kelompok jenis industri makanan, Rp 1450 – Rp 2027,- untuk industri tekstil, Rp 1301,-  – Rp 1613,- untuk Industri Farmasi dan Rp 2339 – Rp 2961,- untuk kelompok jenis industri permesinan. Perhitungan nilai manfaat dilihat dari kemampuan alat pengolahan air limbah menurunkan kadar BOD, COD dan Suspended solid  per m3  air limbah yaitu Rp 1499 – Rp 2764 untuk kelompok industri pengolahan makanan , Rp 2269 – Rp 6217,- untuk industri tekstil, Rp 1613 – Rp 2359,- untuk industri farmasi, dan Rp3427 – Rp 6026,-  untuk industri permesinan. Perhitungan rasio manfaat biaya juga menghasilkan nilai perbandingan biaya manfaat           ( BCR) penerapan Ipal yaitu 1,01 – 1,57  untuk kelompok industri pengolahan makanan, 1,11 – 4,28 untuk  industri tekstil, 1,24 – 1,46  untuk industri farmasi, dan  1,15 – 2,57 untuk  industri permesinan.

Kesimpulan dari Penelitian ini adalah :

1. Terdapat 74,29 % industri dari 350 perusahaan yang terbanyak memilih melakukan upaya minimisasi air limbah industrinya melalui optimalisasi pada proses produksi (reduce).

2. Faktor-faktor yang mendorong industri menerapkan instalasi pengolahan air limbah antara lain adalah biaya investasi, beban buangan air limbah, teknologi proses, sosial masyarakat industri, peraturan pemerintah di bidang pengelolaan lingkungan.  Hal ini dijelaskan oleh hasil uji F hitung sebesar 788,857 > dari F tabel 2,54 pada taraf signifikansi 5 % yang menunjukkan semua faktor tersebut secara bersama-sama dan signifikan mempengaruhi penerapan Ipal.

3. Manfaat penerapan instalasi pengolahan air limbah lebih besar dari biaya instalasi, baik dari nilai bersih sekarang ( Net Present Value), maupun dari rasio manfaat biayanya. Oleh karena itu secara ekonomi dan ekologis ipal layak diterapkan sebagai salah satu upaya mengurangi pencemaran air limbah industri.

Saran yang diberikan berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan adalah:

1. Sebaiknya industri dapat melakukan program minimisasi ke arah cleaner production yang terpadu dijalankan oleh semua bagian terkait baik itu produksi, enginering, maintenance, lingkungan, keuangan dan lainnya.
2. Bagi industri yang limbahnya belum memenuhi baku mutu meskipun telah menerapkan minimisasi limbah perlu menerapkan pengolahan air limbah mengingat pengolahan air limbah merupakan aset perusahaan yang bermanfaat untuk mengurangi beban pencemaran dan untuk kelangsungan industri di masa depan.
3. Bagi industri yang menerapkan pengolahan air limbah dan memenuhi bakumutu buangan air limbah perlu diberikan penghargaan oleh Pemerintah. Keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan industri dalam mengusahakan  daerah aliran sungai  sekitar industri ditata secara berkelanjutan melalui system pengolahan air limbah bersama.

Sumber [kabarindonesia.com]

Pengolahan air bersih industri di indonesia belum wajar

Pengolahan air bersih industri di indonesia belum wajar, Saat ini pengolahan air bersih dan pemanfaatan air bersih pada sektor industri di Indonesia masih dinilai minim. Ini menimbulkan kritikan dari sejumlah kalangan. Pasalnya, industri dalam negeri, mengonsumsi air bersih lebih banyak dari pada konsumsi air bersih pada industri-industri di negara maju oleh karena itu sangat dibutuhkan alat pengolahan air bersih.

General Manager PT PIPA, Didier Perez, mencontohkan salah satu produsen semen PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) mengonsumsi air bersih lima kali lebih boros dibanding industri atau produsen sejenis di Korea Selatan maka dari itu dibutuhkan teknologi pengolahan air bersih modern.pengolahan air bersih

“Air bersih yang dikonsumsi itu terbilang tidak normal kan. Ditambah dengan pemerintah yang kurang peka dengan masalah pengolahan air bersih,” ujarnya saat konferensi pers di Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta.

Bukan itu saja, Perez juga mencontohkan beberapa fasilitas umum seperti hotel, bandara dan rumah sakit yang dinilai masih belum optimal dalam melakukan pengolahan air bersih, penghematan dalam konsumsi air bersih nya. Dia menyarankan adanya penekanan seperti inovasi pengolahan air bersih dan air limbah dalam setiap industri dalam negeri yang mengonsumsi air bersih dalam jumlah besar.

“Seharusnya untuk hotel bandara rumah sakit kita harus kurangi konsumsi air bersih nya dan sudah saatnya menggunakan teknologi pengolahan air bersih yang lebih canggih, seperti sistem pengolahan air bersih menggunakan filter air / alat penyaring air modern ” jelas dia.

Untuk mendukung misi penciptaan teknologi pengolahan air bersih dan air limbah, PT Napindo Media Ashatama menyelenggarakan pameran Teknologi air limbah dengan Indonesia sebagai tuan rumah yang digelar serentak di Jakarta Convention Center Jakarta tanggal 3-5 Juli yang lalu.

Sekitar 503 peserta dari 30 negara termasuk 8 negara seperti negara kawasan Eropa, Amerika, China, Singapura, Korea, Taiwan, Jepang dan juga Indonesia, menampilkan produk dan teknologi pengolahan air bersih dan air limbah termasuk juga delegasi masing-masing negara.

Dalam pameran tersebut juga akan dilakukan kegiatan pertukaran bisnis dan teknologi untuk lima industri yakni pengolahan air bersih, limbah air dan daur ulang, perlindungan dan pencegahan kebakaran, keselamatan kerja dan industri keamanan, berbagai konsep dan teknologi baru dalam hal pengolahan air bersih.

Sumber [merdeka.com]

Pengolahan air limbah dan cara pembuangan air limbah

Pengolahan air limbah dan cara pembuangan air limbah yang benar , Pembuangan air limbah baik yang bersumber dari kegiatan domestik (rumah tangga) maupun industri ke badan air dapat menyebabkan pencemaran lingkungan apabila kualitas air limbah tidak memenuhi baku mutu limbah maka dibuatlah pengolahan air limbah . Sebagai contoh, mari kita lihat Kota Jakarta. Jakarta merupakan sebuah ibukota yang amat padat sehingga letak septic tank, cubluk (balong), dan pembuangan sampah berdekatan dengan sumber air tanah. Terdapat sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa 285 sampel dari 636 titik sampel sumber air tanah telah tercemar oleh bakteri ecoli. Secara kimiawi, 75% dari sumber tersebut tidak memenuhi baku mutu air minum yang parameternya dinilai dari unsur nitrat, nitrit, besi, dan mangan.pengolahan air limbah Bagaimana dengan air limbah industri? Dalam kegiatan industri, air limbah akan mengandung zat-zat/kontaminan yang dihasilkan dari sisa bahan baku, sisa pelarut atau bahan aditif, produk terbuang atau gagal, pencucian dan pembilasan peralatan, blowdown beberapa peralatan seperti kettle boiler dan sistem air pendingin, serta sanitary wastes. Agar dapat memenuhi baku mutu, industri harus menerapkan prinsip pengendalian limbah secara cermat dan terpadu baik di dalam proses produksi (in-pipe pollution prevention) dan setelah proses produksi (end-pipe pollution prevention). Pengendalian dalam proses produksi bertujuan untuk meminimalkan volume limbah yang ditimbulkan, juga konsentrasi dan toksisitas kontaminannya. Sedangkan pengendalian setelah proses produksi dimaksudkan untuk menurunkan kadar bahan peencemar sehingga pada akhirnya air limbah tersebut memenuhi baku mutu yang sudah ditetapkan. Namun walaupun begitu, masalah air limbah tidak sesederhana yang dibayangkan karena pengolahan air limbah memerlukan biaya investasi yang besar dan biaya operasi yang tidak sedikit. Untuk itu, pengolahan air limbah harus dilakukan dengan cermat, dimulai dari perencanaan yang teliti, pelaksanaan pembangunan fasilitas instalasi pengolahan air limbah (IPAL) atau unit pengolahan air limbah (UPL) yang benar, serta pengoperasian yang cermat. Dalam pengolahan air limbah itu sendiri, terdapat beberapa parameter kualitas yang digunakan. Parameter kualitas air limbah dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu parameter organik, karakteristik fisik, dan kontaminan spesifik. Parameter organik merupakan ukuran jumlah zat organik yang terdapat dalam air limbah. Parameter ini terdiri dari total organic carbon (TOC), chemical oxygen demand (COD), biochemical oxygen demand (BOD), minyak dan lemak (O&G), dan total petrolum hydrocarbons (TPH). Karakteristik fisik dalam air limbah dapat dilihat dari parameter total suspended solids (TSS), pH, temperatur, warna, bau, dan potensial reduksi. Sedangkan kontaminan spesifik dalam air limbah dapat berupa senyawa organik atau inorganik. Teknologi Pengolahan Air Limbah Tujuan utama pengolahan air limbah ialah untuk mengurai kandungan bahan pencemar di dalam air terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen, dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang terdapat di alam. Pengolahan air limbah tersebut dapat dibagi menjadi 5 (lima) tahap:

  1. Pengolahan air limbah Awal (Pretreatment) Tahap pengolahan air limbah ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah. Beberapa proses pengolahan air limbah yang berlangsung pada tahap ini ialah screen and grit removal, equalization and storage, serta oil separation.
  2. Pengolahan air limbah Tahap Pertama (Primary Treatment) Pada dasarnya, pengolahan air limbah tahap pertama ini masih memiliki tujuan yang sama dengan pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung. Proses yang terjadi pada pengolahan tahap pertama ialah neutralization, chemical addition and coagulation, flotation, sedimentation, dan filtration.
  3. Pengolahan air limbah Tahap Kedua (Secondary Treatment) Pengolahan air limbah tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Peralatan pengolahan air limbah yang umum digunakan pada pengolahan tahap ini ialah activated sludge, anaerobic lagoon, tricking filter, aerated lagoon, stabilization basin, rotating biological contactor, serta anaerobic contactor and filter.
  4. Pengolahan air limbah Tahap Ketiga (Tertiary Treatment) Proses-proses yang terlibat dalam pengolahan air limbah tahap ketiga ialah coagulation and sedimentation, filtration, carbon adsorption, ion exchange, membrane separation, serta thickening gravity or flotation.
  5. Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment) Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat tahap pengolahan sebelumnya kemudian diolah kembali melalui proses digestion or wet combustion, pressure filtration, vacuum filtration, centrifugation, lagooning or drying bed, incineration, atau landfill.

