You are here: Filter Penjernih Air keluarga sehat»Filter Air

Filter Air

Perawatan Membran Reverse Osmosis (RO)

Reverse Osmosis (RO) salah satu jenis membrane, Reverse Osmosis (RO) membutuhkan perwatan khusus sehingga menghasilkan kualitas air minum yang baik. Namun sebelum kita membahas bagaimana cara merawat membrane RO kita bahas sedikit apa itu filter air membrane RO?

Proses osmosis melalui membran semipermeabel pertama kali diamati pada 1748 oleh Jean Antoine Nollet. Selama 200 tahun kemudian, proses osmosis hanya sebuah fenomena yang diamati di laboratorium. Pada tahun 1949 di University of California di Los Angeles (UCLA) menyelidiki pertama proses desalinasi air laut dengan menggunakan membran semipermeabel.  Para peneliti dari UCLA dan University of Florida berhasil memproduksi air tawar dari air laut pada pertengahan 1950-an. Kini teknologi reverse osmosis berkembang sangat pesat. Teknologi ini banyak digunakan untuk proses purifikasi/pemurnian air untuk kebutuhan rumah tangga, komersil, industri, kegiatan lepas pantai, rumah sakit, laboratorium, dan lain-lain.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum mengharuskan, air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.

Salah satu teknologi yang dapat menghasilkan air langsung diminum adalah teknologi reverse osmosis (RO). Sebagai sistem penyaringan air minum terbaik, sistem reverse osmosis telah mendapat berbagai penghargaan internasional. Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa system RO merupakan sistem pengolahan air terkini yang sangat dapat diandalkan. Namun sayang, terkadang air dari proses RO ini berasa “pahit”Lalu,

Kenapa Air RO Berasa Pahit dan bagaimana menghilangkan rasa pahit ?
Kemampuan membran RO  untuk menurunkan setiap unsur kimia dalam air, baik anion maupun kation sehingga terjadi penyesuaian jumlah unsur kimia di dalam air yang digambarkan dalam keseimbangan asam dan basa atau dikenal dengan “pH”. pH air yang berubah setelah melalui proses membran RO akan berbeda pada setiap sumber air baku/ pH air setelah penyaringan dari sistem RO memiliki pH yang (cenderung) rendah. Dengan pH yang rendah tersebut, maka air akan terasa kurang enak bahkan ada yang merasakan agak pahit atau bahkan pahit.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah rasa pahit tersebut, antara lain dengan menggunakan :
1. Post carbon yang berkualitas dan harus kelas food-grade, atau
2. Penambahan filter anion yang bersifat alkalis sehingga pH air akan naik, atau
3. Menambahkan kapur Magnesium dan harus kelas “foodgrade”.

Kesemua cara tersebut biasanya akan menambahkan nilai TDS, walaupun sebenarnya tidak menjadi masalah namun tidak sedikit para penjual mesin RO atau pelaku usaha air minum RO menyebutkan bahwa air yang baik adalah air dengan TDS “nol”.

cara merawat reverse osmosis

Sesuai dengan Enviromental Protection Agency (EPA) USA. Air minum ideal adalah yang memiliki level TDS 0 – 50 ppm, dihasilkan dengan proses reverse osmosis, deionization, microflitration, distillation, dan banyak lainnya. Air gunung (mountain spring) dan air yang melalui proses filtrasi karbon berada di standar kedua. Rata-rata air tanah (air sumur) berada pada level TDS 150 – 300 ppm, masih dalam batas aman, namun bukan yang terbaik terutama untuk para penderita penyakit ginjal. Oleh karena itu, jangan asal beli mesin RO karena tidak semua mesin RO dapat menghasilkan air RO yang berkualitas. Jangan mudah tergiur dengan harga murah, sebab harga mesin RO sangat bergantung pada kualitas material dan spare part yang digunakan.

Cara Perawatan Reverse Osmosis
Jika kualitas air rendah, sebaiknya gunakan Pre filter (penyaringan awal) sebelum masuk unit filter air membrane reverse osmosis anda, Teknik ini untuk mencegah penggantian membran RO yang terlalu cepat.

Kemudian apabila membrane anda sudah mulai jenuh atau mampet ada beberapa teknik yang dapat menjadi solusi bagi anda salah satunya adalah menggunakan larutan atau bubuk pembersih membrane (Membrane Cleaner)  yang benyak dijual di toko khusus perlengkapan water treatment.

Ada 3 (tiga) hal penting yang harus anda lihat untuk menentukan kapan saatnya anda memerlukan membrane cleaning pada reverse osmosis, yaitu:

1. Apabila product flow rate sudah turun mendekati ±15% dari performa awal.
2. Apabila rejected flow rate sudah meningkat mendekati ±5-10% dari performa awal.
3. Apabila conductivity permeate/product water sudah naik hingga ±15% dari setting awal.
4. Dan, apabila ? Pressure pada membrane array sudah naik hingga ± 15%.

Bila anda menemukan indikasi diatas maka membrane anda memerlukan larutan pembersih membrane RO untuk mencegah penyumbatan membrane lebih lanjut yang akan berakibat produksi mesin reverse osmosis ataupun membrane ultrafiltrasi anda terganggu.

Fungsi dari pembersih membrane (membrane cleaner) bermacam macam sesuai kebutuhan anda diantaranya adalah:

1. Membuang Iron dan fouling karena Metal Hydroxide dan calcium carbonate scale.
2. Membuang Biological, organic dan koloidal fouling pada Polyamide Composite Membrane. Juga efektif membuang emulsified oils dan silica.
3. Menurunkan kotoran yang ada dan berkembang didalam lapisan membrane RO atau Ultra Filtrasi. Berfungsi untuk  melarutkan kotoran yang ada pada berbagai tipe membrane, formula khusus aman untuk berbagai tipe membrane.

Jadi kesimpulannya fungsi larutan pembersih membrane RO adalah pelunturan/pembersihan tanpa merusak lapisan Polyamide Composite Membrane Element. Digunakan setelah sistem mengalami penurunan kapasitas produksi atau hanya sekedar pencegahan/perawatan membrane, sehingga membrane dapat berfungsi dengan baik.

Telitilah dalam memilih unit pengolahan air Reverse Osmosis (Mesin RO) sebelum memutuskan untuk membeli. Jangan mudah tergiur dengan harga yang murah, sebab harga unit pengolahan air dengan membrane UF atau RO sangat ditentukan oleh kualitas dan kelas spare part/material yang digunakan.

Sumber [Aneka Sumber]

pengolah limbah cair industri

Pengolah limbah cair industri metode dan tahapan proses pengolah limbah cair yang telah dikembangkan sangat beragam. Limbah cair dengan kandungan polutan yang berbeda kemungkinan akan membutuhkan proses pengolahan yang berbeda pula. Proses- proses pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara keseluruhan, berupa kombinasi beberapa proses atau hanya salah satu. Proses pengolahan tersebut juga dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan atau faktor finansial.

1.Pengolahan Primer (Primary Treatment)

A. Penyaringan (Screening)
Pertama, limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring menggunakan jeruji saring. Metode ini disebut penyaringan.  Metode penyaringan merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari air limbah.

B. Pengolahan Awal  (Pretreatment)
Kedua, limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu tangki atau bak yang berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat teruspensi lain yang berukuran relatif besar. Tangki ini dalam bahasa inggris disebut grit chamber dan cara kerjanya adalah dengan memperlambat aliran limbah sehingga partikel – partikel pasir jatuh ke dasar tangki sementara air limbah terus dialirkan untuk proses selanjutnya.

C. Pengendapan
Setelah melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan ke tangki atau bak pengendapan. Metode pengendapan adalah metode pengolah utama dan yang paling banyak digunakan pada proses pengolahan primer limbah cair. Di    tangki pengendapan, limbah cair didiamkan agar partikel – partikel padat yang tersuspensi dalam air limbah dapat mengendap ke dasar tangki. Enadapn partikel tersebut akan membentuk lumpur yang kemudian akan dipisahkan dari air limbah ke saluran lain untuk diolah lebih lanjut. Selain metode pengendapan, dikenal juga metode pengapungan (Floation).

D. Pengapungan (Floation)
Metode ini efektif digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa minyak atau lemak. Proses pengapungan dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat menghasilkan gelembung- gelembung udara berukuran kecil (± 30 – 120 mikron). Gelembung udara tersebut akan membawa partikel –partikel minyak dan lemak ke permukaan air limbah sehingga kemudian dapat disingkirkan.

Bila limbah cair hanya mengandung polutan yang telah dapat disingkirkan melalui proses pengolahan limbah primer, maka limbah cair yang telah mengalami proses pengolahan primer tersebut dapat langsung dibuang kelingkungan (perairan). Namun, bila limbah tersebut juga mengandung polutan yang lain yang sulit dihilangkan melalui proses tersebut, misalnya agen penyebab penyakit atau senyawa organik dan anorganik terlarut, maka limbah tersebut perlu disalurkan ke proses pengolahan limbah selanjutnya.

filter air limbah cair

2. Pengolahan Sekunder (Secondary  Treatment)

Tahap pengolahan sekunder merupakan proses pengolahan secara biologis, yaitu dengan melibatkan mikroorganisme yang dapat mengurai/ mendegradasi bahan organik. Mikroorganisme yang digunakan umumnya adalah bakteri aerob. Terdapat tiga metode pengolahan secara biologis yang umum digunakan yaitu metode penyaringan dengan tetesan (trickling filter), metode lumpur aktif (activated sludge), dan metode kolam perlakuan (treatment ponds / lagoons) .

