You are here: Filter Penjernih Air keluarga sehat»Air Bersih,Air Minum»Air bersih masih menjadi PR Pemerintah Indonesia

Air bersih masih menjadi PR Pemerintah Indonesia

Air bersih masih menjadi PR Pemerintah Indonesia, sanitasi dan air bersih merupakan dua hal yang saling berkaitan, jika penyediaan sanitasi dan air bersih sudah baik maka kesejahteraan rakyat Indonesia juga akan semakin meningkat.

Maka dari itu, pemerintah berkomitmen akan terus memperbaiki kualitas sanitasi dan air bersih sampai 2019 dengan total anggaran yang diperkirakan mencapai Rp 660 triliun.air bersih

Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) Dedy Priatna menjelaskan hingga saat ini kondisi sanitasi dan air bersih di Indonesia masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Vietnam dan Myanmar.

Menurut dia dalam program Millenium Development Goals (MDG) 2015, target yang harus dicapai pemerintah untuk sanitasi dan air bersih yang layak adalah sebesar 62,41 persen, dari fakta yang ada baru 57,35 persen penduduk yang mendapatkan akses terhadap sanitasi dan air bersih yang layak.

Dia mengatakan kondisi air bersih dan sanitasi yang buruk secara tidak langsung merugikan negara sebesar Rp 56 triliun atau setara dengan 2,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dedy mengatakan pemerintah bertekad akan meningkatkan anggaran untuk sanitasi dan air bersih ataupun air minum setiap tahunnya, anggaran ini akan digunakan untuk berbagai macam program yang telah dirancang seperti Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP), Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM).

“ Tantangan ke depannya adalah bagaimana anggaran untuk sanitasi dan air bersih ini juga lebih diprioritaskan di samping anggaran untuk pendidikan dan infrastruktur, jika anggaran untuk sanitasi dan air bersih naik maka insyallah target MDGs bisa dicapai,” ujar beliau ketika ditemui dalam acara “ Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (29/10).

Dedy mengatakan komitmen pemerintah yang akan mengalokasikan dana sebesar Rp 660 triliun untuk sanitasi dan air bersih sampai 2019 cukup banyak mendapatkan dukungan terutama dari pemerintah daerah dan pihak swasta. Menurut dia sumber pendanaan untuk sanitasi dan air bersih berasal dari anggaran pemerintah pusat dan daerah sebesar 20 persen, sisanya dukungan dari pihak swasta berupa Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan dan BUMN.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan kualitas sanitasi dan air bersih sangat erat kaitannya dengan kesejahteraan rakyat. Dia menjelaskan jika sanitasi dan air minum ataupun air bersih sudah terpenuhi maka kualitas SDM dan angka harapan hidup di Indonesia juga tumbuh positif tapi sebaliknya jika sanitasi dan air bersih buruk maka akan membuat angka kemiskinan dan kesejahteraan hidup semakin terpuruk.

Agung mengatakan sanitasi dan air berish juga merupakan kebutuhan dasar manusia sehingga pemerintah terus berkomitmen meningkatkan kualitas sanitasi dan air bersih di seluruh wilayah Indonesia. Menurut dia anggaran yang paling ideal untuk sanitasi dan air bersih adalah Rp 10 triliun setiap tahunnya, jika pemerintah sudah bisa mengalokasikan dana Rp 10 triliun dalam APBN maka dalam kurun waktu 3-4 tahun mendatang kualitas sanitasi dan air bersih di Indonesia sudah sempurna.

“ Sanitasi dan air bersih akan menjadi prioritas pemerintah selain pendidikan, infrastruktur, kesehatan dan kemiskinan, anggaran untuk sanitasi dan kemiskinan juga akan ditingkatkan,” ujarnya.

Demi memastikan tersedianya akses air bersih dan sanitasi layak bagi seluruh lapisan masyarakat, pemerintah terus melakukan advokasi untuk percepatan. Pemerintah pun telah menjalankan berbagai program yang setiap tahunnya diklaim menunjukkan perkembangan mengembirakan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) 2012, sampai dengan akhir tahun lalu, sebanyak 58,05% masyarakat telah mendapatkan akses air bersih layak. Pada tahun 2012, data juga menunjukkan bahwa sebanyak 57,35% rumah tangga sudah memiliki akses sanitasi layak.

Setiap tahunnya, capaian akses air bersih dan sanitasi layak di Indonesia juga disebut telah mengalami perkembangan positif, dengan kenaikan rata-rata sebesar 2% per tahun, baik pada akses air bersih maupun sanitasi layak. Hal ini sengaja digarisbawahi, karena peningkatan cakupan terhadap akses sanitasi dan air minum layak, secara langsung maupun tidak langsung membantu memperbaiki derajat kesehatan masyarakat serta kualitas lingkungan.

“Meskipun telah mengalami kenaikan, kami sadar bahwa akses terhadap air berish dan sanitasi layak di negeri ini harus terus lebih ditingkatkan. Bila merujuk pada target MDGs 2015, kami harus memastikan bahwa 68,87% penduduk harus sudah mendapatkan akses air bersih layak dan sebesar 62,21% harus memiliki akses sanitasi layak,” kata Dedy Supriadi Priatna, Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dalam jumpa pers, di Jakarta, Jumat (18/10), terkait Konferensi Air bersih dan Sanitasi Nasional (KSAN) 2013 yang akan digelar pada 29-31 Oktober di Balai Kartini, Jakarta.

Sebagai upaya untuk mensosialisasikan pentingnya sektor air minum dan sanitasi layak bagi masyarakat, serta untuk menginformasikan upaya yang telah dan sedang dilakukan, Kelompok Kerja Air bersih dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) Nasional memang kembali mengadakan KSAN tahun ini. Salah satu tujuan KSAN adalah meningkatkan perhatian khalayak ramai terhadap pentingnya sanitasi dan air bersih. Acara ini dimaksudkan untuk mendorong peran serta aktif seluruh pelaku, dalam menjadikan pembangunan air bersih dan sanitasi sebagai prioritas.

Dedy menambahkan, masih ada selisih yang harus dipenuhi agar mencapai target, yaitu sebesar 10,82% untuk air bersih dan 5,06% untuk sanitasi. Artinya, diperlukan usaha minimal tiga kali lipat dibandingkan yang telah dilakukan saat ini.

Diketahui, air bersih dan sanitasi sendiri erat kaitannya dengan penyebaran bencana penyakit karena air, seperti diare dan cacingan. Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar 2007, diare merupakan penyebab kematian terbesar pada bayi usia 29 hari sampai 11 bulan, serta balita usia 12-59 bulan di Indonesia. Diperkirakan, sebanyak 31,4% bayi dan 25,2% balita harus meninggal setiap tahunnya akibat diare.

Sumber [beritasatu.com]

 

Related posts

Leave your comment

Your Name: (required)

E-Mail: (required)

Website: (not required)

Message: (required)

Send comment