Pemilihan Teknologi Pengolahan air limbah Pemilihan proses yang tepat didahului dengan mengelompokkan karakteristik kontaminan dalam air limbah dengan menggunakan indikator parameter yang sudah ditetapkan oleh permenkes ataupun dinas-dinas terkait lainnya. Setelah kontaminan dikarakterisasikan, diadakan pertimbangan secara detail mengenai aspek ekonomi, aspek teknis, keamanan, kehandalan, dan kemudahan peoperasian alat pengolahan air limbah. Pada akhirnya, teknologi yang dipilih haruslah teknologi pengolahan air limbah yang tepat guna sesuai dengan karakteristik limbah yang akan diolah. Setelah pertimbangan-pertimbangan detail, perlu juga dilakukan studi kelayakan atau bahkan percobaan skala laboratorium yang bertujuan untuk:

  1. Memastikan bahwa teknologi pengolahan air limbah yang dipilih terdiri dari proses-proses yang sesuai dengan karakteristik limbah yang akan diolah.
  2. Mengembangkan dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk menentukan efisiensi pengolahan air limbah yang diharapkan.
  3. Menyediakan informasi teknik dan ekonomi yang diperlukan untuk penerapan skala sebenarnya.
  1. Bottomline, perlu kita semua sadari bahwa limbah tetaplah limbah. Solusi terbaik dari pengolahan air limbah pada dasarnya ialah menghilangkan limbah itu sendiri. Produksi bersih (cleaner production) yang bertujuan untuk mencegah, mengurangi, dan menghilangkan terbentuknya limbah langsung pada sumbernya di seluruh bagian-bagian proses dapat dicapai dengan penerapan kebijaksanaan pencegahan, penguasaan teknologi bersih, serta perubahan mendasar pada sikap dan perilaku manajemen. Treatment versus Prevention? Mana yang menurut teman-teman lebih baik?? Saya yakin kita semua tahu jawabannya. Reduce, recyle, and reuse.

Sumber [majarimagazine.com]

Pengolahan air rawa dan pemanfaatan air rawa

Pengolahan air rawa dan Pemanfaatan lahan rawa dapat dijadikan lahan alternatif untuk pengembangan pertanian, meskipun perlu sistem pengolahan air  yang tepat, dukungan kelembagaan yang baik dan profesional serta pemantauan secara terus menerus.
Potensi lahan rawa di Indonesia adalah seluas 33,43 juta hektar yang terdiri dari 20,15 juta hektar rawa pasang surut dan 13,28 juta hektar rawa lebak. Lahan rawa yang telah dibuka atau direklamasi mencapai 5 juta hektar, luas tersebut sudah termasuk bekas lahan pertanian lahan gambut sejuta hektar di Kalimantan Tengah.

Meskipun pemerintah sudah dilakukan pembangunan terhadap lahan rawa, tetap diperlukan pengembangan pertanian yang baik. Apabila tidak demikian sangat dimungkinkan pembangunan lahan rawa tersebut tidak akan mendapatkan hasil pertanian secara optimal.
Hal itu disebabkan karena karakteristik dari ekosistem lahan rawa yang bersifat marjinal dan rapuh.pengolahan air

Ekosistem dan Produktivitas
Ekosistem lahan rawa bersifat marjinal dan rapuh yang rentan terhadap perubahan baik oleh karena faktor alam (kekeringan, kebakaran, dan kebanjiran), maupun karena faktor kesalahan pengelolaan (reklamasi, pembukaan, budidaya intensif).
Jenis tanah di kawasan rawa tergolong tanah bermasalah yang mempunyai banyak kendala. Misalnya tanah gambut mempunyai sifat kering tak balik (reversible drying), mudah ambles (subsidence), dan penurunan kadar hara (nutrients deficiency).
Tanah gambut mudah berubah menjadi bersifat hidrofob (takut air) apabila mengalami kekeringan. Gambut yang menjadi hidrofob tidak dapat lagi mengikat air dan hara secara optimal seperti kemampuan semula.
Selain itu, khusus tanah suffidik dan tanah sulfat masam mudah berubah apabila teroksidasi. Lapisan tanah (pirit) yang teroksidasi mudah berubah menjadi sangat masam (pH 2–3).
Hasil penelitian dan pengkajian menunjukkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian di lahan rawa diperlukan pendekatan yang menyeluruh menyangkut perbaikan lahan dan kemampuan sosial ekonomi masyarakat setempat. Selain tanaman pangan seperti padi, palawija, dan umbi-umbian dan perkebunan seperti karet, kelapa, dan kelapa sawit, beberapa tanaman sayur mayur dan buah-buahan dapat ditanam dengan pengelolaan yang baik.
Akan tetapi produktivitas tanaman yang dapat dicapai di lahan rawa sangat tergantung pada tingkat kendala dan ketepatan pengelolaan. Namun pada umumnya petani dalam penanganan pasca panen termasuk pengelolaan hasil masih lemah. Selain itu juga pemasaran hasil yang terbatas sehingga masih diperlukan dukungan kelembagaan yang baik dan profesional serta komitmen pemerintah provinsi, kabupaten/kota dalam meningkatkan kesejahteraan petani rawa.

Bagaimana memajukan pertanian lahan rawa?
Pemahaman mendalam tentang sifat dan perilaku lingkungan fisik seperti tanah, air dan lainnya, sangat diperlukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi budidaya dan pengelolaan lahan rawa meskipun tersedia banyak, tetapi perubahan sifat-sifat tanah dan lingkungan dapat berlangsung cepat dan sangat berpengaruh terhadap produktivitas. Sehingga diperlukan siasat untuk mengatasinya secara dini. Keadaan ini memerlukan pemantauan secara terus menerus sehingga pengawalan secara ketat terhadap penerapan teknologi dan pengelolaan selanjutnya sangat diperlukan.

Lahan rawa yang dibuka mudah menjadi lahan bongkor. Perubahan ini tidak diperkirakan sebelumnya. Kesan ini tampak karena sebagian lahan mengalami pengatusan berlebih (overdrainage), muka air turun di bawah lapisan pirit setelah direklamasi.

Gambut menjadi kering tak balik (ineversibe drying) dan hidrofob (takut air) setelah diusahakan. Keadaan ini memacu terjadinya kemasaman, penurunan hara, dan peningkatan pelolosan (exhausted) hara, serta peningkatan kelarutan racun beserta asam-asam organik.

Pengembangan lahan rawa mempunyai banyak keterkaitan dengan gatra lingkungan yang sangat rumit karena hakekat rawa selain mempunyai fungsi produksi juga fungsi lingkungan.

Apabila fungsi lingkungan ini menurun maka fungsi produksi akan terganggu. Oleh karena itu perencanaan pengembangan rawa harus dirancang sedemikian rupa untuk memadukan antara fungsi lahan sebagai produksi dan penyangga lingkungan agar saling menguntungkan atau konpersatif.  Selain itu, selalu   memperhatikan pengolahan air dan prinsip tata air yang berlaku untuk lahan rawa
Rancangan semacam inilah yang memungkinkan untuk tercapainya pertanian berkelanjutan di lahan rawa.

Prinsip tata air untuk lahan rawa

Prinsip penting yang harus diterapkan jika akan berhasil bertani di lahan rawa adalah pengelolaan air atau sering disebut tata air  bukan hanya dimaksudkan untuk menghindari terjadinya banjir atau genangan yang berlebihan di musim hujan. Juga harus dimaksudkan untuk menghindari kekeringan di musim kemarau.
Selain itu, juga untuk menghindari bahaya kekeringan lahan sulfat masam dan lahan gambut.
Untuk melakukan pengelolaan air dalam suatu kawasan yang luas harus membuat jaringan reklamasi sehingga keberadaan air bisa dikendalikan. Ada tiga jenis tata air untuk lahan rawa yaitu tata air makro, tata air mikro, dan tata air dalam lahan pertanaman. Seluruhnya terkait satu sama lainnya dan dilakukan pengelolaan dalam suatu kawasan yang luas.
Oleh karena kawasannya yang luas, maka pembangunan dan pemeliharaannya harus dilaksanakan secara kolektif.

Tata air makro

Lahan rawa memerlukan tata air makro dengan membuat saluran drainase dan irigasi yang terdiri atas saluran primer, sekunder, dan tersier.
Saluran drainase dibuat guna menampung dan menyalurkan air yang berlebihan dalam suatu kawasan ke luar lokasi. Sebaliknya saluran irigasi dibuat untuk menyalurkan air dari luar lokasi ke suatu kawasan untuk menjaga kelembaban tanah atau mencuci senyawa-senyawa beracun.
Oleh sebab itu, pembuatan saluran drainase harus dibarengi dengan pembuatan saluran irigasi.

Selain itu, perlu dibangun tanggul penangkis banjir di sepanjang saluran karena drainase saja sering tidak mampu mengatasi luapan air musim hujan.

Kemudian diperlukan waduk retarder atau chek dam yaitu waduk yang dibuat di lahan rawa lebak atau lebak peralihan. Fungsi waduk ini untuk menampung air di musim hujan, mengendalikan banjir, dan menyimpannya untuk disalurkan di musim kemarau.

dalam pengolahan air , juga diperlukan  saluran intersepsi yang berfungsi untuk menampung aliran permukaan dari lahan kering di atas lahan rawa. Letaknya pada perbatasan antara lahan kering dan lahan rawa. Saluran ini sering dibuat cukup panjang dan lebar sehingga menyerupai waduk panjang. Apabila ada kelebihan air akan disalurkan melalui bagian hilir ke sungai sebagai air irigasi.