A. Metode Trickling Filter
Pada metode ini, bakteri aerob yang digunakan untuk mendegradasi bahan organik melekat dan tumbuh pada suatu lapisan media kasar, biasanya berupa serpihan batu atau plastik, dengan dengan ketebalan  ± 1 – 3 m. limbah cair kemudian disemprotkan ke permukaan media dan dibiarkan merembes melewati media tersebut. Selama proses perembesan, bahan organik yang terkandung dalam limbah akan didegradasi oleh bakteri aerob. Setelah merembes sampai ke dasar lapisan media, limbah akan menetes ke suatu wadah penampung dan kemudian disalurkan ke tangki pengendapan.

Dalam tangki pengendapan, limbah kembali mengalami proses pengendapan untuk memisahkan partikel padat tersuspensi dan mikroorganisme dari air limbah. Endapan yang terbentuk akan mengalami proses pengolahan limbah lebih lanjut, sedangkan air limbah akan dibuang ke lingkungan atau disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya jika masih diperlukan

B. Metode Activated Sludge
Pada metode activated sludge atau lumpur aktif, limbah cair disalurkan ke sebuah tangki dan didalamnya limbah dicampur dengan lumpur yang kaya akan bakteri aerob. Proses degradasi berlangsung didalam tangki tersebut selama beberapa jam, dibantu dengan pemberian gelembung udara aerasi (pemberian oksigen). Aerasi dapat mempercepat kerja bakteri dalam mendegradasi limbah. Selanjutnya, limbah disalurkan ke tangki pengendapan untuk mengalami proses pengendapan, sementara lumpur yang mengandung bakteri disalurkan kembali ke tangki aerasi. Seperti pada metode trickling filter, limbah yang telah melalui proses ini dapat dibuang ke lingkungan atau diproses lebih lanjut jika masih dperlukan.

C. Metode Treatment ponds/ Lagoons
Metode treatment ponds/lagoons atau kolam perlakuan merupakan metode yang murah namun prosesnya berlangsung relatif lambat. Pada metode ini, limbah cair ditempatkan dalam kolam-kolam terbuka. Algae yang tumbuh dipermukaan kolam akan berfotosintesis menghasilkan oksigen. Oksigen tersebut kemudian digunakan oleh bakteri aero untuk proses penguraian/degradasi bahan organik dalam limbah. Pada metode ini, terkadang kolam juga diaerasi. Selama proses degradasi di kolam, limbah juga akan mengalami proses pengendapan. Setelah limbah terdegradasi dan terbentuk endapan didasar kolam, air limbah dapat disalurka untuk dibuang ke lingkungan atau diolah lebih lanjut.

3. Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)

Pengolahan tersier dilakukan jika setelah pengolahan primer dan sekunder masih terdapat zat tertentu dalam limbah cair yang dapat berbahaya bagi lingkungan atau masyarakat. Pengolahan tersier bersifat khusus, artinya pengolahan ini disesuaikan dengan kandungan zat yang tersisa dalam limbah cair / air limbah. Umunya zat yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya melalui proses pengolahan primer maupun sekunder adalah zat-zat anorganik terlarut, seperti nitrat, fosfat, dan garam- garaman.

Pengolahan tersier sering disebut juga pengolahan lanjutan (advanced treatment). Pengolahan ini meliputi berbagai rangkaian proses kimia dan fisika. Contoh metode pengolahan tersier yang dapat digunakan adalah metode saringan pasir, saringan multimedia, precoal filter, microstaining, vacum filter, penyerapan dengan karbon aktif, pengurangan besi dan mangan, dan osmosis bolak-balik.

4. Desinfeksi (Desinfection)

Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh atau mengurangi mikroorganisme patogen yang ada dalam limbah cair. Meknisme desinfeksi dapat secara kimia, yaitu dengan menambahkan senyawa/zat tertentu, atau dengan perlakuan fisik. Contoh mekanisme desinfeksi pada limbah cair adalah penambahan klorin (klorinasi), penyinaran dengan ultraviolet(UV), atau dengan ozon (Oз). Proses desinfeksi pada limbah cair biasanya dilakukan setelah proses pengolahan limbah selesai, yaitu setelah pengolahan primer, sekunder atau tersier, sebelum limbah dibuang ke lingkungan.

5. Pengolahan Lumpur (Slude Treatment)

Setiap tahap pengolahan limbah cair, baik primer, sekunder, maupun tersier, akan menghasilkan endapan polutan berupa lumpur. Lumpur tersebut tidak dapat dibuang secara langsung, melainkan perlu diolah lebih lanjut. Endapan lumpur hasil pengolahan limbah biasanya akan diolah dengan cara diurai/dicerna secara aerob (anaerob digestion), kemudian disalurkan ke beberapa alternatif, yaitu dibuang ke laut atau ke lahan pembuangan (landfill), dijadikan pupuk kompos, atau dibakar (incinerated).

Sumber [witasharer.blogspot.com]

Water Treatment Plant Limbah B3

Water Treatment Plant Limbah B3, Water Treatment Plant adalah sebuah system yang difungsikan untuk mengolah air dari kualitas air baku (influent) yang  tercemar agar mendapatkan kualitas air pengolahan (effluent) standart yang di inginkan/ditentukan atau siap untuk di konsumsi.

Water Treatment Plant, pada dasarnya dibagi menjadi beberapa tahap yaitu:

1. Penyaringan dan Pengendapan
Penyaringan dan pengendapan bertujuan untuk memisahkan air baku dari zat-zat, seperti: sampah, daun, rumput, pasir dan lain-lain berdasarkan berat jenis zat.

2. Koagulasi
Koagulasi adalah proses pencamuran bahan kimia kedalam air agar kotoran dalam air yang berupa padatan resuspensi misalnya zat warna organik, lumpur halus, bakteri dan lain-lain dapat menggumpal dan cepat mengendap.

3. Flokulasi
Flokulasi adalah proses pembentukan flok sebagai akibat gabungan dari koloid-koloid dalam air baku (air sungai) dengan koagulan. Pembentukan flok akan terjadi dengan baik jika di tambahkan koagulan kedalam air baku (air sungai) kemudian dilakukan pengadukan lambat.

4. Sedimentasi
Setelah proses koagulasi dan flokulasi, air tersebut di diamkan sampai gumpalan kotoran yang terjadi mengendap semua. Setelah kotoran mengendap air akan tampak lebih jernih.

5. Filtrasi
Pada proses pengendapan tidak semua gumpalan kotoran dapat diendapkan semua. Butiran gumpalan kotoran kotoran dengan ukuran yang besar dan berat akan mengendap, sedangkan yang berukuran kecil dan ringan masih melayang-layang dalam air. Untuk mendapatkan air yang betul-betul jernih harus dilakukan proses penyaringan. Penyaringan dilakukan dengan mengalirkan air yang telah diendapkan kotorannya ke bak penyaring yang terdiri dari saringan pasir silika atau menggunakan teknologi membran.

6. Desinfeksi
Pemberian desinfektan (gas khlor) pada air hasil penyaringan bertujuan agar dapat mereduksi konsentrasi bakteri secara umum dan menghilangkan bakteri pathogen (bakteri penyebeb penyakit).

filter air limbah b3

Berikut ini teknologi filter air dalam Water Treatment Plant :
Reverse Osmosis, Sea Water DesalinationTreatment, Brackish Water Treatment, Ultrafiltration Water Treatment, Mineral Water Treatment, Ozonation WaterTreatment, Demineralizer Water Treatment

Teknologi Pengolahan Limbah B3

Parameter Fisik Pada Air
Parameter fisik air biasanya di lihat dari unsur yang berhubungan dengan indra manusia seperti penglihatan, sentuhan, rasa dan penciuman, yang meliputi Turbidity (kekeruhan), warna, bau, rasa dan suhu. Sistem pengolahan yang biasa di gunakan adalah Sistem Sedimentasi (Pengenda-pan), Filtrasi dan penambahan desinfektan.

Parameter Kimia Pada Air
Senyawa kimia yang sering di temukan pada air adalah Fe, Mn, Ca, Mg, Na, SO4, CO3. Jika air memiliki kandungan senyawa kimia yang berlebihan (tidak masuk standart konsumsi yang aman), Pengolahan dapat dilakukan dengan sistem filtrasi dengan menggunakan media tertentu misalnya system Reverse Osmosis atau Demineralier dan Softener.

Parameter Biologi Pada Air
Parameternya dilihat berdasarkan adanya mikroorganisme yang ada di dalam air. Bila jumlah mikro-organisme di dalam air berlebihan biasanya akan mengganggu kesehatan bila di konsumsi. Pengola-han dapat dilakukan dengan menggunakan desinfektan atau alat yang biasa digunakan, misalnya in-jeksi Chlor, System UV dan System Ozone (O3).

Terdapat banyak metode pengolahan air limbah B3 di industri, tiga metode yang paling populer di antaranya ialah chemical conditioningsolidification/Stabilization, dan incineration.

Chemical Conditioning
Salah satu teknologi pengolahan limbah B3 ialah chemical conditioning. Tujuan utama dari chemical conditioning ialah menstabilkan senyawa-senyawa organik yang terkandung di dalam lumpur, mereduksi volume dengan mengurangi kandungan air dalam lumpur, mendestruksi organisme pathogen, memanfaatkan hasil samping proses chemical conditioningyang masih memiliki nilai ekonomi seperti gas methane yang dihasilkan pada proses digestion, mengkondisikan agar lumpur yang dilepas ke lingkungan dalam keadaan aman dan dapat diterima lingkungan

Chemical conditioning terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut:

1. Concentration thickening
Tahapan ini bertujuan untuk mengurangi volume lumpur yang akan diolah dengan cara meningkatkan kandungan padatan. Alat yang umumnya digunakan pada tahapan ini ialah gravity thickener dan solid bowl centrifuge. Tahapan ini pada dasarnya merupakan tahapan awal sebelum limbah dikurangi kadar airnya pada tahapan de-watering selanjutnya. Walaupun tidak sepopuler gravity thickener dan centrifuge, beberapa unit pengolahan limbah menggunakan proses flotation pada tahapan awal ini.

