You are here: Filter Penjernih Air keluarga sehat»Air Minum,air tanah,Filter Air,Media Filter,Penjernih Air»Air Tanah Jakarta 45% masih tercemar bakteri E-coli

Air Tanah Jakarta 45% masih tercemar bakteri E-coli

Air Tanah Jakarta 45% masih tercemar bakteri E-coli, Air tanah masih jadi pilihan utama masyarakat Indonesia untuk mememuhi kebutuhan sehari-harinya di rumah. Untuk memastikan apakah air tanah yang digunakan masih layak pakai, masyarakat diingatkan agar tidak lupa menguji kualitas airnya.

Kenapa air tanah harus diuji kualitasnya?
pengolahan air tanah
Karena penggunaan air dalam kehidupan manusia harus bebas dari bahan pencemar dan polutan. Ada banyak indikator yang menunjukkan tingkat pencemaran air dan faktor ini kadang hanya bisa diketahui melalui pengujian di laboratorium.

Selain itu, tidak semua daerah memiliki kualitas air yang baik, padahal salah satu kegunaan air adalah untuk diminum karenanya kebersihan air akan mempengaruhi kesehatan seseorang.

Dimana tempat menguji kualitas air?

“Ada banyak laboratorium yang bisa melakukan hal itu,” ujar ketua Departemen Kesehatan Lingkungan FKM UI, Dr R Budi Haryanto, SKM, MKes, MSc

Dr .Budi menuturkan masyarakat bisa membawa air tanah di lingkungan rumahnya antara lain ke:

  • Laboratorium dinas kesehatan tiap provinsi
  • Laboratorium FMIPA bagian kimia
  • Laboratorium FKM (fakultas kesehatan masyarakat)
  • Laboratorium teknik bagian lingkungan
  • Atau kalau di swasta juga ada seperti di laboratorium Sucofindo.

Apa saja kualitas air tanah yang diuji?

Parameter yang diperiksa untuk mengetahui kualitas air tanah biasanya terdiri dari parameter biologis, kimiawi dan juga fisiknya.

Untuk parameter biologis yang diperiksa adalah kandungan bakteri E.coli sebagai indikator biologis. Jika di dalam air tanah tersebut terdapat bakteri E.coli maka virus, bakteri, parasit dan amuba lainnya bisa saja ada di dalam air tersebut. Tapi jika tidak ada bakteri E.coli kemungkinan virus, bakteri atau parasit yang ada di sana merupakan kuman yang non-patogen atau tidak berbahaya.

Untuk parameter kimiawi yang diperiksa adalah senyawa-senyawa kimia yang seharusnya memang tidak boleh ada di dalam air, misalnya mangan, merkuri atau timbal. Sedangkan untuk parameter fisiknya yang diperiksa adalah kekeruhan, pH dan warna dari air tanah tersebut.

“Persyaratan dari Kementerian Kesehatan adalah air yang dikonsumsi harus terbebas dari pencemar biologis, kimia dan fisik. Masyarakat bisa mengetes ketiganya dilaboratorium dan satu paket harganya mungkin sekitar 100 ribu,” ungkapnya.

Apa ciri-ciri air tanah yang tercemar ?

Air yang tercemar kadang tidak terlihat terutama jika pencemarnya adalah biologis. Sedangkan untuk pencemar kimia atau fisik terkadang bisa terlihat dari warna air yang keruh, berbau, berasa atau berwarna kekuning-kuningan.

“Kalau ada tanda-tanda seperti itu penting untuk memeriksakan semua faktor parameternya baik biologis, kimia dan fisiknya,” ujar Dr Budi.

Apakah jika saya membeli Air Isi Ulang itu baik ?
Membeli air yang bisa langsung diminum di depot isi ulang air minum makin diminati masyarakat. Tapi sebaiknya, air yang dibeli dari depot dimasak lagi sebelum diminum.

Meski depot air isi ulang tersebut mendaur air bersih dengan standar yang ada menggunakan alat penyaring air seperti ultraviolet atau bahan lainnya, namun belum jaminan bakteri-bakteri terutama E.coli akan hilang.

“Rata-rata 50 persen air isi ulang tersebut mengandung bakteri E.coli, karenanya masyarakat disarankan untuk memasaknya kembali sebelum diminum,” ujar Dr R Budi Haryanto, SKM, MKes, MSc dalam acara Teknologi Pemurni Air Siap Minum Terlindung dari Kuman berbahaya Penyebab Penyakit di Planet Hollywood, Jakarta

Dr.Budi menuturkan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa FKM UI tahun 2009 di daerah Cimanggis, Jawa Barat diketahui bahwa air minum isi ulang mengandung bakteri E.coli dan berhubungan dengan diare pada bayi yang mengonsumsinya.

“Risiko bayi terkena diare 3 kali lebih tinggi pada bayi yang mengonsumsi air isi ulang dibandingkan dengan bayi yang tidak mengonsumsi. Hal ini karena biasanya air tersebut langsung diminum,” ujar dosen FKM UI.

Diare menduduki peringkat kedua sebagai penyebab kematian balita dan balita yang minum air tercemar akan memiliki risiko lebih tinggi. Fenomena ini menunjukkan pentingnya metode pengolahan air tanah yang efektif dan efisien, sehingga air yang dikonsumsi bisa terbebas dari mikroorganisme berbahaya.

Budi menuturkan proses yang digunakan oleh depot isi ulang tersebut sebenarnya sudah benar, dan penyaring yang digunakan seperti ultraviolet memang bisa digunakan menyaring bakteri atau senyawa kimia yang terdapat di dalam air .

“Tapi permasalahannya adalah siapa yang bisa menjamin bahwa penyaring tersebut diganti secara teratur, karena biasanya yang menjaga depot bukanlah sang pemilik yang sudah mendapatkan training tapi orang lain. Untuk itu pengawasannya harus diperketat,” ungkap dosen yang lahir di Malang 51 tahun silam.

Jika masyarakat masih mengonsumsi air isi ulang yang berasal dari depot-depot, maka sebaiknya air tersebut dimasak kembali atau dilewatkan pada dispenser yang air panas untuk mengurangi kontaminasi bakteri.

Bagaimana jika air yang dikonsumsi sudah tercemar apa solusi terbaiknya ?

Dr Budi mengungkapkan saat ini banyak di kota-kota besar seperti jakarta, tangerang, bogor, bandung, Surabaya , semarang dijual alat penjernih air , filter air, pengolah air tanah yang biasanya sudah mengandung penyaring air, karbon aktif dan media filter air lainnya untuk menangkap senyawa-senyawa kimia dan juga menghilangkan bakteri.

“Masyarakat harus pintar-pintar memilih alat penjernih air yang digunakan untuk penyaringan air, serta mengganti media filter secara teratur. Sedangkan memasak air yang mendidih hanya bisa menghilangkan pencemar biologis saja, kalau senyawa-senyawa kimia air tidak hilang,” ungkapnya.

Sumber [health.detik.com]

Related posts

Leave your comment

Your Name: (required)

E-Mail: (required)

Website: (not required)

Message: (required)

Send comment