You are here: Filter Penjernih Air keluarga sehat»Archive for March 2014

Archive for March 2014

Air Bersih Jakarta Belum Dinikmati

Air bersih jakarta belum dinikmati, air bersih merupakan salah satu kebutuhan pokok publik, setelah pangan dan energi. Pemerintah bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat melalui pembangunan infrastruktur, termasuk infrastruktur sumber air bersih, saluran dan pengolahan air bersih, saluran irigasi, pupuk dan bibit untuk pertanian serta pemanfaatan sumber energi termasuk eksplorasi, pembangunan kilang, pipanisasi dan hilirisasi energi lainnya.

Indonesia yang menurut banyak pihak kaya akan sumber daya alam (SDA), pada kenyatannya tidak demikian. Hampir semua kota-kota besar, tempat sebagian populasi Indonesia berada, sudah mulai krisis air sejak beberapa tahun belakangan ini. Dari sisi pangan dan energi, Indonesia sudah menjadi pengimpor sejati, apapun alasannya. Jelas Indonesia memang tidak mempunyai ketahanan pangan dan energi.

Semua ini terjadi karena Pemerintah mengabaikan mengurus anugrah SDA yang berlimpah sehingga lalai membangun infrastruktur. Begitu pula dengan urusan air, khususnya air baku yang sudah puluhan tahun diabaikan. Pemerintah hanya senang membuat proyek hilirnya saja, bukan hulu.

Buruknya pengelolaan lingkungan oleh hampir semua Pemerintah Daerah dan tumpang tindihnya berbagai peraturan perundang-undangan di tingkat Pusat membuat air diabaikan oleh Negara. Bersamaan dengan itu bisnis air dalam kemasan semakin marak, baik yang legal maupun illegal.

Dalam tulisan ini Agus Pambagio hanya akan mengulas persoalan air bersih yang harus disediakan oleh Negara kepada seluruh warga Ibu Kota Jakarta. Sejak awal 90-an air di wilayah DKI Jakarta sudah bermasalah hingga hari ini, meskipun pengelolaan air di Jakarta sudah beralih dari BUMD terus ke swasta dan saat ini akan kembali dikelola oleh BUMD bersama dengan perusahaan patungan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta.

Perjalanan Kebijakan Air Bersih Jakarta
Air besih di Jakarta pada awalnya dikelola oleh Perusahaan Air Minum (PAM) Jakarta Raya (Jaya). Sehubungan dengan maraknya korupsi di PAM Jaya saat itu dan terus memburuknya kualitas pelayanan air bersih ke publik, membuat Pemerintah mengundang investor asing untuk mengelola air bersih di Jakarta. Maka datanglah Thames Water dari Inggris dan Lyonnaise des Eaux (yang kemudian berganti Suez Environment) dari Perancis. Kedua investor itu kemudian berkontrak dengan PAM Jaya untuk mengelola air bersih di Jakarta pada tahun 1998. Sejak saat itu kedua investor itu berbagi wilayah di DKI Jakarta untuk mengelola air bersih hingga tahun 2023.

Pendapat dan harapan Pemerintah bahwa publik Jakarta akan segera mendapatkan air bersih yang lebih baik dari sisi kualitas dan pelayanan ternyata tidak terjadi. Kondisi ini bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab operator yang notabene investor asing. Persoalan besar atau utama sebenarnya ada pada ketersedian dan kualitas air baku.
air bersih di jakarta
Kualitas air baku sangat terkait dengan tugas dan kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH). Rusaknya ekosistem di hulu (Bendungan Jatiluhur), buruknya kualitas saluran Tarum Barat membuat air dari Sungai Bekasi yang sangat tercemar bercampur dengan air dari hulu yang dikelola oleh Perum PJT II Jatiluhur. Akibatnya air yang masuk ke unit pengolahan air milik kedua investor sangat tidak memenuhi syarat. Baik dari debit maupun kualitas.

Ketika musim kemarau debit air dari Waduk Jatiluhur berkurang dan buruk kualitasnya (bercampur limbah berat). Akibatnya biaya penjernihan air jadi mahal karena bahan kimia yang digunakan, seperti klorin juga bertambah. Di musim penghujan, meskipun air baku berlimpah tetapi unit penjernihan sering kekurangan air baku. Mengapa ? Karena air baku dibuang ke laut oleh PJT II untuk menghindari banjir di daerah Kabupaten Bekasi.

Demikian pula dengan buruknya kualitas saluran air utama Tarum Barat (Kali Malang) yang mudah jebol. Hal ini terjadi karena minimnya perawatan. Siapa yang harus merawat saluran utama ini ? Tentunya Kementrian PU menggunakan dana dari APBN. Bukan operator. Namun sering operator yang harus memperbaiki dengan dana operator. Lalu ke mana dana perawatan saluran ini? Silakan pikir sendiri.

Jadi siapa pun operatornya, mau asing, BUMD atau bahkan kembali ke PAM Jaya ketika air bakunya masih bermasalah seperti sekarang, jangan pernah bermimpi warga Jakarta akan mendapatkan suplai air bersih secara kontinyu dan berkualitas.

Langkah yang Harus Dilakukan
Pemerintah pastikan mempunyai cetak biru untuk persoalan air bersih di seluruh Indonesia yang mencakup jadwal pembangunan/perbaikan dan biaya yang dianggarkan sebelum semuanya menjadi terlambat. Khusus untuk wilayah DKI Jakarta, Kementerian PU dan KLH harus melakukan penyelamatan sumber air baku di wilayah hulu. Lalu perbaiki saluran air baku menuju Jakarta. Caranya bisa melalui pipanisasi air atau sterilisasi khusus saluran air baku (siphon). Sayangnya Pembangunan ‘siphon’ di Tarum Barat tak kunjung selesai.

PJT II juga perlu mengeruk dan memperlebar Tarum Barat supaya dapat mengalirkan air di atas 21 m3/detik sesuai desain awal karena saat ini hanya dapat mengalirkan air sebanyak 17.1 m3/detik ke fasilitas penjernihan air milik 2 operator air (Aetra dan Palyja). Berdasarkan kontrak dengan PJT II, Aetra mendapat jatah 10,1 m3/detik dan sekitar 6 m3/detik untuk Palyja, jumlah ini sangat minim untuk memenuhi kebutuhan warga Jakarta.

Pipanisasi air baku dan pembangunan ‘siphon’ merupakan solusi lain untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Namun investasinya besar. Jika swasta yang membangun dapat dipastikan harga air baku sampai ke pusat penjernihan akan seharga lebih dari Rp. 3.000/m3 karena investor harus memasukan besaran investasi pada penghitungan tarif air bersih, seperti apa yang akan dilakukan oleh konsorsium Hutama Karya dengan operator BUMD sehingga tarif ke pelanggan juga akan mahal.

Jangan melakukan aksi korporasi untuk mengambil alih operator air jika tidak dapat memperbaiki kualitas dan ketersediaan air bersih. Mau swasta asing, swasta nasional, BUMN/BUMD atau hantu blau, silakan saja. Sudah cukup lama warga Jakarta berharap bukan saja memperoleh air bersih tetapi inginnya air minum. Air bersih Jakarta, kapan beres ?
Pemerhati Kebijakan Publik dan Perlindungan Konsumen”

Sumber [“Catatan Agus Pambagio” news.detik.com]

Pengolahan air limbah industri tekstil

Pengolahan air limbah industri tekstil, pengolahan air limbah suatu kewajiban untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Limbah tekstil merupakan limbah yang dihasilkan dalam proses pengkanjian, proses penghilangan kanji, penggelantangan, pemasakan, merserisasi, pewarnaan, pencetakan dan proses penyempurnaan sebuah bahan tekstil. Proses penyempurnaan tekstil kapas menghasilkan limbah yang lebih banyak dan lebih kuat dari pada limbah dari proses penyempurnaan bahan sistesis.

“Gabungan air limbah pabrik tekstil di Indonesia rata-rata mengandung 750 mg/l padatan tersuspensi dan 500 mg/l BOD. Perbandingan Chemical Oxygen Demand (COD)  dengan Biological Oxygen Demand (BOD) adalah dalam kisaran 1,5 : 1 sampai 3 : 1. Pabrik serat alam menghasilkan beban yang lebih besar. Beban tiap ton produk lebih besar untuk operasi kecil dibandingkan dengan operasi modern yang besar, berkisar dari 25 kg BOD/ton produk sampai 100 kg BOD/ton. Informasi tentang banyaknya limbah produksi kecil batik tradisional belum ditemukan.”

Limbah dan emisi merupakan non product output dari kegiatan industri tekstil. Khusus industri tekstil yang di dalam proses produksinya mempunyai unit Finishing- Pewarnaan (dyeing) mempunyai potensi sebagai penyebab pencemaran air dengan kandungan amoniak yang tinggi. Pihak industri pada umumnya masih melakukan upaya pengelolaan lingkungan dengan melakukan pengolahan limbah (treatment). Dengan membangun instalasi pengolah limbah memerlukan biaya yang tidak sedikit dan selanjutnya pihak industri juga harus mengeluarkan biaya operasional agar buangan dapat memenuhi baku mutu. Untuk saat ini pengolahan limbah pada beberapa industri tekstil belum menyelesaikan penanganan limbah industri.