2. Treatment, stabilization, and conditioning
Tahapan kedua ini bertujuan untuk menstabilkan senyawa organik dan menghancurkan patogen. Proses stabilisasi dapat dilakukan melalui proses pengkondisian secara kimia, fisika, dan biologi. Pengkondisian secara kimia berlangsung dengan adanya proses pembentukan ikatan bahan-bahan kimia dengan partikel koloid. Pengkondisian secara fisika berlangsung dengan jalan memisahkan bahan-bahan kimia dan koloid dengan cara pencucian dan destruksi. Pengkondisian secara biologi berlangsung dengan adanya proses destruksi dengan bantuan enzim dan reaksi oksidasi. Proses-proses yang terlibat pada tahapan ini ialah lagooninganaerobic digestionaerobic digestionheat treatment,polyelectrolite flocculationchemical conditioning, dan elutriation.

3. De-watering and drying
De-watering and drying bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi kandungan air dan sekaligus mengurangi volume lumpur. Proses yang terlibat pada tahapan ini umumnya ialah pengeringan dan filtrasi. Alat yang biasa digunakan adalah drying bedfilter presscentrifugevacuum filter, dan belt press.

4. Disposal
Disposal ialah proses pembuangan akhir limbah B3. Beberapa proses yang terjadi sebelum limbah B3 dibuang ialah pyrolysis wet air oxidation, dan composting. Tempat pembuangan akhir limbah B3 umumnya ialah sanitary landfillcrop land, atauinjection well.

Solidification/Stabilization
Di samping chemical conditiong, teknologi solidification/stabilization juga dapat diterapkan untuk mengolah limbah B3. Secara umum stabilisasi dapat didefinisikan sebagai proses pencapuran limbah dengan bahan tambahan (aditif) dengan tujuan menurunkan laju migrasi bahan pencemar dari limbah serta untuk mengurangi toksisitas limbah tersebut. Sedangkan solidifikasi didefinisikan sebagai proses pemadatan suatu bahan berbahaya dengan penambahan aditif. Kedua proses tersebut seringkali terkait sehingga sering dianggap mempunyai arti yang sama. Proses solidifikasi/stabilisasi berdasarkan mekanismenya dapat dibagi menjadi 6 golongan, yaitu:

  1. Macroencapsulation, yaitu proses dimana bahan berbahaya dalam limbah dibungkus dalam matriks struktur yang besar.
  2. Microencapsulation, yaitu proses yang mirip macroencapsulation tetapi bahan pencemar terbungkus secara fisik dalam struktur kristal pada tingkat mikroskopik.
  3. Precipitation
  4. Adsorpsi, yaitu proses dimana bahan pencemar diikat secara elektrokimia pada bahan pemadat melalui mekanisme adsorpsi.
  5. Absorbsi, yaitu proses solidifikasi bahan pencemar dengan menyerapkannya ke bahan padat.
  6. Detoxification, yaitu proses mengubah suatu senyawa beracun menjadi senyawa lain yang tingkat toksisitasnya lebih rendah atau bahkan hilang sama sekali.

Teknologi solidikasi/stabilisasi umumnya menggunakan semen, kapur (CaOH2), dan bahan termoplastik. Metoda yang diterapkan di lapangan ialah metoda in-drum mixing, in-situ mixing, danplant mixing. Peraturan mengenai solidifikasi/stabilitasi diatur oleh BAPEDAL berdasarkan Kep-03/BAPEDAL/09/1995 dan Kep-04/BAPEDAL/09/1995.

Sumber [Aneka Sumber]

Teknologi membran mikrofiltrasi

Teknologi membran mikrofiltrasi, Teknologi membran telah tumbuh dan berkembang secara dinamis sejak pertamakali  dikomersilkan Sartorius-Werke di Jerman pada tahun 1927, khususnya untuk membran mikrofiltrasi. Pengembangan dan aplikasi teknologi ini semakin beragam dan penemuan-penemuan baru pun semakin banyak dipublikasikan. Teknologi membran pada akhirnya menjadi salah satu teknologi alternatif yang paling kompetitif saat ini dan telah memberikan beragam solusi bagi umat manusia dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Proses mikrofiltrasi merupakan salah satu proses berbasis membran yang berkembang sangat pesat di awal perkembangan teknologi membran. Pertumbuhan dan perkembangannya pada tahun-tahun terakhir hanya mampu disaingi oleh reverse osmosis, akibat adanya permintaan yang sangat besar terutama untuk aplikasi proses desalinasi. Secara umum mikrofiltrasi diaplikasikan dalam proses pemisahan unsur-unsur partikulat dari larutannya. Aplikasi proses mikrofiltrasi diantaranya adalah untuk proses sterilisasi obat-obatan dan produksi minuman, klarifikasi ekstrak juice, pemrosesan air ultramurni pada industri semi konduktor, metal recovery, dan sebagainya.

filter air membran mikrofiltrasi

Proses mikrofiltrasi merupakan proses pemisahan unsur-unsur partikulat dari dalam larutannya. Proses ini berlangsung dan difasilitasi oleh membran mikrofiltrasi. Membran mikrofiltrasi dapat memiliki baik struktur simetrik maupun asimetrik, dengan rentang ukuran diameter pori antara 0,02-10 μm, sehingga akan sangat efektif dalam pemusahan baik padatan tersuspensi maupun emulasi. Penggolongan proses-proses membran pada saat ini sangat luas. Membran mikrofiltrasi dapat dibedakan dari membrane reverse osmosis dan ultrafiltrasi berdasarkan ukuran partikel yang dapat dipisahkannya. Pada membran mikrofiltrasi, garam tidak dapat direjeksi membran. Proses filtrasi dapat dilaksanakan pada tekanan relatif rendah yaitu di bawah 2 bar. Membran mikrofiltrasi dapat dibuat dari berbagai macam material baik organic maupun anorganik. Membran anorganik banyak digunakan untuk membuat membrane mikrofiltrasi antara lain sintering, track etching, stretching, dan inversi fasa.

Teknologi membrane mikrofiltrasi adalah proses membran dengan menggunakan tekanan sebagai gaya dorong. Teknologi Membran mikrofiltrasi memiliki ukuran pori antara 0,02 sampai 10 μm dan tebal antara 10 sampai 150 μm. Mikrofiltrasi digunakan pada berbagai macam aplikasi di industri, terutama untuk pemisahan partikel berukuran lebih dari 0,1 μm dari larutannya. Membran ini dapat menahan koloid, mikroorganisme, dan padatan tersuspensi. Mikrofiltrasi juga dapat menahan bahan-bahan yang ukurannya lebih kecil daripada rata-rata ukuran pori karena penahan adsorptif. Salah satu aplikasi utamanya di industri adalah sterilisasi dan klarifikasi pada industri makanan dan obat-obatan, pemanenan sel, klarifikasi juice, recovery logam dalam bentuk kolid, pengolahan limbah cair, fermentasi kontinue, ataupun pemisahan emulsi minyak-air. Mikrofiltrasi juga dapat digunakan untuk memisahkan partikel selama proses pembuatan air ultramurni pada industri semi konduktor. Aplikasi terbaru adalah di bidang bioteknologi, yaitu pengambilan sel dan bioreaktor membran, serta teknologi biomedik yaitu pemisahan plasma dari sel darah. Membran mikrofiltrasi biasanya beroperasi pada tekanan 0,5-5 atmosfer, dan membran yang digunakan pada umumnya berstruktur simetrik.

Proses ini cocok untuk melakukan fraksionasi atau penyisihan makromolekul dari suspensi atau emulsi. Hal yang paling membatasi mikrofiltrasi khususnya untuk umpan berupa suspensi adalah apa yang disebut polarisasi konsentrasi dan fouling. Kedua fenomena tersebut diasosiasikan dengan penurunan flux terhadap waktu. Mikrofiltrasi  (MF), Membran jenis ini beroperasi pada tekanan berkisar 0,1-2 Bar dan batasan permeabilitas-nya lebih besar dari 50 L/m2.jam.bar

Secara umum, mikrofiltrasi diaplikasikan dalam proses pemisahan unsur-unsur partikulat dari larutannya.  Teknologi membran dapat dari sejumlah besar material yang berbeda-beda dan dengan bermacam-macam tehnik pembuatan antara lain sintering, track etching, stretching, dan inverse fasa. Membran mikrofiltrasi dapat dibuat dari berbagai macam material baik organic maupun anorganik. Hal ini memungkinkan untuk membuat membran dengan konfigurasi dan ukuran seperti yang diinginkan. Pada proses sintering ini material ditekan dan dipanaskan hingga melewati titik didihnya.

Membran mikrofiltrasi memiliki ukuran pori antara 0,02 sampai 10μm dan tebal antara 10 sampai 150μm. Membran mikrofiltrasi juga memiliki dua struktur geometri pori, yaitu : simetrik dan asimetrik. Namun umumnya membran mikrofiltrasi berstruktur pori asimetrik. Pada membran asimetrik terdapat lapisan atas yang sangat tipis (skin) dengan tebal 0,1-1 μm. Untuk memberikan kekuatan mekanik, lapisan skin ini ditunjang oleh lapisan berikutnya yang dikenal sebagai support. Lapisan support memiliki ketebalan antara 50-150 μm dan sangat berpori.