Tata air mikro

Tata air mikro ialah pengelolaan air pada skala petani. Dalam hal ini, pengelolaan air dimulai dari pengelolaan saluran tersier serta pembangunan dan pengaturan saluran kuarter dan saluran lain yang lebih kecil.
Saluran tersier umumnya dibangun oleh pemerintah tetapi pengelolaannya diserahkan kepada petani.
Pengelolaan air di tingkat petani bertujuan untuk mengatur agar setiap petani memperoleh air irigasi dan membuang air drainase secara adil. Untuk itu diperlukan organisasi di tingkat desa.
Kemudian, pengelolaan di tingkat petani juga menciptakan kelembaban tanah di lahan seoptimal mungkin bagi pertumbuhan tanaman serta mencegah kekeringan lahan sulfat asam dan lahan gambut.

Tata air dalam lahan pertanaman

Kuarter merupakan saluran di luar pertanaman yang paling kecil. Di dalam lahan, dibuat saluran drainase intensif yang terdiri dari saluran kolektor dan saluran cacing.
Pengaturan lahan dapat ditata dengan sistem caren dan surjan. Pada sistem pengolahan air ini saluran drainase intensif dibuat setelah selesai pembuatan
Sedangkan, pada lahan yang ditata dengan sistem sawah dan tegalan, pembuatan saluran setelah pengolahan tanah.
Saluran kolektor dibuat mengelilingi lahan. Untuk saluran kolektor yang berhubungan dengan saluran irigasi diberi pintu pada bagian hulu. Sedangkan saluran kolektor yang berhubungan dengan saluran drainase diberi pintu pada bagian hilir.
Pintu cukup dibuat dengan cara menggali tanggul dan dapat ditutup sewaktu-waktu dengan cara menimbun kembali.
Sedangkan posisi saluran cacing sebaiknya dibuat tegak lurus dengan saluran kolektor.
Air merupakan unsur penting bagi tanaman. Di samping berfungsi langsung dalam proses pertumbuhan, air juga berfungsi dalam mengendalikan gulma, mencuci senyawa-senyawa beracun, dan menyuplai unsur hara.
Sementara di sisi lain, air juga menjadi kendala jika keberadannya tidak diatur dan kualitasnya menjadi kurang baik atau beracun.
Oleh sebab itu, pengolahan air dalam pertanian lahan rawa perlu mendapatkan perhatian secara serius dan kolektif.

Sumber [antaranews.com]

Cara pengolahan air gambut menjadi air bersih dan sehat

Karakteristik Air Gambut
Air gambut adalah air permukaan yang banyak terdapat di daerah berawa maupun dataran rendah terutama di Sumatera dan Kalimantan, yang mempunyai ciri­ ciri sebagai berikut (Kusnaedi, 2006) :pengolahan air gambut nano smart

-Intensitas warna yang tinggi (berwarna merah kecoklatan)
-pH yang rendah
-Kandungan zat organik yang tinggi
-Kekeruhan dan kandungan partikel tersuspensi yang rendah
-Kandungan kation yang rendah

Warna coklat kemerahan pada air gambut merupakan akibat dari tingginya kandungan zat organik (bahan humus) terlarut terutama dalam bentuk asam humus dan turunannya. Asam humus tersebut berasal dari dekomposisi bahan organik seperti daun, pohon atau kayu dengan berbagai tingkat dekomposisi, namun secara umum telah mencapai dekomposisi yang stabil (Syarfi, 2007). Dalam berbagai kasus, warna akan semakin tinggi karena disebabkan oleh adanya logam besi yang terikat oleh asam­asam organik yang terlarut dalam air tersebut.

Struktur gambut yang lembut dan mempunyai pori­pori menyebabkannya mudah untuk menahan air dan air pada lahan gambut tersebut dikenal dengan air gambut. Berdasarkan sumber airnya, lahan gambut dibedakan menjadi dua yaitu (Trckova, M., 2005) :

Bog Merupakan jenis lahan gambut yang sumber airnya berasal dari air hujan dan air permukaan. Karena air hujan mempunyai pH yang agak asam maka setelah bercampur dengan gambut akan bersifat asam dan warnanya coklat karena terdapat kandungan organik.

Fen Merupakan lahan gambut yang sumber airnya berasal dari air tanah yang biasanya dikontaminasi oleh mineral sehingga pH air gambut tersebut memiliki pH netral dan basa.

Berdasarkan kelarutannya dalam alkali dan asam, asam humus dibagi dalam tiga fraksi utama yaitu  (Pansu, 2006) :

1. Asam humat
Asam humat atau humus dapat didefinisikan sebagai hasil akhir dekomposisi bahan organik oleh organisme secara aerobik. Ciri­ciri dari asam humus ini antara lain:
Asam ini mempunyai berat molekul 10.000 hingga 100.000 g/mol (Collet, 2007).
Merupakan makromolekul aromatik komplek dengan asam amino, gula amino, peptide, serta komponen alifatik yang posisinya berada antara kelompok aromatik (Gambar 2.1). Merupakan bagian dari humus yang bersifat tidak larut dalam air pada kondisi pH < 2 tetapi larut pada pH yang lebih tinggi.
Bisa diekstraksi dari tanah dengan bermacam reagen dan tidak larut dalam larutan asam.
Asam humat adalah bagian yang paling mudak diekstrak diantara komponen humus lainnya.
Mempunyai warna yang bervariasi mulai dari coklat pekat sampai abu­abu pekat.
Humus tanah gambut mengandung lebih banyak asam humat (Stevenson, 1982).
Asam humus merupakan senyawa organik yang sangat kompleks, yang secara umum memiliki ikatan aromatik yang panjang dan nonbiodegradable yang merupakan hasil oksidasi dari senyawa lignin  (gugus fenolik).

2. Asam fulvat
Asam fulvat merupakan senyawa asam organik alami yang berasal dari humus, larut dalam air, sering ditemukan dalam air permukaan dengan berat molekul yang rendah yaitu antara rentang 1000 hingga 10.000 (Collet, 2007). Bersifat larut dalam air pada semua kondisi pH dan akan berada dalam larutan setelah proses penyisihan asam humat melalui proses asidifikasi. Warnanya bervariasi mulai dari kuning sampai kuning kecoklatan. Struktur model asam fulvik dapat dilihat pada Gambar 2.2.

3. Humin
Kompleks humin dianggap sebagai molekul paling besar dari senyawa humus karena rentang berat molekulnya mencapai 100.000 hingga 10.000.000. Sedangkan sifat kimia dan fisika humin belum banyak diketahui (Tan, 1982). Tan juga menyatakan bahwa karakteristik humin adalah berwarna coklat gelap, tidak larut dalam asam dan basa, dan sangat resisten akan serangan mikroba. Tidak dapat diekstrak oleh asam maupun basa.

Perbedaan antara asam humat, asam fulvat dan humin bisa dijelaskan melalui variasi berat molekul, keberadaan group fungsional seperti karboksil dan fenolik dengan tingkat polimerisasi .

diketahui bahwa kandungan karbon dan oksigen, asiditas dan derajat polimerisasi semuanya berubah secara sistematik dengan peningkatan berat molekul. Asam fulvik dengan berat molekul yang rendah memiliki kandungan oksigen yang lebih  tinggi  dan  kandungan  karbon yang rendah  jika dibandingkan dengan asam humat dengan berat molekul yang tinggi. Warna juga akan semakin tinggi dengan semakin tingginya berat molekul.

Bahan organik tanah dan tanamam berada dalam bentuk koloid. Dan berdasarkan kemudahan berikatan dengan air maka, bahan organik dapat dibedakan atas hidrofobik (tidak suka air) dan hidrofilik (suka air). Koloid hidrofobik dapat diflokulasi, sedangan koloid hidrofilik biasanya tidak. Koloid tanaman kebanyakan bersifat hidrofilik sehingga sulit untuk dikoagulasi secara konvensional (Tan, 1991).

Karakteristik air gambut bersifat spesifik, bergantung pada lokasi, jenis vegetasi dan jenis tanah tempat air gambut tersebut berada, ketebalan gambut, usia gambut, dan cuaca. Hal ini dapat dilihat pada karakteristik air gambut dari sebagian wilayah Indonesia yang merupakan hasil penelitian Puslitbang Pemukiman bekerja sama dengan PAU ITB (Irianto, 1998).

Pengolahan Air Gambut
Karakteristik air gambut seperti yang telah disebutkan di atas menunjukkan bahwa air gambut kurang menguntungkan untuk dijadikan air minum bagi masyarakat di daerah berawa. Namun karena jumlah air gambut tersebut sangat banyak dan dominan berada di daerah tersebut maka harus bisa menjadi alternatif sumber air minum masyarakat. Kondisi yang kurang menguntungkan dari segi kesehatan adalah sebagai berikut :

  • Kadar keasaman pH yang rendah dapat menyebabkan kerusakan gigi dan sakit perut.
  • Kandungan organik yang tinggi dapat menjadi sumber makanan bagi mikroorganisma dalam air, sehingga dapat menimbulkan bau apabila bahan organik tersebut terurai secara biologi, (Wagner, 2001).
  • Apabila dalam pengolahan air gambut tersebut digunakan klor sebagai desinfektan, akan terbentuk trihalometan (THM’S) seperti senyawa argonoklor yang dapat bersifat karsinogenik (kelarutan logam dalam air semakin tinggi bila pH semakin rendah), (Wagner, 2001).

Ikatannya yang kuat dengan logam (Besi dan Mangan) menyebabkan kandungan logam dalam air tinggi dan dapat menimbulkan kematian jika dikonsumsi secara terus menerus (Wagner, 2001).

Metode pertukaran ion menggunakan resin MEIXdapat menghilangkan warna sejati air (asam humat dan fulvat) dari 109 Pt­Co menjadi 1 Pt­Co. Dengan mempertimbangkan sebagian besar pengolahan air di Indonesia masih menggunakan sistem konvensional. Cara pengolahan air secara konvensional / pengolahan lengkap (koagulasi – flokulasisedimentasifiltrasinetralisasi dan desinfektan) dapat digunakan untuk menghilangkan warna terutama pembentuk warna semu sekitar 80 %, efisiensi penghilangan warna akan lebih efektif jika dilakukan modifikasi dan tambahan proses seperti aplikasi karbon aktif, reaksi redoks, dan koagulan – flokulan aid, (Pararaja, 2007).