Limbah tekstil yang dihasilkan industri pencelupan sangat berpotensi mencemari lingkungan. Hal ini disebabkan karena air limbah tekstil tersebutmengandung bahan – bahan pencemar yang sangat kompleks dan intensitas warnanyatinggi. Nilai biological oxygen demand (BOD) dan chemical oxygen demand(COD) untuk limbah tekstil berkisar antara 80-6.000 mg/L dan 150-12.000 mg/L. Nilai tersebut melebihi ambang batas baku mutu limbah cair industri tekstil jika ditinjau dari KepMen LH No.51/MENLH/10/1995. Keberadaan limbah tekstil dalam perairan dapat mengganggu penetrasi sinar matahari, akibatnya kehidupan organisme dalam perairan akan terganggu dan sekaligus dapat mengancam kelastarian ekosistem akuatik.

Teknologi pengolahan limbah tekstil biasanya dilakukan secara kimia dan fisika. Pengolahan limbah tekstil secara kimia dan fisika cukup efektif untuk menghilangkan warna, akan tetapi memerlukan biaya lebih karena terkadang pemakaian bahan kimia yang tidak sedikit.

pengolahan air limbah industri tekstil

Metode Pengolahan Limbah Industri Tekstil

Dalam mengolah air limbah tekstil, dilakukan 3 proses, yaitu:
Proses Pre-Treatment : Proses ini bertujuan mengkondisikan karakteristik air limbah yang akan diolah, mulai dari : penyaringan partikel kasar, penghilangan warna (decolouring), equalisasi (penyeimbangan debit), penyaringan halus, dan penyesuaian suhu.

Proses Primer : Dalam proses ini dilakukan main treatment (pengolahan utama), bisa secara biologis dan diikuti proses pengendapan (sedimentasi).

Proses Sekunder : Proses ini merupakan tahap lanjutan proses biologi dan sedimentasi dalam rangka mempersiapkan air limbah olahan memasuki badan air penerima, sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan.

Proses Pre-Treatment
a) Penyaringan partikel kasar
Tujuan dari tahap penyaringan partikel kasae ini adalah menahan sisa benang dan kain yang memungkinkan ada dalam aliran air limbah.  Saringan kasar ini berdiameter 50-20 mm.   Air limbah yang tidak berwarna bias lanjut ke tanki berikutnya, sementara air limbah yang berwarna spesifik harus melalui proses decolouring terlebih dahulu

b) Penghilangan warna (decolouring)
Air limbah yang berwarna akan mengalami koagulasi dengan koagulan khusus (biasanya FeSO4 – Ferro sulphate, konsentrasi = 600-700 ppm) untuk mengikat warna,  lalu air limbah mengalami penyesuaian pH dengan penambahan kapur (lime, konsentrasi = 150-300 ppm) akibat pencampuran koagulan Ferro Sulphate sebelumnya. Dan kemudian air limbah masuk ke tangki flokulasi dengan penambahan polymer (konsentrasi = 0,5-0,2 ppm) sehingga terbentuk flok-flok yang dapat mengendap dalam tangki sedimentasi.

c) Penyesuaian suhu
Penyesuaian suhu air limbah dari pencelupan/pencapan mutlak dilakukan dalam Cooling Tower.  Karakteristik limbah produksi tekstil umumnya bersuhu 350-400oC, sehingga Cooling Tower dibutuhkan untuk menurunkan suhu agar kerja bakteri (proses biologis) dapat optimal.

Proses Primer
a) Proses Biologis
Apabila digunakan proses biologis sebagai proses primer pengolahannya, beberapa proses yang terbukti efektif antara lain : lumpur aktif, laguna aerob, dan parit oksidasi.  Hal ini disebabkan karena sistem dalam bak aerasi ini berjalan dengan laju aliran rendah dan penggunaan energi rendah sehingga biaya operasi dan pemeliharaanpun rendah.  Untuk memperoleh BOD, COD, DO, Jumlah Padatan Tersuspensi, Warna dan beberapa parameter lain dengan kadar yang sangat rendah, telah digunakan pengolahan yang lebih unggul yaitu dengan menggunakan Karbon Aktif, Saringan Pasir, Penukar Ion dan Penjernihan Kimia. Parameter-parameter tersebut dijaga kestabilannya sehingga penguraian polutan dalam limbah oleh bakteri dapat maksimal.  Adapun DO, MLSS dan Suhu yang dibutuhkan bakteri pengurai adalah 0,5-2,5 ppm, 4000-6000, dan 290-300oC.

b) Proses Sedimentasi,
Bak sedimentasi didisain sedemikian rupa untuk memudahkan proses pengendapan partikel dalam air. Biasanya mempunyai bentuk bundar di bagian atas dan konis/kerucut di bagian bawah.  Desain ini untuk mempermudah pengeluaran endapan lumpur di dasar bak.  Sistem return sludge cukup optimal dilakukan pada pengolahan limbah, sehingga sebagian besar sludge akan dikembalikan ke bak aerasi.  Pemantauan ketinggian endapan lumpur dari permukaan air dan MLSS selalu dilakukan.

Proses Sekunder
Proses ini merupakan tahap lanjutan proses biologi dan sedimentasi dalam rangka mempersiapkan air limbah olahan memasuki badan air penerima, sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan.  Beberapa parameter yang dicek pada outlet bak sedimentasi menjadi tolak ukur boleh tidaknya air limbah olahan ini dibuang ke badan air penerima.  Beberapa kasus memerlukan penambahan Aluminium sulphate Al2(SO4)3 konsentrasi 150-33 ppm, Polymer konsentrasi 0,5-2,0 ppm dan Antifoam (silicon base) untuk mengurangi padatan tersuspensi yang masih terdapat dalam air.

Cara diatas dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengolah air limbah industri tekstil, sehingga air limbah tekstil yang dibuang dapat digunakan kembali dan tidak mencemari lingkungan sekitar 🙂

Sumber [Aneka Sumber]

Filter air alami tanpa bahan kimia

Filter air alami tanpa bahan kimia, filter air menjadi kebutuhan untuk menjernihkan air kotor menjadi air bersih. Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia, hampir semua kebutuhan sehari-hari manusia pasti membutuhkan air. Mandi, memasak, minum, dan juga kebutuhan untuk mencuci semuanya masih menggunakan air. Memang benar kalau air itu adalah sumber kehidupan, tapi dengan garis bawah jika air tersebut bersih, karena bisa saja air menjadi sumber penyakit jika fisiknya yang keruh atau kotor.

Semakin banyak air yang kita butuhkan untuk kebutuhan kita sehari-hari berarti semakin banyak juga sesuatu yang harus kita lakukan untuk menjaga kebersihan air tersebut. Karena apa gunanya air tersebut jika berwarna keruh, sangat banyak sumber penyakit yang terkandung dalam air yang keruh itu. Sebagian orang mungkin sudah mengerti bagaimana cara menjaga kebersihan air, tetapi tidak sedikit juga orang yang belum mengerti cara menjernihkan air yang keruh dan kotor.

Intensitas hujan di awal tahun ini memicu banjir di beberapa wilayah terutama di Jakarta. Kebutuhan air bersih makin meningkat.  Menurut Tutor Mobil Hijau Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB), Findryaningsih Fiona secara fisik air bersih haruslah jernih, tidak bewarna, tawar dan tidak berbau.

“Secara kimiawi kualitas air yang baik adalah bila memiliki keasaman (pH) netral serta tidak mengandung bahan berbahaya dan beracun. Air sebaiknya tidak mengandung bakteri penyebab penyakiy (patogen) dan bakteri nonpatogen,” kata Fidry.
filter air alami tanpa bahan kimia

Menurut Fidry ada cara penyaringan sederhana dan tradisional untuk membuat air menjadi jernih tanpa kimia, “Ada caranya. Mudah kok cukup dengan media penyaring seperti pasir, arang batok dan lain-lainnya,” kata Fidry.

Berikut cara sederhana menjernihkan air kotor :

Media Penyaring Air
1. Pasir
“Digunakan untuk menyaring padatan. Ukuran pasir yang digunakan biasanya 0,2 – 0,8 mm. Jika sudah keruh, pasir dibersihkan,” kata Fidry.

2. Arang Batok
“Berguna untuk mengurangi warna dan bau. Ukurannya berdiameter 0,1 mm atau berbentuk bubuk. Jika air yang disaring sudah tidak jernih lagi arang batok harus diganti,” ujarnya.

3. Penyaring Lainnya
“Antara lain adalah kerikil, ijuk dan batu. Kapur, tawas dan kaporit disebut sebagai penggumpal koagulan yang membantu menggumpalkan kimia pencemar menjadi endapan,” kata Fidry.