Keuntungan mikrofiltrasi diantaranya mampu menghilangkan semua partikel dan mikroorganisme yang lebih besar dari ukuran pori, dan perawatan yang dibutuhkan minimal. Sementara kerugiannya tidak mampu menghilangkan (hanya mengurangi) senyawa anorganik terlarut, senyawa kimia, pirogen, dan semua koloid. Selain itu mikrofiltrasi tidak dapat diregenerasi. Mikrofiltrasi tidak berbeda secara fundamental dengan reverse osmosis, ultrafiltrasi ataupun nanofiltrasi kecuali dalam hal ukuran partikel yang dihilangkannya.

Penggunaan membran mikrofiltrasi dan ultrafiltrasi dapat memisahkan partikel yang mempunyai berat molekul lebih besar dari ukuran pori kapiler membran. Unit filtrasi teknologi membran terdiri atas modul membran, pompa diafragma, dan peralatan bantu lainnya. Unit filtrasi membran dapat berfungsi baik jika dirakit dengan memenuhi persyaratan teknis yang sesuai dengan tahapan proses filtrasi, yaitu pengumpanan, penyaringan, dan pencucian. Tekanan pada proses filtrasi maksimum 2 bar agar serat kapiler tidak putus. Sebaiknya membran tidak digunakan untuk larutan dengan pH ekstrem dan suhu lebih dari 40°C. Teknologi membran mikrofiltrasi dan ultrafiltrasi dapat digunakan untuk filtrasi jus buah, minyak kelapa murni, dan minyak tumbuh-tumbuhan lainnya, dan menghasilkan cairan yang lebih jernih.

Sumber [Aneka Sumber]

Media filter karbon aktif (Activated Carbon)

Media filter karbon aktif (Activated Carbon), Media filter karbon aktif salah satu media yang digunakan untuk menjernihkan air dan menghilangkan bau.  Karbon aktif atau sering juga disebut sebagai arang aktif, adalah suatu jenis karbon yang memiliki luas permukaan yang sangat besar. Hal ini bisa dicapai dengan mengaktifkan karbon atau arang tersebut. Hanya dengan satu gram dari karbon aktif, akan didapatkan suatu material yang memiliki luas permukaan kira-kira sebesar 500 m2 (didapat dari pengukuran adsorpsi gas nitrogen). Biasanya pengaktifan hanya bertujuan untuk memperbesar luas permukaannya saja, namun beberapa usaha juga berkaitan dengan meningkatkan kemampuan adsorpsi karbon aktif itu sendiri.

Karbon aktif adalah karbon padat yang memiliki luas permukaan yang cukup tinggi berkisar antara 100 sampai dengan 2000 m2/g. Bahkan ada peneliti yang mengklaim luas permukaan karbon aktif yang dikembangkan memiliki luas permukaan melebihi 3000 m2/g. Bisa dibayangkan dalam setiap gram zat ini mengandung luas permukaan puluhan kali luasan lapangan sepak bola. Hal ini dikarenakan zat ini memiliki pori – pori yang sangat kompleks yang berkisar dari ukuran mikro dibawah 20 A (Angstrom), ukuran meso antara 20 sampai 50 Angstrom dan ukuran makro yang melebihi 500 A (pembagian ukuran pori berdasarkan IUPAC). Sehingga luas permukaan disini lebih dimaksudkan luas permukaan internal yang diakibatkan dari adanya pori – pori yang berukuran sangat kecil.

media filter karbon aktif

Karena memiliki luas permukaan yang sangat besar, maka media filter karbon aktif sangat cocok digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan luas kontak yang besar seperti pada bidang adsorpsi (penjerapan), dan pada bidang reaksi dan katalisis. Contoh yang mudah dari karbon aktif adalah yang banyak dikenal dengan sebutan norit yang digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan. Prinsip kerja norit adalah ketika masuk kedalam perut dia akan mampu menjerap bahan – bahan racun dan berbahaya yang menyebabkan gangguan pencernaan. Kemudian menyimpannya didalam permukaan porinya sehingga nantinya keluar nantinya bersama tinja. Secara umum karbon aktif ini dibuat dari bahan dasar batu bara dan biomasa. Intinya bahan dasar pembuat karbon aktif haruslah mengandung unsur karbon yang besar.

Dewasa ini karbon aktif yang berasal dari biomasa banyak dikembangkan para peneliti karena bersumber dari bahan yang terbarukan dan lebih murah. Bahkan karbon aktif dapat dibuat dari limbah biomasa seperti kulit kacang-kacangan, limbah padat pengepresan biji – bijiaan, ampas, kulit buah dan lain sebagainya. Proses pembuatan arang aktif dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu pengaktifan secara fisika dan secara kimia. Pengaktifan secara fisika pada dasarnya dilakukan dengan cara memanaskan bahan baku pada suhu yang cukup tinggi (600 – 900 C) pada kondisi miskin udara(oksigen), kemudian pada suhu tinggi tersebut dialirkan media pengaktif seperti uap air dan CO2. Sedangkan pada pengaktifan kimiawi, bahan baku sebelum dipanaskan dicampur dengan bahan kimia tertentu seperti KOH, NaOH, K2CO3 dan lain sebagainya. Biasanya pengaktifan secara kimiawi tidak membutuhkan suhu tinggi seperti pada pengaktifan secara fisis, namun diperlukan tahap pencucian setelah diaktifkan untuk membuang sisa – sisa bahan kimia yang dipakai. Sekarang ini telah dikembangkan pengabungan antara metode fisika dan kimia untuk mendapatkan sekaligus kelebihan dari kedua tipe pengaktifan tersebut. Karbon aktif  biasanya dapat dibuat dari beberapa bahan baku Batu Bara, Arang Kayu Keras, dan  Arang Batok Kelapa. Beberapa bahan baku tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, dan masing-masing memiliki keunggulannya masing-masing.

Contoh Beberapa Jenis Bahan Baku Media Filter Karbon Aktif:

Karbon Aktif Batu Bara
Karbon aktif jenis ini memiliki tingkat kekerasan tinggi, sehingga sangat cocok untuk digunakan sebagai filter di dalam tangki bervolume ribuan liter.

Karbon Aktif dari Kayu Keras
Karbon aktif dari bahan ini biasanya dibuat dalam bentuk powder. Metilen Biru karbon aktif dari kayu keras sangat tinggi yaitu bisa di atas 200. Sehingga, karbon aktif jenis ini banyak diaplikasikan di industri farmasi, penyedap makanan, pabrik gula, dan industri minyak goreng. Karena semakin tinggi metilen biru karbon aktif, maka daya serap warna organik juga semakin tinggi.

Karbon Aktif Tempurung Kelapa (Coconut Shell)
Dalam tahap karbonisasi, tempurung kelapa dipanaskan tanpa udara dan tanpa penambahan zat kimia. Tujuan karbonisasi adalah untuk menghilangkan zat terbang. Proses karbonisasi dilakukan pada temperature 400-600 0C. Hasil karbonisasi adalah arang yang mempunyai kapasitas penyerapan rendah. Untuk mendapat karbon aktif dengan penyerapan yang tinggi maka harus dilakukan aktivasi terhadap arang hasil karbonisasi.

Proses aktivasi dilakukan dengan tujuan membuka dan menambah pori-pori pada karbon aktif. Bertambahnya jumlah pori-pori pada karbon aktif akan meningkatkan luas permukaan karbon aktif yang mengakibatkan kapasitas penyerapannya menjadi bertambah besar. Proses aktivasi dapat dilakukan dengan dua metode yaitu teknik aktivasi fisik dan teknik aktivasi kimia. Proses aktivasi fisik dilakukan dengan cara mengalirkan gas pengaktif melewati tumpukan arang tempurung kelapa hasil karbonisasi yang berada dalam suatu tungku. Aktivasi kimia dilakukan dengan menambahkan bahan baku dengan zat kimia tertentu pada saat karbonisasi.

Ada tiga jenis media filter karbon aktif yang terbuat dari tempurung kelapa yang banyak dipasaran yaitu:

Karbon aktif  bentuk serbuk
Karbon aktif berbentuk serbuk dengan ukuran lebih kecil dari 0,18 mm. Terutama digunakan dalam aplikasi fasa cair dan gas. Digunakan pada industri pengolahan air minum, industry farmasi, terutama untuk pemurnian monosodium glutamate, bahan tambahan makanan, penghilang warna asam furan, pengolahn pemurnian jus buah, penghalus gula, pemurnian asam sitrtat, asam tartarikk, pemurnian glukosa dan pengolahan zat pewarna kadar tinggi.

Karbon aktif  Bentuk Granular
Karbon aktif bentuk granular/tidak beraturan dengan ukuran 0,2 -5 mm. Jenis ini umumnya digunakan dalam aplikasi fasa cair dan gas. Beberapa aplikasi dari jenis ini digunakan untuk: pemurnian emas, pengolahan air, air limbah dan air tanah, pemurni pelarut dan penghilang bau busuk.

Karbon Aktif Bentuk Pellet
Karbon aktif berbentuk pellet dengan diameter 0,8-5 mm. Kegunaaan utamanya adalah untuk aplikasi fasa gas karena mempunyai tekanan rendah, kekuatan mekanik tinggi dan kadar abu rendah.Digunakan untuk pemurnian udara, control emisi, tromol otomotif, penghilangbau kotoran dan pengontrol emisi pada gas buang.

