You are here: Filter Penjernih Air keluarga sehat»Archive for June 2013

Archive for June 2013

Minum Soda, Pingsan dan Gangguan Jantung

Hati-hati, Kebanyakan Minum Soda Bisa Pingsan dan Gangguan Denyut Jantung

Jakarta, Saat cuaca terik, minuman soda dingin dipilih sebagian orang untuk menyegarkan tenggorokan. Tapi ingat, jangan sampai kebanyakan. Karena terlalu banyak minum minuman soda bisa bikin pingsan dan menyebabkan gangguan denyut jantung.

Seperti dikutip dari Daily Mail, Jumat (28/6/2013), peneliti mengungkapkan bahwa orang yang menenggak minuman soda cukup banyak berisiko mengalami penambahan berat badan, pingsan, dan denyut jantung yang tidak teratur atau dikenal juga sebagai aritmia.

Dr Naima Zarqane dan Profesor Nadir Saoudi, dari Princess Grace Hospital Centre di Monaco, melaporkan bagaimana konsumsi minuman soda secara berlebih dapat menyebabkan hilangnya kalium sehingga berpotensi menyebabkan aritmia. Mereka menggambarkan kasus seorang wanita berusia 31 tahun yang dirawat di rumah sakit akibat pingsan.

Hasil tes menunjukkan pasien memiliki kadar kalium dalam darah 2,4 mmol/liter dan denyut jantungnya 610 ms. Padahal, normalnya, kadar kalium dalam darah 3,5-5,1 mmol/liter dan denyut jantung 450 ms.

Setelah diperiksa lebih lanjut, diketahui bahwa pasien ini sejak umur 15 tahun sudah mengganti konsumsi air putihnya dengan minum minuman bersoda. Atas petunjuk dokter, pasien pun berhenti mengonsumsi minuman soda. Hasilnya, kadar kalium darah menjadi 4,1 mmol/liter dalam satu minggu dan 4,2 mmol/liter dalam satu bulan. Detak jantungnya pun kembali ke 430 ms dalam satu minggu.

Enam studi kasus lain juga menunjukkan bahwa konsumsi minuman soda secara berlebih berhubungan dengan kondisi medis yang buruk seperti rhabdomyolysis (rusaknya jaringan otot rangka), aritmia, dan bahkan kematian yang berhubungan dengan torsades de pointes, suatu bentuk ventricular tachycardia yang dapat berubah menjadi fibrilasi ventrikel.

Menurut peneliti, ada hubungan potensial antara konsumsi minuman soda dan tingkat kalium yang rendah. Berdasar prinsip osmotik, kandungan fruktosa jagung yang tinggi pada minuman soda kemungkinan menghambat penyerapan air oleh usus.

Akibatnya, orang terserang diare dan kehilangan banyak cairan termasuk di dalamnya kalium. Kafein pada minuman soda juga mungkin memiliki efek yaitu jumlah kalium yang diserap ginjal lebih sedikit.

Pada hati, minuman soda dapat menghambat arus kalium dalam saluran ion dan repolarisasi ventrikel yang bisa mengakibatkan aritmia. Menurut Dr Zarqane, para ahli jantung perlu melihat intensitas konsumsi minuman soda dengan masalah detak jantung yang dimiliki pasiennya.

Prof Saoudi menambahkan konsumsi minuman soda atau minuman manis secara berlebih cenderung memiliki efek kardiovaskular yang merugikan. “Karena asupan kalori yang tinggi, maka berat badan cenderung bertambah dan meningkatkan risiko sindrom metabolik,” kata Prof Saoudi.

Studi kasus ini dipresentasikan pada pertemuan EHRA Europace 2013 di Athena.