Efektifitas proses elektrokoagulasi untuk memindahkan (removing) zat­zat organik dari limbah rumah potong hewan menggunakan sel­sel elektrolitik (electrolytic cells) monopolar dan bipolar. Hasil menunjukkan bahwa pencapaian (performance) terbaik diperoleh menggunakan sistem elektroda baja (mild steel) bipolar yang dioperasikan pada intensitas arus 0,3 A selama 60­90 menit. Berhasil menurunkan BOD sebesar 86 ± 1%, lemak dan minyak sebesar 99 ± 1%, COD sebesar 50 ± 4%, TSS (total suspended solid) sebesar 89 ± 4% dan Turbidity sebesar 90 ± 4%. Total biaya yang dibutuhkan 0,71 USD $ / m3 limbah rumah potong hewan, (Asselin, M., 2008).

Menyelidiki efek pH awal untuk menurunkan unsur­unsur humus dari air limbah dengan proses elektrokoagulasi. Efek dari pH awal pada sistem elektrokoagulasi bisa duakali lipat, yaitu distribusi produk hidrolisis aluminium, transformasi unsur­unsur humus yang terkait ke pH awal dan akhirnya efek dari lapisan gel khususnya pada konsentrasi unsur­unsur humus yang tinggi dan pH awal yang tinggi yang dibentuk pada permukaan anoda. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa konsentrasi awal unsur­unsur humus dan pH awal sangat efektif pada efisiensi dan tingkat penurunan. pH awal air limbah telah disesuaikan 5,0 dan efisiensi penurunan yang tinggi telah diamati. Sehingga sistem elektrokoagulasi akan dioperasikan pada pH rendah yaitu 5,0 pada konsentrasi unsur­unsur humus yang tinggi, (Koparal, A.S., 2008).

Pengolahan air gambut yang dilakukan dengan mengkombinasikan larutan tawas dan metode elektrokoagulasi yang kemudian di ujicoba ke model. Sebelum proses elektrokoagulasi berlangsung, air gambut terlebih dahulu dicampur dengan larutan tawas (tawas yang dikomersialkan dengan mutu 17 %) sebanyak 10 ml/l air gambut (kadar 1000 ppm). Proses elektrokoagulasi berlangsung optimum dengan waktu elektrokoagulasi 45 menit dengan memberikan tegangan pada elektroda aluminium sebesar 12 volt dan kecepatan alir 1 L/menit. Hasil uji coba ke model diperoleh persentase penurunan warna sebesar 91,79 % (dari 94,295 Pt­Co menjadi 7,746 Pt­Co), dan kekeruhan sebesar 98,68 % (dari 72,43 NTU menjadi 0,953 NTU) (Susilawati, et al., 2009).

Alternatif Proses Pengolahan Air Gambut
Berdasarkan pada pengetahuan tentang penyebab dan kandungan warna pada air gambut dan sifat­sifatnya, maka proses dan metode pengolahan yang dapat di terapkan untuk mengolah jenis air berwarna alami adalah: Proses oksidasi, proses adsorpsi, proses koagulasi flokulasi, dan proses elektrokoagulasi.

Sumber[repository.usu.ac.id]

Grup Bank Dunia Alirkan Rp 841M untuk air bersih indonesia

Air bersih sama halnya dengan air minum kedua hal ini sangat penting, International Finance Centre (IFC), anggota kelompok Bank Dunia, mengucurkan bantuan senilai USD 85 juta (setara Rp 841 M) kepada PT Moya Indonesia dalam upaya meningkatkan akses air bersih dan air minum yang aman di Indonesia. Bantuan itu khususnya menyasar 1,8 juta orang yang tinggal di Tangerang, Banten.

IFC berinvestasi senilai USD 32 juta, di mana USD 23 juta akan diberikan dalam bentuk pinjaman, dan USD 8,7 juta diberikan dalam bentuk ekuitas.

Selain dari investasi tersebut, IFC juga menggerakkan dana senilai USD 28 juta dari PT Indonesia Infrastructure Finance dan USD 25 juta dari PT Sarana Multi Infrastruktur, sebuah lembaga keuangan milik pemerintah di bawah Kementerian Keuangan, yang mendukung pendanaan proyek-proyek infrastruktur di Indonesia. IFC telah bekerjasama dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) dalam menyediakan pendanaan dan investasi ekuitas pada beberapa perusahaan Indonesia.air bersih

“Tangerang memiliki 1,8 juta orang dengan sekitar 400 industri, tetapi hanya 30.000 rumah tangga yang dapat menikmati air bersih. Investasi ini akan membantu kami meningkatkan akses ke air bersih dan mengatasi krisis air di kota ini,” ujar chief executive office Moya Asia Limited Simon A. Melhem dalam keterangan tertulis yang diterima merdeka.com, Selasa (25/6).

PT Moya Indonesia, anak perusahaan dari Moya Asia Limited, yang terdaftar pada Catalist, dewan kedua pada Singapore Exchange, telah menandatangani perjanjian 25 tahun dengan perusahaan air Indonesia, Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Benteng Kota Tangerang, untuk membangun, mengoperasikan dan akhirnya mentransfer sebuah sarana pengolahan air kepada pemerintah daerah setempat.

Country Manager IFC di Indonesia Sarvesh Suri menambahkan, dukungan IFC akan memungkinkan PT Moya Indonesia untuk meningkatkan lebih dari empat kali lipat kapasitas sarana pengolahan air bersih menjadi 168,480 cubic meter per hari dari 38,880 cubic meter per hari.

Investasi ini pun akan membantu perusahaan membangun jaringan distribusi yang akan menghubungkan sekitar 150.000 rumah tangga baru dan pelanggan dari kalangan industri untuk menjawab meningkatnya permintaan terhadap air bersih di Tangerang dan memungkinkan kota ini untuk mencapai millenium development goal dalam memperbaiki akses pada air bersih.

“Akses ke air bersih merupakan kebutuhan paling mendasar dan bagian kunci dari pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Ini merupakan proyek air pertama IFC di Indonesia, dan mempromosikan pembangunan perkotaan adalah salah satu tujuan strategis kami di Indonesia,” ujar Sarvesh.

IFC berinvestasi pada perusahaan perusahaan Indonesia untuk mendukung partisipasi mereka dalam pembangunan infrastruktur air bersih Indonesia dan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan.

Sumber [merdeka.com]

 

Pengolahan air limbah dan Jenis air limbah

Pengolahan Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya, dan pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta menggangu lingkungan hidup.

Batasan lain mengatakan bahwa air limbah adalah kombiasi dari cairan dan sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman, perdagangan, perkantoran dan industri, bersama-sama dengan air tanah, air permukaan dan air hujan yang mungkin ada (Haryoto Kusnoputranto, 1985).

Dari batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa air buangan adalah air yang tersisa dari kegiatan manusia, baik kegiatan rumah tangga maupun kegiatan lain seperti indusri, perhotelan dan sebagainya maka sebaiknya melewati proses pengolahan air limbah.pengolahan air limbah

Meskipun merupakan air sisa namun volumenya besar karena lebih kurang 80% dari air yang digunakan bagi kegiatan-kegiatan manusia sehari-hari tersebut dibuang lagi dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar). Selanjutnya proses pengolahan air limbah ini akhirnya akan mengalir ke sungai dan laut dan akan digunakan oleh manusia lagi. Oleh sebab itu, air buangan ini harus dikelola dan atau diolah secara baik.

Air limbah ini berasal dari berbagai sumber, secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut :

a. Air buangan yang bersumber dari rumah tangga (domestic wastes water), yaitu air limbah yang berasal dari pemukiman penduduk. Pada umumnya air limbah ini terdiri dari ekskreta (tinja dan air seni), air bekas cucian dapur dan kamar mandi, dan umumnya terdiri dari bahan-bahan organik.

b. Air buangan industri (industrial waste water) yang berasal dari berbagai jenis industri akibat proses produksi. Zat-zat yang terkandung didalamnya sangat bervariasi sesuai dengan bahan baku yang dipakai oleh masing-masing industi, antara lain nitrogen, sulfida, amoniak, lemak, garam-garam, zat pewarna, mineral, logam berat, zat pelarut, dan sebagainya. Oleh sebab itu, pengolahan air limbah ini, agar tidak menimbulkan polusi lingkungan menjadi lebih rumit.

c. Air buangan kotapraja (municipal wastes water) yaitu air buangan yang berasal dari daerah perkantoran, perdagangan, hotel, restoran, tempat-tempat umum, tempat-tempat ibadah, dan sebagainya. Pada umumnya zat-zat yang terkandung dalam jenis air limbah ini sama dengan air limbah rumah tangga.

1. Karakteristik Air Limbah

Karakteristik air limbah perlu dikenal karena hal ini akan menentukan cara pengolahan yang tepat sehingga tidak mencemari lingkungan hidup. Secara garis besar karakteristik air limbah ini digolongkan sebagai berikut :

a. Karakteristik Fisik

Sebagian besar terdiri dari air dan sebagian kecil terdiri dari bahan-bahan padat dan suspensi. Terutama air limbah rumah tangga, biasanya berwarna suram seperti larutan sabun, sedikit berbau. Kadang-kadang mengandung sisa-sisa kertas, berwarna bekas cucian beras dan sayur, bagian-bagian tinja, dan sebagainya.

b. Karakteristik Kimiawi

Biasanya air buangan ini mengandung campuran zat-zat kimia anorganik yang berasal dari air bersih serta bermacam-macam zat organik berasal dari penguraian tinja, urine dan sampah-sampah lainnya. Oleh sebab itu pada umumnya bersifat basa pada waktu masih baru dan cenderung ke asam apabila sudah mulai membusuk supaya tidak mencemari lingkungan air limbah wajib di treatment menggunakan alat pengolaha air limbah.

Substansi organik dalam air buangan terdiri dari 2 gabungan, yakni :
– Gabungan yang mengandung nitrogen, missalnya urea, protein, amine dan asam
amino.
– Gabungan yang tak mengandung nitrogen,, misalnya lemak, sabun dan
karbohidrat, termasuk selulosa.

c. Karakteristik Bakteriologis

Kandungan bakteri patogen serta organisme golongan coli terdapat juga dalam air limbah tergantung darimana sumbernya namun keduanya tidak berperan dalam proses pengolahan air limbah.