Sumber [Aneka Sumber]

Filter air membran keramik

Filter air membran keramik, filter air dapat menggunakan membran keramik sehingga air menjadi bersih, jernih dan tidak berbau lagi. Membran keramik merupakan tipe membran yang relative baru karena skala komersialnya baru  diperkenalkan pada pertengahan tahun 1980 an oleh Membralox USA. Membran jenis ini digunakan pada crossflow filtration untuk larutan yang mengandung konsentrasi partikel yang tinggi. Membran keramik berpori adalah membran dengan tipe asimetrik yang memiliki ketebalan support sekitar 1 – 3 mm. Lapisan mikrofiltrasi biasanya berukuran 10 – 30μm dan oksida yang umum digunakan untuk  membran adalah zirconia (ZrO2) dan alumina (Al2O3). Membran ultrafiltrasi tebalnya hanya beberapa mikrometer dan terbuat dari alumina, zirconia, titania (TiO2) dan cerium (CeO2). Membran nanofiltrasi ketebalannya kurang dari 1μm, umumnya terbuat dari zirconia dan titania. Support dan lapisan mikrofiltrasi dihasilkan dari teknik keramik klasik, dimana proses sol-gel digunakan untuk lapisan ultra dan nanofiltrasi. Membran filter air keramik kebanyakan dibuat dalam dua bentuk geometri utama : tubular dan flat. Membran keramik terutama yang berbasis Palladium telah lama digunakan pada mikrofiltrasi dan ultrafiltrasi karena sifatnya yang stabil terhadap pengaruh panas, bahan kimia dan solvent.

filter air membran keramik

Kelebihan membran keramik terletak pada stabilitas termalnya yang baik, tahan terhadap senyawa kimia, degradasi biologis ataupun mikroba. Sifat-sifat menunjukkan keunggulan bila dibandingkan dengan membran yang terbuat dari senyawa polimer, dan relatif mudah untuk dibersihkan dengan cleaning agent. Ketahanan terhadap zat kimia menyebabkan membran keramik banyak digunakan pada prosesing makanan, produk bioteknologi dan farmasi.

Kekurangan membran keramik terutama timbul dari proses preparasinya dimana sangat sulit mencapai kualitas produk akhir yang reproducible. Hal ini karena pada dasarnya sifat brittle dari membran keramik membuatnya lebih mahal daripada system membran polimer. Selain itu, harga system membran meningkat signifikan seiring dengan meningkatnya kebutuhan sifat-sifat produk, antara lain porositas, ukuran pori, reproducibility, dan reliability.

Pembuatan Membran Keramik
Umumnya, proses fabrikasi membran keramik berpori terdiri atas tiga tahapan yaitu 1)pembentukan suspensi partikel, 2) pembuatan suspensi partikel menjadi prekursor membran dengan bentuk tertentu seperti flat-sheet,monolith atau tubular dan (3)konsolidasi membran keramik dengan perlakuan panas pada suhu tinggi. Metode yang lazim dilakukan dalam pencetakan membran keramik adalah slip casting,tape casting, extrusion dan pressing. Proses pelapisan dilakukan dengan teknik dipcoating, sol-gel, Chemical Vapor Deposition (CVD) atau proses Evaporative Vapour Deposition(EVD). Diameter pori membran keramik untuk mikrofiltrasi dan ultrafiltrasi bervariasi dari 0,01 sampai 10 μm. Biasanya membrane membran untuk mikrofiltrasi dan ultrafiltrasi dibuat dengan cara slip coating-sintering. Cara lainnya yaitu metode sol-gel dapat digunakan untuk membuat membran keramik dengan ukuran pori dari 10 sampai 100 Ȧ. Pada proses slip coating-sintering membran keramik dibuat dengan cara menuangkan dispersi butir halus material keramik dan suatu binder dan mencetaknya dalam suatu mold dan selanjutnya disintering pada temperatur tinggi.

Performansi Proses Filtrasi Membran Keramik
Parameter yang mempengaruhi performan pada filtrasi adalah larutan umpan, membran dan kondisi filtrasi. Tiga fenomena utama sehubungan perpindahan solvent dan solut selama proses filtrasi membran adalah polarisasi, perpindahan massa internal dan fouling. Pengaruh tiga hal ini dengan mengubah parameter-parameter berikut : hidrodinamika, kinetika transfer massa dan kesetimbangan termodinamika. Perbedaan antara zat anorganik dan organik tradisional dihasilkan dari struktur dan sifat intristik material. Aliran dalam filter air membran keramik terjadi melalui ruang intergranular pada lapisan atas, sublapisan pori dan  support, sedangkan pada membran polimer terjadi melalui jaringan kontinyu pada bukaan. Adanya oksida logam menghasilkan  muatan listrik sehingga performance permukaan material keramik lebih kuat, selain tergantung pada pH dan kekuatan ionic  larutan dibandingkan material polimer.

Sifat-sifat Membran
Material dan struktur membran, terutama ukuran pori, karakteristik permukaan membran, dan struktur support (ketebalan,  porositas, pembasahan, potensial zeta,permukaan dan sifat kimia) mempengaruhi permeate fluks dan sifat retensi, demikian juga dengan kecenderungan terjadinya fouling. Membran keramik menunjukkan perilaku amfoter terhadap air sehingga muatan permukaan tergantung pada pH larutan. Terjadinya permukaan bermuatan dan yang netral disebabkan oleh formasi metal aquo complexes pada interface larutan oksida. Perilaku ini berdampak pada permeate fluks, kecenderungan fouling dan retensi. Pada beberapa kasus, sifat amfoter membran keramik dapat mengakibatkan preferential adsorption pada komponen tertentu, hal ini akan meningkatkan retensi. Umumnya membran keramik mempunyai struktur komposit yang dapat meningkatkan permeabilitas membran dengan ukuran pori kecil dengan menurunkan overall hydraulic resistence. Sifat membran lainnya yang cukup penting adalah geometri pori (tortuosity), ukuran pori, distribusi ukuran pori dan porositas. Peningkatan ukuran pori  mengakibatkan kenaikan permeabilitas, polarisasi, dan penyumbatan, juga penurunan retensi. Ukuran pori optimal tergantung pada sifat umpan dan kondisi filtrasi.

Kondisi Filtrasi
Parameter penting bagi kondisi filtrasi berupa tekanan, cross flow velocity, temperatur dan persentase recovery. Permeate fluks bertambah dengan pemakaian teknik-teknik backflow, feed pulsation, aliran dua fasa, rotasi filter element dll. Metode untuk mengurangi fouling antara lain adalah metode chemical cleaning, metode fisik seperti backflushing dan pemakaian turbulence promoters, dan metode hydrodynamic yang berhubungan dengan disain modul. Kecepatan aliran permeat tergantung pada tekanan transmembran yang dilakukan pada luas permukaan dengan kondisi yang seragam. Fluks air murni berbanding lurus dengan tekanan. Bila larutan umpan lebih kompleks dan mengandung zat-zat lain maka perilaku fluks juga akan lebih kompleks. Awalnya fluks meningkat sampai critical fluks tercapai, kemudian melambat hingga mencapai limiting fluks. Selain limiting fluks, kenaikan tekanan tidak berdampak positif bagai fluks. Sebaliknya, kenaikan tekanan dapat menurunkan fluks karena compactibility lapisan akibat terjadinya fouling. Kenaikan tekanan operasi dapat mengakibatkan meningkatnya polarisasi konsentrasi dan fouling yang pada akhirnya akan menurunkan fluks permeat. Pada mikro dan ultrafiltrasi umumnya disarankan cross flow velocity sebesar 2 – 8 m/s. Kenaikan velocity dapat mengakibatkan kenaikan fluks dan critical fluks. Umumnya membran dapat dibuat dari bermacam-macam material seperti keramik, kaca, atau logam. Membran keramik umumnya terbuat dari campuran senyawa-senyawa metal (logam) seperti Silika, Alumina dan Zirkonia. Secara fisik, membran keramik dapat berbentuk tube atau disk, bersifat porous sehingga operasi membran jenis ini kebanyakan adalah dead-end.

Sumber [eprints.unsri.ac.id]

Filter air rumah sakit dan farmasi

Filter air untuk rumah sakit, Filter air dibutuhkan dalam berbagai bidang diantaranya rumah sakit dan farmasi. Limbah yang dihasilkan rumah sakit dapat berupa limbah padat, cair, dan gas yang sebagian merupakan limbah klinis dan non-klinis sehingga berpotensi dalam penyebaran penyakit.

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 58 tahun 1995, sebagian limbah rumah sakit berkategori limbah cair yang berbahaya dan beracun sehingga salah satu sebab buruknya sanitasi di lingkungan rumah sakit. Dampak negatif lainnya akibat dari limbah rumah sakit yang belum ditangani dengan baik adalah gangguan kesehatan dan keselamatan kerja personil di rumah sakit. Ini disebabkan oleh komponen infection waste yang ditunjukkan oleh kandungan mikroba patogen, zat kimia atau radiasi dengan limbah sebagai media perantaranya.

filter air limbah rumah sakit farmasi

Untuk menangani air limbah rumah sakit diwajibkan oleh pemerintah menyediakan fasilitas IPAL sebelum air limbahnya dibuang. Oleh sebab itu, perlu dirancang Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang mampu mereduksi, menurunkan kadar pencemar untuk menjamin kelestarian fungsi ekosistem. IPAL ialah sistem pengolah yang mampu menurunkan kandungan air limbah yang berpotensi mencemari lingkungan sesuai parameter pemerintah. Tujuannya, mengurangi dampak buruk polutan di dalam air limbah dan mengendalikan pencemaran lingkungan.

Upaya pembuatan IPAL ini berlandaskan pada UU No. 20/1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air (pasal 17). Peraturan Menteri Kesehatan No.173/Menkes/Per/VIII/1997, tentang Pengawasan Pencemaran Air dari Badan Air untuk Berbagai Kegunaan yang Berhubungan dengan Kesehatan, Keputusan Direktur Jenderal PPM dan PLP No. HK.00.06.6.44 tentang Persyaratan & Petunjuk Teknis Tatacara Penyehatan Lingkungan. Undang-undang dan peraturan lainnya yang mewajibkan rumah sakit memiliki IPAL adalah UU No. 44/2009 tentang Rumah Sakit, Permenkes No. 147 tahun 2010 tentang Perizinan Rumah Sakit dan Kepmenkes No. 1204 tahun 2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.