(vit/vit)

Sumber [health.detik.com]

Kriteria Air Minum Yang Baik

Kriteria Air Minum Yang Baik itu harus:
Jernih
Tidak berwarna
Tidak berbau
Tidak mengandung bakteri
Tidak mengandung campuran yg bisa merusak organ tubuh sebut saja zat seng, atau zat besi Mengandung mineral organik

Ya, tubuh kita membutuhkan air dan mineral, air yang kita butuhkan adalah air murni yang bebas darl polutan berbahaya dan tidak mengandung zat-zat perusak kesehatan dan mineral yang dibutuhkan tubuh adalah mineral yang bersifat organik.Kesalahannya Terletak pada mineral anorganik Mineral Anorganik tidak dapat diasimilasi tubuh Mineral yang dibutuhkan tubuh harus jelas kondisinya, seperti : mineral Fe (Zat besi) a d a l a h yang merupakan Ion( fe’) bermuatan listrik yang kita butuhkan dan bukan Atom Besi (Fe) atau molekul besi yang mudah teroksidasi oleh oksigen sehingga menimbulkan karat sehingga membuat kerja ginjal menjadi berat. Zat besi yang baik tersebut dapat diperoleh dari tanaman hijau seperti bayam dll. jenis mineral tersebut adalah organik mineral yang sudah diolah oleh organisme seperti tanaman.Di negara-negara yang maju untuk membuat Air Mineral, air harus dimurnikan terlebih dahulu setelah itu baru ditambahkan mineral didalamnya, sehingga jumlah dan jenis mineralnya terkontrol. Standar air minum yang masuk klasifikasi air murni diatur oleh USP dengan peraturan No, 23th, 1995 dengan TDS (Total Dissolved Solid / jumlah zat padat terlarut) max. 10 ppm atau sesuai standard yang dikeluarkan NSF (National Sanitation Foundation), air bersih dan murni memiliki TDS kurang dari 40 ppm.Jadi kita hrs bisa membedakan mana Mineral Organik dan Mineral AnOrganik. air matang hanya membunuh kuman dan bakteri, tidak membuang kandungan logam. malah air yg direbus dengan panci alumunium, justru menambah jumlah kandungan logamnya. air minum kemasan justru lebih parah. krn gak beda jauh sama air tanah kualitasnya. Air proses Reverse Osmosis dan destilasi merupakan air tebaik.

Lalu apa itu Reverse Osmosis?

Teknologi Reverse Osmosis digunakan di mana air murni dibutuhkan; biasanya di tempat-tempat berikut:
1.Air minum
2.Humidifikasi
3.Pembuatan Esreverse osmosis
4.Air pembilas
5.Aplikasi biomedikal
6.Aplikasi laboratotium
7.Fotografi
8.Produksi obat-obatan
9.Dianalisis ginjal
10.Proses kimia
11.Pembuatan kosmetik
12.Restoran
13.Aplikasi metal plating
14.Air pengisi boiler
15.Air pengisi baterai/aki
16.Produksi semikonduktor
17.dan masih banyak lagi….

Reverse osmosis merupakan teknologi yang relatif baru, tapi sangat efektif, sebuah aplikasi proses sains yang ditemukan. Sistem reverse osmosis memiliki banyak jenis, dengan kapasitas untuk memenuhi satu lingkup keluarga atau sebesar kapasitas kebutuhan industri yang memerlukan ribuan galon per hari.Agar kita dapat membedakan air yang murni menyehatkan dan tidak kita bisa melakukan dengan cara test dengan menggunakan alat yg bernama Elektrolizer

Warna Endapan Bahan Pencemar Pengaruh Terhadap Kesehatan
Hijau
—> Cuprum, Oksida, Chlorin –> penyakit ginjal, Sistem syaraf pusat, Kanker
Hitam —> Kalsium, magnesium —> Batu ginjal, Kencing batu
Putih —> Alumunium, Arsen, Asbestos —> Penyakit hati, Sistem syaraf pusat, Kanker
Biru —> Alumunium, Sulfur, Phospat, Pestisida —>Penyakit hati, Ginjal dan kencing batu, Sistem syaraf
Jingga —> Besi oksida —> Gangguan air seni, Gangguan keseimbangan metabolisma

Info :TDS = Total Disolved Solid (Jumlah Padatan (Logam Terlarut dalam Air), satuan ukurannya adalah ppmAir Murni hanya memiliki 3 ppm dari H2O (2 unsur Hidrogen dan 1 unsur Oxygen)semakin tinggi nilai TDS, semakin banyak jumlah kandungan logam yg terlarut didalam air yg ikut terminum tubuh.