Menjernihkan air kotor tanpa zat kimia menggunakan teknik tradisional, begini caranya :

1. Lumpang Batu
Letakan lumpang batu di dasar sungai dangkal yang kokoh dan tidak beraliran keras. Air sungai akan tersaring karena pori-pori lumpang batu sangat kecil. Untuk mencegah air sungai yang kotor masuk ke dalam air jernih di dalam lumpang perlu dibuat tutup lumpang. Menjernihkan air sungai dengan mudah buatlah lumpang batu dengan batu cadas yang dibentuk seperti mangkok.

2. Arang Batok
Bak penyaringan dibuat sesuai kebutuhan. Letakan pipa bambu yang kulit luarnya dikupas sehingga terlihat bagian dalamnya di dasar bak. Masukan arang batok, ait kotit diharapkan tersaring pada pipa bambu dan atang batok sehingga keluarlah air bersih.

Cara ini memerlukan dua drum berukuran sama yang dilengkapi keran air. Tinggi keran air dari dasar drum kurang lebih 5 sampai 10 cm (harus lebih tinggi dari endaoan lumpur yang akan timbul). Drum pertama berfungsi sebagai bak pengendap dan drum kedua sebagai bak penyaring.

Cara diatas merupakan cara sederhana dan tradisional untuk menjernihkan air. Namun tidak semua masalah air dapat diatasi hanya menggunakan cara tradisional tersebut. Mungkin cara diatas untuk sekedar mengubah air keruh menjadi jernih bisa pada air tertentu, namun apakah air tersebut aman untuk dikonsumsi? Contoh lainya adalah air limbah industri yang memang membutuhkan cara pengolahan air khusus menggunakan teknologi modern sehingga air hasil limbah tersebut aman untuk digunakan kembali dan tidak mencemari lingkungan

Memang untuk mendapatkan air bersih dan sehat tidak semudah merubah air bersih menjadi kotor hanya diberi campuran tinta hitam, atau ditambahi pewarna. Tetapi kalau air kotor dirubah menjadi bersih, itu butuh proses dan teknik khusus.

Oleh karena itu di zaman yang sudah modern dan serba canggih ini menjernihkan air bukan menjadi persoalan yang sulit jika kita mencari teknologi yang tepat untuk mengolah masalah air yang kita alami. Ada banyak sekali pilihan teknologi filter air modern untuk menjernihkan bahkan memurnikan air contohnya adalah MikroFiltrasi (MF), NanoFiltrasi (NF), UltraFiltrasi (UF), Reverse Osmosis  (RO) dan teknologi penjernih air lainya.

Sumber [health.liputan6.com]

Perawatan Membran Reverse Osmosis (RO)

Reverse Osmosis (RO) salah satu jenis membrane, Reverse Osmosis (RO) membutuhkan perwatan khusus sehingga menghasilkan kualitas air minum yang baik. Namun sebelum kita membahas bagaimana cara merawat membrane RO kita bahas sedikit apa itu filter air membrane RO?

Proses osmosis melalui membran semipermeabel pertama kali diamati pada 1748 oleh Jean Antoine Nollet. Selama 200 tahun kemudian, proses osmosis hanya sebuah fenomena yang diamati di laboratorium. Pada tahun 1949 di University of California di Los Angeles (UCLA) menyelidiki pertama proses desalinasi air laut dengan menggunakan membran semipermeabel.  Para peneliti dari UCLA dan University of Florida berhasil memproduksi air tawar dari air laut pada pertengahan 1950-an. Kini teknologi reverse osmosis berkembang sangat pesat. Teknologi ini banyak digunakan untuk proses purifikasi/pemurnian air untuk kebutuhan rumah tangga, komersil, industri, kegiatan lepas pantai, rumah sakit, laboratorium, dan lain-lain.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum mengharuskan, air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.

Salah satu teknologi yang dapat menghasilkan air langsung diminum adalah teknologi reverse osmosis (RO). Sebagai sistem penyaringan air minum terbaik, sistem reverse osmosis telah mendapat berbagai penghargaan internasional. Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa system RO merupakan sistem pengolahan air terkini yang sangat dapat diandalkan. Namun sayang, terkadang air dari proses RO ini berasa “pahit”Lalu,

Kenapa Air RO Berasa Pahit dan bagaimana menghilangkan rasa pahit ?
Kemampuan membran RO  untuk menurunkan setiap unsur kimia dalam air, baik anion maupun kation sehingga terjadi penyesuaian jumlah unsur kimia di dalam air yang digambarkan dalam keseimbangan asam dan basa atau dikenal dengan “pH”. pH air yang berubah setelah melalui proses membran RO akan berbeda pada setiap sumber air baku/ pH air setelah penyaringan dari sistem RO memiliki pH yang (cenderung) rendah. Dengan pH yang rendah tersebut, maka air akan terasa kurang enak bahkan ada yang merasakan agak pahit atau bahkan pahit.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah rasa pahit tersebut, antara lain dengan menggunakan :
1. Post carbon yang berkualitas dan harus kelas food-grade, atau
2. Penambahan filter anion yang bersifat alkalis sehingga pH air akan naik, atau
3. Menambahkan kapur Magnesium dan harus kelas “foodgrade”.

Kesemua cara tersebut biasanya akan menambahkan nilai TDS, walaupun sebenarnya tidak menjadi masalah namun tidak sedikit para penjual mesin RO atau pelaku usaha air minum RO menyebutkan bahwa air yang baik adalah air dengan TDS “nol”.

cara merawat reverse osmosis

Sesuai dengan Enviromental Protection Agency (EPA) USA. Air minum ideal adalah yang memiliki level TDS 0 – 50 ppm, dihasilkan dengan proses reverse osmosis, deionization, microflitration, distillation, dan banyak lainnya. Air gunung (mountain spring) dan air yang melalui proses filtrasi karbon berada di standar kedua. Rata-rata air tanah (air sumur) berada pada level TDS 150 – 300 ppm, masih dalam batas aman, namun bukan yang terbaik terutama untuk para penderita penyakit ginjal. Oleh karena itu, jangan asal beli mesin RO karena tidak semua mesin RO dapat menghasilkan air RO yang berkualitas. Jangan mudah tergiur dengan harga murah, sebab harga mesin RO sangat bergantung pada kualitas material dan spare part yang digunakan.

Cara Perawatan Reverse Osmosis
Jika kualitas air rendah, sebaiknya gunakan Pre filter (penyaringan awal) sebelum masuk unit filter air membrane reverse osmosis anda, Teknik ini untuk mencegah penggantian membran RO yang terlalu cepat.

Kemudian apabila membrane anda sudah mulai jenuh atau mampet ada beberapa teknik yang dapat menjadi solusi bagi anda salah satunya adalah menggunakan larutan atau bubuk pembersih membrane (Membrane Cleaner)  yang benyak dijual di toko khusus perlengkapan water treatment.

Ada 3 (tiga) hal penting yang harus anda lihat untuk menentukan kapan saatnya anda memerlukan membrane cleaning pada reverse osmosis, yaitu:

1. Apabila product flow rate sudah turun mendekati ±15% dari performa awal.
2. Apabila rejected flow rate sudah meningkat mendekati ±5-10% dari performa awal.
3. Apabila conductivity permeate/product water sudah naik hingga ±15% dari setting awal.
4. Dan, apabila ? Pressure pada membrane array sudah naik hingga ± 15%.

Bila anda menemukan indikasi diatas maka membrane anda memerlukan larutan pembersih membrane RO untuk mencegah penyumbatan membrane lebih lanjut yang akan berakibat produksi mesin reverse osmosis ataupun membrane ultrafiltrasi anda terganggu.

Fungsi dari pembersih membrane (membrane cleaner) bermacam macam sesuai kebutuhan anda diantaranya adalah:

1. Membuang Iron dan fouling karena Metal Hydroxide dan calcium carbonate scale.
2. Membuang Biological, organic dan koloidal fouling pada Polyamide Composite Membrane. Juga efektif membuang emulsified oils dan silica.
3. Menurunkan kotoran yang ada dan berkembang didalam lapisan membrane RO atau Ultra Filtrasi. Berfungsi untuk  melarutkan kotoran yang ada pada berbagai tipe membrane, formula khusus aman untuk berbagai tipe membrane.

Jadi kesimpulannya fungsi larutan pembersih membrane RO adalah pelunturan/pembersihan tanpa merusak lapisan Polyamide Composite Membrane Element. Digunakan setelah sistem mengalami penurunan kapasitas produksi atau hanya sekedar pencegahan/perawatan membrane, sehingga membrane dapat berfungsi dengan baik.

Telitilah dalam memilih unit pengolahan air Reverse Osmosis (Mesin RO) sebelum memutuskan untuk membeli. Jangan mudah tergiur dengan harga yang murah, sebab harga unit pengolahan air dengan membrane UF atau RO sangat ditentukan oleh kualitas dan kelas spare part/material yang digunakan.

Sumber [Aneka Sumber]

Filter Air Zat Kapur Tinggi

Filter air zat kapur tinggi, filter air sangat ampuh untuk mengatasi air yang mengandung zat kapur tinggi. Air yang mengandung zat kapur bisa terdapat pada air pegunungan dan air sumur/sumur bor. Jika tidak segera diatasi, kadarnya akan semakin tinggi, apalagi saat musim kemarau, karena air menjadi semakin dangkal, sehingga kesehatan masyarakat akan semakin memburuk.