Sumber Air Limbah Rumah Sakit
Air limbah rumah sakit adalah semua air limbah yang dihasilkan di dalam area rumah sakit, baik dari unit pelayanan medis, penunjang medis maupun dari unit nonmedis atau bagian umum. Berdasarkan sumbernya air limbah rumah sakit dapatlah dikelompokkan menjadi empat bagian.

1. Air limbah domestik. Air limbah ini berasal dari kamar mandi, dapur, air limbah cuci pakaian. Air limbah ini banyak mengandung zat organik.

2. Air limbah medis. Air limbah ini berasal dari kegiatan medis rumah sakit seperti pembersihan luka, sisa-sisa darah, dll. Ini pun kaya zat organik.

3. Air limbah laboratorium. Air limbah ini berasal dari laboratorium sehingga banyak berisi logam berat. Air limbah ini sebaiknya diolah terpisah dengan air limbah domestik dan medis. Air limbah laboratorium ini dapat ditampung untuk selanjutnya diproses secara khusus. Setelah itu barulah efluennya dialirkan bersama-sama dengan efluen air limbah lainnya.

4. Air limbah kedokteran nuklir. Jenis limbah ini termasuk Buangan Berbahaya dan Beracun (B3) sehingga perlu ditangani secara khusus.

Teknologi filter air pengolah limbah Rumah Sakit
Terdapat aneka teknologi yang bisa diterapkan untuk IPAL rumah sakit. Perbedaan jenis, jumlah, dan volume unit pengolah air limbah akan berpengaruh pada efisiensinya. Dalam hal filter air , jenis unit, jumlah, dan volumenya diberitahukan kepada klien atau pengguna pada tahap awal perencanaan.

Amazon Technology (Zontech) ialah teknologi pengolahan air limbah hibrid (hybrid) yang memadukan unit operasi fisika dan unit proses biologi (bio-fisika) dan proses kimia (bergantung pada kebutuhan lembaga, badan, perusahaan). Unit yang dibuat didasarkan pada kondisi air limbah masing-masing yang dipengaruhi oleh jenis kegiatan lembaga atau perusahaan (pabrik makanan, minuman, domestic wastewater, rumah sakit, hotel, atau perkantoran).

Anaerobic Filter (AF)
Anaerobic Filter, Fixed Bed atau biofilter ialah reaktor bermedia (batu, plastik, kayu, bambu, dll) untuk perlekatan bakteri. Media dipasang secara random dengan tiga mode operasi: upflow, downflow, fluidized bed. AF banyak diterapkan untuk mengolah air limbah ber-COD tinggi. Reaktor highrate ini telah luas diaplikasikan untuk mengolah air limbah berbagai jenis. Kunci suksesnya, reaktor ini mampu menghasilkan swahenti, yaitu pembatasan gerak bakteri pada suatu ruang dalam bentuk biofilm dan/atau biogranule (biobutir). Pada reaktor AF ini, swahenti bakteri dapat menghasilkan umur lumpur yang tinggi, prosesnya stabil, mampu menangani perubahan debit dan kualitas air limbah, mampu pulih (recovery) setelah lama tidak beroperasi, misalnya setelah enam bulan reaktor berhenti operasi atau dormancy, ia mampu pulih hanya dalam tempo 1 – 2 pekan. Biomassanya pun mampu bertahan aktif setelah shutdown dengan syarat masih ada sisa airnya (tetap terendam).

Upflow Anaerobic Sludge Blanket (UASB)
Reaktor UASB diperkenalkan oleh Gatze Lettinga, pakar proses anaerob di Universitas Wageningen, Belanda pada 1970-an. Mulai saat itu proses ini banyak diterapkan untuk mengolah air limbah karena mampu membentuk sludge yang berat dan aktif hingga konsentrasi 100.000 mg/l di zone bawah reaktor dengan mekanisme retensi dan separasi. Secara konsep, UASB serupa dengan reaktor highrate yang lain, yakni mampu menahan biomassa secara swahenti (self immobilization) dengan cara membentuk agregat atau konglomerat atau aglomerat yang tersusun oleh konsorsium bakteri. Dampak retensi (penahanan) swahenti ini, selain menambah aktivitas metanogeniknya juga menambah kecepatan endapnya sehingga waktu tinggal selnya melebihi waktu tinggal hidrolisnya.

Reaktor Hibrid Anaerob (RHA)
Hibrid ialah reaktor bastar, yakni satu reaktor dicangkokkan pada reaktor lain. Dengan demikian, variasinya menjadi sangat banyak. Adapun hibrid di sini ialah bastar antara reaktor AF dan UASB. Inilah konfigurasi reaktor yang dikembangkan untuk antisipasi biomassa yang sulit mengendap seperti fluffy & loose flocc. Pada RHA ini biomassanya terakumulasi di bagian bawah reaktor UASB & AF. Pada saatnya, akumulasi sludge bisa berlebih sehingga perlu dipompa dan dikeringkan di Sludge Drying Bed.

RHA menawarkan penggabungan kelebihan atau keuntungan UASB dan AF dan berhasil mengolah limbah yang soluble maupun sebagian insoluble daripada reaktor jenis lain. Sejumlah kelebihannya adalah KPO yang lebih besar daripada yang mampu diterima AF, biobutir lebih mudah dikultivasi (ditanam dan dikelola) daripada UASB dan start up-nya lebih singkat daripada fluidized bed. Sedangkan untuk medianya, yang terbaik ialah yang punya kapasitas pelekatan tinggi (high biomass attachment capacity) seperti porus dan rasio luas per volumenya tinggi. Selain itu dapat menerapkan bioproses aerob yang memerlukan aerator dan unit operasi fisika seperti equalizing dan sedimentation. Unit yang dipilih didasarkan atas kualitas fisika air limbah dan diterapkan sesuai dengan kebutuhan. Adapun Filter air untuk mengolah air limbah secara kimia dengan menerapkan unit koagulasi, flokulasi, netralisasi, disinfeksi, dll.

Tenkologi filter air pengolah limbah diatas merupakan beberapa teknik yang dapat digunakan untuk rumah sakit dan farmasi 🙂

Sumber [Aneka Sumber]

Pengolahan air minum Ozonisasi

Pengolahan air minum Ozonisasi, pengolahan air minum menggunakan filter air ozonisasi salah satu teknologi dalam mengolah air minum. Air adalah sumber kehidupan. Kita tak bisa membayangkan jika sehari saja kita hidup tanpa air. Tentu saja tubuh kita akan kekurangan cairan (dehidrasi), tanaman akan mati, hewan-hewan juga kehausan, baju-baju kotor juga tidak bisa kita cuci, dan masih banyak lagi kerugian-kerugian lain bagi manusia jika tidak ada air. Kebutuhan akan pentingnya air tidak diimbangi dengan kesadaran untuk melestarikan air, sehingga banyak sumber air yang tercemar oleh perbuatan manusia itu sendiri. Ketidak bertanggung jawaban mereka membuat air menjadi kotor,

Oleh karena itu, diperlukan pengolahan air terbaik dan tepat sehingga air menjadi layak digunakan untuk aktivitas sehari-hari seperti minum, mencuci, memasak, mandi , dll

pengolah air minum ozon

Berikut ini adalah Tahap Proses Pengolahan air minum dengan Ozonisasi:
Tahapan proses pengolahan terdiri dari beberapa tahap yaitu:
a. Netralisasi
b. Aerasi
c. Koagulasi
d. Pengendapan
e. Penyaringan
f. Ozonisasi

  1. NetralisasiYang dimaksud dengan netralisasi adalah mengatur keasaman air agar menjadi netral (pH 7-8). Untuk air yang bersifat asam diberi kapur. Fungsi kapur disamping untuk menetralkan air baku yang bersifat asam juga untuk membantu efektifitas proses selanjutnya. AerasiYang dimaksud dengan aerasi yaitu mengontakkan udara dengan air baku agar kandungan zat besi dan mangan yang ada dalam air baku bereaksi dengan oksigen yang ada dalam udara membentuk senyawa besi dan senyawa mangan yang dapat diendapkan. Disamping itu proses aerasi juga berfungsi untuk menghilangkan gas-gas beracun yang tak diinginkan misalnya gas H2S, CH4, CO2 dan gas-gas racun lainnya.c. Koagulasi

    Koagulasi adalah proses penambahan bahan kimia ke dalam air agar kotoran dalam air yang berupa padatan tersuspensi rnisalnya zat warna organik, lumpur halus, bakteri dan lain-lain dapat menggumpal dan cepat rnengendap. Pada proses koagulasi ini digunakan tawas. Cara penambahan tawas dapat dilakukan sebagai berikut yaitu sejumlah tawas dilarutkan dalam air kemudian dirnasukkan ke dalam air baku lalu diaduk dengan cepat hingga merata selama kurang lebih 2 rnenit. Setelah itu kecepatan pengadukkan dikurangi sedemikian rupa sehingga terbentuk gurnpalan-gunipalan kotoran akibat bergabungnya kotoran tersuspensi yang ada dalam air baku. Setelah itu dibiarkan beberapa saat sehingga gumpalan kotoran atau disebut flok tumbuh menjadi besar dan berat dan cepat mengendap.

    d. Pengendapan

    Setelah proses koagulasi air tersebut didiamkan sampai gumpalan kotoran yang terjadi mengendap semua (+45-60 menit). Setelah kotoran mengendap air akan tarnpak lebih jernih. Endapan yang terkumpul di dasar tangki dapat dibersihkan dengan membuka kran penguras yang terdapat di bawah tangki.

    e. Penyaringan

    Pada proses pengendapan, tidak semua gumpalan kotoran dapat diendapkan secara sempurna. Gumpalan kotoran dengan ukuran yang besar dan berat akan mengendap, sedangkan gumpalan berukuran kecil dan ringan masih melayang-layang dalam air. Untuk mendapatkan air yang betul-betul jernih harus dilakukan pengolahan air tahap proses penyaringan menggunakan filter air. Penyaringan dilakukan dengan mengalirkan air yang kotorannya telah diendapkan ke bak penyaring yang berisikan saringan pasir.

    f. Ozonisasi

    Tahap terakhir adalah proses ozonisasi. Air hasil penyaringan yang telah cukup jernih diozonisasi untuk menghilangkan bakteri-bakteri patogen dan senyawa-senyawa organik sehingga air hasil pengolahan dapat langsung dikonsumsi. Air yang jernih yang telah malalui tahap ozonisasi, maksudnya untuk membasmi mikroorganisme dan bakteri-bakteri yang ada pada air agar air itu steril. Air dibiarkan pada bak penampung kira-kira 24 jam agar sterilisasi terjadi dengan sempurna.