Tubuh tetap memerlukan mineral dalam jumlah yg sesuai. maka standart WHO untuk kemurnian air layak minum di batasi dengan nilai TDS maksimal 30 ppm saja. lebih dari itu sisa proses tidak sanggup diuraikan dari tubuh utk di keluarkan. risikonya mengendap di organ vital.

Kesimpulannya,
semakin menambah kewaspadaan tentang resiko campuran air yang dpt menyebabkan kerusakan organ tubuh. Jadi tetap waspada dengan air yang akan kita minum. Hidup sehat dengan cara yg sehat. Carilah info tentang air yg memiliki kadar mineral anorganik yg rendah dan tetap memilih air yg memiliki standar kesehatan yg terpercaya.

Sumber: [memobee.com]

Air Bersih dan Sanitasi

Sanitasi dan perilaku kebersihan yang buruk serta air minum yang tidak aman berkontribusi terhadap 88 persen kematian anak akibat diare di seluruh dunia. Bagi anak-anak yang bertahan hidup, seringnya menderita diare berkontribusi terhadap masalah gizi, sehingga menghalangi anak-anak untuk dapat mencapai potensi maksimal mereka. Kondisi ini selanjutnya menimbulkan implikasi serius terhadap kualitas sumber daya manusia dan kemampuan produktif suatu bangsa di masa yang akan datang.

Di Indonesia, diare masih merupakan penyebab utama kematian anak berusia di bawah lima tahun. Laporan Riskesdas 2007 menunjukkan diare sebagai penyebab 31 persen kematian anak usia antara 1 bulan hingga satu tahun, dan 25 persen kematian anak usia antara satu sampai empat tahun. Angka diare pada anak-anak dari rumah tangga yang menggunakan sumur terbuka untuk air minum tercatat  34 persen lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak dari rumah tangga yang menggunakan air ledeng, Selain itu, angka diare lebih tinggi sebesar 66 persen pada anak-anak dari keluarga yang melakukan buang air besar di sungai atau selokan dibandingkan mereka pada rumah tangga dengan fasilitas toilet pribadi dan septik tank.gambar air bersih dan sanitasi

Peran penting kebersihan sering diabaikan. Kematian dan penyakit yang disebabkan oleh diare pada umumnya dapat dicegah. Bahkan tanpa perbaikan pada sistem pengairandan sanitasi, mencuci tangan secara tepat dengan menggunakan sabun dapat mengurangi resiko penyakit diare sebesar 42 sampai 47 persen.

Situasi masyarakat miskin perkotaan perlu mendapatkan perhatian segera. Di daerah-daerah kumuh perkotaan, sanitasi yang tidak memadai, praktek kebersihan yang buruk, kepadatan penduduk yang berlebihan, serta air yang terkontaminasi secara sekaligus dapat  menciptakan kondisi yang tidak sehat. Penyakit-penyakit terkait dengan ini meliputi disentri, kolera dan penyakit diare lainnya, tipus, hepatitis, leptospirosis, malaria, demam berdarah, kudis, penyakit pernapasan kronis dan infeksi parasit usus. Selain itu, keluarga miskin yang kurang berpendidikan cenderung melakukan praktek-praktek kebersihan yang buruk, yang berkontribusi terhadap penyebaran penyakit dan peningkatan resiko kematian anak. Studi tentang “mega-kota” Jakarta (yang  disebut Jabotabek),i Bandung dan Surabaya pada tahun 2000 menunjukkan bahwa penduduk miskin yang tinggal di daerah pinggiran kota Jakarta kurang berpendidikan dibandingkan warga Jakarta sendiri, dan  memiliki tingkat tamat sekolah menengah hanya seperempat dari mereka yang tinggal di pusat kota. Studi yang sama menghitung angka kematian anak sampai lima kali lebih tinggi di kecamatan-kecamatan miskin di pinggiran kota Jabotabek daripada di pusat kota Jakarta.