Sesuai dengan zat-zat yang terkandung didalam pengolahan air limbah ini maka air limbah yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara lain :
a. Menjadi transmisi atau media penyebaran berbagai penyakit, terutama kolera,
typhus abdominalis, disentri baciler.
b. Menjadi media berkembangbiaknya mikroorganisme patogen.
c. Menjadi tempat-tempat berkembangbiaknya nyamuk atau tempat hidup larva
nyamuk.
d. Menimbulkan bau yang tidak enak serta pandangan yang tidak sedap.
e. Merupakan sumber pencemaran air permukaan, tanah dan lingkungan hidup
lainnya.
f. Mengurangi produktivitas manusia karena orang bekerja dengan tindak nyaman
dan sebagainya.

Untuk mencegah atau mengurangi akibat-akibat buruk tersebut di atas diperlukan kondisi, persyaratan dan upaya-upaya sedemikian rupa sehingga air limbah tersebut :
a. Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber air minum.
b. Tidak mengakibatkan pencemaran terhadap permukaan tanah.
c. Tidak menyebabkan pencemaran air untuk mandi, perikanan, air sungai, atau
tempat-tempat rekreasi.
d. Tidak dapat dihinggapi serangga dan tikus dan tidak menjadi tempat
berkembangbiaknya berbagai bibit penyakit dan vektor.
e. Tidak terbuka kena udara luar (jika tidak diolah) serta tidak dapat dicapai oleh
anak-anak.
f. Baunya tidak mengganggu.

Cara Pengolahan Air Limbah Secara Sederhana

Pengolahan air limbah dimaksudkan untuk melindungi lingkungan hidup terhadap pencemaran air limbah tersebut. Secara ilmiah sebenarnya lingkungan mempunyai daya dukung yang cukup besar terhadap gangguan yang timbul karena pencemaran air limbah tersebut. Namun demikian, alam tersebut mempunyai kemampuan yang terbatas dalam daya dukungnya sehingga air limbah perlu diolah sebelum dibuang.

Beberapa cara sederhana pengolahan air buangan antara lain :

1 Pengenceran (Dilution)

Air limbah diencerkan sampai mencapai konsentrasi yang cukup rendah kemudian baru dibuang ke badan-badan air. Tetapi dengan makin bertambahnya penduduk, yang berarti makin meningkatnya kegiatan manusia maka jumlah air limbah yang harus dibuang terlalu banyak dan diperlukan air pengenceran terlalu banyak pula maka cara ini tidak dapat dipertahankan lagi.

Disamping itu cara ini menimbulkan kerugian lain, diantaranya bahaya kontaminasi terhadap badan-badan air masih tetap ada, pengendapan yang akhirnya menimbulkan pendangkalan terhadap badan-badan air, seperti selokan, sungai, dananu, dan sebagainya. Selanjutnya dapat menimbulkan banjir.

2 Kolam Oksidasi (Oxidation Ponds)

Pada prinsipnya cara pengolahan air limbah ini adalah pemanfaatan sinar matahari, ganggang (algae), bakteri dan oksigen dalam proses pembersihan alamiah. Air limbah dialirkan ke dalam kolam besar berbentuk segi empat dengan kedalaman antara 1-2 meter. Dinding dan dasar kolam tidak perlu diberi lapisan apapun. Lokasi kolam harus jauh dari daerah pemukiman dan di daerah yang terbuka sehingga memungkinkan sirkulasi angin dengan baik.

Cara kerjanya antara lain sebagai berikut :

Empat unsur yang berperan dalam proses pembersihan alamiah ini adalah sinar matahari, ganggang, bakteri, dan oksigen. Ganggang dengan butir khlorophylnya dalam air limbah melakukan proses fotosintesis dengan bantuan sinar matahari sehingga tumbuh dengan subur.

Pada proses sintesis untuk pembentukan karbohidrat dari H2O dan CO2 oleh chlorophyl dibawah pengaruh sinar matahari terbentuk O2 (oksigen). Kemudian oksigen ini digunakan oleh bakteri aerobik untuk melakukan dekomposisi zat-zat organik yang terdapat dalam air buangan.

Disamping itu terjadi pengendapan. Sebagai hasilnya nilai BOD dari air limbah tersebut akan berkurang sehingga relatif aman bila akan dibuang ke dalam badan-badan air (kali, danau, dan sebagainya).

3 Irigasi

Air limbah dialirkan ke dalam parit-parit terbuka yang digali dan air akan merembes masuk ke dalam tanah melalui dasar dan dinding parit-parit tersebut. Dalam keadaan tertentu air buangan dapat digunakan untuk pengairan ladang pertanian atau perkebunan dan sekaligus berfungsi untuk pemupukan namun sebelum dialirkan sebaiknya air limbah melalui proses pengolahan air limbah terlebih dahulu.

Hal ini terutama dapat dilakukan untuk air limbah dari rumah tangga, perusahaan susu sapi, rumah potong hewan, dan lain-lainnya dimana kandungan zat-zat organik dan protein cukup tinggi yang diperlukan oleh tanam-tanaman.

Sumber : Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 2003. [arulrizal.wordpress.com]

 