Tanda air mengandung kapur adalah jika air tersebut dimasak maka akan menimbulkan kerak berwarna putih pada dinding panci ,dan rasanya sedikit pahit.

Penggunaan air yang mengandung kapur jika dikonsumsi dalam jangka pendek, dapat mengakibatkan penyakit: muntaber, diare, kolera,tipus dan disentri. Penggunaan air yang mengandung kapur jika dikonsumsi dalam jangka panjang dapat mengakibatkan penyakit : keropos tulang, kerusakan gigi,kerusakan ginjal dan hati. Penggunaan air yang mengandung kapur untuk keperluan mandi maupun mencuci juga dapat berakibat langsung pada kesehatan mata dan kulit. Kuman kudis, kurap dan borok dapat mudah disebarkan melalui air. Penyakit mata juga mudah ditularkan lewat air.

“Kandungan zat kapur yang masih dalam standar kelayakan air minum maksimal 500 mili/gram. Bila dikonsumsi berlebih dalam jangka lama, dan melebihi standar kelayakan air minum,akan terjadi penumpukan zat kapur dalam tubuh,” katanya. Ia menambahkan, penumpukan zat kapur bisa menyebabkan nyeri, pendarahan, penyumbatan aliran kencing, dan lainnya.

Untuk mengatasi air yang mengandung zat kapur tinggi dapat menggunakan filter air yang berisikan media filter berupa resin.  Media filter air resin berguna untuk menurunkan kandungan kapur dalam air. Biasanya media ini digunakan untuk usaha depot air minum isi ulang maupun untuk industri atau perhotelan.

Media filter air  resin sebagau penukar ion dapat berupa suatu zat dan penukar itu sendiri adalah zat padat tertentu yang dapat membebaskan ionnya kedalam larutan ataupun menggantikan ion lain dari ion larutan.

Resin penukar ion, terbagi menjadi dua macam yaitu :

a. Resin Penukar Kation
Resin Kation  adalah resin yang akan menukar atau mengambil kation dari larutan. (contoh kation : Ca2+ atau Mg2+)

b. Resin Penukar Anion
Resin anion adalah resin yang akan menukar dan mengambil anion dari larutan. (contoh anion : Cl-, NO3- dan SO42-)

Cara kerja alat ini adalah air dari sumur diambil melalui pompa air dan masuk penampung pertama yang berisi filter berupa batu kerikil, dan dialirkan ke tabung filter berisi media filter resin. Kemudian air akan masuk penampungan kedua, dengan angka kesadahan yang telah mengecil dengan melewati penyaring karbon aktif, mangan zeloit dan  pasir silika.
Setelah melalui  proses tersebut kandungan kapur akan dalam air akan terpisah dan air pun layak digunakan. Namun jika air hasil filtrasi ingin dapat langsung dikonsumsi tanpa perlu dimasak, maka diperlukan tahapan  filter air selanjutnya untuk membuat air menjadi sehat dan aman untuk dikonsumsi.

filter air zat kapur tinggi

Berikut ini merupakan filter air tambahan yang dapat digunakan untuk menjadikan air bersih anda menjadi sehat dan layak dikonsumsi.

Sistem Reverse Osmosis
Sistem penjernih air yang cukup populer saat ini adalah sistem osmosis balik (reverse osmosis) atau biasa disingkat dengan RO. Osmosis balik adalah satu sistem pemurnian air yang digunakan NASA untuk menyediakan air minum bagi astronotnya ketika berada di dalam pesawat luar angkasa.

Sistem ini mengandalkan membran khusus dengan diameter pori-pori 0,02 mikron untuk virus dan 0,001 untuk bakteri. Sebagai perbandingan, ukuran bakteri adalah 0,5 mikron. Air kotor masuk ke membran ini, dan hanya air yang sudah bersih saja dapat tembus keluar dari membran.

Adapun termasuk dalam kategori penjernih ini antara lain merek Nesca, Pure Pro, dan Etech. Rata-rata penjernih air ini memiliki 3-4 tabung penjernih (catridge), yang berisi filter busa, karbon, atau keramik untuk membuat air jadi bersih. Air kemudian masuk dalam tabung bersii membran RO untuk membuatnya layak diminum.

Sistem Sinar Ultraviolet (UV)
Sistem UV ini hanya mampu menembak kuman dan bakteri, tetapi tidak dapat menghilangkan zat kapur dan besi. Posisi air itu berada di atas lampu ultraviolet. Sinar lampu inilah yang kemudian menembaki kuman dan bakteri. Namun, zat besi dan kapur, karena bukan mahluk hidup, ditembak sekencang apapun tetap saja lolos.

Meskipun begitu, teknologi UV tetap penting dalam rangka memberikan kepastian tidak ada lagi bakteri atau virus tersisa dalam air. Hanya, sebaiknya, penyaringan ini diletakkan di akhir rangkaian. Salah satu produk yang menggabungkan sistem osmosis balik dengan sistem UV adalah merek Oscar dari Taiwan.

Sumber [Aneka Sumber]

pengolah limbah cair industri

Pengolah limbah cair industri metode dan tahapan proses pengolah limbah cair yang telah dikembangkan sangat beragam. Limbah cair dengan kandungan polutan yang berbeda kemungkinan akan membutuhkan proses pengolahan yang berbeda pula. Proses- proses pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara keseluruhan, berupa kombinasi beberapa proses atau hanya salah satu. Proses pengolahan tersebut juga dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan atau faktor finansial.

1.Pengolahan Primer (Primary Treatment)

A. Penyaringan (Screening)
Pertama, limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring menggunakan jeruji saring. Metode ini disebut penyaringan.  Metode penyaringan merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari air limbah.

B. Pengolahan Awal  (Pretreatment)
Kedua, limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu tangki atau bak yang berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat teruspensi lain yang berukuran relatif besar. Tangki ini dalam bahasa inggris disebut grit chamber dan cara kerjanya adalah dengan memperlambat aliran limbah sehingga partikel – partikel pasir jatuh ke dasar tangki sementara air limbah terus dialirkan untuk proses selanjutnya.

C. Pengendapan
Setelah melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan ke tangki atau bak pengendapan. Metode pengendapan adalah metode pengolah utama dan yang paling banyak digunakan pada proses pengolahan primer limbah cair. Di    tangki pengendapan, limbah cair didiamkan agar partikel – partikel padat yang tersuspensi dalam air limbah dapat mengendap ke dasar tangki. Enadapn partikel tersebut akan membentuk lumpur yang kemudian akan dipisahkan dari air limbah ke saluran lain untuk diolah lebih lanjut. Selain metode pengendapan, dikenal juga metode pengapungan (Floation).

D. Pengapungan (Floation)
Metode ini efektif digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa minyak atau lemak. Proses pengapungan dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat menghasilkan gelembung- gelembung udara berukuran kecil (± 30 – 120 mikron). Gelembung udara tersebut akan membawa partikel –partikel minyak dan lemak ke permukaan air limbah sehingga kemudian dapat disingkirkan.

Bila limbah cair hanya mengandung polutan yang telah dapat disingkirkan melalui proses pengolahan limbah primer, maka limbah cair yang telah mengalami proses pengolahan primer tersebut dapat langsung dibuang kelingkungan (perairan). Namun, bila limbah tersebut juga mengandung polutan yang lain yang sulit dihilangkan melalui proses tersebut, misalnya agen penyebab penyakit atau senyawa organik dan anorganik terlarut, maka limbah tersebut perlu disalurkan ke proses pengolahan limbah selanjutnya.

filter air limbah cair

2. Pengolahan Sekunder (Secondary  Treatment)

Tahap pengolahan sekunder merupakan proses pengolahan secara biologis, yaitu dengan melibatkan mikroorganisme yang dapat mengurai/ mendegradasi bahan organik. Mikroorganisme yang digunakan umumnya adalah bakteri aerob. Terdapat tiga metode pengolahan secara biologis yang umum digunakan yaitu metode penyaringan dengan tetesan (trickling filter), metode lumpur aktif (activated sludge), dan metode kolam perlakuan (treatment ponds / lagoons) .

A. Metode Trickling Filter
Pada metode ini, bakteri aerob yang digunakan untuk mendegradasi bahan organik melekat dan tumbuh pada suatu lapisan media kasar, biasanya berupa serpihan batu atau plastik, dengan dengan ketebalan  ± 1 – 3 m. limbah cair kemudian disemprotkan ke permukaan media dan dibiarkan merembes melewati media tersebut. Selama proses perembesan, bahan organik yang terkandung dalam limbah akan didegradasi oleh bakteri aerob. Setelah merembes sampai ke dasar lapisan media, limbah akan menetes ke suatu wadah penampung dan kemudian disalurkan ke tangki pengendapan.