Pola dan kecenderungan

Pada dekade-dekade sebelumnya, Indonesia telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam meningkatkan akses terhadap persediaan air bersih dan pelayanan sanitasi. Air bersih dan sanitasi merupakan sasaran Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) yang ketujuh dan pada tahun 2015 diharapkan  sampai dengan setengah jumlah penduduk yang tanpa akses ke air bersih yang layak minum dan sanitasi dasar dapat berkurang. Bagi Indonesia, ini berarti Indonesia perlu mencapai angka peningkatan akses air bersih hingga 68,9 persen dan 62,4 persen, untuk sanitasi.

Saat ini, Indonesia tidak berada pada arah yang tepat untuk mencapai target MDG untuk masalah air bersih MDG pada tahun 2015. Perhitungan dengan menggunakan kriteria MDG nasional Indonesia untuk air bersih dan data dari sensus tahun 2010 menunjukkan bahwa Indonesia harus mencapai tambahan 56,8 juta orang dengan persediaan air bersih pada tahun 2015. Di sisi lain, jika kriteria Program Pemantauan Bersama WHO-UNICEF (JMP) untuk air bersihii akan digunakan, Indonesia harus mencapai tambahan 36,3 juta orang pada tahun 2015. Saat ini, bahkan di provinsi-provinsi yang berkinerja lebih baik (Jawa Tengah dan DI Yogyakarta), sekitar satu dari tiga rumah tangga tidak memiliki akses ke persediaan air bersih (Gambar 1).

Perbandingan dengan tahun 2007 menunjukkan akses air bersih pada tahun 2010 telah mengalami penurunan kira-kira sebesar tujuh persen. Kondisi terbalik ini pada umumnya disebabkan oleh penurunan di daerah perkotaan (sebesar 23 persen sejak tahun 2007, Gambar 2). Akses ke air bersih di Jakarta telah mengalami penurunan dari 63 persen pada 2010 menjadi 28 persen pada tahun 2007, menurut Riskesdas. Yang mengherankan, dua kelompok kuintil tertinggi juga mengalami penurunan aksesterhadap air bersih masing-masing sebesar 8 dan 32 persen dibandingkan dengan tahun 2007. Mereka yang berasal dari kelompok mampu membeli air minum kemasan atau botol: sepertiga rumah tangga perkotaan di Indonesia melakukannya pada tahun 2010.

Sejak tahun 1993, Indonesia telah menunjukkan peningkatan dua kali lipat prosentase rumah tangga dengan akses ke fasilitas sanitasi yang lebih baik, tetapi masih berada pada arah yang belum tepat untuk mencapai target sanitasi MDG 2015. Untuk mencapai target sanitasi nasional MDG, diperlukan pencapaian tambahan 26 juta orang dengan sanitasi yang lebih baik pada tahun 2015. Perencanaan pada jangka panjang memerlukan pencapaian angka-angka yang lebih besar: Data Riskesdas 2010 menunjukkan bahwa secara keseluruhan, kira-kira 116 juta orang masih kekurangan sanitasi yang memadai.

Buang air besar di tempat terbuka merupakan masalah kesehatan dan sosial yang perlu mendapatkan perhatian segera. Sekitar 17 persen rumah tangga pada tahun 2010 atau sekitar 41 juta orang masih buang air besar di tempat terbuka. Ini meliputi lebih dari sepertiga penduduk di Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Barat. Praktek tersebut bahkan ditemukan di provinsi-provinsi dengan cakupan sanitasi yang relatif tinggi, dan pada penduduk perkotaan dan di seluruh kuintil (Gambar 3 dan 4).