    Keuntungan dan Kelemaha pengolahan air Ozonisasi
    Kegunaan dalam teknologi ozonisasi adalah dapat menghilangkan polutan mikroorganisme dan polutan zat organik sekaligus karena hal ini tidak terlepas dari sifat ozon yang dikenal memiliki sifat radikal (mudah bereaksi dengan senyawa disekitarnya) serta memiliki potential oksidasi 2.07 V. Ozon dengan kemampuan oksidasinya dapat membunuh berbagai macam microorganisma seperti bakteri Escherichia coli, Salmonella enteriditis, serta berbagai bakteri pathogen lainnya. Selain itu, ozon juga dapat menguraikan berbagai macam senyawa organik beracun yang terkandung dalam air, seperti benzen, atrazin, dioxin dan berbagai zat pewarna organik. Keunggulan lainnya penggunaan ozon adalah pipa, peralatan, dan kemasan akan ikut disanitasi sehingga produk yang dihasilkan akan lebih terjamin selama tidak ada kebocoran di kemasan. Ozon merupakan bahan sanitasi air yang efektif disamping sangat aman.

    Namun metode pengolahan air ozonisasi memiliki kelemahan diantaranya ozon dapat meracuni manusia bahkan bisa sampai membawa pada kematian apabila terhirup dengan konsentrasi 50 ppm selama kurang lebih 1 jam. Batas kadar konsentrasi penggunaan gas ozon dalam berbagai kegiatan industri adalah 0.1 ppm, sedangkan kadar ozon dalam air hingga 0.05 ppm tidak membahayakan tubuh manusia. Ozon, species aktif yang mempunyai sifat radikal ini, memerlukan perhatian khusus dalam penyimpanannya. Kadar 100 persen ozon pada suhu kamar mudah sekali meledak. Ozon akan aman disimpan pada suhu di bawah -1830C dengan kadar ozon dalam campuran ozon dan oksigen dibawah 30 persen. Sekarang ozon kebanyakan disimpan dalam bentuk ozonized-water atau ozonized ice.

Sumber [Aneka Sumber]

Filter air laundry dan binatu

Filter air laundry dan binatu, Filter air merupakan hal penting untuk bisnis laundry karena bisnis ini memerlukan kualitas air yang baik. Air buangan deterjen/laundry dapat menimbulkan permasalahan serius karena produk deterjen dan bahan-bahan ingredientnya dapat menyebabkan toxic bagi kehidupan dalam air.

Deterjen mengandung sekitar 25 macam bahan (ingredient) yang dapat dikelompokan sebagai 1) surfaktan, 2) builder, 3) bleaching agents dan 4) additives.

Air buangan sisa deterjen yang dihasilkan dalam volume besar sangat berbahaya untuk kelestarian sungai dan tanah. Surfaktan anionik dan nonionik merupakan komponen utama dalam deterjen.

 Karena sifatnya yang kompleks, air limbah deterjen/laundry sangat sukar untuk diolah. Metoda yang dapat diterapkan untuk mereduksi surfaktan mencakup proses-proses kimia dan oksidasi elektrokimia, teknologi membran,presipitasi secara kimia, degradasi fotokatalitik, adsorbsi dan berbagai metoda biologis yang tidak begitu efektif karena proses yang berlangsung lambat. Untuk melindungi lingkungan terhadap pengaruh air limbah khususnya deterjen/laundry maka perlu dicari metode pengolahan yang efisien.

filter air untuk laundry pakaian

Air merupakan komponen vital dalam operasi suatu industri laundry (binatu). Kebutuhan air untuk industri laundry rata-rata 15 L untuk memproses 1 kg pakaian dan menghasilkan 400 m3 limbah cair per hari. Pengolahan limbah cair hasil industri laundry sering menghadapi berbagai kesulitan diantaranya tingginya konsentrasi surfaktan, tingginya kadar zat organik dan anorganik.

Kebanyakan sistem yang digunakan pada proses pengolahan air limbah industri laundry merupakan metoda konvensional seperti presipitasi/koagulasi dan dan flokulasi, sedimentasi dan filtrasi atau kombinasi dari proses-proses tersebut. Koagulasi dan flokulasi biasanya ditambahkan untuk membentuk formasi dari partikel besar yang teraglomerasi. Sistem ini tidak efektif untuk menghilangkan warna dari efluent (sisa deterjen) dari proses laundry. Adsorbsi menggunakan karbon aktif granular setelah proses flokulasi dapat meningkatkan proses pengolahan karena luas permukaan karbon aktif yang besar dapat menyerap komponen-komponen yang ada dalam air limbah. Namun demikian untuk menghilangkan warna sangat tergantung dari jenis zat warna yang digunakan.

Sampai saat ini air buangan sisa deterjen yang termasuk limbah domestik masih merupakan masalah bagi lingkungan. Hal ini disebabkan karena meningkatnya penggunaan deterjen yang lebih memudahkan dalam proses pencucian dibandingkan dengan sabun. Dibandingkan dengan sabun yang di dalam air akan membentuk garam-garam kalsium dan magnesium yang dapat didegradasi secara biologis, deterjen yang merupakan kombinasi beberapa persenyawaan akan meninggalkan bermacam-macam zat kimia yang dapat berbahaya bagi lingkungan karena sukar diuraikan oleh mikroorganisme dalam air. Salah satu senyawa kimia yang berbahaya dalam air adalah Linear Alkylbenzene Sulphonate (LAS). LAS adalah senyawa aquatic toxicity. Kadar LAS dalam air berturut turut sebesar 1,67, 1,62, dan 29,0 mg/L dapat mematikan ikan, daphnia magna, dan algae.

Permasalahan yang ada dalam pengolahan air limbah deterjen khususnya hasil proses laundry adalah belum adanya sistem pengolahan yang efektif dan efisien secara teknis maupun ekonomis. Metode filter air laundry yang selama ini adalah koagulasi dan flokulasi yang membutuhkan banyak zat kimia dan metoda biologi yang menghasilkan sludge yang menjadi problem tersendiri bagi lingkungan.

Pengolahan limbah cair menggunakan membran merupakan suatu upaya yang banyak dilakukan akhir-akhir ini dan telah menjadi fokus perhatian para ahli dalam dekade terakhir. Kebanyakan penelitian yang ada menggunakan membran yang terbuat dari composit polimer. Membran yang digunakan biasanya adalah jenis Mikrofiltrasi/Ultrafiltrasi dengan pertimbangan bahwa material ini banyak terdapat di Indonesia sehingga kemungkinan aplikasi komersialnya akan lebih luas. Sebagaimana diketahui membran keramik tidak saja dapat digunakan untuk pemisahan padat- cair, cair-cair namun dapat digunakan pada pervaporasi gas-gas.

Berbagai studi yang dilakukan beberapa peneliti sebelumnya memperlihatkan bahwa limbah sekunder dari industri mempunyai prospek yang cukup baik sebagai sumber air di masa depan. Limbah sekunder sekunder yang telah diolah terbukti dapat digunakan sebagai non-potable water seperti untuk umpan sistem cooling tower. Kombinasi antara MF, UF dan RO juga dapat menghasilkan air dengan kualitas tinggi yang dapat digunakan pada industri elektronika. Eksperimen pengolahan limbah cair dari industri tekstil yang dilakukan oleh Sojka-Ledakowicz et al menggunakan dua jenis membran (RO dan NF) menunjukkan bahwa RO mampu mereduksi chemical oxygen demand (COD) sampai 99.7%. Didapatkan juga persentase rejeksi dari zat warna hasil pengolahan dengan NF dan RO berturut-turut sebesar 99,4 dan 100%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja RO lebih baik dari MF. Namun demikian, MF lebih efektif dari RO dalam menurunkan intensitas warna dari limbah tekstil.

Pada studi yang lain, menunjukkan bahwa limbah cair dengan salinitas yang rendah merupakan sumber air dengan kualitas baik. Untuk membran RO menggunakan membran jenis spiral wound dan dioperasikan pada tekanan 9 bar didapatkan bahwa persentase rejeksi garam antara 98.5-99% pada water recovery percentage 17-21% (untuk tiga modul membran jenis spiral wound dalam sebuah vessel). Permeat yang dihasilkan mempunyai kualitas yang sangat baik untuk non-potable water serta bebas virus dan bakteri.

Hasil analisis menyimpulkan bahwa limbah cair dapat dimanfaatkan sebagai sumber non-potable water dengan unit cost yang terjangkau menunjukkan bahwa RO juga mempunyai kemampuan untuk menurunkan konsentrasi polutan dari limbah cair industri. Empat jenis membran (HR95PP, SEPA-MS05, DESAL-3B dan DESAL-3LP) digunakan dalam untuk pengolahan limbah cair sintetis yang mengandung ammonium sulfat, sianida dan acrylonitrile.