Penjernihan air menjernihkan kehidupan

Penjernihan air menjernihkan kehidupan, World Water Forum II di Den Haag pada Maret 2000, penjernihan air Indonesia diperkirakan menjadi salah satu negara yang mengalami krisis air bersih parah pada tahun 2025 hal ini bisa dihindari dengan penjernihan air. Prediksi yang sulit dipercaya karena saat ini kita termasuk negara paling kaya air bersih di dunia, yakni di peringkat kelima setelah Brasil, Rusia, Cina dan Kanada. Meski demikian, kita tak bisa mengelak dan menutup mata dan harus memulai memiliki alat penjernihan air. Karena faktanya, indikasi bahwa krisis air bersih akan menjadi masalah serius bagi Indonesia, kian hari semakin nyata. Air bersih yang semula mudah didapat, kini acapkali menjadi barang langka.penjernihan air Ancaman krisis air bersih yang begitu hebat itu tentu tidak terjadi begitu saja jika memiliki sistem penjernihan air mengingat ketersediaan air di Indonesia mencapai 6 persen dari total sumber daya air di dunia. Pasti ada faktor penyebab yang sangat luar biasa sehingga kandungan air bersih di negara kita merosot sedemikian drastisnya. Salah satunya adalah karena pertambahan jumlah penduduk yang sangat besar dalam beberapa waktu terakhir. Pertambahan penduduk berarti konsumsi air semakin bertambah dan hal tersebut tidak diimbangi dengan proses penjernihan air. Faktor lain yang juga berkontribusi signifikan memicu krisis air adalah kerusakan alam yang berlangsung terus menerus tanpa diimbangi dengan upaya penghijauan yang memadai dan proses penjernihan air bersih.  Eksploitasi sumber mata air secara besar-besaran untuk kepentingan komersil juga turut memicu krisis air bersih. Keadaan semakin diperparah oleh tingkat pencemaran lingkungan yang diperkirakan sebesar 15–35 persen per kapita per tahun sehingga kualitas dan kuantitas ketersediaan air bersih semakin kritis. Banyak masyarakat terpaksa mengonsumsi air yang tidak layak minum. Sebagaimana diungkap oleh hasil penelitian United States Agency for International Development (USAID) di berbagai kota di Indonesia pada tahun 2007 lalu, hampir 100 persen sumber air minum kita tercemar oleh bakteri  E.Coli dan Coliform sehingga dibutuhkan alat penjernihan air. Selain karena sejumlah pemicu di atas, krisis air di Indonesia juga terjadi karena ketidakmerataan sumber daya air dan kurangnya penjernihan air .Sejumlah daerah yang memang memiliki sumber daya air sedikit dan teknologi penjernihan air masih jarang seperti Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, telah mengalami krisis air sejak lama. Terhitung sejak tahun 1995, ketiga pulau ini telah mengalami defisit air selama 7 bulan pada musim kemarau. Dengan berbagai persoalan yang kompleks ini, potensi air di Indonesia yang layak dikelola pada tahun 2020 nanti diperkirakan hanya sekitar 35 persen atau sekitar 400 meter kubik per kapita per tahun. Jauh di bawah standar minimal dunia yakni 1.100 meter kubik per kapita per tahun. Untuk mengatasi krisis air baik karena perubahan iklim, cuaca ekstrim, maupun karena musim kemarau, pemerintah mengupayakan sejumlah langkah dengan alokasi dana yang sangat besar dan pemesanan alat penjernihan air, yakni sekitar 3 triliun rupiah setiap tahunnya. Sebagian besar dari anggaran ini dipergunakan untuk pembelian alat penjernihan air pengeboran sumur atau sumber air yang kering, pembuatan hujan buatan dan berupaya menemukan sumber air baru lalu mendistribusikannya ke wilayah-wilayah yang mengalami krisis air parah. Cara penjernihan air ini mungkin cukup efektif untuk mengatasi krisis air dengan cepat. Namun dalam jangka panjang, kita tak akan terhindar dari krisis air yang sesungguhnya jika tidak mungkin lagi menemukan sumber air baru atau memaksimalkan sumber air yang ada. Karena itu, proses penjernihan air selagi masih ada waktu, kita harus mengupayakan cara dan upaya yang tidak hanya berorientasi pada solusi sesaat namun juga berorientasi pada kelestarian air di masa mendatang.Penjernihan air atau  Daur Ulang Air sebagai cara mengatasi Krisis Air bersih  Prediksi mengenai krisis air yang akan mengancam kehidupan umat manusia tidak hanya dialami Indonesia. Diperkirakan, dua pertiga penduduk dunia akan kekurangan air pada tahun 2050 nanti. Sejumlah indikasi bahkan mulai terasa sejak lama. Diperkirakan 1 dari 4 orang di dunia kekurangan air minum, sementara 1 dari 3 orang tidak mendapatkan sanitasi yang layak. Untuk mengantisipasi potensi dan dampak krisis air yang semakin parah, sejumlah negara berupaya mencari solusi alternatif dengan menggunakan penjernihan air selain solusi-solusi jangka pendek seperti mencari sumber air baru. Salah satu cara yang cukup populer dan kian menjadi tren terutama di negara-negara maju dan negara yang mengalami krisis air parah, adalah penjernihan air atau  daur ulang air. Daur ulang atau recycle penjernihan air  telah lama dikenal di seluruh penjuru dunia sebagai bagian dari upaya melestarikan sumber daya alam yang terbatas ataupun benda-benda yang berpotensi merusak alam jika dibiarkan begitu saja. Selain recycle dan penjernihan air , dikenal pula istilah lain yang bertujuan sama yakni reduce (mengurangi) dan re-use (menggunakan kembali). Ketiga istilah ini sering disebut dengan 3R. Mulanya, 3R ini populer digunakan untuk barang-barang, benda-benda atau sumber daya alam yang sifatnya tidak bisa diperbarui, atau jumlahnya sangat terbatas, atau jika dibiarkan begitu saja akan menambah kerusakan lingkungan, seperti sampah plastik dan elektronik. Namun dalam perkembangannya, 3R juga berlaku bagi air karena semakin kritisnya ketersediaan air bersih di muka bumi terutama terkait sistem penjerihan air. Meski konsep penjernihan air terbilang sederhana, yakni mengolah dan menggunakan air yang telah dipakai, daur ulang air diyakini sebagai salah satu solusi alternatif paling baik di tengah kondisi semakin berkurangnya ketersediaan air bersih saat ini. Dengan alat penjernihan air mendaur ulang air, kita tidak hanya berhemat namun juga sekaligus mengoptimalkan penggunaan air sampai pada batas maksimal. Air limbah hasil daur ulang dan olahan penjernihan air dapat dimanfaatkan kembali untuk sejumlah aktivitas yang tidak begitu memerlukan air berkualitas tinggi sehingga kualitas dan ketersediaan air bersih untuk kebutuhan yang lebih pokok seperti minum, menjadi lebih terjamin. Semakin lama, semakin banyak negara menjadikan cara ini sebagai gerakan nasional yang melibatkan seluruh stakeholder, mulai pemerintah, pihak swasta dan seluruh masyarakat, untuk bersama-sama mengatasi krisis air di negaranya. Singapura misalnya, limbah air daur ulang di negara tersebut digunakan untuk keperluan industri. Sementara Israel memanfaatkan limbah air daur ulang untuk sektor pertanian. Adapun Amerika Serikat yang telah memiliki fasilitas reklamasi limbah air di mana pengolahan limbah air di sana telah menggunakan teknik yang sangat lanjut sehingga hasilnya bisa dialirkan ke kolam air tanah yang kemudian diekstraksi dan dikembalikan ke persediaan air keran. Dengan begitu pemanfaatan limbah air daur ulang menjadi lebih optimal. Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Optimalisasi penggunaan air melalui sistem daur ulang sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Riset mengenai pemanfaatan air daur ulang telah dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2003 lalu melalui Unit Riset Lembaga Pemberdayaan Umat (Salman Institute for Community Development) dengan dukungan Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia melalui sebuah program yang diberi nama SIPTekMan (Sistem Insentif Teknologi dan Manajemen). SIPTekMan melakukan serangkaian riset untuk mendapatkan teknologi alternatif yang murah untuk mendaur ulang air bekas wudu sehingga layak untuk digunakan kembali (Kementerian PU, 2012). Sejumlah instansi pemerintah juga turut mengembangkan dan memraktikkan cara ini. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi Jawa Barat misalnya, yang menetapkan tiga kantor dinas pemerintahan yaitu Dinas Tata Ruang dan Permukiman, Dinas Pendidikan, dan Dinas Pendapatan Daerah untuk menjadi proyek percontohan daur ulang limbah air domestik pada tahun 2008 lalu. Ketiga instansi ini dipilih karena memiliki tingkat konsumsi air paling tinggi dibanding instansi lainnya. Program yang menargetkan memanfaatkan sekitar 60 persen dari 80 persen limbah air bekas pakai ini diharapkan bisa menjadi proyek percontohan sehingga program daur ulang air bisa menjadi gerakan yang lebih masif di tanah air. Inisiasi memanfaatkan daur ulang air juga dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang sejak awal telah mendesain bangunannya untuk menggunakan air daur ulang. Air daur ulang digunakan untuk sejumlah keperluan seperti penyiraman taman, make up water cooling tower dan flushing yang didukung dengan instalasi pengolahan limbah cair berkapasitas sebesar 150 m3/hari. Digabungkan dengan penggunaan alat keluaran yang hemat air, gedung Kementerian PU ini mampu mengurangi penggunaan airnya dari standar pemakaian air untuk kantor 50 Liter/orang/hari menjadi 9 Liter/orang/hari. Sementara itu Pemerintah DKI Jakarta sebagai salah satu pemerintah daerah yang mengalami krisis air bersih paling parah, membentuk Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang menggunakan berbagai macam sistem pengolahan (unit proses dan unit operasi) baik pengolahan secara fisik maupun pengolahan secara biologis. Selain lembaga pendidikan dan instansi pemerintah, gerakan daur ulang air di Indonesia juga telah dipraktikkan oleh sektor swasta. Gedung perkantoran Sampoerna Strategic Square misalnya, menggunakan air daur ulang yang bersumber dari air pembuangan kantor dan komersil seperti janitor, wastafel, urinal, wudhu yang kemudian diolah dan dimanfaatkan kembali. Cara ini mampu menutupi sekitar 20 persen dari total kebutuhan air bersih gedung yang mencapai 20.818 m3. Air daur ulang di antaranya digunakan untuk penyiraman taman dan make up water cooling tower. Penggunaan air daur ulang juga semakin banyak digunakan dalam skala yang lebih kecil seperti rumah tangga. Krisis air yang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir memaksa masyarakat bersikap lebih bijak dan cerdas dalam memanfaatkan air, salah satunya melalui pemanfaatan air daur ulang. Sayangnya, meski daur ulang air semakin memasyarakat di Indonesia, namun dalam praktiknya bisa dibilang masih bersifat sporadis dan dianggap belum mendesak sehingga praktik daur ulang air di Indonesia jauh tertinggal dari banyak negara lain yang sudah mengembangkan teknologi sangat maju untuk mendaur ulang air mereka. Daur Ulang Air sebagai  Investasi Masa Depan Daur ulang air memiliki banyak manfaat. Tak hanya sekedar menghemat sehingga mengurangi konsumsi air dalam jumlah yang signifikan demi tersedianya air bersih bagi kehidupan manusia di masa sekarang, mendaur ulang air juga berarti berbagi sumber daya air untuk masa depan umat manusia. Karena jika semua dihabiskan sekarang, apalagi yang nanti tersisa untuk anak cucu kita. Tanpa air, kehidupan manusia di muka bumi akan berakhir. Sayangnya, meski metode ini sangat mendesak untuk segera direalisasikan dan telah menjadi tren di banyak negara, daur ulang air di Indonesia belum menjadi gerakan yang masif. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut : Pertama, dari sisi budaya, sebagian besar masyarakat Indonesia sangat dimanjakan oleh alam dalam hal ketersediaan sumber daya air. Hanya dengan menggali tanah menjadi sumur, maka alam akan segera mengucurkan air segarnya dalam jumlah yang melimpah. Pun ketika masyarakat harus membayar baik kepada pemerintah maupun pihak swasta yang mengelola pendistribusian air untuk masyarakat, biayanya terbilang murah. Kemudahan-kemudahan ini membuat mentalitas masyarakat Indonesia cenderung boros pada air dan tidak terlalu memikirkan bahwa dalam jangka panjang sumber air akan habis dan kualitasnya akan terus menurun jika terus dieksploitasi. Banyak masyarakat di kota-kota besar yang mulai merasakan hal ini. Kedua, dari sisi ekonomi, mendaur ulang air dianggap lebih high cost dibandingkan tarif air yang sangat murah. Ini terjadi salah satunya karena dukungan ilmu pengetahuan penjernihan air dan teknologi penjernihan air yang belum optimal sehingga praktik penjernihan air atua daur ulang air memerlukan sarana dan prasarana yang cukup mahal harganya. Sehingga, hanya beberapa pihak saja yang melakukan cara penjernihan air sebagai bentuk investasi masa depan. Ketiga, dari segi hukum, belum ada aturan tegas dari pemerintah yang mengharuskan pihak-pihak terkait terutama sektor yang boros dan memerlukan banyak air dalam kegiatan operasionalnya untuk melakukan penjernihan air atau mendaur ulang air mereka. Pemerintah juga tidak memberi insentif seperti pengurangan pajak bagi pihak-pihak yang berinisiatif melakukan penjernihan air di lingkungan domestiknya. Tanpa reward dan punishment, berbagai pihak terutama dari kalangan swasta tentu akan lebih memilih pilihan yang lebih murah dan mudah dibandingkan harus bersusah payah dan mengeluarkan biaya yang banyak untuk mengolah penjernihan air. Langkah-langkah Akselerasi Menjadikan penjernihan air dan daur ulang air sebagai gerakan nasional kini menjadi kebutuhan yang sangat mendesak mengingat krisis air di Indonesia tak lagi bisa dianggap remeh. Kian hari, ketersediaan air bersih semakin kritis. Kondisi ini tidak hanya merugikan secara ekonomi. Jika dibiarkan terus berlanjut, krisis air juga akan berdampak luas pada aspek lain, seperti kesehatan masyarakat, kualitas hidup masyarakat, dan pada akhirnya juga akan berpengaruh pada daya saing masyarakat dan bangsa di kancah global. Karena pemenuhan kebutuhan air, sanitasi dan energi kini menjadi indikator utama pengukuran kesejahteraan suatu bangsa. Sebelum krisis benar-benar terjadi, kita harus mengantisipasinya melalui sejumlah langkah konkrit dengan menggunakan alat penjernihan air. Terdapat sejumlah langkah akselerasi yang dapat dilakukan. Pertama, sudah saatnya pemerintah mengeluarkan kebijakan dan aturan yang tegas mengenai larangan eksploitasi alam yang bisa merusak kelestarian alam khususnya air, seperti menertibkan usaha pertambangan dan perusahaan di sektor lain yang beroperasi di wilayah yang menjadi daerah resapan air. Sudah saatnya pula bagi pemerintah untuk memasukkan kewajiban mendaur ulang air di lingkungan kerja menggunakan alat penjernihan air sebagai syarat mendirikan usaha bagi sektor swasta. Berbagai aturan ini perlu disempurnakan dengan insentif pajak agar semua pihak semakin termotivasi dan terkurangi bebannya untuk memraktikkan daur ulang air di lingkungan kerja. Kedua, untuk membangun budaya hemat dan mau mendaur ulang air dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda yang nantinya akan menghadapi ancaman krisis air lebih besar, nilai-nilai ini perlu diinternalisasi sejak dini melalui lembaga pendidikan, bahan bacaan, tontonan maupun iklan masyarakat yang mudah diakses oleh masyarakat. Kesadaran dan pengetahuan tentang penjernihan air / mendaur ulang air seharusnya menjadi salah satu warisan penting kita bagi generasi mendatang agar mereka lebih siap dan bisa survive menghadapi krisis air yang lebih kompleks di masanya nanti. Agar proses internalisasi ini lebih optimal, pemerintah harus menjadikan jajarannya di berbagai sektor dan level sebagai role model atau panutan bagi masyarakat luas. Dan agar masyarakat semakin termotivasi, insentif pajak seharusnya juga bisa diberikan bagi masyarakat atau komunitas yang mengembangkan konsep penjernihan air dan daur ulang air maupun metode lain yang efektif dan menginspirasi masyarakat luas untuk lebih hemat, bijak dan cerdas dalam memanfaatkan air. Ketiga, mendorong terciptanya ilmu pengetahuan dan teknologi yang murah dan mudah diaplikasi masyarakat untuk penjernihan air dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana diketahui, salah satu penghambat utama belum masifnya gerakan penjernihan air / mendaur ulang air di Indonesia karena masih mahalnya perangkat yang dibutuhkan. Jika perangkat, sarana dan prasarana penjernihan air atau daur ulang air bisa didapat dengan murah dan mudah, tentu perubahan mentalitas masyarakat dan dunia usaha akan lebih cepat. Agar kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi semakin optimal, kita harus membuka diri untuk menerima penemuan-penemuan baru tidak hanya dari dunia pendidikan, namun juga dari kalangan masyarakat maupun kebudayaan-kebudayaan lokal di Indonesia yang beberapa di antaranya terbukti sangat ramah terhadap alam termasuk air. Menggabungkan kemajuan ilmu pengetahuan dan kearifan lokal bisa mengakselerasi terciptanya teknologi yang murah dan mudah diaplikasi oleh masyarakat. Jika semua pihak bersinergi, semua potensi dioptimalkan, daur ulang air sebagai gerakan nasional tentu akan lebih cepat terwujud. Manfaatnya akan kita rasakan tidak hanya sekarang, namun juga di masa anak cucu kita kelak. Dengan mendaur ulang air, kita telah mendaur ulang kehidupan. Sumber [ririnhandayani.blogspot.com]