Dalam tangki pengendapan, limbah kembali mengalami proses pengendapan untuk memisahkan partikel padat tersuspensi dan mikroorganisme dari air limbah. Endapan yang terbentuk akan mengalami proses pengolahan limbah lebih lanjut, sedangkan air limbah akan dibuang ke lingkungan atau disalurkan ke proses pengolahan selanjutnya jika masih diperlukan

B. Metode Activated Sludge
Pada metode activated sludge atau lumpur aktif, limbah cair disalurkan ke sebuah tangki dan didalamnya limbah dicampur dengan lumpur yang kaya akan bakteri aerob. Proses degradasi berlangsung didalam tangki tersebut selama beberapa jam, dibantu dengan pemberian gelembung udara aerasi (pemberian oksigen). Aerasi dapat mempercepat kerja bakteri dalam mendegradasi limbah. Selanjutnya, limbah disalurkan ke tangki pengendapan untuk mengalami proses pengendapan, sementara lumpur yang mengandung bakteri disalurkan kembali ke tangki aerasi. Seperti pada metode trickling filter, limbah yang telah melalui proses ini dapat dibuang ke lingkungan atau diproses lebih lanjut jika masih dperlukan.

C. Metode Treatment ponds/ Lagoons
Metode treatment ponds/lagoons atau kolam perlakuan merupakan metode yang murah namun prosesnya berlangsung relatif lambat. Pada metode ini, limbah cair ditempatkan dalam kolam-kolam terbuka. Algae yang tumbuh dipermukaan kolam akan berfotosintesis menghasilkan oksigen. Oksigen tersebut kemudian digunakan oleh bakteri aero untuk proses penguraian/degradasi bahan organik dalam limbah. Pada metode ini, terkadang kolam juga diaerasi. Selama proses degradasi di kolam, limbah juga akan mengalami proses pengendapan. Setelah limbah terdegradasi dan terbentuk endapan didasar kolam, air limbah dapat disalurka untuk dibuang ke lingkungan atau diolah lebih lanjut.

3. Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)

Pengolahan tersier dilakukan jika setelah pengolahan primer dan sekunder masih terdapat zat tertentu dalam limbah cair yang dapat berbahaya bagi lingkungan atau masyarakat. Pengolahan tersier bersifat khusus, artinya pengolahan ini disesuaikan dengan kandungan zat yang tersisa dalam limbah cair / air limbah. Umunya zat yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya melalui proses pengolahan primer maupun sekunder adalah zat-zat anorganik terlarut, seperti nitrat, fosfat, dan garam- garaman.

Pengolahan tersier sering disebut juga pengolahan lanjutan (advanced treatment). Pengolahan ini meliputi berbagai rangkaian proses kimia dan fisika. Contoh metode pengolahan tersier yang dapat digunakan adalah metode saringan pasir, saringan multimedia, precoal filter, microstaining, vacum filter, penyerapan dengan karbon aktif, pengurangan besi dan mangan, dan osmosis bolak-balik.

4. Desinfeksi (Desinfection)

Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh atau mengurangi mikroorganisme patogen yang ada dalam limbah cair. Meknisme desinfeksi dapat secara kimia, yaitu dengan menambahkan senyawa/zat tertentu, atau dengan perlakuan fisik. Contoh mekanisme desinfeksi pada limbah cair adalah penambahan klorin (klorinasi), penyinaran dengan ultraviolet(UV), atau dengan ozon (Oз). Proses desinfeksi pada limbah cair biasanya dilakukan setelah proses pengolahan limbah selesai, yaitu setelah pengolahan primer, sekunder atau tersier, sebelum limbah dibuang ke lingkungan.

5. Pengolahan Lumpur (Slude Treatment)

Setiap tahap pengolahan limbah cair, baik primer, sekunder, maupun tersier, akan menghasilkan endapan polutan berupa lumpur. Lumpur tersebut tidak dapat dibuang secara langsung, melainkan perlu diolah lebih lanjut. Endapan lumpur hasil pengolahan limbah biasanya akan diolah dengan cara diurai/dicerna secara aerob (anaerob digestion), kemudian disalurkan ke beberapa alternatif, yaitu dibuang ke laut atau ke lahan pembuangan (landfill), dijadikan pupuk kompos, atau dibakar (incinerated).

Sumber [witasharer.blogspot.com]

Water Treatment Plant Limbah B3

Water Treatment Plant Limbah B3, Water Treatment Plant adalah sebuah system yang difungsikan untuk mengolah air dari kualitas air baku (influent) yang  tercemar agar mendapatkan kualitas air pengolahan (effluent) standart yang di inginkan/ditentukan atau siap untuk di konsumsi.

Water Treatment Plant, pada dasarnya dibagi menjadi beberapa tahap yaitu:

1. Penyaringan dan Pengendapan
Penyaringan dan pengendapan bertujuan untuk memisahkan air baku dari zat-zat, seperti: sampah, daun, rumput, pasir dan lain-lain berdasarkan berat jenis zat.

2. Koagulasi
Koagulasi adalah proses pencamuran bahan kimia kedalam air agar kotoran dalam air yang berupa padatan resuspensi misalnya zat warna organik, lumpur halus, bakteri dan lain-lain dapat menggumpal dan cepat mengendap.

3. Flokulasi
Flokulasi adalah proses pembentukan flok sebagai akibat gabungan dari koloid-koloid dalam air baku (air sungai) dengan koagulan. Pembentukan flok akan terjadi dengan baik jika di tambahkan koagulan kedalam air baku (air sungai) kemudian dilakukan pengadukan lambat.

4. Sedimentasi
Setelah proses koagulasi dan flokulasi, air tersebut di diamkan sampai gumpalan kotoran yang terjadi mengendap semua. Setelah kotoran mengendap air akan tampak lebih jernih.

5. Filtrasi
Pada proses pengendapan tidak semua gumpalan kotoran dapat diendapkan semua. Butiran gumpalan kotoran kotoran dengan ukuran yang besar dan berat akan mengendap, sedangkan yang berukuran kecil dan ringan masih melayang-layang dalam air. Untuk mendapatkan air yang betul-betul jernih harus dilakukan proses penyaringan. Penyaringan dilakukan dengan mengalirkan air yang telah diendapkan kotorannya ke bak penyaring yang terdiri dari saringan pasir silika atau menggunakan teknologi membran.

6. Desinfeksi
Pemberian desinfektan (gas khlor) pada air hasil penyaringan bertujuan agar dapat mereduksi konsentrasi bakteri secara umum dan menghilangkan bakteri pathogen (bakteri penyebeb penyakit).

filter air limbah b3

Berikut ini teknologi filter air dalam Water Treatment Plant :
Reverse Osmosis, Sea Water DesalinationTreatment, Brackish Water Treatment, Ultrafiltration Water Treatment, Mineral Water Treatment, Ozonation WaterTreatment, Demineralizer Water Treatment

Teknologi Pengolahan Limbah B3

Parameter Fisik Pada Air
Parameter fisik air biasanya di lihat dari unsur yang berhubungan dengan indra manusia seperti penglihatan, sentuhan, rasa dan penciuman, yang meliputi Turbidity (kekeruhan), warna, bau, rasa dan suhu. Sistem pengolahan yang biasa di gunakan adalah Sistem Sedimentasi (Pengenda-pan), Filtrasi dan penambahan desinfektan.

Parameter Kimia Pada Air
Senyawa kimia yang sering di temukan pada air adalah Fe, Mn, Ca, Mg, Na, SO4, CO3. Jika air memiliki kandungan senyawa kimia yang berlebihan (tidak masuk standart konsumsi yang aman), Pengolahan dapat dilakukan dengan sistem filtrasi dengan menggunakan media tertentu misalnya system Reverse Osmosis atau Demineralier dan Softener.

Parameter Biologi Pada Air
Parameternya dilihat berdasarkan adanya mikroorganisme yang ada di dalam air. Bila jumlah mikro-organisme di dalam air berlebihan biasanya akan mengganggu kesehatan bila di konsumsi. Pengola-han dapat dilakukan dengan menggunakan desinfektan atau alat yang biasa digunakan, misalnya in-jeksi Chlor, System UV dan System Ozone (O3).

Terdapat banyak metode pengolahan air limbah B3 di industri, tiga metode yang paling populer di antaranya ialah chemical conditioningsolidification/Stabilization, dan incineration.

Chemical Conditioning
Salah satu teknologi pengolahan limbah B3 ialah chemical conditioning. Tujuan utama dari chemical conditioning ialah menstabilkan senyawa-senyawa organik yang terkandung di dalam lumpur, mereduksi volume dengan mengurangi kandungan air dalam lumpur, mendestruksi organisme pathogen, memanfaatkan hasil samping proses chemical conditioningyang masih memiliki nilai ekonomi seperti gas methane yang dihasilkan pada proses digestion, mengkondisikan agar lumpur yang dilepas ke lingkungan dalam keadaan aman dan dapat diterima lingkungan

Chemical conditioning terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut:

1. Concentration thickening
Tahapan ini bertujuan untuk mengurangi volume lumpur yang akan diolah dengan cara meningkatkan kandungan padatan. Alat yang umumnya digunakan pada tahapan ini ialah gravity thickener dan solid bowl centrifuge. Tahapan ini pada dasarnya merupakan tahapan awal sebelum limbah dikurangi kadar airnya pada tahapan de-watering selanjutnya. Walaupun tidak sepopuler gravity thickener dan centrifuge, beberapa unit pengolahan limbah menggunakan proses flotation pada tahapan awal ini.