Cakupan sanitasi pada kelompok-kelompok yang berbeda menunjukkan perbedaan yang jauh lebih kuat daripada cakupan untuk air bersih (Gambar 4). Proporsi rumah tangga perkotaan dengan akses ke fasilitas sanitasi yang lebih baik hampir dua kali lipat dari proporsi rumah tangga perdesaan. Proporsi rumah tangga yang memiliki fasilitas sanitasi yang lebih baik pada kuintil tertinggi adalah 2,6 kali proporsi kuintil terendah. Perbedaan geografis juga terlihat jelas. Tingkat akses ke sanitasi yang lebih baik di provinsi yang berkinerja terbaik (69,8 persen, DKI Jakarta) adalah tiga kali lebih tinggi daripada tingkat akses di provinsi yang berkinerja terburuk (22,4 persen, Nusa Tenggara Timur).

gambar air bersih dan sanitasiKontaminasi feses terhadap tanah dan air merupakan hal yang umum di daerahh perkotaan, hal ini diakibatkan oleh kepadatan penduduk yang berlebihan, toilet yang kurang sehat dan pembuangan limbah mentah ke tempat terbuka tanpa diolah. Sebagian besar rumah tangga di perkotaan yang menggunakan pompa, sumur atau mata air untuk persediaan air bersih mereka memiliki sumber-sumber air ini dengan jarak 10 meter dari septik tank atau pembuangan toilet. Di Jakarta, Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta menunjukkan bahwa 41 persen sumur gali yang digunakan oleh rumah tangga berjarak kurang dari 10 meter dari septik tank. Septik tank jarang disedot dan kotoran merembes ke tanah dan air tanah sekitarnya. Laporan Bank Dunia tahun 2007 menyebutkan bahwa hanya 1,3 persen penduduk memiliki sistem pembuangan kotoran. Sistem pipa rentan terhadap kontaminasi akibat kebocoran dan tekanan negatif yang disebabkan oleh pasokan yang tidak teratur. Ini merupakan masalah khusus dimana konsumen enggunakan pompa hisap untuk mendapatkan air bersih dari sistem perariran kota.

Dibandingkan dengan kelompok kaya, kaum miskin perkotaan mengeluarkan biaya yang lebih besar dari pendapatan mereka untuk air yang berkualitas lebih buruk. Misalnya, sistem pipa kota Jakarta hanya mencakup sebagian kecil penduduk, karena perluasan pelayanan tidak dapat mengimbangi perkembangan penduduk di daerah perkotaan. Penduduk lainnya tergantung pada berbagai sumber lain, termasuk sumur dangkal, penjual air keliling dan jaringan privat yang terhubung dengan sumur yang dalam. Banyak dari sumber-sumber alternatif ini memerlukan biaya yang lebih besar per satuan volume daripada pasokan air ledeng dan sering digunakan oleh masyarakat miskin.

Air Bersih dan Perkembangannya

Air bersih adalah salah satu jenis sumberdaya berbasis air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari termasuk diantaranya adalah sanitasi

Untuk konsumsi air minum menurut departemen kesehatan, syarat-syarat air minum adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat. Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia, terdapat risiko bahwa air ini telah tercemar oleh bakteri (misalnya Escherichia coli)atau zat-zat berbahaya. Walaupun bakteri dapat dibunuh dengan memasak air hingga 100 °C, banyak zat berbahaya, terutama logam, tidak dapat dihilangkan dengan cara ini.

Sumber air bersih

Sungai

Rata-rata lebih dari 40.000 kilometer kubik air segar diperoleh dari sungai-sungai di dunia. Ketersediaan ini (sepadan dengan lebih dari 7.000 meter kubik untuk setiap orang) sepintas terlihat cukup untuk menjamin persediaan yang cukup bagi setiap penduduk, tetapi kenyataannya air tersebut seringkali tersedia di tempat-tempat yang tidak tepat. Sebagai contoh air bersih di lembah sungai Amazon walupun ketersediaannya cukup, lokasinya membuat sumber air ini tidak ekonomis untuk mengekspor air ke tempat-tempat yang memerlukan. Curah hujan Dalam pemanfaatan hujan sebagai sumber dari air bersih , individu perorangan/ berkelompok/ pemerintah biasanya membangun bendungan dan tandon air yang mahal untuk menyimpan air bersih di saat bulan-bulan musim kering dan untuk menekan kerusakan musibah banjir. Air permukaan dan air bawah tanah. Penyalah gunaan dan pencemaran air Sumber-sumber air bersih ini biasanya terganggu akibat penggunaan dan penyalahgunaan sumber air seperti:

Pertanian. Penghamburan air akibat ketiadaannya penyaluran air yang baik pada lahan yang diairi dengan irigasi (untuk penghematan dalam jangka pendek) dapat berakibat terjadinya kubangan dan penggaraman yang akhirnya dapat menyebabkan hilangnya produktivitas air dan tanah

Industri. Walaupun industri menggunakan air jauh lebih sedikit dibandingkan dengan irigasi pertanian, namun penggunaan air oleh bidang industri mungkin membawa dampaknya yang lebih parah dipandang dari dua segi. Pertama, penggunaan air bagi industri sering tidak diatur dalam kebijakan sumber daya air nasional, maka cenderung berlebihan. Kedua, pembuangan limbah industri yang tidak diolah dapat menyebabkan pencemaran bagi air permukaan atau air bawah tanah, seihingga menjadi terlalu berbahaya untuk dikonsumsi. Air buangan industri sering dibuang langsung ke sungai dan saluran-saluran, mencemarinya, dan pada akhirnya juga mencemari lingkungan laut, atau kadang-kadang buangan tersebut dibiarkan saja meresap ke dalam sumber air tanah tanpa melalui proses pengolahan apapun. Kerusakan yang diakibatkan oleh buangan ini sudah melewati proporsi volumenya. Banyak bahan kimia modern begitu kuat sehingga sedikit kontaminasi saja sudah cukup membuat air dalam volume yang sangat besar tidak dapat digunakan untuk minum tanpa proses pengolahan khusus.

Eksploitasi sumber-sumber air secara masal oleh rumah tangga.

* Di negara berkembang: Di beberapa tempat di negara bagianTamil Nadu di India bagian selatan yang tidak memiliki hukum yang mengatur pemasangan penyedotan sumur pipa atau yang membatasi penyedotan air tanah, permukaan air tanah anjlok 24 hingga 30 meter selama tahun 1970-an sebagai akibat dari tak terkendalikannya pemompaan atau pengairan. Pada sebuah konferensi air di tahun 2006 wakil dari suatu negara yang kering melaporkan bahwa 240.000 sumur pribadi yang dibor tanpa mengindahkan kapasitas jaringan sumber air mengakibatkan kekeringan dan peningkatan kadar garam.

* Di negara maju seperti Amerika Serikat seperlima dari seluruh tanah irigasi di AS tergantung hanya pada jaringan sumber air (Aquifer) Agallala yang hampir tak pernah menerima pasok secara alami. Selama 4 dasawarsa terakhir terhitung dari tahun 2006, sistem jaringan yang tergantung pada sumber ini meluas dari 2 juta hektar menjadi 8 juta, dan kira-kira 500 kilometer kubik air telah tersedot. Jaringan sumber ini sekarang sudah setengah kering kerontang di bawah sejumlah negara bagian. Sumber-sumber air juga mengalami kemerosotan mutu, di samping pencemaran dari limbah industri dan limbah perkotaan yang tidak diolah, seperti pengotoran berat dari sisa-sisa dari lahan pertanian. Misalnya, di bagian barat AS, sungai Colorado bagian bawah sekarang ini demikian tinggi kadar garamnya sebagai akibat dari dampak arus balik irigasi sehingga di Meksiko sudah tidak bermanfaat lagi, dan sekarang AS terpaksa membangun suatu proyek besar untuk memurnikan air garam di Yuma, Arizona, guna meningkatkan mutu sungainya. Situasi di wilayah perkotaan jauh lebih jelek daripada di daerah sumber dimana rumah tangga yang terlayani terpaksa merawat WC dengan cara seadanya karena langkanya air, dan tanki septik membludak karena layanan pengurasan tidak dapat diandalkan, atau hanya dengan menggunakan cara-cara lain yang sama-sama tidak tuntas dan tidak sehat. Hal ini tidak saja mengakibatkan masalah bagi penggunanya sendiri, tetap juga sering berbahaya terhadap orang lain dan merupakan ancaman bagi lingkungan karena limbah mereka lepas tanpa proses pengolahan.

