You are here: Filter Penjernih Air keluarga sehat»Air Bersih,air tanah»Hujan Untuk Air Baku Jakarta

Hujan Untuk Air Baku Jakarta

Air baku adalah air yang dapat berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah, air hujan dan air laut. Curah hujan di wilayah Indonesia cukup tinggi, yaitu 2.000 – 4.000  mm/tahun sehingga dapat dimanfaatkan menjadi air baku untuk pengolahan air bersih, tetapi sering  menimbulkan banjir pada musim penghujan, karena air hujan tidak dapat meresap ke tanah seiring dengan menurunnya daerah resapan. Di sisi lain dengan pertumbuhan jumlah penduduk, maka kebutuhan  air bersih meningkat, diperkirakan pemanfaatan air tanah untuk memenuhi kebutuhan penduduk sebesar 100 liter/ hari/orang.

Selama ini musim hujan identik dengan bencana banjir di Jakarta. Semua pintu air kerap berstatus siaga satu menerima limpahan air. Jakarta mendadak surplus air. Lalu muncul pertanyaan, mengapa air tersebut tidak bisa menjadi cadangan air bersih Jakarta?

hujan sebagai air baku jakartaSumber air baku Jakarta saat ini berasal dari Waduk Jatiluhur di Purwakarta melalui saluran terbuka Kanal Tarum Barat (Kali Malang) sejauh kurang lebih 80 km. Air bersih yang mengalir ke rumah-rumah pelanggan Palyja, air bakunya lebih dari 60 persen didapat dari Waduk Jatiluhur, sedangkan lebih dari 30 persen dibeli dari Tangerang berupa air curah. Hanya kurang lebih empat persen air berasal dari sungai di Jakarta yang digunakan dalam proses pengolahan air di Instalasi Palyja, yaitu Sungai Krukut di IPA Cilandak dan Sungai Cengkareng Drain di IPA Taman Kota. Akibatnya karena mengalir melalui saluran terbuka potensi pencemaran dan juga longsor atau jebolnya tanggul sangat besar.

Sementara itu belum optimalnya sifon (terowongan air) yang memisahkan Kanal Tarum Barat dan Kali Bekasi menjadi salah satu penyebab terganggunya pasokan air baku, terutama pada saat musim hujan datang. Pertemuan antara Kanal Tarum Barat dan kali Bekasi seringkali menimbulkan banjir saat musim hujan.

Akibatnya, untuk mencegah banjir, air di pertemuan dua saluran tersebut harus segera dibuang ke laut. Imbasnya karena sifon atau terowongan air belum optimal, maka air baku yang seharusnya mengalir ke Jakarta ikut terbuang ke laut.

Selain sebagai bentuk antisipasi dan langkah mengurangi banjir di wilayah Jakarta dan Bekasi, pembangunan sifon untuk memisahkan Saluran Irigasi Tarum Barat dan kali Bekasi juga berguna untuk menjaga kualitas air baku dari waduk Jatiluhur. Sementara itu pada musim hujan, endapan yang terkandung dalam air juga mengalami peningkatan yang siginifikan.

Permasalahan ini juga menjadi tantangan tersendiri dalam proses produksi air bersih. Jadi tidak salah kalau menyebut permasalahan air bersih di Jakarta butuh solusi dari hulu ke hilir.

Dalam hal penyediaan air untuk masyarakat, sesuai keputusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan UU Sumber Daya Air beserta enam peraturan pemerintah turunannya, negara akan mengambil alih pemenuhan air untuk masyarakat. “Namun, jika negara melakukan semuanya, itu sulit. Masyarakat dan swasta masih diperlukan kerjasamanya”. Saat ini, UU Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan berlaku kembali.

Selain air hujan, masih ada air laut yang bisa dimanfaatkan untuk ketersediaan air di Jakarta . “Kewajiban pemerintah untuk menyediakan air bagi masyarakat, terkhusus rakyat miskin. Itu harus dipenuhi” karena salah satu faktor demi terwujudnya kesejahteraan bersama. Selain itu, Perusahaan Daerah Air Minum Jaya dalam waktu dekat akan membuat ultrafiltrasi air sungai Jakarta agar bisa dikonsumsi sebagai air minum. Ultrafiltrasi ini akan menambah jumlah produksi air bersih yang disalurkan ke masyarakat.

“Saat ini jumlah produksi air bersih di Jakarta sebesar 18 kubik per detik. Dari ultrafiltrasi akan ada penambahan produksi air dengan kualitas air minum, bukan air besar, sebesar Rp 4 kubik per detik,”

Peningkatan produksi air bersih ini untuk mencapai target Millenium Development Goals (MDG) tahun 2015 yang menargetkan 80 persen warga DKI Jakarta akan terlayani air bersih.

Sumber [kompas.com]

Related posts

Leave your comment

Your Name: (required)

E-Mail: (required)

Website: (not required)

Message: (required)

Send comment