2. Treatment, stabilization, and conditioning
Tahapan kedua ini bertujuan untuk menstabilkan senyawa organik dan menghancurkan patogen. Proses stabilisasi dapat dilakukan melalui proses pengkondisian secara kimia, fisika, dan biologi. Pengkondisian secara kimia berlangsung dengan adanya proses pembentukan ikatan bahan-bahan kimia dengan partikel koloid. Pengkondisian secara fisika berlangsung dengan jalan memisahkan bahan-bahan kimia dan koloid dengan cara pencucian dan destruksi. Pengkondisian secara biologi berlangsung dengan adanya proses destruksi dengan bantuan enzim dan reaksi oksidasi. Proses-proses yang terlibat pada tahapan ini ialah lagooninganaerobic digestionaerobic digestionheat treatment,polyelectrolite flocculationchemical conditioning, dan elutriation.

3. De-watering and drying
De-watering and drying bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi kandungan air dan sekaligus mengurangi volume lumpur. Proses yang terlibat pada tahapan ini umumnya ialah pengeringan dan filtrasi. Alat yang biasa digunakan adalah drying bedfilter presscentrifugevacuum filter, dan belt press.

4. Disposal
Disposal ialah proses pembuangan akhir limbah B3. Beberapa proses yang terjadi sebelum limbah B3 dibuang ialah pyrolysis wet air oxidation, dan composting. Tempat pembuangan akhir limbah B3 umumnya ialah sanitary landfillcrop land, atauinjection well.

Solidification/Stabilization
Di samping chemical conditiong, teknologi solidification/stabilization juga dapat diterapkan untuk mengolah limbah B3. Secara umum stabilisasi dapat didefinisikan sebagai proses pencapuran limbah dengan bahan tambahan (aditif) dengan tujuan menurunkan laju migrasi bahan pencemar dari limbah serta untuk mengurangi toksisitas limbah tersebut. Sedangkan solidifikasi didefinisikan sebagai proses pemadatan suatu bahan berbahaya dengan penambahan aditif. Kedua proses tersebut seringkali terkait sehingga sering dianggap mempunyai arti yang sama. Proses solidifikasi/stabilisasi berdasarkan mekanismenya dapat dibagi menjadi 6 golongan, yaitu:

  1. Macroencapsulation, yaitu proses dimana bahan berbahaya dalam limbah dibungkus dalam matriks struktur yang besar.
  2. Microencapsulation, yaitu proses yang mirip macroencapsulation tetapi bahan pencemar terbungkus secara fisik dalam struktur kristal pada tingkat mikroskopik.
  3. Precipitation
  4. Adsorpsi, yaitu proses dimana bahan pencemar diikat secara elektrokimia pada bahan pemadat melalui mekanisme adsorpsi.
  5. Absorbsi, yaitu proses solidifikasi bahan pencemar dengan menyerapkannya ke bahan padat.
  6. Detoxification, yaitu proses mengubah suatu senyawa beracun menjadi senyawa lain yang tingkat toksisitasnya lebih rendah atau bahkan hilang sama sekali.

Teknologi solidikasi/stabilisasi umumnya menggunakan semen, kapur (CaOH2), dan bahan termoplastik. Metoda yang diterapkan di lapangan ialah metoda in-drum mixing, in-situ mixing, danplant mixing. Peraturan mengenai solidifikasi/stabilitasi diatur oleh BAPEDAL berdasarkan Kep-03/BAPEDAL/09/1995 dan Kep-04/BAPEDAL/09/1995.

Sumber [Aneka Sumber]

Teknologi membran mikrofiltrasi

Teknologi membran mikrofiltrasi, Teknologi membran telah tumbuh dan berkembang secara dinamis sejak pertamakali  dikomersilkan Sartorius-Werke di Jerman pada tahun 1927, khususnya untuk membran mikrofiltrasi. Pengembangan dan aplikasi teknologi ini semakin beragam dan penemuan-penemuan baru pun semakin banyak dipublikasikan. Teknologi membran pada akhirnya menjadi salah satu teknologi alternatif yang paling kompetitif saat ini dan telah memberikan beragam solusi bagi umat manusia dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Proses mikrofiltrasi merupakan salah satu proses berbasis membran yang berkembang sangat pesat di awal perkembangan teknologi membran. Pertumbuhan dan perkembangannya pada tahun-tahun terakhir hanya mampu disaingi oleh reverse osmosis, akibat adanya permintaan yang sangat besar terutama untuk aplikasi proses desalinasi. Secara umum mikrofiltrasi diaplikasikan dalam proses pemisahan unsur-unsur partikulat dari larutannya. Aplikasi proses mikrofiltrasi diantaranya adalah untuk proses sterilisasi obat-obatan dan produksi minuman, klarifikasi ekstrak juice, pemrosesan air ultramurni pada industri semi konduktor, metal recovery, dan sebagainya.

filter air membran mikrofiltrasi

Proses mikrofiltrasi merupakan proses pemisahan unsur-unsur partikulat dari dalam larutannya. Proses ini berlangsung dan difasilitasi oleh membran mikrofiltrasi. Membran mikrofiltrasi dapat memiliki baik struktur simetrik maupun asimetrik, dengan rentang ukuran diameter pori antara 0,02-10 μm, sehingga akan sangat efektif dalam pemusahan baik padatan tersuspensi maupun emulasi. Penggolongan proses-proses membran pada saat ini sangat luas. Membran mikrofiltrasi dapat dibedakan dari membrane reverse osmosis dan ultrafiltrasi berdasarkan ukuran partikel yang dapat dipisahkannya. Pada membran mikrofiltrasi, garam tidak dapat direjeksi membran. Proses filtrasi dapat dilaksanakan pada tekanan relatif rendah yaitu di bawah 2 bar. Membran mikrofiltrasi dapat dibuat dari berbagai macam material baik organic maupun anorganik. Membran anorganik banyak digunakan untuk membuat membrane mikrofiltrasi antara lain sintering, track etching, stretching, dan inversi fasa.

Teknologi membrane mikrofiltrasi adalah proses membran dengan menggunakan tekanan sebagai gaya dorong. Teknologi Membran mikrofiltrasi memiliki ukuran pori antara 0,02 sampai 10 μm dan tebal antara 10 sampai 150 μm. Mikrofiltrasi digunakan pada berbagai macam aplikasi di industri, terutama untuk pemisahan partikel berukuran lebih dari 0,1 μm dari larutannya. Membran ini dapat menahan koloid, mikroorganisme, dan padatan tersuspensi. Mikrofiltrasi juga dapat menahan bahan-bahan yang ukurannya lebih kecil daripada rata-rata ukuran pori karena penahan adsorptif. Salah satu aplikasi utamanya di industri adalah sterilisasi dan klarifikasi pada industri makanan dan obat-obatan, pemanenan sel, klarifikasi juice, recovery logam dalam bentuk kolid, pengolahan limbah cair, fermentasi kontinue, ataupun pemisahan emulsi minyak-air. Mikrofiltrasi juga dapat digunakan untuk memisahkan partikel selama proses pembuatan air ultramurni pada industri semi konduktor. Aplikasi terbaru adalah di bidang bioteknologi, yaitu pengambilan sel dan bioreaktor membran, serta teknologi biomedik yaitu pemisahan plasma dari sel darah. Membran mikrofiltrasi biasanya beroperasi pada tekanan 0,5-5 atmosfer, dan membran yang digunakan pada umumnya berstruktur simetrik.

Proses ini cocok untuk melakukan fraksionasi atau penyisihan makromolekul dari suspensi atau emulsi. Hal yang paling membatasi mikrofiltrasi khususnya untuk umpan berupa suspensi adalah apa yang disebut polarisasi konsentrasi dan fouling. Kedua fenomena tersebut diasosiasikan dengan penurunan flux terhadap waktu. Mikrofiltrasi  (MF), Membran jenis ini beroperasi pada tekanan berkisar 0,1-2 Bar dan batasan permeabilitas-nya lebih besar dari 50 L/m2.jam.bar

Secara umum, mikrofiltrasi diaplikasikan dalam proses pemisahan unsur-unsur partikulat dari larutannya.  Teknologi membran dapat dari sejumlah besar material yang berbeda-beda dan dengan bermacam-macam tehnik pembuatan antara lain sintering, track etching, stretching, dan inverse fasa. Membran mikrofiltrasi dapat dibuat dari berbagai macam material baik organic maupun anorganik. Hal ini memungkinkan untuk membuat membran dengan konfigurasi dan ukuran seperti yang diinginkan. Pada proses sintering ini material ditekan dan dipanaskan hingga melewati titik didihnya.