Istilah kata dalam proses penjernihan air dan air bersih

Penjenrihan Air baku untuk air minum rumah tangga yang selanjutnya disebut air baku adalah air yang dapat berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah dan/atau air hujan yang memenuhi baku mutu tertentu sebagai air baku untuk air minum. Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui proses penjernihan air atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Air Limbah adalah air buangan yang berasal dari rumah tangga termasuk tinja manusia dari lingkungan permukiman Air permukaan adalah sumber air yang terdapat dipermukaan tanah seperti sungai, waduk, bendungan yang merupakan tampungan air hujan, danau. Air tanah adalah sumber air yang berasal didalam tanah yang terbagi dalam air tanah bebas dan air tanah tertekan. Asumsi dasar adalah semua landasan perhitungan pada saat ini dan prakiraan dimasa mendatang yang meliputi berbagai Parameter Ekonomi Makro atau statistik. Bak flokulasi adalah bangunan atau sarana untuk proses pembentukan “flok” bagi partikel-partikel pengeruh pada air baku. Bak sedimentasi adalah bangunan atau sarana untuk menghilangkan partikel-partikel pengeruh dalam air dengan cara penyaringan. Bangunan pengambilan air baku adalah bangunan penangkap air dari mata air, air tanah dan air permukaan; Bangunan pengambilan air baku adalah bangunan atau konstruksi penangkap mata air yang di bangun pada suatu lokasi sumber air yaitu sungai, mata air dan air tanah dengan segala perlengkapannya dan dipergunakan sebagai tempat untuk mengambil air tersebut guna penyediaan air bersih; Biaya operasi adalah semua biaya yang diperlukan untuk menjalankan tau mengfungsikan suatu sistem penyediaan air minum secara optimal. Biaya pemeliharaan adalah semua biaya yang diperlukan untuk menunjang terciptanya suatu kondisi optimal terhadap operasi sistem yang baik dan pencapaian umur pakai peralatan atau fasilitas suatu sistem air minum. Broncaptering adalah bangunan penangkap air baku dari mata air. Debit Perencanaan adalah kapasitas aliran air yang direncanakan dalam penentuan dimensi pipa. Desinfektan adalah bahan kimia yang digunakan untuk membubuh kimia penyebab penyakit dan lutut ; EGL (Energi Grade Line) adalah garis energi yaitu garis yang menghubungkan titik-titik ketinggian tekanan statis sepanjang jalur pipa yang dihitung terhadap suatu datum tertentu. (Datum adalah titik/garis patokan yaitu muka air laut). Faktor Hari Maksimum adalah angka perbandingan antara kebutuhan air pada hari maksimum dengan kebutuhan air rata-rata. Faktor Jam Puncak adalah angka perbandingan antara kebutuhan air pada jam dengan kebutuhan air rata-rata. HGL (Hydraulic Grade Line) adalah garis hidrolis yaitu garis yang menghubungkan titik-titik ketinggian tekanan sepanjang jalur pipa yang dihitung terhadap suatu datum tertentu. (Datum adalah titik/garis patokan yaitu muka air laut). Hidran kebakaran adalah hidran yang digunakan untuk mengambil air jika terjadi kebakaran. hidran umum adalah kran umum yang menggunakan bak penampungan air sementara dan dipakai oleh masyarakat umum disekitar lokasi hidran umum. Hidrolik test adalah pengujian pipa dengan menggunakan tekanan air dan dilakukan pada jalur pipa memanjang; infiltration gallery adalah jenis intake yang menggunakan pipa resapan untuk mendapatkan airnya.pernjernihan air nano Instalasi Pengolahan Air (IPA) adalah suatu kesatuan bangunanbangunan yang berfuingsi mengolah air baku meniadi air bersih/minum. instalasi pengolahan air konvensional adalah instalasi pengolahan air sederhana yang sangat tergantung dari kualitas air bakunya. instalasi pengolahan air lengkap adalah suatu instalasi pengolahan air baku menjadi air bersih yang lengkap terdiri dari unit-unit intake, koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi desinfeksi. biasanya digunakan untuk mengolah air permukaan yang keruh. instalasi pengolahan unit paket adalah instalasi pengolahan lengkap yang dibuat secara paket oleh pabrik dengan kapasitas tertentu. intake adalah bangunan penangkap air atau tempat air masuk dari sungai, danau atau sumber air permukaan lainnya ke instalasi pengolahan; Intake bendung adalah suatu jenis intake yang menggunakan bendung untuk mendapatkan airnya Intake langsung adalah jenis intake untuk mengambil atau memanfaatkan air permukaan secara langsung apabila pompa pengisap air dipasang atau ditempatkan langsung ditebing sungai,danau atau waduk Intake ponton adalah jenis yang menggunakan pelampung atau ponton sebagai tempat pompa hisapnya ( alat pompa mengikuti naik turunnya permukaan air ) Intake sumuran adalah suatu jenis intake dengan menggunakan saluran di dasar sungai untuk mendapatkan airnya Intake tyroller adalah suatu jenis intake dengan menggunakan saluran didasar sungai untuk mendapatkan airnya Jaringan Transmisi Air Baku adalah jalur pipa atau saluran pembawa air baku dari titik awal transmisi air baku ke titik akhir transmisi air baku. Jaringan Transmisi Air Bersih adalah jalur pipa pembawa air bersih dari titik awal transmisi air bersih ke titik akhir transmisi air bersih. Jasa pemborongan adalah kegiatan menyediakan air minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar mendapatkan kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif. Kebocoran adalah selisih antara volume air yang didistribuskan dengan volume air yang terjual ; Kebutuhan Air Hari Maksimum adalah kebutuhan air bersih terbesar yang terjadi pada suatu hari dalam satu tahun. Kebutuhan Air jam Puncak adalah kebutuhan air bersih tertinggi yang terjadi pada jam-jam sibuk (tertentu) setiap hari. Kebutuhan Air Rata-Rata adalah kebutuhan air bersih rata-rata setiap hari. Kehilangan tekanan adalah tekanan yang hilang pada suatu komponen perpipaan ; Kran umum adalah jenis sambungan pelanggan yang mensuplay air melalui kran yang dipasang disuatu tempat tertentu agar mudah dipergunakan untuk umum guna mencukupi kebutuhan mandi cuci minum. Masyarakat yang selanjutnya disebut SPAM merupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non fisik dari prasarana dan sarana air minum. Mata air adalah tempat pemunculan sumber air tanah yang dapat disebabkan oleh topografi, gradien hidrolik atau struktur geologi. Ozonisasi adalah proses desinfeksi dengan menggunakan ozon (03) Pelanggan adalah kegiatan yang bertujuan membangun, memperluas dan/atau meningkatkan sistem fisik (teknik) dan non fisik (kelembagaan, manajemen, keuangan, peran masyarakat, dan hukum) dalam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada masyarakat menuju keadaan yang lebih baik. Pemeliharaan sarana Pengambilan Air Baku adalah suatu kegiatan pengamanan terhadap sumber air, bangunan penangkap air dan perlengkapannya; Pemeliharaan sistem Penyediaan Air Minum adalah serangkaian kegiatan pembersihan, perbaikan, penggantian instrumen dan suku cadang Penampungan air hujan adalah tempat penampungan air hujan yang digunakan sebagai tempat penyediaan air. Pengembangan SPAM adalah kegiatan merencanakan, melaksanakan konstruksi, mengelola, memelihara, merehabilitasi, memantau, dan/atau mengevaluasi sistem fisik (teknik) dan non fisik penyediaan air minum. Pengguna barang/jasa yang selanjutnya disebut Penyelenggara adalah badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah, koperasi, badan usaha swasta, dan/atau kelompok masyarakat yang melakukan penyelenggaraan pengembangan SPAM. pengoperasian adalah rangkaian kegiatan mulai dari persiapan pelaksanaan, sampai dihasilkan produk; Pengoperasian sistem Penyediaan air adalah serangkaian kegiatan dalam cakupan seluruh aktifitas tata kerja penyediaan air minum Penyedia barang/jasa adalah orang perseorangan, kelompok masyarakat, atau instansi yang mendapatkan layanan air minum dari Penyelenggara. Penyediaan air minum adalah kegiatan menyediakan air minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar mendapatkan kehidupan yang sehat, bersih dan produktif Pengembangan SPAM adalah kegiatan yang bertujuan membangun, memperluas dan/atau meningkatkan sistem fisik (teknik) dan non fisik (kelembagaan, manajemen, keuangan, peran masyarakat dan hukum) dalam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada masyarakat menuju keadaan yang lebih baik Penyelenggara pengembangan SPAM adalah kondisi dimana prasarana dan sarana air minum sudah dilakukan uji coba dan hasilnya memenuhi standar kaidah teknik yang berlaku. Penyelenggaraan pengembangan SPA adalah sarana dan prasarana pengambilan dan/atau penyedia air baku, meliputi bangunan