Akibat ketiadaan air bersih

Ketiadaan air bersih mengakibatkan:

Penyakit diare. Di Indonesia diare merupakan penyebab kematian kedua terbesar bagi anak-anak dibawah umur lima tahun. Sebanyak 13 juta anak-anak balita mengalami diare setiap tahun. Air yang terkontaminasi dan pengetahuan yang kurang tentang budaya hidup bersih ditenggarai menjadi akar permasalahan ini. Sementara itu 100 juta rakyat Indonesia tidak memiliki akses air bersih Penyakit cacingan. Pemiskinan. Rumah tangga yang membeli air dari para penjaja membayar dua kali hingga enam kali dari rata-rata yang dibayar bulanan oleh mereka yang mempunyai sambungan saluran pribadi untuk volume air yang hanya sepersepuluhnya

Kontroversi air bersih

Walaupun air meliputi 70% permukaan bumi dengan jumlah kira-kira 1,4 ribu juta kilometer kubik, namun hanya sebagian kecil saja dari jumlah ini yang dapat benar-benar dimanfaatkan, yaitu kira-kira hanya 0,003%. Sebagian besar air, kira-kira 97%, ada dalam samudera atau laut, dan kadar garamnya terlalu tinggi untuk kebanyakan keperluan. Dari 3% sisanya yang ada, hampir semuanya, kira-kira 87 persennya,tersimpan dalam lapisan kutub atau sangat dalam di bawah tanah.

Keributan masalah

air bersih

bisa terjadi dalam suatu negara, kawasan, ataupun berdampak ke benua luas karena penggunaan air secara bersama-sama. Di Afrika, misalnya, lebih dari 57 sungai besar atau lembah danau digunakan bersama oleh dua negara atau lebih; Sungai Nil oleh sembilan, dan Sungai Niger oleh 10 negara. Sedangkan di seluruh dunia, lebih dari 200 sungai, yang meliputi lebih dari separo permukaan bumi, digunakan bersama oleh dua negara atau lebih. Selain itu, banyak lapisan sumber air bawah tanah membentang melintasi batas-batas negara, dan penyedotan oleh suatu negara dapat menyebabkan ketegangan politik dengan negara tetangganya.

Di seluruh dunia, kira-kira 20 negara, hampir semuanya di kawasan negara berkembang, memiliki sumber air yang dapat diperbarui hanya di bawah 1.000 meter kubik untuk setiap orang, suatu tingkat yang biasanya dianggap kendala yang sangat mengkhawatirkan bagi pembangunan, dan 18 negara lainnya memiliki di bawah 2.000 meter kubik untuk tiap orang.

Penduduk dunia yang pada 2006 berjumlah 5,3 miliar diperkirakan akan meningkat menjadi 8,5 miliar pada tahun 2025 akan didera oleh ketersediaan air bersih. Laju angka kelahiran yang tertinggi justru terjadi tepat di daerah yang sumber-sumber airnya mengalami tekanan paling berat, yaitu di negara-negara berkembang.

Sumber [id.wikipedia.org]

Air Baku Jakarta Parah

Ada berita menarik yang perlu disimak oleh warga Jakarta khususnya pengguna air bersih. Air Baku Jakarta Parah itu judul yang dilansir oleh situs berita online Neraca.co.id . Berikut berita lengkapnya kami tampilkan kembali untuk anda warga Jakarta yang belum membacanya :

Jakarta – Dari kuantitas maupun kualitas, kondisi air baku DKI Jakarta saat ini dinilai parah. Untuk itu segala macam cara harus kita lakukan bersama untuk mengatasi hal tersebut mengingat air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan kita. “Saya katakan parah pasalnya saat musim hujan banjirnya luar biasa dan saat musim kemarau air baku terutama alur sungai di DKI sangat kotor dan warnya hitam, kata Direktur Jenderal Sumber Daya Air Mohammad Hasan di Jakarta, Sabtu (1/6).