Membran mikrofiltrasi memiliki ukuran pori antara 0,02 sampai 10μm dan tebal antara 10 sampai 150μm. Membran mikrofiltrasi juga memiliki dua struktur geometri pori, yaitu : simetrik dan asimetrik. Namun umumnya membran mikrofiltrasi berstruktur pori asimetrik. Pada membran asimetrik terdapat lapisan atas yang sangat tipis (skin) dengan tebal 0,1-1 μm. Untuk memberikan kekuatan mekanik, lapisan skin ini ditunjang oleh lapisan berikutnya yang dikenal sebagai support. Lapisan support memiliki ketebalan antara 50-150 μm dan sangat berpori.

Keuntungan mikrofiltrasi diantaranya mampu menghilangkan semua partikel dan mikroorganisme yang lebih besar dari ukuran pori, dan perawatan yang dibutuhkan minimal. Sementara kerugiannya tidak mampu menghilangkan (hanya mengurangi) senyawa anorganik terlarut, senyawa kimia, pirogen, dan semua koloid. Selain itu mikrofiltrasi tidak dapat diregenerasi. Mikrofiltrasi tidak berbeda secara fundamental dengan reverse osmosis, ultrafiltrasi ataupun nanofiltrasi kecuali dalam hal ukuran partikel yang dihilangkannya.

Penggunaan membran mikrofiltrasi dan ultrafiltrasi dapat memisahkan partikel yang mempunyai berat molekul lebih besar dari ukuran pori kapiler membran. Unit filtrasi teknologi membran terdiri atas modul membran, pompa diafragma, dan peralatan bantu lainnya. Unit filtrasi membran dapat berfungsi baik jika dirakit dengan memenuhi persyaratan teknis yang sesuai dengan tahapan proses filtrasi, yaitu pengumpanan, penyaringan, dan pencucian. Tekanan pada proses filtrasi maksimum 2 bar agar serat kapiler tidak putus. Sebaiknya membran tidak digunakan untuk larutan dengan pH ekstrem dan suhu lebih dari 40°C. Teknologi membran mikrofiltrasi dan ultrafiltrasi dapat digunakan untuk filtrasi jus buah, minyak kelapa murni, dan minyak tumbuh-tumbuhan lainnya, dan menghasilkan cairan yang lebih jernih.

Sumber [Aneka Sumber]

Media filter karbon aktif (Activated Carbon)

Media filter karbon aktif (Activated Carbon), Media filter karbon aktif salah satu media yang digunakan untuk menjernihkan air dan menghilangkan bau.  Karbon aktif atau sering juga disebut sebagai arang aktif, adalah suatu jenis karbon yang memiliki luas permukaan yang sangat besar. Hal ini bisa dicapai dengan mengaktifkan karbon atau arang tersebut. Hanya dengan satu gram dari karbon aktif, akan didapatkan suatu material yang memiliki luas permukaan kira-kira sebesar 500 m2 (didapat dari pengukuran adsorpsi gas nitrogen). Biasanya pengaktifan hanya bertujuan untuk memperbesar luas permukaannya saja, namun beberapa usaha juga berkaitan dengan meningkatkan kemampuan adsorpsi karbon aktif itu sendiri.

Karbon aktif adalah karbon padat yang memiliki luas permukaan yang cukup tinggi berkisar antara 100 sampai dengan 2000 m2/g. Bahkan ada peneliti yang mengklaim luas permukaan karbon aktif yang dikembangkan memiliki luas permukaan melebihi 3000 m2/g. Bisa dibayangkan dalam setiap gram zat ini mengandung luas permukaan puluhan kali luasan lapangan sepak bola. Hal ini dikarenakan zat ini memiliki pori – pori yang sangat kompleks yang berkisar dari ukuran mikro dibawah 20 A (Angstrom), ukuran meso antara 20 sampai 50 Angstrom dan ukuran makro yang melebihi 500 A (pembagian ukuran pori berdasarkan IUPAC). Sehingga luas permukaan disini lebih dimaksudkan luas permukaan internal yang diakibatkan dari adanya pori – pori yang berukuran sangat kecil.

media filter karbon aktif

Karena memiliki luas permukaan yang sangat besar, maka media filter karbon aktif sangat cocok digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan luas kontak yang besar seperti pada bidang adsorpsi (penjerapan), dan pada bidang reaksi dan katalisis. Contoh yang mudah dari karbon aktif adalah yang banyak dikenal dengan sebutan norit yang digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan. Prinsip kerja norit adalah ketika masuk kedalam perut dia akan mampu menjerap bahan – bahan racun dan berbahaya yang menyebabkan gangguan pencernaan. Kemudian menyimpannya didalam permukaan porinya sehingga nantinya keluar nantinya bersama tinja. Secara umum karbon aktif ini dibuat dari bahan dasar batu bara dan biomasa. Intinya bahan dasar pembuat karbon aktif haruslah mengandung unsur karbon yang besar.

Dewasa ini karbon aktif yang berasal dari biomasa banyak dikembangkan para peneliti karena bersumber dari bahan yang terbarukan dan lebih murah. Bahkan karbon aktif dapat dibuat dari limbah biomasa seperti kulit kacang-kacangan, limbah padat pengepresan biji – bijiaan, ampas, kulit buah dan lain sebagainya. Proses pembuatan arang aktif dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu pengaktifan secara fisika dan secara kimia. Pengaktifan secara fisika pada dasarnya dilakukan dengan cara memanaskan bahan baku pada suhu yang cukup tinggi (600 – 900 C) pada kondisi miskin udara(oksigen), kemudian pada suhu tinggi tersebut dialirkan media pengaktif seperti uap air dan CO2. Sedangkan pada pengaktifan kimiawi, bahan baku sebelum dipanaskan dicampur dengan bahan kimia tertentu seperti KOH, NaOH, K2CO3 dan lain sebagainya. Biasanya pengaktifan secara kimiawi tidak membutuhkan suhu tinggi seperti pada pengaktifan secara fisis, namun diperlukan tahap pencucian setelah diaktifkan untuk membuang sisa – sisa bahan kimia yang dipakai. Sekarang ini telah dikembangkan pengabungan antara metode fisika dan kimia untuk mendapatkan sekaligus kelebihan dari kedua tipe pengaktifan tersebut. Karbon aktif  biasanya dapat dibuat dari beberapa bahan baku Batu Bara, Arang Kayu Keras, dan  Arang Batok Kelapa. Beberapa bahan baku tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, dan masing-masing memiliki keunggulannya masing-masing.

Contoh Beberapa Jenis Bahan Baku Media Filter Karbon Aktif:

Karbon Aktif Batu Bara
Karbon aktif jenis ini memiliki tingkat kekerasan tinggi, sehingga sangat cocok untuk digunakan sebagai filter di dalam tangki bervolume ribuan liter.

Karbon Aktif dari Kayu Keras
Karbon aktif dari bahan ini biasanya dibuat dalam bentuk powder. Metilen Biru karbon aktif dari kayu keras sangat tinggi yaitu bisa di atas 200. Sehingga, karbon aktif jenis ini banyak diaplikasikan di industri farmasi, penyedap makanan, pabrik gula, dan industri minyak goreng. Karena semakin tinggi metilen biru karbon aktif, maka daya serap warna organik juga semakin tinggi.

Karbon Aktif Tempurung Kelapa (Coconut Shell)
Dalam tahap karbonisasi, tempurung kelapa dipanaskan tanpa udara dan tanpa penambahan zat kimia. Tujuan karbonisasi adalah untuk menghilangkan zat terbang. Proses karbonisasi dilakukan pada temperature 400-600 0C. Hasil karbonisasi adalah arang yang mempunyai kapasitas penyerapan rendah. Untuk mendapat karbon aktif dengan penyerapan yang tinggi maka harus dilakukan aktivasi terhadap arang hasil karbonisasi.

Proses aktivasi dilakukan dengan tujuan membuka dan menambah pori-pori pada karbon aktif. Bertambahnya jumlah pori-pori pada karbon aktif akan meningkatkan luas permukaan karbon aktif yang mengakibatkan kapasitas penyerapannya menjadi bertambah besar. Proses aktivasi dapat dilakukan dengan dua metode yaitu teknik aktivasi fisik dan teknik aktivasi kimia. Proses aktivasi fisik dilakukan dengan cara mengalirkan gas pengaktif melewati tumpukan arang tempurung kelapa hasil karbonisasi yang berada dalam suatu tungku. Aktivasi kimia dilakukan dengan menambahkan bahan baku dengan zat kimia tertentu pada saat karbonisasi.

Ada tiga jenis media filter karbon aktif yang terbuat dari tempurung kelapa yang banyak dipasaran yaitu:

Karbon aktif  bentuk serbuk
Karbon aktif berbentuk serbuk dengan ukuran lebih kecil dari 0,18 mm. Terutama digunakan dalam aplikasi fasa cair dan gas. Digunakan pada industri pengolahan air minum, industry farmasi, terutama untuk pemurnian monosodium glutamate, bahan tambahan makanan, penghilang warna asam furan, pengolahn pemurnian jus buah, penghalus gula, pemurnian asam sitrtat, asam tartarikk, pemurnian glukosa dan pengolahan zat pewarna kadar tinggi.