penampungan air, bangunan pengambilan/penyadapan, alat pengukuran, dan peralatan pemantauan, sistem pemompaan, dan/atau bangunan sarana pembawa serta perlengkapannya Perioda Perencanaan adalah lama waktu tertentu dalam tahun yang merupakan umur dari kemampuan kapasitas sesuatu yang direncanakan. Perlindungan mata air adalah penyediaan air dengan cara melindungi dan menangkap air untuk ditampung dan disalurkan pada pemakai. Pipa ” high density poly ethylene” adalah pipa yang terbuat dari bahan yang mengandung polyethelyn dengan kerapantan tinggi. Pipa “clay” adalah pipa yang terbuat dari beton dengan perkuatan besi atau baja. Pipa baja adalah yang terbuat dari baja yang terdiri dari bahan campuran besi dan Carbonpenjernihan air nano smart filter Pipa besi tuang atau “cost iron pipe” adalah jenis pipa yang terbuat dari besi cor. Pipa beton adalah pipa yang terbuat dari beton dengan perkuatan besi atau baja. Pipa distribusi adalah pipa yang dipergunakan untuk mendistribusikan air bersih ke pelanggan atau konsumen. Pipa ductile iron adalah pipa yang pembuatannya mirip dengan pipa “Cost Iron” namun secara struktur dalamnya berbeda. Pipa Induk Distribusi adalah pipa utama untuk mendistribusikan air bersih dari reservoir distribusi ke daerah palayanan melalui titik-titik tapping sambungan sekunder. Pipa primer adalah pipa distribusi air utama pada daerah tertentu sampai kepipa sekunder. Pipa PVC adalah pipa dengan bahan dasar plastik yang mengandung poly vinil chlorida. pipa sekunder adalah pipa distribusi yang dipergunakan untuk membagi air dari suatu wilayah pipa primer sampai kepipa tersier. Pipa tertier adalah pipa distribusi yang langsung kerumah-rumah (konsumen) Pipa transmisi adalah pipa yang dipergunakan untuk mengalirkan air baku ke unit pengolahan atau mengantarkan air bersih, dari unit pengolahan ke unit distribusi utama atau reservoir pembagi. Pompa centrifugal adalah pompa yang menggunakan gaya centrifugal untuk dapat mengisap air. Pompa non doging adalah pompa yang lengkap dengan peralatan tertentu sehingga tidak mudah tersumbat oleh lumpur atau kotoran lainnya sehingga diharapkan dapat bekerja terus menerus tanpa henti. Pompa submersible adalah pompa dengan jenis konstruksinya kedap air sehingga motornya dapat berada didalam air. Pompa turbin adalah pompa yang motornya terletak diatas permukaan sedangkan baling-baling/impeler pompanya terendam dalam air. Prasarana dan Sarana Air Minum siap beroperasi adalah adalah sarana dan prasarana yang dapat digunakan untuk mengolah air baku menjadi air minum melalui proses fisik, kimiawi an/atau biologi, meliputi bangunan pengolahan dan perlengkapannya, perangkat operasional, alat pengukuran dan peralatan pemantauan, serta bangunan penampungan air minum. Pukulan air atau “water hammer” adalah tekanan balik dari kekuatan aliran air yang timbul apabila pompa pada suatu saat terhenti secara mendadak. Reservoir adalah tempat penyimpanan air untuk sementara sebelum didistribusikan kepada konsumen jika diperlukan suatu waktu. Reservoir adalah tempat penampungan air untuk sementara, sebelum didistribusikan ; Reservoir Distribusi adalah bangunan untuk menampung air bersih sebelum didistribusikan. Sambungan rumah adalah jelas sambungan pelanggan yang mensuplai langsung ke rumah-rumah biasanya berupa sambungan pipa-pipa distribusi air melalui water meter dan instalasi pipanya didalam rumah. Saringan kasar naik turun yang selanjutnya disebut SKNT, adalah sistem penyediaan air bersih dengan cara penyeringan air baku yang menggunakan media batu dan pasir. Saringan pasir cepat adalah unit pengolah air yang menggunakan suatu proses penyaringan pengendapan dan pemisahan partikel-partikel yang cukup besar dengan pengaliran cepat, biasanya menggunakan media pasir. Saringan pasir lambat adalah unit pengolah air yang menggunakan suatu proses penyaringan, pengendapan dan pemisahan partikelpartikel yang cukup besar dengan pengaliran air yang lambat dengan menggunakan media pasir. Saringan rumah tangga adalah penyediaan air dengan menggunakan media penyaring untuk penyediaan air bersih rumah tangga. Dibagi menjadi 4 type sesuai dengan sumber air baku yang digunakan, yaitu (1) air baku berasal dari air permukaan dengan tingkat kekeruhan rendah. (2) air baku berasal dari air permukaan dengan tingkat kekeruhan sedang. (3) air baku berasal dari air permukaan dengan tingkat kekeruhan tinggl. (4) air baku berasal dari air tanah yang mengandung besi Saringan sumur resapan adalah suatu sistem pengambilan air dengan cara menampung air dari rembesan air permukaan. Sisa Tekanan adalah tekanan air yang ada/tersisa di suatu lokasi pada jalur pipa yang merupakan selisih antara HGL dengan ketinggian/elevasi dari lokasi pipa yang bersangkutan. Sistem air bersih adalah suatau sistem suplai air bersih yang meliputi sistem pengambilan air baku, proses pengolahan air baku, transmisi air baku, proses pengolahan air baku sistem transmisi dan reservoir air bersih serta sistem distribusiu atau perpipaan yang dapat dioperasikan sedemikian rupa sehingga terdapat tekanan yang cukup disetiap saat pada seluruh bagian sistem perpipaannya air harus tersedia untuk pemakaian setiap saat tanpa ada interupsi. Sistem Cabang (Branch) adalah sistem jaringan pipa induk yang berbentuk cabang, sehingga terdapat satu arah aliran dari pipa induk ke pipa cabang sekunder, kemudian seterusnya ke pipa cabang tersier.filter air rumah tangga nano smart filter Sistem Jaringan Distribusi Air Bersih adalah sistem perpipaan untuk mendistribusikan air bersih dari reservoir distribusi ke konsumen. Sistem penyediaan air minum yang selanjutnya disebut SPAM merupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non fisik dari prasarana dan sarana air minum Sistem Tertutup (Loop) adalah sistem jaringan pipa induk yang melingkar dan tertutup sehingga terdapat arah aliran bolak-balik. Sumur bor adalah bangunan pemanfaatan air tanah dalam yang diperoleh dari hasil pengeboran Sumur gali penyediaan air bersih dengan cara penggalian tanah untuk mendapatkan sumber air dan pengambilannya dengan menggunakan timba. Sumur Pengumpul (Sump Well) adalah sumur pengumpul/penampung sementara air baku dari sumber sebelum dipompakan ke Instalasi Pengolahan Air (IPA). Sumur pompa tangan adalah penyediaan air bersih yang pengambilan airnya dengan menggunakan pompa tangan. Test band adalah pengujian pipa yang dilakukan pada tiap sambungan pipa bagian dalam dengan tekanan 7,5 kg /CM2 dan dengan waktu tidak boleh kurang dari lima menit; Unit air baku adalah sarana untuk mengambil air minum langsung oleh masyarakat yang terdiri dari sambungan rumah, hidran umum, dan hidran kebakaran. Unit chlorinasi adalah salah satu unit pada bangunan pengolahan air yang berfungsi untuk pembubuh desinfektan (pembunuh bakteri dan kuman yang merugikan kesehatan).; Unit distribusi adalah satu sistem pelayanan yang merupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non fisik dari prasarana dan sarana air minum dalam suatu sistem pelayanan air minum. Unit mekanikal adalah unit yang terdiri dari jaringan listrik untuk suplai tenaga ke pompa-pompa lampu penerangan yang memerlukan tenaga listrik. Unit panel dan kontrol adalah jumlah panel untuk mengkontrol jalannya operasi seperti operasi pompa, tekanan air, bahan kimia dan sistem listrik. Unit pelayanan adalah kepala kantor/satuan kerja/pemimpin proyek/pengguna anggaran Daerah/pejabat yang disamakan sebagai pemilik pekerjaan yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa dalam lingkungan unit kerja/proyek tertentu. Unit pemompaan adalah satu unit yang terdiri dari pompa untuk mengalirkan air dari satu tempat ke tempat lainnya yang dapat bekerja bersama-sama dengan hubungan seri atau paralel sesuai dengan kebutuhan kapasitas saat ini. Unit produksi adalah suatu bagian dari sistem air bersih yang berfungsi memproduksi air bersih untuk memenuhi kriteria yang ditetapkan (kuantitas dan kualitasnya), adapun unit produksi terdiri dari bangunan pengambilan air baku, saluran air baku, bangunan pengolahan, bangunan elektrikal mekanikal, saluran air bersih, reservoir. Water meter adalah alat untuk mengukur banyaknya air yang dipergunakan konsumen dalam waktu tertentu. Wilayah pelayanan adalah layanan pekerjaan pelaksanaan konstruksi atau wujud fisik lainnya yang perencanaan teknis dan spesifikasinya ditetapkan pengguna barang/jasa dan proses serta pelaksanaannya diawasi oleh pengguna barang/jasa. Sumber: [tanimart.wordpress.com]

Pages:« Prev123456Next »