Semua membrane menunjukkan kinerja yang sangat baik dengan kemampuan mereduksi ion ion sulfat besar dari 99%. Suatu hal yang cukup menarik untuk spesies non-ion seperti acrylnitril persentase rejeksi hanya antara 10.5 dan 28.8 %. Ini utamanya disebabkan oleh karakteristik RO yang tidak dapat menghilangkan zat organik dengan berat molekul rendah. Untuk itu disarankan untuk mengoksidasi akrilonirile menjadi ion lain terlebih dahulu.

Selain itu, ammonium dan sianida tidak dapat dieliminasi pada single step operation dan persentase rejeksi ion tergantung pada pH umpan. Pada eksperimen dengan limbah cair hasil penyamakan menggunakan system RO dengan kapasitas 20,000 L/hari, menunjukkan bahwa rejeksi TDS lebih besar dari 98% dengan Persentase Pemulihan Air Maksimum (maximum water recovery percentage) sebesar 78% dapat dicapai pada studi mereka. Diduga bahwa rendahnya persentase pemulihan air ini lebih disebabkan oleh pori membran yang tersumbat oleh endapan kalsium dan magnesium, scales, senyawa kompleks anorganik, dan keberadaan zat warna dan tannin dalam contoh limbah cair yang digunakan. Limbah cair pada industri baja menggunakan membran RO dan NF menunjukkan bahwa pada tekanan 2000 kPa dan suhu 25 oC, persentase pemulihan air hampir mencapai 100% dan untuk NF hanya 40%. Didapatkan juga bahwa flukspermeat untuk membran NF adalah sekitar dua kali lebih besar dari RO.

Sumber [eprints.unsri.ac.id]

Filter air hitam dan bau

filter air hitam dan bau, filter air mampu mengolah air limbah yang hitam menjadi bersih kembali dan layak untuk digunakan. Penyediaan air bersih sangat penting diperhatikan, karena kondisi tersedia atau tidaknya air bersih di suatu daerah akan menentukan dari kelancaran operasi sistem pengolahan air limbah. Yang mana, untuk sistem  pembuangan terpusat itu memerlukan penyediaan air bersih yang relatif lebih terjamin dibandingkan dengan sistem pembuangan setempat.

Air biasanya dipisahkan menjadi dua kategori. Jenis pertama dari air, yang dikenal sebagai blackwater adalah air dari toilet yang mengandung kotoran atau urin. Materi dalam air ini harus diurai. Tipe kedua air, yang dikenal sebagai greywater, berasal dari proses mencuci yang membutuhkan air, seperti kamar mandi, wastafel dan mesin cuci. Setelah penngolahan, greywater kadang-kadang dapat digunakan kembali untuk menyiram toilet atau menyiram tanaman.

filter air hitam dan bau limbah industri

Air limbah pada umumnya akan melalui tiga proses di sebuah pabrik pengolahan. yang pertama disebut pengolahan primer. Selama ini, air limbah diadakan di penampung diam dan dipisahkan. Padatan secara bertahap mengendap ke bawah, sementara minyak dan gemuk mengapung ke atas. Unsur-unsur dipisahkan kemudian dihapus, dan air tersebut akan dipindahkan ke proses kedua.

Dalam proses selanjutnya, yang dikenal sebagai pengolahan sekunder, materi biologis yang baik dilarutkan ke dalam atau sedang tersuspensi dalam air akan dihapus. Hal ini biasanya dilakukan dengan menggunakan air borne mikro organisme yang dipelihara dan terkontrol. Kadang-kadang, suatu proses pemisahan sekali lagi diperlukan untuk menghilangkan mikro-organisme sebelum proses ketiga dan terakhir.

Dalam proses terakhir, yang dikenal sebagai pengolahan tersier, air dipersiapkan untuk masuk kembali ke sistem. Hal ini dapat dilakukan dengan disinfektan air baik kimia atau fisik. Setelah langkah ini, air biasanya aman untuk dibuang ke sungai atau waduk, atau dapat digunakan untuk keperluan lain, seperti irigasi untuk lapangan golf atau lahan pertanian. Dalam beberapa kasus, air yang cukup bersih dapat diperkenalkan kembali untuk resapan air tanah.

Tentu saja, ada banyak langkah yang terlibat dalam setiap tahap pengolahan air untuk benar menyaring air untuk reintroduksi ke dalam sistem. Instalasi pengolahan air limbah merupakan bagian penting dari sistem penjernihan air , dan tanpa mereka kita akan dihadapkan dengan kemungkinan pencemaran air yang dapat berbahaya atau bahkan fatal bagi ratusan ribu, bahkan jutaan orang. Instalasi filter air pengolahan limbah membantu menjaga bumi kita.

Metode untuk mengolah limbah cair berbeda dalam banyak cara untuk memastikan bahwa air bersih dan aman bagi Anda untuk digunakan kembali lagi dan lagi.

WATER TREATMENT (Pengolahan air) merupakan suatu proses yang digunakan untuk membuat sumber air baku atau air limbah menjadi air yang dapat diterima bagi pengguna akhir sesuai dengan standar  yang dibutuhkan (diinginkan). termasuk air bersih, air minum, air untuk proses industri, air pengobatan dan air untuk keperluan lainnya.

Tujuan dari semua proses pengolahan air yang ada adalah menghilangkan Kontaminan dalam air, atau mengurangi konsentrasi kontaminan tersebut sehingga menjadi air yang diinginkan sesuai kebutuhan (pengguna akhir) tanpa merugikan dampak ekologis.

Filter Air Hitam Bekas Limbah Industri

metode untuk mengolah limbah cair yang dikenal sebagai filtrasi, mengeluarkan partikel dalam air limbah dengan mngolah partikel dan menyaring aliran air yang tersisa melalui membran. Filter menyaring air dan partikel menyebabkan mereka terpisah dari satu sama lain. Lebih dari satu jenis filter yang tersedia untuk metode filtrasi. Filter sederhana yang menyerupai jaring halus juga digunakan untuk partikel yang lebih kecil di dalam air. Untuk partikel berukuran mikro, sistem yang canggih untuk menyaring diperlukan.

Filter air masing-masing memiliki fungsi dan perawatan sendiri. Setelah filter air telah digunakan untuk jangka waktu dan partikel dikumpulkan ke dalam filter, air akan mulai mengalir melalui itu perlahan-lahan sehingga media / membrane pada filter air tersebut harus dibersihkan atau diganti . Untuk menghilangkan partikel menempel pada alat penyaring air, maka akan perlu dicuci dengan metode yang disebut backwashing. Mengambil filter dan membalik dalam ke luar dan air mengalir melalui itu akan memisahkan partikel dari filter. Jika metode ini tidak membantu aliran air melalui filter, penggantian filter diperlukan.

Teknik Aerasi Air Limbah
Industri menggunakan metode aerasi mengolah limbah cair lebih dari skala perumahan . Aerasi sederhana berarti bahwa udara dibawa ke air. Air menjadi oksigen oleh udara. Proses ini digunakan untuk menyingkirkan bau busuk mengaktifkan bahan kimia. Bahan kimia ini bisa menjadi amonia atau hidrogen sulfida. Ada banyak cara yang berbeda untuk mengoksidasikan air.

Aerasi menyebar selesai dengan membuat gelembung dalam air sambil aerasi dengan semprotan selesai dengan menyemprotkan air di udara. Aerasi diulang dilakukan dengan membiarkan air melalui saluran banyak sebelum diperbolehkan untuk campuran di udara. Pada aerasi biasanya akan ada tahap membuat air terjun kecil yang memungkinkan air untuk mengalir melalui banyak lapisan. Jenis terakhir dari aerasi. Ini pemisahan campuran beberapa aerasi dan aerasi cascade bersama-sama.

Membuat Lahan Basah Pada Lokasi Air Limbah

Ada banyak kota dan kota besar di berbagai negara di dunia yang memanfaatkan metode lahan basah saat mengolah limbah cair mereka. Rawa sebagian besar digunakan sebagai metode untuk mengolah limbah cair karena telah terbukti menjadi yang terbaik bagi lingkungan dan membantu untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Perlakuan air limbah dapat menjadi lahan basah alami atau lahan basah buatan manusia. Rawa ini memberikan filter dengan membiarkan tanaman air dan batuan untuk memisahkan limbah padat dari air. Metode lahan basah juga menghilangkan bau dengan menggunakan metode biologis menghilangkan bakteri dan molekul bau yang dipecah.

Industri besar menyediakan filter air pengolahan air limbah cara mereka sendiri untuk mengolah air limbah sebelum mereka memungkinkan untuk mengalir ke sumber-sumber air.

KERUGIAN YANG DITIMBULKAN OLEH AIR YANG TERCEMAR :

1.Zat besi / mangan menyebabkan air berbau karat dan bewarna , Baju berwarna kuning dan menyebabkan kerusakan hati bila dikonsumsi terus menerus .
2.Zat organik menyebabkan bau dan rasa tidak enak dan menyebabkan sakit perut bila dikonsumsi.
3.Zat kapur menyebabkan bercak putih atau kerak pada peralatan memasak , mobil atau pipa dan menyebabkan resiko batu ginjal.
4.PH rendah menyebabkan karat dan mengubah senyawa kimia tertentu menjadi racun berbahaya.
5.Kaporit tinggi Menyababkan rasa yang tidak enak , menyebabkan kulit cepat kering dan menyebabkan karat atau korosi pada logam.
6.Nitrit menyebabkan terbentuknya methaemoglobine yang menghambat berjalannya oksigen dalam darah.

Sumber [Aneka Sumber]

Pages:« Prev123456789101112Next »