Karbon aktif  Bentuk Granular
Karbon aktif bentuk granular/tidak beraturan dengan ukuran 0,2 -5 mm. Jenis ini umumnya digunakan dalam aplikasi fasa cair dan gas. Beberapa aplikasi dari jenis ini digunakan untuk: pemurnian emas, pengolahan air, air limbah dan air tanah, pemurni pelarut dan penghilang bau busuk.

Karbon Aktif Bentuk Pellet
Karbon aktif berbentuk pellet dengan diameter 0,8-5 mm. Kegunaaan utamanya adalah untuk aplikasi fasa gas karena mempunyai tekanan rendah, kekuatan mekanik tinggi dan kadar abu rendah.Digunakan untuk pemurnian udara, control emisi, tromol otomotif, penghilangbau kotoran dan pengontrol emisi pada gas buang.

Sumber [Aneka Sumber]

Filter air membran keramik

Filter air membran keramik, filter air dapat menggunakan membran keramik sehingga air menjadi bersih, jernih dan tidak berbau lagi. Membran keramik merupakan tipe membran yang relative baru karena skala komersialnya baru  diperkenalkan pada pertengahan tahun 1980 an oleh Membralox USA. Membran jenis ini digunakan pada crossflow filtration untuk larutan yang mengandung konsentrasi partikel yang tinggi. Membran keramik berpori adalah membran dengan tipe asimetrik yang memiliki ketebalan support sekitar 1 – 3 mm. Lapisan mikrofiltrasi biasanya berukuran 10 – 30μm dan oksida yang umum digunakan untuk  membran adalah zirconia (ZrO2) dan alumina (Al2O3). Membran ultrafiltrasi tebalnya hanya beberapa mikrometer dan terbuat dari alumina, zirconia, titania (TiO2) dan cerium (CeO2). Membran nanofiltrasi ketebalannya kurang dari 1μm, umumnya terbuat dari zirconia dan titania. Support dan lapisan mikrofiltrasi dihasilkan dari teknik keramik klasik, dimana proses sol-gel digunakan untuk lapisan ultra dan nanofiltrasi. Membran filter air keramik kebanyakan dibuat dalam dua bentuk geometri utama : tubular dan flat. Membran keramik terutama yang berbasis Palladium telah lama digunakan pada mikrofiltrasi dan ultrafiltrasi karena sifatnya yang stabil terhadap pengaruh panas, bahan kimia dan solvent.

filter air membran keramik

Kelebihan membran keramik terletak pada stabilitas termalnya yang baik, tahan terhadap senyawa kimia, degradasi biologis ataupun mikroba. Sifat-sifat menunjukkan keunggulan bila dibandingkan dengan membran yang terbuat dari senyawa polimer, dan relatif mudah untuk dibersihkan dengan cleaning agent. Ketahanan terhadap zat kimia menyebabkan membran keramik banyak digunakan pada prosesing makanan, produk bioteknologi dan farmasi.

Kekurangan membran keramik terutama timbul dari proses preparasinya dimana sangat sulit mencapai kualitas produk akhir yang reproducible. Hal ini karena pada dasarnya sifat brittle dari membran keramik membuatnya lebih mahal daripada system membran polimer. Selain itu, harga system membran meningkat signifikan seiring dengan meningkatnya kebutuhan sifat-sifat produk, antara lain porositas, ukuran pori, reproducibility, dan reliability.

Pembuatan Membran Keramik
Umumnya, proses fabrikasi membran keramik berpori terdiri atas tiga tahapan yaitu 1)pembentukan suspensi partikel, 2) pembuatan suspensi partikel menjadi prekursor membran dengan bentuk tertentu seperti flat-sheet,monolith atau tubular dan (3)konsolidasi membran keramik dengan perlakuan panas pada suhu tinggi. Metode yang lazim dilakukan dalam pencetakan membran keramik adalah slip casting,tape casting, extrusion dan pressing. Proses pelapisan dilakukan dengan teknik dipcoating, sol-gel, Chemical Vapor Deposition (CVD) atau proses Evaporative Vapour Deposition(EVD). Diameter pori membran keramik untuk mikrofiltrasi dan ultrafiltrasi bervariasi dari 0,01 sampai 10 μm. Biasanya membrane membran untuk mikrofiltrasi dan ultrafiltrasi dibuat dengan cara slip coating-sintering. Cara lainnya yaitu metode sol-gel dapat digunakan untuk membuat membran keramik dengan ukuran pori dari 10 sampai 100 Ȧ. Pada proses slip coating-sintering membran keramik dibuat dengan cara menuangkan dispersi butir halus material keramik dan suatu binder dan mencetaknya dalam suatu mold dan selanjutnya disintering pada temperatur tinggi.

Performansi Proses Filtrasi Membran Keramik
Parameter yang mempengaruhi performan pada filtrasi adalah larutan umpan, membran dan kondisi filtrasi. Tiga fenomena utama sehubungan perpindahan solvent dan solut selama proses filtrasi membran adalah polarisasi, perpindahan massa internal dan fouling. Pengaruh tiga hal ini dengan mengubah parameter-parameter berikut : hidrodinamika, kinetika transfer massa dan kesetimbangan termodinamika. Perbedaan antara zat anorganik dan organik tradisional dihasilkan dari struktur dan sifat intristik material. Aliran dalam filter air membran keramik terjadi melalui ruang intergranular pada lapisan atas, sublapisan pori dan  support, sedangkan pada membran polimer terjadi melalui jaringan kontinyu pada bukaan. Adanya oksida logam menghasilkan  muatan listrik sehingga performance permukaan material keramik lebih kuat, selain tergantung pada pH dan kekuatan ionic  larutan dibandingkan material polimer.

Sifat-sifat Membran
Material dan struktur membran, terutama ukuran pori, karakteristik permukaan membran, dan struktur support (ketebalan,  porositas, pembasahan, potensial zeta,permukaan dan sifat kimia) mempengaruhi permeate fluks dan sifat retensi, demikian juga dengan kecenderungan terjadinya fouling. Membran keramik menunjukkan perilaku amfoter terhadap air sehingga muatan permukaan tergantung pada pH larutan. Terjadinya permukaan bermuatan dan yang netral disebabkan oleh formasi metal aquo complexes pada interface larutan oksida. Perilaku ini berdampak pada permeate fluks, kecenderungan fouling dan retensi. Pada beberapa kasus, sifat amfoter membran keramik dapat mengakibatkan preferential adsorption pada komponen tertentu, hal ini akan meningkatkan retensi. Umumnya membran keramik mempunyai struktur komposit yang dapat meningkatkan permeabilitas membran dengan ukuran pori kecil dengan menurunkan overall hydraulic resistence. Sifat membran lainnya yang cukup penting adalah geometri pori (tortuosity), ukuran pori, distribusi ukuran pori dan porositas. Peningkatan ukuran pori  mengakibatkan kenaikan permeabilitas, polarisasi, dan penyumbatan, juga penurunan retensi. Ukuran pori optimal tergantung pada sifat umpan dan kondisi filtrasi.

Kondisi Filtrasi
Parameter penting bagi kondisi filtrasi berupa tekanan, cross flow velocity, temperatur dan persentase recovery. Permeate fluks bertambah dengan pemakaian teknik-teknik backflow, feed pulsation, aliran dua fasa, rotasi filter element dll. Metode untuk mengurangi fouling antara lain adalah metode chemical cleaning, metode fisik seperti backflushing dan pemakaian turbulence promoters, dan metode hydrodynamic yang berhubungan dengan disain modul. Kecepatan aliran permeat tergantung pada tekanan transmembran yang dilakukan pada luas permukaan dengan kondisi yang seragam. Fluks air murni berbanding lurus dengan tekanan. Bila larutan umpan lebih kompleks dan mengandung zat-zat lain maka perilaku fluks juga akan lebih kompleks. Awalnya fluks meningkat sampai critical fluks tercapai, kemudian melambat hingga mencapai limiting fluks. Selain limiting fluks, kenaikan tekanan tidak berdampak positif bagai fluks. Sebaliknya, kenaikan tekanan dapat menurunkan fluks karena compactibility lapisan akibat terjadinya fouling. Kenaikan tekanan operasi dapat mengakibatkan meningkatnya polarisasi konsentrasi dan fouling yang pada akhirnya akan menurunkan fluks permeat. Pada mikro dan ultrafiltrasi umumnya disarankan cross flow velocity sebesar 2 – 8 m/s. Kenaikan velocity dapat mengakibatkan kenaikan fluks dan critical fluks. Umumnya membran dapat dibuat dari bermacam-macam material seperti keramik, kaca, atau logam. Membran keramik umumnya terbuat dari campuran senyawa-senyawa metal (logam) seperti Silika, Alumina dan Zirkonia. Secara fisik, membran keramik dapat berbentuk tube atau disk, bersifat porous sehingga operasi membran jenis ini kebanyakan adalah dead-end.

Sumber [eprints.unsri.ac.id]

Pages:12Next »