Upaya pembentukan  komunitas penyadaran masyarakat akan peduli air sangat penting, kata Hasan. Sedangkan soal kualitas air yakni soal polusi baik dari limbah rumah tangga seperti sampah maupun industri-industri yang langsung membuang ke sungai maupun yang berasal dari ternak-ternak. Hal akan mencemari kualitas air baku untuk air bersih DKI yang berasal dari Waduk Jatiluhur melalui sungai Tarum Barat ke pengolahan air PDAM Pejompongan.

Pengeboran air tanah dan instrusi air laut saat ini sudah menguatiran dan berdampak besar dalam mengurangi kualitas air bersih Jakarta. Untuk mengatasi krisis air bersih, upaya penyelamatan lingkungan dan sumber air harus dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai upaya.

Hasan menjelaskan, upaya untuk atas pesoalan tersebut antara lain menggalakkan gerakan menanam pohon, konservasi lahan, pelestarian hutan, dan Daerah Aliran Sungai (DAS), pembangunan tempat penampungan air hujan seperti situ, embung, dan waduk, sehingga airnya bisa dimanfaatkan saat musim kemarau, mencegah seminimal mungkin air hujan terbuang ke laut dengan membuat sumur resapan air atau lubang resapan biopori. Mengurangi pencemaran air dan melakukan penghematan penggunaan air dalam aktivitas keseharian juga bisa menjadi upaya untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Berdasarkan kondisi air, baik kualitas maupun ketersediaan, Indonesia memiliki  potensi besar sebagai negara yang kaya air. Namun fakta tersebut tidak lantas membuat Indonesia  terhindar dari krisis air bersih. Setiap  musim kemarau  banyak  daerah di Indonesia mengalami kekeringan, sementara  saat musim penghujan bahaya yang bersumber dari air, yaitu banjir juga mengintai.

Untuk  mengatasi ketidakseimbangan antara ketersediaan air yang cenderung menurun dan kebutuhan air yang semakin meningkat, sumber daya air wajib dikelola dengan memperhatikan fungsi sosial, lingkungan hidup dan ekonomi secara selaras. Melihat kondisi ini,  pengelolaan sumber daya air perlu diarahkan untuk mewujudkan sinergi dan keterpaduan yang harmonis antarwilayah, antarsektor, dan antargenerasi.

Sejalan dengan semangat demokratisasi, desentralisasi, dan keterbukaan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, masyarakat perlu diberi peran yang lebih besar dalam pengelolaan sumber daya air.

Fakta bahwa 70% permukaan bumi kita adalah air sudah banyak diketahui. Tetapi tidak banyak yang menyadari bahwa 97%  dari jumlah tersebut  adalah  air asin  dan  hanya 3%  saja  yang berupa air tawar, itu pun  terbagi  menjadi  air  es, air  tanah, air permukaan dan uap air.  Kenyataan bahwa  tidak semua air tawar yang  tersedia  layak untuk dikonsumsi, makin memperkecil jumlah ketersediaan air bersih yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan hidup kita.

Untuk menanggulangi hal tersebut, diperlukan adanya kesadaran akan pentingnya air  bersih, serta perlu adanya usaha untuk mendorong dan memperkuat upaya-upaya penyadaran  masyarakat dunia terhadap pentingnya pengelolaan air bersih  secara  berkelanjutan. Beberapa kalangan yang sadar akan masalah tersebut mulai menggalang dukungan dan menggerakkan komunitas sekitarnya untuk  melakukan upaya-upaya  penyelamatan sumber-sumber air bersih, dari langkah terkecil sekali pun. [iqbal- Neraca.Co.id]